Audrey menatap sendu ke arah gadis yang tak lain adalah Faya adik iparnya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Faya?" ucap Diandra.
"Mbak, maafkan Faya yang sudah jahat sama, Mbak! Faya sudah mendengar semua masa lalu kelam, Mbak tadi!" ucap Faya sambil duduk di sebelah kakak iparnya.
"Sekarang sudah tahu, kan? Jadi jangan—"
"Bie, sudah!" ucap Satria seraya memotong ucapan Abian yang hendak meninggikan suaranya.
"Iya, Faya tahu kalau Faya jahat! Tapi Faya jahat karena keadaan, Kak!" jawab Faya sambil menangis.
"Sudah nggak apa-apa, Faya. Mbak nggak pernah marah atau membencimu!" ucap Audrey seraya menyeka air matanya.
"Terima kasih, Mbak!" jawab Faya sambil menangis.
"Sini!" ucap Audrey seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar dan Faya kemudian menyambar ke dalam pelukannya.
"Kalian percaya dengan air mata buaya ini? Sampai kapanpun nggak akan ada rasa belas kasihan untuk wanita yang sudah mengusik hidupku dan yang sudah menghilangkan sisi baik dalam diriku!" batin Faya sambil tersenyum miring tanpa diketahui oleh semua orang yang ada di sana.
"Aku akan memakai cara halus untuk mengusirmu dari rumahku! Apa kamu siap bermain dengan adik iparmu sendiri?" lanjut Faya di dalam hatinya.
Entah mengapa kebencian dalam hatinya sangat besar terlebih setelah ia di marahi oleh Abian kemarin malam karena telah mengambil uang nafkah seraya mendzolimi Audrey.
"Pa, Ma. Bie ingin izin untuk tinggal berdua bersama dengan Audrey! Bie akan menyewa rumah untuk kami tinggali!" Abian meminta izin pada papanya.
"Kenapa Kak Bie dan Mbak Audrey mau pergi dari sini?" tanya Faya pada kakaknya.
"Karena hidup Audrey nggak akan tenang di sini, kamu pasti akan terus mengusiknya!" jawab Abian.
"Apakah kesalahan Faya nggak bisa dimaafkan sehingga Kak Bie ingin pergi?" tanya Faya seraya menatap Abian dengan tatapan sendu. Gadis yang masih remaja itu sangat pintar bersandiwara.
"Kami sudah memaafkan kamu, Faya. Tapi demi kebaikan dan keselamatan Audrey, kami harus pergi dari sini!" jawab Abian dengan tegas.
"Bie, papa harap jangan pergi dari sini karena—"
"Karena apa, Pa? Karena Papa membela Faya? Karena Papa nggak ingin kami hidup tentram?" tanya Abian seraya memotong ucapan papanya.
"Bukan begitu, Bie. Masalah saat ini sangat rumit. Bie, jangan lupa bahwa ada orang misterius yang hendak mencelakai Audrey dan bila sampai kalian keluar dari rumah ini maka akan bahaya untuk Drey!" ucap Satria yang meluruskan semuanya.
"Bie sanggup melindungi istri Bie, Pa!" jawab Abian seraya memasang tatapan sendunya.
"Kamu akan sering keluar rumah dan itu artinya kamu nggak akan bisa menjaga Audrey selama dua puluh empat jam, Bie! Kalau di sini sudah pasti aman sebab Audrey bersama dengan istri papa dan di luar juga ada dua orang sekuriti!" ucap Satria.
Abian terdiam, memang benar bahwa keputusannya kali ini salah, jika ia membawa Audrey pergi maka keamanan Audrey tidak akan terjamin terlebih kondisi kandungan Audrey yang masih lemah dan bahaya jika Audrey ditinggal sendirian.
Namun, sebuah ide tiba-tiba terbesit dalam benak pria berprofesi tentara itu.
"Bie akan menyewa bodyguard untuk Audrey!" jawab Abian kemudian.
"Percuma!"
Satria segera keluar dari kamar menantunya untuk bersiap-siap dinas, ia malas berdebat dengan putra sulungnya.
"Apapun yang terjadi Bie akan membawa Audrey pergi dari rumah ini, Ma!" ucap Abian yang kemudian bergegas pergi ke arah lemari untuk mengambil seragamnya.
"Ma, tolong rawat Audrey selama aku dinas!" ucapnya lagi sebelum masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa seragam dinasnya.
Siang harinya, Audrey turun ke lantai satu kala merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya meski bibirnya masih pucat.
"Drey, kenapa turun?" tanya Diandra yang duduk membaca buku di sofa ruang tamu.
"Drey sudah agak enakan, Ma!" jawab Audrey seraya ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Baiklah, tapi vitamin dan s**u penguat kandungannya harus tetap di minum!" ucap Diandra seraya menaruh bukunya ke atas meja.
Di saat Audrey dan Diandra sedang mengobrol, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Satria.
"Biar Drey yang buka!" ucap Audrey yang kemudian hendak pergi namun dihalangi oleh mama mertuanya.
"Biar mama saja, Drey!" ucap Diandra yang kemudian segera pergi ke arah pintu.
Mata Audrey tertuju pada pintu ketika pintu terbuka dan terlihatlah seorang pria tampan yang sangat ia kenali.
Tanpa pikir panjang, Audrey pun beranjak dari duduknya dan menemui pria yang tak lain adalah Felix itu.
"Kak Felix?" ucap Audrey.
"Nak Felix, ada perlu apa ke sini?" tanya Diandra pada Felix.
"Saya ingin berbicara berdua dengan Audrey, Tan!" jawab Felix.
"Oh, baiklah!" ucap Diandra yang kemudian pergi dari sana.
"Silahkan masuk, Kak!" Audrey mempersilahkan mantan suaminya untuk masuk.
"Enggak perlu! Cukup di sini saja!" tolak Felix.
"Hm, baiklah!" jawab Audrey.
"Apa maksudmu mengirimkan surat cerai padaku?" tanya Felix seraya menunjukkan selembar kertas dari pengadilan agama pada Audrey.
Audrey segera menerimanya dan langsung mengernyitkan dahinya kala ia tidak merasa mengirimkan surat cerai itu.
"Enggak, Kak. Drey nggak pernah mengirim surat ini padamu!" sangkal Audrey seraya menatap Felix dengan tatapan sendu.
"Terus siapa yang ngirim? Jelas-jelas itu nama kamu dan ada tanda tangan kamu juga, Drey!" ucap Felix dengan nada tinggi.
"Enggak, Drey nggak pernah punya niat untuk ajukan cerai di pengadilan agama, Kak!" sangkal Audrey lagi sebab memang benar bahwa Audrey tidak pernah pergi ke pengadilan agama dan memberikan surat itu pada Felix, tidak pernah dan hal itu sangat mustahil.
"Aku tahu mengapa kamu mengirim itu! Sebab kamu nggak ingin aku menganggu hubunganmu dengan Bie, kan?" tuding Felix.
"Enggak!"
Audrey terus saja membatah tudingan-tudingan yang dilontarkan padanya sebab semuanya itu salah.
"Jika memang benar itu maumu, maka jangan pernah menghubungiku lagi dan aku bersumpah mulai detik ini nggak akan mengusik hidupmu!" ucap Felix yang kemudian pergi dari sana.
Audrey hendak mengejar, namun perutnya terasa sangat sakit sehingga ia tidak dapat mengejar mantan suaminya dan memilih untuk kembali ke sofa ruang tamu.
***
Di sebuah ruangan, seorang wanita sedang duduk di kursi goyang sambil menyeruput teh hangat.
"Permainan sudah aku mulai lagi dan semuanya akan terjadi sesuai dengan apa yang aku harapkan!" ucap wanita itu sambil tersenyum miring.
***
Malam harinya di rumah Satria, Abian sedang bersama dengan Audrey di balkon lantai dua rumahnya.
"Drey, kamu kok nggak pernah nyidam lagi?" tanya Abian pada istrinya.
"Mungkin karena usia kandunganku sudah memasuki empat bulan, Bie!" jawab Audrey sambil menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang.
"Eh, ada bintang jatuh!" ucap Abian sambil menunjuk ke arah bintang yang jatuh melintas langit malam itu.
"Aku sangat ingin kembali pada Kak Felix, Tuhan!" batin Audrey yang mengucapkan permintaan sebab mitosnya setiap orang yang meminta pada saat bintang jatuh maka permintaannya akan terkabul.
"Tuhan, terima kasih karena sudah membuatku bisa hidup bersama dengan Audrey wanita yang sangat aku cintai selama ini, aku harap akan ada cinta di hatinya untukku, tapi bila nggak ada maka matikan lah rasa cinta di hatiku ini agar aku rela melepaskannya untuk pergi bersama dengan orang yang ia cintai!" batin Abian seraya menatap langit dengan tatapan sendu.