Bab 25. Memanusiakan Manusia

1502 Words
Keesokkan harinya, Audrey memutuskan untuk pergi dari rumah Satria sebab semua orang sudah mengabaikannya. "Aku kira hidupku akan bahagia di sini, tapi ternyata nggak. Abian dan keluarganya mempercayai rekaman itu dan Kak Felix mempercayai surat cerai itu, padahal itu semua palsu! Mungkin ini sudah saatnya aku pergi dari kehidupan yang sangat melelahkan ini!" ucap Audrey seraya menaruh pakaiannya ke dalam koper yang sudah ia sediakan sebelumnya. "Nak, bunda harap kamu sudah nggak lemah lagi sehingga bunda bisa menjadi seorang jurnalis kembali untuk membiayai hidup kita!" lanjut Audrey seraya terus menaruh pakaiannya ke dalam koper. Kehadiran seseorang secara tiba-tiba membuat Audrey menghentikan aktivitasnya, ia tak menyangka jika Abian yang sudah berangkat kerja ternyata kembali lagi ke rumah. "Kenapa?" tanya Audrey pada Abian. "Kamu mengapa menaruh pakaian ke koper?" tanya Abian yang masih berdiri di depan pintu. "Kenapa kembali?" Audrey bertanya kembali pada Abian. "Dompetku ketinggalan!" jawab Abian seraya berjalan ke arah istrinya. "Kamu mau kemana?" tanya Abian tanpa menatap Audrey. "Apa kamu masih marah dan mengabaikanku?" tanya balik Audrey pada suaminya. Suaminya itu hanya diam dan beranjak pergi ke arah meja untuk mengambil dompetnya. "Jika memang nggak ada kepercayaan lagi, maka aku bersedia untuk menjauh!" ucap Audrey seraya menutup kopernya dan lantas melangkahkan kakinya menuju luar sambil menyeret koper. Audrey menahan tangisnya kala Abian hanya diam tak menghentikannya, wanita hamil itu berhenti di depan pintu untuk mengetahui apakah sang suami sudah benar-benar tidak peduli padanya. "Kamu sudah benar-benar mengabaikan diriku!" batin Audrey yang kemudian hendak melangkah pergi namun tangan kekar seorang pria mencekal tangannya dan menariknya hingga ia berbalik menatap sang pria. "Aku mencintaimu, jangan pergi dariku!" ucap Abian seraya menatap istrinya dengan tatapan sendu. "Meski nggak ada cinta di hatimu namun aku nggak akan pernah mempersalahkan hal ini karena aku sangat mencintaimu dan menjadikan kebahagiaanmu sebagai prioritasku hidupku!" lanjut Abian. "Lalu mengapa kamu mengabaikan diriku?" tanya Audrey pada suaminya. "Hanya kesalahpahaman dan aku hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan, jadi tolong maafkan aku?" pinta Abian pada istrinya. "Apa kamu tahu apa itu dasar dari cinta?" tanya Audrey pada Abian. "Dasar cinta adalah kepercayaan, jika memang kamu mencintaiku dengan tulus, artinya kamu akan mempercayaiku lebih dari apapun, tapi ...?" ucap Audrey. "Siapa bilang aku nggak mempercayaimu, Drey? Aku sangat mempercayaimu, apa kamu tahu bahwa hingga detik ini rasanya aku nggak percaya bahwa kamu bisa melakukan hal serendah itu pada Faya, tapi bukti itu telah—" "Bukti? Iya, semua orang di dunia ini hanya percaya pada bukti daripada ucapan!" ucap Audrey seraya memotong ucapan Abian. "Drey, kumohon jangan pergi! Kasihan janinmu dan apa kata orang nanti kalau tahu aku menelantarkan istri yang sangat aku cintai?" Abian membujuk Audrey untuk tidak pergi. "Kamu mencemaskan diriku dan anakku atau hanya mencemaskan reputasi dan nama baikmu saja?" tanya Audrey pada suaminya. "Hanya kamu! Hanya kamu dan anakmu yang aku cemaskan!" jawab Abian. "Benarkah?" tanya Audrey yang tidak mempercayai hal itu. "Aku sangat mencintaimu dan anakmu!" jawab Abian. "Aku hanya mencintai Kak Felix!" ucap Audrey. "Aku nggak peduli akan hal itu, aku hanya peduli pada keselamatan dan kebahagiaanmu serta anakmu saja!" jawab Abian. "Buktikan bahwa memang kamu menyayangi kami!" pinta Audrey. "Kamu nggak akan bisa membukti—" Ucapan Audrey terpotong kala Abian mencium pipinya. "Bie, ku mohon hentikan! Aku hanya mencintai Kak Felix dan aku nggak mau di sentuh oleh pria lain!" pinta Audrey agar Abian berhenti menyentuhnya. Mendengar penolakan dari sang istri, Abian kemudian menjauhkan kepalanya. "Bukankah itu hakku?" tanya Abian pada istrinya. Audrey terkejut kala sang suami sudah berani menagih haknya. "Kamu menagih hakmu?" tanya Audrey pada suaminya. "Iya, selama ini aku hanya diam. Tapi aku rasa kita nggak bisa selamanya seperti ini, Drey. Sebab kita adalah suami istri dan sudah seharusnya kit—" "Kita apa? Kita saling menyentuh?" tanya Audrey seraya memotong ucapan Abian. "Okey, sudahlah! Lupakan hal itu, kita kembali pada masalah kita! Kumohon jangan pergi!" ucap Abian seraya menatap istrinya dengan tatapan sendunya. "Baiklah, aku nggak akan pergi, tapi tolong jangan mengabaikan diriku dan tetaplah percaya padaku, Bie!" pinta Audrey pada suaminya. "Jika itu kamu ajukan sebagai permintaan maka akan aku penuhi, Drey! Aku pernah mengucapkan janji sebelum menikahimu, bahwa aku akan memenuhi semua pintamu!" jawab Abian sambil tersenyum. "Terima kasih, Bie. Dan aku minta maaf karena belum mencintaimu, aku nggak bisa melupakan Kak Felix!" ucap Audrey seraya menatap sendu ke arah suaminya. "Aku akan berjuang untuk mendatangkan cintamu! Tunggu saja saatnya di mana aku akan membuktikan bahwa cintaku padamu ini nggak bertepuk sebelah tangan!" jawab Abian seraya terus tersenyum. "Okey, sekarang aku harus pergi untuk menunaikan tugas negara!" lanjut Abian. "Iya, hati-hati, Bie!" jawab Audrey. Abian kemudian segera keluar dari kamarnya untuk pergi ke markas guna menyelesaikan tugas-tugasnya. "Bie mungkin dengan mudah bisa memaafkan diriku, tapi keluarganya nggak!" batin Audrey seraya menatap pintu kamar dengan tatapan sendu. "Hugh, lalu mengapa jika aku diabaikan oleh mereka? Bukankah aku sudah terbiasa diabaikan oleh keluargaku? Jadi, mengapa sekarang hatiku sangat sakit dan seolah aku baru mengalaminya?" lanjut Audrey seraya mencoba tersenyum meski hatinya terluka. Hanya Audrey wanita yang terus mencoba kuat demi orang-orang yang ia sayangi, hanya Audrey dalam keluarganya yang harus selalu mengalah dan selalu dipaksa tersenyum meski sedang terluka, wanita tangguh dan mandiri seperti Audrey tak perlu belas kasihan seseorang, ia hanya perlu disayangi dan dicintai dengan sepenuh hati sebab sejak kecil yang ia dapatkan hanya derita. Siang harinya, Audrey hendak turun ke lantai satu untuk masak, namun tiba-tiba perutnya terasa sakit. Audrey terduduk di anak tangga sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan. "Bagaimana ini?" ucapnya seraya terus menahan rasa sakitnya. Rumah Satria kini sunyi, seperti tak ada kehidupan di dalamnya sebab Abian dan Satria sedang bekerja sementara Faya sekolah dan Diandra pergi ke mall untuk membeli kebutuhannya. "Jika aku berteriak untuk meminta pertolongan dari sekuriti itu nggak mungkin kedengaran sebab rumah ini luas dan pos satpam ada di depan rumah. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Audrey pada dirinya sendiri. Karena terpaksa, Audrey pun mencoba berjalan namun ia terduduk lagi kala merasa sangat sakit. "Tolong!" Audrey berteriak minta tolong dan tentu saja tak ada yang mendengarnya sebab rumah itu memang sepi. "Andai saja Bik Ningsih sudah masuk kerja lagi, mungkin dia bisa menolongku!" ucap Audrey. Audrey sebenarnya ingin merangkak turun, namun ia masih berada di ketinggian, kurang lebih masih ada dua belas anak tangga lagi untuk bisa sampai ke lantai satu. "Bila aku memaksa turun mungkin aku akan jatuh dan bayi ini ...," lanjut Audrey dengan mata yang berair sebab sudah tak kuasa menahan rasa sakit di perutnya. "Tapi bila aku terus di sini maka bayi ini juga dalam bahaya, aku bisa keguguran!" Audrey kemudian memberanikan diri untuk merangkak turun meski hal itu sangat berisiko. Di detik berikutnya, Audrey sudah berhasil melewati tiga anak tangga dan itu artinya tinggal sembilan anak tangga lagi. "Aaaa!" teriak Audrey kala ia terpeleset dan jatuh berguling-guling di sembilan anak tangga. Kini ia terkapar tak berdaya di bawah anak tangga, ia memang sudah berhasil ke lantai satu namun tubuhnya semakin lemas dan kepalanya pusing serta perutnya semakin sakit. "Ya Allah, tolong selamatkan anak ini!" pintanya seraya menahan rasa sakit di bagian belakang kepalanya. Kedua mata Audrey kini hanya menatap nanar ke atas, wanita itu tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa lagi untuk menyelamatkan janinnya. Tiba-tiba pandangannya menjadi buram dan di detik berikutnya ia sudah hilang kesadaran. *** Di sebuah ruangan yang di d******i warna putih dengan bau obat yang sangat semerbak, seorang wanita hamil sedang tergeletak tak berdaya di atas brankar dengan tangan yang diinfus. Wanita itu membuka kedua matanya kala siuman dari pingsannya yang sudah hampir dua jam. "Aku di mana?" tanyanya seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit dan berat. "Di rumah sakit, Drey!" jawab seorang pria yang sangat ia kenali. "Bie?" ucapnya. "Maafkan aku karena nggak ada di saat kamu membutuhkanku!" Abian meminta maaf pada istrinya. "Enggak apa-apa, Bie. Lagipula kamu telah membawaku ke sini!" jawab Audrey. "Bukan aku yang telah menyelamatkanmu, tapi papa!" Ucapan Abian membuat Audrey langsung menatap samping kirinya dan benar saja ada Satria dan Diandra di sana. "Papa yang menolongku?" tanya Audrey pada mertuanya. "Iya," jawab Satria. "Tapi mengapa papa menolong Drey? Bukankah papa masih marah pada Drey karena kesalahpahaman itu?" tanya Audrey pada papa mertuanya. "Drey, semarah apapun orangtua pada anaknya, ia akan tetap menolong anaknya!" jawab Satria. "Kebetulan tadi papa pulang untuk mengambil senjata dan papa menemukanmu nggak sadarkan diri di bawah tangga, nggak mungkin 'kan papa meninggalkanmu?" lanjut Satria. Audrey merasa terharu dengan ucapan-ucapan Satria yang sangat berbanding terbalik dengan ayah kandungnya sendiri, Arga selalu memberi hukuman dan tak peduli pada kondisinya namun Satria bahkan tak memberi hukuman sekecil apapun padahal kesalahpahaman itu menyangkut Faya anak kandungnya sendiri. "Mas, Bie. Kalian pergi tugas lagi saja, biar aku yang menjaga Drey di sini!" ucap Diandra sambil tersenyum. Belum habis terharu pada kebaikan Satria, kini Audrey merasa terharu pada Diandra sang mama mertua yang mau merawatnya. "Ternyata ketakutanku nggak terjadi sebab keluarga Abian adalah orang-orang baik, hanya Faya saja yang sedikit egois dan keras kepala, namun aku bisa memakluminya sebab Faya hanya anak kecil yang emosionalnya masih sangat labil!" batin Audrey sambil mengulas senyuman di wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD