Bab 22. Masa Lalu Kelam Audrey

1031 Words
Malam hari kemudian, keluarga Satria dibingungkan dengan Audrey yang tiba-tiba menghilang dari rumahnya. "Bie, coba hubungi nomor teleponnya!" titah Satria pada putrinya. "Audrey nggak bawa ponsel, Pa!" jawab Abian. "Coba kamu ingat-ingat siapa saja teman Audrey dan hubungi satu-persatu!" titah Satria lagi. "Iya, Bie. Ini sudah malam, kasihan janinnya!" sahut Diandra. "Baik, Ma, Pa. Bie akan coba menghubungi teman-teman jurnalisnya!" jawab Abian yang kemudian dengan segera mencari semua kontak teman-teman jurnalis Audrey dan menghubunginya satu-persatu. Beberapa saat kemudian, Abian memutuskan untuk pergi mencari Audrey setelah kelima teman-teman Audrey tidak mengetahui keberadaan Audrey. "Bie, kamu mau cari Audrey ke mana?" tanya Satria pada putranya. "Kemanapun akan Bie cari, Pa!" jawab Abian seraya terus berjalan meninggalkan Satria dan Diandra yang ada di ruang tamu. "Tapi emang kamu tahu dia ke mana?" tanya Diandra pada Abian. "Bie akan temukan dia melalui insting dan ikatan batin, Ma. Bie sangat mencintainya dan pasti akan menemukannya!" jawab Abian sebelum ia keluar dari pintu rumahnya. "Ya, sudah! Hati-hati ya, Bie!" ucap Satria. "Iya, Pa, makasih!" jawab Abian dari luar rumah. *** Di sebuah makam, seorang wanita dengan dress panjang serta hijab sedang berada di samping makan seorang wanita yang bernama Ayara. "Bunda, maafkan Drey, Bun!" ucap wanita berhijab yang sedang mengandung itu sembari memeluk nisan wanita yang sudah meninggal sejak delapan tahu yang lalu. Di cuaca malam yang dingin dan sepi ini tak membuat Audrey gentar datang ke makam bundanya yang jauh dari ibukota Jakarta, malam-malam ia nekat pergi ke Tangerang hanya untuk ziarah saja. "Bun, Audrey terpaksa menandatangani surat itu sebab Audrey nggak ingin kehilangan bayi ini!" ucap Audrey dengan air mata yang mengalir sangat deras. Audrey kini beranjak untuk menyiram bunga sambil tak henti-hentinya menangis meratapi nasibnya yang hampa. "Bunda, Audrey rindu pada masa dulu, Audrey rindu pada kasih sayang ayah. Audrey juga rindu bunda, bisakah waktu diputar kembali?" Audrey berkata dengan suara yang lirih sebab dadanya terasa sesak kala teringat pada hari di mana sang ayah berubah menjadi kasar dan tak peduli padanya sedikitpun. *** Di dalam sebuah mobil, seorang pria sedang mengemudi dengan kecepatan tinggi. "Hatiku mengatakan kamu sudah ke luar kota, Drey. Kamu nggak ada di Jakarta! Dan aku tahu di mana tempat tujuanmu saat ini!" ucap pria tampan yang tak lain adalah Abian tersebut yang mencari belahan hatinya dengan menggunakan insting. "Tunggu aku, Drey. Aku akan datang!" lanjut Abian seraya makin mempercepat laju kendaraannya. Pria tampan itu tidak ingin istrinya yang sedang mengandung berada di luar rumah terlebih hari sudah semakin malam. *** Keesokkan harinya, seorang wanita masih tidur pulas meski ada pria yang sedang memandangi dan mengompresnya keningnya yang panas. "Drey, aku nggak tahu apa yang terjadi padamu kemarin! Aku hanya tahu jika kamu pingsan di samping makam bundamu!" ucap Abian seraya mengompres istrinya yang sepertinya sedang demam. "Bie, seharusnya gorden dibuka agar dia terkena sinar matahari! Sinar matahari sangat bagus untuk kesehatan, Bie!" ucap Diandra yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar menantunya dan kemudian segera pergi ke arah gorden. "Di mana kamu temukan dia, Bie?" tanya Satria yang juga masuk ke dalam kamar itu. "Di Tanggerang, Pa. Lebih tepatnya di samping makam besan kalian!" jawab Abian. Satria kemudian melangkahkan kakinya untuk menemui sang putra. "Bie, seseorang yang datang ke makam orangtuanya pasti sedang mengalami masalah serius. Bie, jika seorang anak sedang terombang-ambing maka ia akan lari pada orangtuanya!" ucap Satria. Audrey tiba-tiba bangun kala cahaya ilahi menembus matanya. "Aku di mana?" tanyanya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. "Kok aku dikompres?" lanjut Audrey yang bertanya setelah menyentuh kain kompres berwarna putih itu. "Kamu sudah ada di rumah, Drey!" jawab Abian sambil tersenyum. "Mengapa kamu nekat ke Tanggerang malam-malam?" Pertanyaan Satria membuat Audrey mengingat kenekatan yang ia lakukan kemarin. Tanpa sadar Audrey telah membahayakan janinnya hanya demi meminta maaf pada sang bunda. "Drey hanya ingin ziarah, Pa!" jawab Audrey. "Enggak mungkin hanya ziarah, Drey! Tolong katakan ada masalah apa?" tanya Diandra pada Audrey. "Drey, kelakuanmu seperti orang yang sedang depresi karena kekerasan!" Ucapan Abian membuat Audrey terdiam sebab memang benar bahwa saat ini traumanya kambuh karena sikap sang ayah. "Enggak, Bie. Aku nggak depresi!" jawab Audrey yang masih ingin menutupi kebenarannya. "Drey, kami semua sudah pernah menghadapi orang yang sedang depresi yaitu Faya adik iparmu, jadi tolong jujurlah!" pinta Satria. Bibir Audrey bergetar kala ada gejolak kesedihan di dalam hatinya yang meminta untuk dilepaskan. Diandra pun pergi ke arah kiri Audrey dan kini Audrey sudah berada dalam posisi yang sangat nyaman dengan tiga orang anggota keluarganya. "Drey, kami adalah keluargamu dan kesedihan nggak baik untuk kesehatan anakmu. Jadi, tolong bagi dukamu dengan kami!" Diandra memohon dengan tatapan sendunya. Kasih sayang mereka membuat Audrey tak dapat menahan kesedihannya, ia pun menangis sejadi-jadinya dan mengeluarkan banyak air mata. "Ada apa istriku? Apa yang terjadi?" tanya Abian pada istrinya. "Beberapa waktu yang lalu aku terpaksa menandatangani surat itu, surat persetujuan penjualan rumah peninggalan bunda karena ayah memukulku dan aku nggak mau anak ini kenapa-napa!" jawab Audrey sambil menangis. "Apa? Jadi ayah ada di Jakarta?" tanya Abian pada Audrey. "Sejak kecil aku sudah kehilangan cinta pertamaku, orang yang menjadi satu-satunya harapanku pergi jauh dariku. Sosok ayah yang seharusnya menjaga dan melindungi malah melukai, aku adalah anak yang nggak diharapkan hingga kini ayah masih kasar, padahal aku sedang mengandung namun ia tetap saja nggak peduli dan ringan tangan padaku!" lanjut Audrey sambil menangis. "Enam tahun, Bie. Selama enam tahun aku hidup menderita dengan tangis yang tiada henti, enam tahun aku harus menkonsumsi obat perada rasa sakit kala ayah sering ringan tangan padaku, aku lelah!" lanjutnya lagi sambil menangis. "Selama dua tahun ini aku memilih merantau ke Jakarta dengan tujuan ingin menjauh dari dukaku sebab aku sudah lelah!" Audrey terus menceritakan semua dukanya dengan air mata yang terus keluar dan rasanya semakin deras. "Bie, aku bahkan pernah mencoba bunuh diri sebab aku ingin menyusul bunda saja, tapi rupanya Tuhan belum mengizinkan aku mati sehingga aku masih bernafas hingga detik ini!" Tak hanya Audrey yang menangis, Diandra juga ikut menangis karena merasakan duka Audrey yang telah ia alami selama bertahun-tahun. Sementara Abian dan Papanya hanya diam dengan mata yang merah, kedua pria itu mencoba untuk tegar sebab jati diri mereka memaksa mereka untuk bisa menahan air mata. Tiba-tiba seorang gadis masuk ke dalam kamar Audrey sambil menangis juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD