Di tengah malam, Audrey terbangun dari tidurnya kala ia tidak bisa tidur sebab firasat buruk sedang menderanya.
Namun, ia justru melihat ada bayangan orang yang lewat dari jendela kacanya.
"Bie! Bie bangun!" Audrey membangunkan suaminya karena takut.
"Ada apa, Drey?" tanya Abian dengan panik pada istrinya.
"Aku lihat ada orang di balkon lantai dua, sepertinya itu orang jahat!" jawab Audrey.
"Oke, kamu tenang ya. Aku akan segera mengeceknya dan ingat jangan buka pintu kamar atau jendela sebelum aku kembali!" ucap Abian yang kemudian segera keluar dari kamarnya untuk mengecek sebab tak ada pintu yang mengarah ke balkon, satu-satunya pintu balkon adalah ruang perpustakaan yang ada di samping kamar Satria.
"Papa?" ucap Abian setelah melihat papanya yang juga keluar.
"Papa rasa ada penyusup!" Satria ternyata juga dapat merasakan kehadiran orang asing itu.
"Tapi bagaimana dia bisa masuk? Di luar ada Om Fandi dan Om Jordan, kan?"
Memang benar bahwa di luar terdapat dua orang sekuriti dan rasanya sangat tidak mungkin ada penyusup, namun tanpa mereka ketahui bahwa sebenarnya kedua sekuriti itu sedang tertidur pulas karena tak sengaja meminum air yang sudah diberi obat tidur oleh seseorang.
"Aaaa!" Teriakkan seorang gadis membuat Satria dan Abian segera lari ke sumber suara.
Audrey dan Diandra juga nekat keluar kamar setelah mendengar suara teriakan yang sepertinya dari ruangan Faya.
"Mama, Faya kenapa?" tanya Audrey kala ia berpapasan dengan sang mama.
"Mama nggak tahu, Drey. Tapi lebih baik kamu ada di kamar saja!" jawab Diandra.
"Mana mungkin Drey bisa duduk tenang di dalam kamar, Ma, sedangkan adik ipar Drey sedang dalam bahaya!" tolak Audrey.
"Drey, kamu sedang hamil, Mama sangat takut terjadi apa-apa sama kamu. Jadi tolong patuhi mama!" Diandra mencoba membujuk Audrey.
"Baiklah, Ma!" jawab Audrey.
***
Di kamar Faya, seorang pria berhasil di tangkap oleh Satria dan Abian.
"Mama?" panggil Faya pada mamanya yang berdiri di depan ruang tamu.
Melihat putrinya sedang kesakitan, Diandra pun segera pergi ke arah sang putri dan lantas menaruh sang Putri ke dalam pelukannya.
"Siapa kamu?" tanya Satria pada pria yang di mana kain penutup wajahnya telah di buka olehnya itu.
"Maaf, Pak. Saya hanya di suruh!" jawab pria itu.
"Siapa yang menyuruhmu dan mau apa kamu di kamar adikku?" tanya Abian pada pria itu.
Pria itu hanya diam, ia enggan mengakui semuanya.
"Siapa!" tegas Satria seraya terus memegangi tangan pria itu.
"Bu Audrey, dia membayar saya untuk mencelakai Faya!" jawab sang pria.
"Enggak mungkin Drey pelakunya!" sangkal Abian.
"Tapi memang dia yang telah membayar saya, Pak!" jawab pria asing itu.
"Tapi mengapa Audrey ingin mencelakai Faya?" tanya Satria.
"Karena dia membenci Faya yang telah berlaku dzolim terhadapnya!" jawab sang pria.
"Enggak mungkin! Tadi saja dia takut ketika melihat ada orang yang menyelinap masuk!" sangkal Abian lagi.
"Apa bapak pernah berpikir mengapa dia membuka mata di tengah malam padahal dia mungkin sudah tidur sebelumnya?" Ucapan sang pria asing itu memang ada benarnya. Mungkinkah Audrey memang sengaja bangun?
"Mana buktinya kalau memang Drey yang menyuruhmu!" Abian meminta bukti dari pria asing itu.
"Tadi sore kami berdua mengobrol melalui sambungan telepon dan kebetulan rekaman teleponnya masih ada, Pak!" ucap sang pria asing itu.
Pria itupun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih dari dalam sana.
"Ini buktinya!" ucapnya seraya memutar rekaman telepon itu.
"Saya akan bayar berapapun asal kamu bisa melakukan pekerjaanmu dengan benar!" ucap seorang wanita dari rekaman suara itu dan suara itu sangat mirip dengan suara Audrey.
"Aku ingin kamu mencelakainya, memukulnya dan lain-lain hingga dia kembali depresi sebab aku sangat membencinya dan aku ingin balas dendam!"
"Apa bapak dan kalian semua sudah percaya?" tanya pria itu pada semua orang yang ada di sana.
Beberapa saat kemudian, Abian kembali ke kamarnya, Audrey yang melihat suaminya kembali pun lantas bertanya mengenai apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi, Kak? Dan tadi aku mendengar teriakkan Faya?"
Bukannya menjawab, Abian justru berlaku pergi darinya dan memilih untuk kembali tidur.
"Mengapa dia nggak menjawab pertanyaanku?" tanya Audrey pada dirinya sendiri dengan suara lirih.
Keesokkan harinya, Audrey turun ke lantai satu untuk memasak makanan.
"Mama mau masak sup ya? Sini biar Audrey bantu potong sayurannya!" ucap Audrey setelah melihat sang mama mertua sedang mengiris wortel.
Namun ketika ia tiba, sang mama mertua justru pergi dengan tatapan sendu dan tanpa sepatah kata apapun.
"Ini ada yang berubah atau hanya pemikiranku saja ya?" Audrey bertanya-tanya di dalam hatinya.
Di menit berikutnya, semua orang telah berkumpul di meja makan untuk makan.
"Faya, nanti pulang jam berapa?" tanya Satria pada putri bungsunya.
"Jam satu siang, Pa!" jawab Faya sambil tersenyum.
"Bie, apa kamu bisa menjemput Faya?" tanya Satria pada Abian.
"Bie juga sibuk, Pa, nggak ada waktu buat jemput Faya!" tolak Abian.
"Kalau boleh biar Drey saja yang menjemput Faya, Pa. Drey bisa mengendarai motor atau mobil, Pa!" Audrey menawarkan bantuan.
"Enggak perlu! Putriku nggak memerlukan bantuanmu!" tolak Satria.
"Enggak apa-apa, Pa. Biar Mbak Audrey saja yang menjemput Faya!" ucap Faya.
"Enggak, Faya! Papa nggak bisa mempertaruhkan keselamatanmu, biar nanti papa saja yang menjemput!" jawab Satria.
"Drey akan hati-hati mengendarai kendaraan, Pa. Jadi nggak perlu khawatir kami cel—"
"Jangan membantah keputusan orangtua, Drey!" ucap Abian seraya memotong ucapan Audrey.
"Em ... aku nggak bermaksud untuk membantah papa, Bie! Aku hanya—" Audrey menghentikan kalimatnya kala Abian beranjak dari duduknya.
"Ma, Pa. Bie berangkat ya, takut telat!" ucap Abian yang kemudian pergi dari sana.
Siang harinya, Audrey duduk kursi taman yang ada di belakang rumah Satria.
Pemandangan taman bunga itu sangatlah indah, bunganya warna-warni dan ada berbagai jenis serta harumnya sangat semerbak. Di tambah dengan banyaknya kupu-kupu yang mengelilingi bunga menjadi pelengkap keindahan alam yang disajikan.
Namun keindahan itu tak membuat seorang wanita hamil yang duduk di sana merasa nyaman, bahagia atau tersenyum. Wanita hamil itu sedang mengintropeksi diri untuk mencari apa kesalahannya sehingga keluarganya tiba-tiba berubah sikap terhadapnya.
"Apa mungkin ini hanya perasaanku saja ya? Tapi aku sangat takut jika ini benar!" ucapnya sambil menatap langit mendung dengan tatapan sendunya.
"Dulu sebelum ayah berubah, ia juga bersikap begini, dingin dan terus di susul dengan perubahan lainnya. Ya Allah, hamba sangat takut kehilangan kasih sayang keluarga lagi. Rasanya baru sebentar hamba bahagia dengan kasih sayang keluarga, mungkinkah engkau ingin mengambilnya lagi?" lanjut Audrey.
***
Malam harinya, Audrey duduk di samping sang suami di atas kasur.
Namun sang suami hanya diam dan fokus bermain ponsel seakan tak peduli padanya.
"Bie?" panggilnya seraya menyentuh tangan kiri sang suami.
"Hem?" Hanya itu respon singkat dari suaminya yang bahkan tak menatap wajahnya dan fokus bermain ponsel.
"Sebenernya ada apa, Bie? Aku merasa bahwa semua orang telah berubah sikap padaku, termasuk kamu!" Audrey bertanya sambil menatap Abian dengan tatapan sendu.
"Enggak ada apa-apa!" jawab Abian.
"Bie, tolong beri tahu aku bila aku ada salah, jangan hanya diam dan dingin begini! Aku berhak tahu apa salahku sehingga semua orang mengabaikan diriku!" Audrey memohon pada Abian untuk menceritakan semua kebenarannya.
"Enggak ada yang perlu dibicarakan!" ucap Abian seraya menaruh ponselnya ke atas kasur.
"Bie, apa baru sekarang ada penyesalan di hati kalian? Kalian menyesal karena menjalin hubungan denganku yang sedang mengandung anak orang lain!" Audrey mencoba menerka apa permasalahannya.
"Bukan itu masalahnya!" jawab Abian.
"Bie, aku sadar bahwa aku bukan wanita yang sempurna dan aku adalah seorang janda yang sedang hamil!" ucap Audrey lagi.
"Sikap pendendam yang ada di dalam hatimu itulah masalahnya!" jawab Abian dengan nada tinggi.
Audrey yang terkejut akan jawaban darinya itupun segera menatapnya dengan sorotan mata yang penuh rasa penasaran.
"Aku tahu Faya sudah berlaku jahat padamu, Drey! Aku tahu dia sudah dzolim padamu, tapi nggak seharusnya kamu balas dia! Enggak seharusnya kamu dendam karena dendam itu adalah hal yang salah, hal yang buruk!" lanjut Abian dengan nada tinggi.
Mendengar suara Abian yang sepertinya marah membuat Audrey diam dan menundukkan kepalanya.
"Aku nggak nyangka kalau kamu memiliki sifat pendendam!" marah Abian lagi.
Audrey pun menatapnya dengan tatapan sendu dan kemudian mengeluarkan suara.
"Apa maksudmu, Bie? Aku nggak mengerti!" tanya Audrey dengan mata yang berair.
"Ini!" ucap Abian.
Audrey takut kala Abian mengangkat tangannya, padahal Abian hanya ingin mengambil ponselnya saja namun Audrey salah mengira sebab jujur saja Audrey masih trauma atas perlakuan dari ayah kandungnya sendiri beberapa hari lalu.
"Lihat ini!" titah Abian pada istrinya yang menunduk takut.
Audrey yang melihat Abian memberikan ponselnya pun segera menerimanya dan kemudian memutar rekaman suara yang ada di dalamnya.
Ia terkejut bukan main kala mendengar suaranya yang sedang menyuruh seseorang untuk melakukan kejahatan pada Faya.
"Enggak! Ini bukan aku, Bie!" sangkal Audrey sebab memang bukan dia pelakunya.
"Bukti sudah ada dan kamu masih mau ngelak?" tanya Abian pada istrinya.
"Oke, kamu mungkin nggak percaya padaku karena bukti ini! Okey, fine! Nggak masalah, ini memang sudah takdirku yang selalu hidup dengan kesedihan dan harus selalu mengalah!" jawab Audrey dengan air mata yang mengalir.
Wanita hamil itu pun memilih untuk merebahkan tubuhnya ke atas kasur, ia memilih tidur sebab percuma saja dia membela diri karena tak akan ada yang akan mempercayai.
Abian menatap sendu ke arah istrinya yang sedang membelakanginya.
"Rasa cinta di hatiku membuatku sulit melihat kebenaran tentangmu, sampai saat ini rasanya aku nggak percaya dengan hal ini namun bukti itu sudah jelas membuktikan segalanya!" batin Abian yang kemudian memutuskan untuk ikut pergi ke alam mimpi.