Karena tidak ada pilihan lain, Audrey akhirnya memutuskan untuk berkata jujur sebab memang benar bahwa menutupi sebuah kesalahan itu adalah hal yang tidak benar. Kebenaran harus tetap dikatakan meski pahit.
"Pa, Drey akan berkata jujur. Tapi tolong jangan marah pada siapapun ya!" ucap Audrey sambil menarik nafasnya.
"Jadi sebenarnya Faya itu cemburu padaku, dia masih ingat hari di mana dia disalahkan karena aku. Jadi, dia berusaha untuk membuat namaku buruk agar aku pisah dari kakaknya! Dan satu lagi, memang benar jika dialah yang sudah mengambil uang nafkah dan lantas menggunakan uang itu untuk membeli kalung berlian," lanjut Audrey yang membongkar semua keburukan sang adik ipar.
"Mengapa kamu tutupi semua ini?" tanya Satria pada Audrey.
"Pa, Faya itu masih kecil dan dia baru sembuh dari depresi pasca bullying. Jadi, Drey ingin membuatnya bahagia dan tidak ingin dia dimarahi!" jawab Audrey.
"Apapun yang terjadi saya harus menegur dan mengembalikan hak mu, Drey!" Satria berkata sambil beranjak berdiri, ia hendak menemui putri bungsunya, namun dihalangi oleh Audrey.
"Pa, tolong jangan marahi Faya!" mohon Audrey.
"Bukankah apa yang salah itu harus diluruskan!" ucap Satria yang kemudian segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke lantai satu, namun ia berhenti kala mendengar menantunya merintih kesakitan.
"Ada apa, Drey?" tanya Satria sambil berjalan ke arah menantunya yang sepertinya sedang sakit perut.
***
Seorang dokter baru saja memeriksa Audrey di dalam kamar dengan didampingi oleh Diandra, Satria dan Faya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Diandra pada sang dokter.
"Pa! Bu! Saya sudah katakan kemarin hari jika kandungan Audrey itu lemah dan dia tidak boleh telah minum vitamin dan s**u penguat kandungan, namun mengapa hingga kini ia tidak meminumnya juga?" tanya sang Dokter pada kedua mertua Audrey.
"Mungkin dia lupa, Dok?" terka Diandra.
"Terima kasih sudah datang, Dok. Saya akan urus semuanya!" sahut Satria yang melakukan pengusiran secara halus terhadap dokter tersebut sebab tak mungkin ia membongkar urusan keluarganya pada orang luar.
"Baiklah!" jawab sang Dokter yang kemudian menaruh peralatannya ke dalam tas kotak dan lantas ia pamit pulang.
"Drey, mengapa kamu tidak minum kedua hal itu?" tanya Diandra pada Audrey seraya duduk di pinggiran ranjang menantunya itu.
"Drey ingin membelinya, Ma. Tapi Drey tidak punya uang!" jawab Audrey dengan suara yang lemah.
"Ini semua karena putri kita, Dra!" sahut Satria.
"Apa?" Diandra terkejut kala sang suami menyalakan putri mereka.
"Iya, Faya telah mengambil uang nafkah pemberian Bie dan kemudian ia gunakan uang itu untuk membeli kalung berlian!" jawab Satria yang menjelaskan semuanya pada sang istri.
"Enggak! Aku nggak mencurinya! Aku menemukannya di laci lemari!" sangkal Faya yang masih tidak mau mengakui kesalahannya.
"Tegur dia, Dra! Minta dia mengembalikan semua yang telah ia ambil!" titah Satria pada sang istri.
Satria menyuruh sang istri yang menegur putrinya sebab sang istri berhati lembut dan mungkin bisa berbicara dengan benar pada Faya.
"Baik, Mas!" jawab Diandra yang kemudian membawa putrinya keluar dari kamar itu.
Satria pun ikut keluar, namun tujuannya di lain tempat bukan mengikuti Diandra dan Faya.
Beberapa saat kemudian, Diandra membawa vitamin untuk Audrey.
"Drey, ini di minum dulu vitaminnya. s**u penguat kandungannya nanti malam saja!" ucap Diandra seraya duduk di pinggiran ranjang dan memberikan gelas serta vitamin penguat kandungan itu untuk Audrey.
"Terima kasih, Ma. Tapi siapa yang membeli vitamin dan s**u itu?" tanya Audrey seraya menerima vitamin itu dan dengan segera menelannya.
"Mas Satria tadi sudah membelikannya!" jawab Diandra seraya menatap Audrey dengan tatapan sendu.
"Drey?" panggilnya pada menantunya yang baru saja menaruh gelas air putih.
"Iya, Ma!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Mama minta maaf atas nama Faya ya? Tolong maafkan Faya!" pinta Diandra seraya menatap menantunya dengan tatapan sendu.
Audrey membalas tatapan sendu itu dengan senyuman dan kemudian ia berkata, "Drey enggak pernah marah pada Faya! Faya masih kecil, Ma. Dia masih belum sepenuhnya mengerti tentang baik dan buruk."
"Kamu memang wanita yang baik, Drey! Hatimu bersih, sehingga nggak ada dendam dan kemarahan yang berlebih. Terima kasih, Drey!" jawab Diandra sambil mengubah raut wajah sedihnya menjadi senyuman bahagia.
"Sudah kewajiban manusia untuk bisa saling memaafkan, Ma! Allah saja maha pemaaf, lalu mengapa umatnya enggak bisa memaafkan kesalahan seseorang?" ucap Audrey.
"Drey!" Panggilan seorang pria paruh baya membuat Audrey dan mama mertuanya menatap pintu kamar tersebut.
Pria paruh baya itupun segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah ranjang.
"Sudah diminum vitaminnya?" tanya Satria setelah tiba di dekat ranjang.
"Alhamdulillah, sudah, Pa!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Faya nggak mau mengembalikan hakmu. Jadi, sebagai orangtuanya saya akan bertanggungjawab!" ucap Satria seraya mengeluarkan amplop berwarna coklat dan lantas menyodorkannya pada sang menantu sambil melanjutkan ucapannya, "Ini papa kembalikan semua uang nafkah dari Bie yang telah terampas sebelumnya!"
"Oh, tidak usah, Pa. Drey nggak ingin—"
"Tolong terima ini! Kebutuhanmu banyak, Drey!" bujuk Satria seraya memotong ucapan menantunya.
"Baiklah, Pa!" jawab Audrey seraya menerima uang pemberian sang papa mertua.
Malam harinya, Audrey dan kedua mertuanya berada di rumah sakit untuk menjaga Abian.
"Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, Drey, Pa, Ma. Kondisi Bie sudah jauh lebih baik daripada kemarin, jadi mungkin besok sudah boleh pulang!" ucap Abian.
"Syukurlah kalau begitu, Bie!" jawab Diandra.
"Bie, papa ke sini juga untuk meluruskan semuanya agar nggak ada kesalahpahaman antara kamu dan istrimu. Jadi—"
"Pa, sebaiknya Bie nggak usah diberi tahu! Semuanya sudah selesai tadi sore, kan?" Audrey memotong ucapan mertuanya yang hendak mengatakan kebenaran tentang Faya.
"Mama tahu jika kamu masih ingin menutupi kesalahan Faya. Tapi, jangan korbankan dirimu sendiri demi Faya, Drey!" sahut Diandra.
"Faya?" Abian mengernyitkan dahinya kala Diandra membawa nama Faya dalam topik pembicaraan ini.
Satria pun segera menceritakan segalanya tentang Faya kepada Bie, meski Audrey menolak hal itu.
"Aku nggak menyangka bila adikku sendiri bisa melakukan hal ini!" ucap Abian setelah mendengar semua keburukan Faya.
"Sudah, Bie. Aku harap jangan diperpanjang! Kasihan Faya!" mohon Audrey pada suaminya.
Keesokkan harinya, Audrey sedang jalan-jalan sendirian untuk mencari angin segar guna menyehatkan kandungannya. Namun, di tegah perjalanan ia berpapasan dengan Mawar dan dua orang wanita paruh baya lainnya.
"Tuh mantan istri keponakanku! Cantik sih, tapi nggak ada etika dan hati nurani sama sekali!" cibir Mawar sambil tersenyum kecut.
Audrey hanya diam dan mencoba menjauh dari tiga orang wanita paruh baya yang sedang membicarakannya itu.
"Tidak punya etika bagaimana, Jeng?" tanya teman sosialita Mawar sambil tersenyum sinis.
"Ya, dia menikah lagi setelah suaminya dinyatakan hilang dan meninggal. Padahal, menurut syariat Islam, masa iddah wanita yang sedang hamil itu sampai anaknya lahir!" ucap Mawar seraya menatap Audrey dengan tatapan sinis.
Audrey yang kini berjalan membelakangi Mawar pun mencoba untuk tetap tenang dan menjaga air matanya agar tidak jatuh.
"Jangan sakit hati, Drey! Kedua teman bibi itu tidak tahu apa-apa soal hal ini!" batin Audrey.
"Dan sepertinya itu bukan anak keponakan saya, dia telah berselingkuh dengan pria lain dan anak itu adalah anak haram!" Tuduhan Mawar yang satu ini membuat Audrey menghentikan langkahnya dan berbalik serta menghampiri tiga orang wanita itu.
Sebagai seorang ibu sudah tentu Audrey tak ingin anaknya di hina. Mereka boleh menghinanya namun tidak boleh menghina anaknya yang suci tanpa dosa itu.
"Maaf, saya hanya ingin meluruskan jika ini adalah anak Kak Felix dan tentu saja bukan anak pria lain atau anak haram!" ucap Audrey yang menjelaskan semuanya.
"Jika kamu memang wanita yang setia, lalu mengapa menikah sebelum masa iddah habis. Dan hasilnya suamimu pulang saat ijab kabul, kan?" tanya teman Mawar yang bernama Puspa.
"Ada alasan untuk itu dan maaf, Anda adalah orang luar yang tidak tahu apa-apa!" ucap Audrey sambil tersenyum.
Setelah selesai berbicara, Audrey pun berbalik dan hendak melanjutkan perjalanannya namun seorang pria paruh baya yang masih awet muda berdiri di sana.
Audrey sedikit terkejut dan matanya hampir saja menjatuhkan air mata jika ia tidak menahannya.
"A—ayah?" ucap Audrey dengan gugup.
Sosok lelaki dengan kumis tipis dan kulit putih serta wajah yang masih tampan itu hanya memasang tatapan datarnya saja ketika Audrey memangilnya.
"Ikut saya!" ucap Arga seraya mengambil pergelangan tangan kiri anaknya dan lantas menariknya dengan kasar.
"Ayah, Drey bisa berjalan sendiri!" ucap Audrey kala merasakan rasa sakit dan perih di tangannya kala pria bertubuh kekar dan tinggi itu menariknya secara kasar.
"Hey, Arga! Tunggu dulu!" Panggilan Mawar membuat Arga berhenti dan berbalik tanpa melepaskan pergelangan tangan Audrey.
"Tegur anakmu! Dia sudah menikah lagi tanpa menunggu masa iddah selesai dan anak yang dikandungnya adalah anak haram! Bukan anak keponakan saya!" Ucapan Mawar membuat Arga semakin menguatkan genggamannya.
Audrey meringis kesakitan, namun rasa sakit di pergelangan tangannya itu tak sebanding dengan rasa sakit dihatinya akan perlakuan sang ayah yang belum juga berubah, sang ayah masih tetap kasar dan dingin terhadapnya.