Sebuah alasan tiba-tiba terbesit dalam benak Audrey, ia pun segara mengatakan alasan palsunya itu pada Satria.
"Drey habis beli vitamin dan s**u penguat kandungan, Pa!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Lalu, mana vitamin dan s**u itu?" tanya Satria pada menantunya.
"Di dalam tas selempang Drey, Pa!" jawab Audrey.
"Oh, iya sudah! Masuklah!" ucap Satria.
"Papa mau kemana?" tanya Audrey pada Satria yang mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna merah saja.
"Ke rumah sakit untuk merawat Bie, kamu dan Diandra di rumah saja ya!" jawab Satria sambil tersenyum.
"Baik, Pa!" ucap Audrey yang kemudian segara melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
Setibanya di dalam ia bertemu dengan Diandra yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Drey, kalau kamu lapar. Ke dapur saja, Mama sudah masak sup sayur dan lauk pauk. Ingat! Makan sayurnya yang banyak ya? Karena itu baik itu kandunganmu!" ucap Diandra sambil tersenyum.
"Baik, Ma. Terima kasih!" jawab Audrey yang kemudian bergegas pergi ke lantai dua untuk beristirahat di dalam kamarnya.
***
Di rumah sakit, kini Satria sedang menyuapkan buah apel pada sang putra yang masih terbaring di atas brankar.
"Bagaimana kabar Drey, Pa? Apa dia baik-baik saja?" tanya Abian seraya mengunyah buah apel yang telah masuk ke dalam mulutnya.
"Dia baik-baik saja!" jawab Satria sambil tersenyum.
"Pah?" panggilnya pada Satria.
"Apa Bie?" tanya Satria pada Abian.
"Maafkan Bie, Pa!" ucap Abian sambil menatap Satria dengan tatapan sendu.
"Maaf untuk apa, Bie?" tanya Satria.
Abian menarik nafasnya dan masih dengan tatapan sendu, ia berkata, "Bie sudah gagal, Pa. Bie gagal menunaikan tugas, Bie. Padahal selama ini Bie nggak pernah gagal!"
Satria tersenyum dan kemudian menaruh piring berisi irisan buah apel itu ke atas meja dan lantang mengambil dan menggenggam telapak tangan kiri putra sulungnya.
"Bie, dalam menjalankan tugas itu nggak akan selamanya kita menang! Ada kalanya kita kalah karena kita adalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Ingat, Bie! Dalam hidup, semua orang nggak akan terlepas dari yang namanya kegagalan!" jawab Satria yang memberi semangat pada putra sulungnya.
"Bie, manusia bisa salah dan gagal serta manusia harus wajib belajar dari kesalahan serta kegagalannya itu agar bisa berubah menjadi lebih baik lagi! Enggak perlu khawatir jika kali ini gagal karena masih ada banyak kesempatan yang masih menantimu!" lanjut Satria.
Mendengar nasehat dari Satria, Abian tersenyum dan kemudian berkata, "Terima kasih karena selalu menjadi jawaban untuk semua pertanyaan Bie selama ini, Pa!"
"Orang tua harus selalu menolong dan mengayomi anaknya, Bie. Papa hanya menjalankan kewajiban papa saja!" jawab Satria sambil tersenyum.
Sore harinya, Satria menjemput putrinya di sekolahan, sebenarnya sang putri bungsunya itu sudah pulang sejak jam satu siang tadi. Namun karena ada ekstrakulikuler di sekolahnya, Faya baru pulang sekarang.
"Kak Bie masih sakit, Pa?" tanya Faya seraya masuk ke dalam mobil Satria.
"Iya, dia belum boleh pulang ke rumah!" jawab Satria sambil memakaikan sabuk pengaman untuk putrinya.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari dalam tas sekolah Faya, Faya dengan segera membuka tas sekolahnya dan kemudian meraih benda pipih berwarna silver serta memiliki logo apel yang tergigit sebagiannya itu.
"Halo?" ucap Faya setelah mengangkat panggilan masuk dari salah satu temannya itu.
"Kamu jadi beli tas limited edition itu nggak?" tanya teman Faya yang bernama Lisa dari seberang telepon.
"Em ... nanti deh! Soalnya uang tabunganku belum cukup untuk membelinya!" jawab Faya.
"Masa sih? Waktu itu saja kamu dengan mudah bisa beli kalung berlian sehar—" Faya segera memutus sambungan teleponnya kala Lisa tak sengaja mengungkit soal kalung berlian itu.
Jantung Faya sudah berdetak tak beraturan kala Satria tiba-tiba menghentikan mobilnya dan menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Apa maksudnya?" tanya Satria seraya beralih menatap kaca mobil.
"Em, enggak ada ap—"
"Jawab dengan jujur!" tegas Satria seraya memotong perkataan putri bungsunya.
"I—iya, Faya memang membeli kalung berlian, tetapi itu dengan uang tabungan Faya sendiri, Pa. Sisa uang saku selalu Faya tabung!" jawab Faya sambil menatap takut ke arah Satria.
"Apa sebenarnya yang dikatakan Drey adalah sebuah kebohongan? Apa jangan-jangan dia hanya ingin menutupi kesalahan adik iparnya yang nakal ini?" tanya Satria seraya menatap putrinya yang sudah sangat ketakutan.
Tatapan Satria yang sangat menusuk membuat Faya langsung menundukkan kepalanya.
"Jawab dengan jujur Faya! Papa tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pembohong!" tegas Satria yang terdengar seperti bentakan bagi Faya.
Faya menangis tersedu-sedu, hatinya yang lembut seperti wanita pada umumnya menjadi sakit sebab sedikit tergores oleh ucapan papanya sendiri.
Satria menarik nafasnya, ia sangat mengerti dengan sifat sang putri yang keras kepala dan egois itu.
"Inilah mengapa papa malas menegur atau apa! Karena kamu selalu menangis!" ucap Satria yang kemudian menginjak gas mobilnya.
***
Setibanya di rumah, Faya yang masih menangis itu lari ke arah dalam dan ia memeluk Diandra yang baru saja keluar dari dapur dan hendak menuju ke ruang tamu.
"Faya, ada apa, Nak? Ada apa?" tanya Diandra yang panik karena putrinya menangis sehabis pulang sekolah.
"Papa, Ma. Papa!" Faya mengadu pada Diandra.
"Ada apa, Mas?" tanya Diandra pada suaminya yang baru masuk ke dalam rumah, namun suaminya itu hanya diam dan terus berjalan menuju ke lantai dua.
"Ada apa, Faya?" tanya Diandra pada putrinya.
"Papa jahat! Papa jahat!" ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
Diandra pun mengiring sang putri bungsunya untuk duduk di sofa, sementara Satria kini sudah tiba di depan kamar menantunya.
Satria kemudian mengetuk pintu kamar menantunya sebanyak tiga kali dan tak lama dari itu pintu terbuka.
"Papa, ada apa, Pa? Apa terjadi sesuatu pada Bie?" tanya Audrey.
"Tidak terjadi sesuatu pada putraku!" jawab Satria seraya duduk di sofa yang terletak di depan kamar Audrey.
Merasa penasaran dengan alasan sang mertua yang menemuinya, Audrey pun ikut duduk di sofa abu-abu itu.
"Sepertinya kamu telah membohongi papa, Drey?" ucap Satria kemudian seraya menatap lurus ke depan.
"Bohong apa, Pa?" tanya Audrey pada Satria.
"Tentang kalung berlian!" jawab Satria.
Jawaban Satria membuat Audrey terkejut karena ia tak menyangka jika Satria akan mencurigai soal berlian itu.
"Em ... berliannya kenapa, Pa?" tanya Audrey yang pura-pura tidak tahu.
"Bukan kamu yang membeli berlian itu, tetapi Faya!" jawab Satria seraya menatap menantunya dengan tatapan sendu.
Audrey menundukkan kepalanya dan kemudian ia berbohong, "Papa salah! Faya tidak mengerti apa-apa, Pa. Semua ini salah Drey! Drey yang telah menghamburkan uang untuk membeli perhiasan, Pa!"
"Cukup! Papa mohon jangan berbohong, Drey! Tolong jangan mencoba menutupi kesalahan adik iparmu!" pinta Satria agar menantunya jujur.
"Tidak, Pa! Papa sal—"
"Lalu mana kalung berlian itu? Mana?" tanya Satria seraya memotong ucapan Audrey.
"Kalungnya ... kalungnya sudah ku jual untuk membeli vitamin dan obat penguat kandungan serta kebutuhanku yang lain, Pa!" Bohong Audrey lagi. Wanita hamil yang memiliki hati sebaik bidadari surga itu masih ingin menutupi kesalahan adik iparnya agar sang adik ipar yang baru beberapa hari sembuh dari depresi karena bullying itu tak dimarahi oleh orangtuanya.
"Kesalahan tidak boleh ditutupi, Drey! Karena jika ditutupi terus, nanti akan buruk di akhir!" ucap Satria yang masih membujuk menantunya untuk jujur.
Audrey terdiam, wanita itu masih bungkam seakan lidahnya sulit untuk mengatakan kebenaran tentang keburukan Faya.
"Kamu sayang pada adik iparmu, kan? Jika sayang, maka jujurlah! Ini semua demi kebaikannya agar tidak salah jalan nantinya!" Satria membujuk menantunya untuk berkata jujur lagi.