Bab 18. Audrey Dijambret

1378 Words
Felix terdiam kala melihat kedatangan Audrey secara tiba-tiba. "Mau ngapain ke sini? Bukannya kamu lagi bersenang-senang dengan suami keduamu?" tanya Felix dengan ketus. "Bersenang-senang apa maksudnya? Bie lagi sak—" "Cukup! Aku nggak mau mendengar penjelasanmu sebab itu semua hanyalah sebuah kebohongan!" ucap Felix yang memotong perkataan Audrey yang hendak mengatakan bahwa Abian sedang di rawat di rumah sakit. "Kak, kalau aku boleh jujur! Aku masih mencintaimu dan belum punya perasaan apa-apa pada Bie!" Audrey berkata sambil memasang raut sedihnya serta tatapan wanita hamil itu sangat sendu. "Kalau itu memang benar, tinggalkan dia dan kembali padaku!" pinta Felix seraya menatap Audrey dengan tatapan tajam. Audrey menarik nafasnya dan kemudian menundukkan kepalanya, "Maaf, Kak. Aku nggak bisa ninggalin dia sebab di—" "Berarti kamu sudah mencintainya dan melupakanku, Drey!" Felix lagi-lagi memotong ucapan Audrey. Felix dan Audrey terus berseteru, sementara Devina hanya diam bermain ponsel, wanita muda yang masih lajang itu tidak ingin terlibat dalam urusan Felix dan mantan istrinya. "Sekarang aku tanya, mau apa kamu kesini?" tanya Felix pada Audrey yang masih menatapnya dengan tatapan sendu. "Kamu melupakan kewajibanmu, Kak. Kamu lepas tanggung jawab atas janin ini!" jawab Audrey yang masih menatap mantan suaminya dengan tatapan sendu. "Oh, jadi kamu masih punya muka untuk meminta uang? Baiklah, akan aku berikan!" Ucapan Felix membuat Devina yang bermain ponsel fokus menatapnya. Felix pun segara membuka dompetnya dan ia mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan lantas memberikannya pada Audrey. "Nih!" ucapnya. Audrey hendak menerima uang itu namun seseorang menghentikannya. "Felix nggak wajib memberi nafkah pada anak yang bukan darah dagingnya!" ucap Saskia yang tiba-tiba datang bersama dengan Mawar. "Felix, dia sudah berselingkuh dengan pria lain, kan? Dan nggak berhenti di situ karena sepertinya ia juga ada main dengan Abian!" tuduh Mawar sambil menatap Audrey dengan tatapan sinis. "Iya, Nak! Itu bukan anakmu!" sahut Saskia. "Drey nggak pernah selingkuh dari Felix, Bu!" ucap Audrey yang mencoba membela dirinya. "Itu anak Felix, Bu. Meski dia kini sudah mengkhianati Felix dua kali yaitu dengan pria asing dan pria yang sangat Felix kenal. Namun, anak yang dikandungnya adalah anak Felix!" jawab Felix. "Mengapa kamu begitu yakin dan percaya padanya, Felix?" tanya Mawar pada keponakannya. "Karena Felix lah yang pertama menyentuhnya!" jawab Felix dengan tatapan sendunya. "Cih, pertama menyentuh! Bisa jadi dia disentuh oleh pria lain duluan, kan?" tuding Mawar pada Audrey. "Enggak! aku nggak pernah bersama dengan pria lain!" sangkal Audrey. "Bu, anak yang di kandung Audrey adalah cucu ibu sebab dia masih perawan ketika aku sentuh! Jadi, nggak mungkin itu anak orang lain!" sahut Felix seraya menggenggam tangan ibu kandungnya. "Aku nggak pernah selingkuh!" sangkal Audrey lagi sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. "Ambil uang itu dan kembalilah ke rumahmu!" ucap Felix. Audrey yang sudah merasa tidak kuat lagi dengan hinaan dari keluarga mantan suaminya pun memutuskan untuk enyah dari sana. *** Kini Audrey berjalan sendirian sambil menentang tas selempangnya yang berisi sejumlah uang dari Felix. "Aku kira kamu akan mengantarku, Kak. Tapi ternyata enggak!" ucap Audrey sambil tersenyum kecut. Ia tak menyangka jika Felix akan membiarkannya berjalan sendirian di bawah teriknya matahari. "Lebih baik aku lewat jalan itu saja, sepertinya di sana udaranya sejuk dan adem!" ucapnya yang kemudian memilih untuk lewat jalan terobosan bukan jalan raya. Audrey pergi tanpa memberi tahu keluarganya sehingga ia harus berjalan tanpa menggunakan kendaraan atau memesan taksi sebab ia tidak mempunyai sepeserpun uang. "Ada baiknya aku sekalian beli vitamin dan s**u penguat kandungan di apotek?!" ucap Audrey lagi sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba ia dicegat oleh dua orang pria bertubuh kekar yang sepertinya adalah seorang preman. Audrey memasang wajah takutnya seraya melihat ke bawah, ia pun memberanikan diri untuk melewati dua preman yang mencegatnya. Dua preman itu menghindar memberikan jalan untuk Audrey "Hey!" Panggilan salah satu dari mereka membuat Audrey terlonjak kaget dan tak berani berbalik untuk menatap kedua pria itu. Audrey semakin menguatkan pegangannya ke tali tas selempangnya kala ia mendengar suara langkah kaki dua orang. "Ini punya kamu?" Pertanyaan salah satu dari preman yang sudah ada di sampingnya itu membuat Audrey langsung menoleh dan ia melihat preman itu menunjuk kunci rumah miliknya yang mungkin saja terjatuh tadi. "I—iya!" jawab Audrey dengan takut. "Ini, simpan baik-baik jika itu penting!" ucap pria itu yang kemudian memberikan kunci tersebut pada Audrey. Audrey pun menerima kuncinya dan lantas berjalan dengan cepat untuk pergi dari dua pria yang ia anggap preman itu. "Mengapa mereka nggak memeras diriku?" tanya Audrey di dalam hatinya. Ia mulai berpikir mengapa dua orang preman itu tidak merampas tas selempang miliknya dan malah membiarkannya pergi. Namun ketika ia hampir tiba di tempat keramaian, tasnya di rampas oleh seorang pria yang berpenampilan rapi. "Maaf itu tas saya!" ucapnya ketika pria itu membuka tasnya dan kemudian mengambil seluruh uang miliknya serta ponsel. "Nih, tas Anda! Saya nggak butuh!" Pria itu berkata sambil melempar tas tersebut ke arah Audrey. "Uang saya tolong jangan dibawa semua! Saya mau beli vitamin un—" "Aku nggak peduli!" ucap pria itu sambil tersenyum bahagia dan kemudian pergi dari hadapan Audrey. "Pertama dua orang pria berpakaian preman hanya membuatku takut dan sekarang pria yang berpenampilan rapi tak hanya membuatku takut, tapi juga merampas harta bendaku!" ucap Audrey. Ia baru sadar bahwa penampilan tak menjamin kebenaran. Yang terlihat jahat mungkin baik dan yang terlihat baik mungkin jahat, itulah kehidupan yang mengatakan jangan pernah menilai orang dari penampilannya. "Bagaimana ini? Aku nggak punya uang untuk membeli vitamin dan s**u penguat kandungan, serta aku juga nggak punya biaya untuk memesan taksi?" ucap Audrey seraya menatap tasnya yang kosong dengan tatapan sendunya. Wanita itu memutuskan untuk kembali ke rumah Felix guna meminta di antar pulang, ia takut kandungannya akan kenapa-napa bila ia nekat berjalan pulang, terlebih di bawah teriknya matahari. Audrey berbalik untuk kembali, namun ia berpapasan dengan dua orang pria berpenampilan preman itu lagi. Tanpa sepatah kata apapun, Audrey berjalan melalui mereka. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing sehingga ia berjalan perlahan. Kedua pria itu nampak memperhatikannya dari kejauhan dan tanpa pikir panjang segera menghampirinya. "Mbak?" Panggilan dua orang pria itu membuat Audrey gugup sebab ia masih takut pada mereka. "I—iya, ada apa?" tanya Audrey pada kedua pria itu. "Mbak mau kemana? Mengapa balik lagi?" tanya salah satu dari mereka. "Sa—saya ingin pulang tapi tadi ada yang menjambret saya!" jawab Audrey dengan jujur. "Kalau nggak keberatan kami berdua bisa mengantar Mbak pulang! Kebetulan kami bawa mobil kok!" ucap salah satu dari dua orang itu yang menawarkan bantuan pada wanita hamil yang terlihat letih itu. "Mobil?" tanya Audrey yang merasa ragu bila kedua orang berpenampilan preman itu bilang membawa mobil. "Jangan takut pada kami, Mbak! Kami orang baik dan kadang apa yang terlihat tak seperti yang kita pikirkan!" jawab salah satu dari mereka. Karena tidak ada pilihan lain, Audrey pun pasrah dan menerima bantuan dari kedua orang asing tersebut. *** Satria yang hendak ke rumah sakit seketika hanya diam berdiri di samping mobilnya kala melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. "Sepertinya aku mengenal mobil hitam itu?" batin Satria. Setelah mobil berhenti, Satria merasa terkejut kala menantunya keluar dari mobil itu bersama dengan dua orang pria. "Ini rumah, Mbak?" tanya salah satu dari mereka pada Audrey. "Bukan, ini rumah mertua saya!" jawab Audrey. "Terima kasih sudah mengantar saya ya?" lanjutnya yang mengucapkan terima kasih pada dua orang pria itu. Kedua pria itu kini tampak melihat ke arah Satria yang berjalan ke arah mereka. "Audrey, mengapa kamu bisa bersama dengan mereka?" tanya Satria pada menantunya yang baru saja menatapnya. "Panjang ceritanya, Pa!" jawab Audrey. "Em ... apa Papa mengenal mereka?" lanjut Audrey yang bertanya pada mertuanya. "Ya, mereka adalah anggota TNI AD. Mereka adalah seorang Intel yang sedang melakukan penyamaran untuk menyelesaikan misi!" jawab Satria. Audrey terkejut, ia sudah salah mengira tentang kedua orang pria itu, pria yang ia kira preman ternyata adalah seorang anggota tentara. "Oh, jadi ... mereka nyamar?" ucap Audrey. "Iya!" jawab Satria. "Sungguh penyamaran yang sangat sempurna!" batin Audrey. "Baiklah, terima kasih sudah mengantar menantu saya pulang! Sekarang kalian boleh pergi untuk melanjutkan tugas!" ucap Satria. "Siap!" jawab keduanya seraya memberi hormat pada Satria yang merupakan atasannya secara singkat dan kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil. "Oh, iya. Drey, kamu habis dari mana?" tanya Satria pada menantunya. Audrey bungkam, tak mungkin ia berkata jujur bahwa dirinya dari rumah Felix mantan suaminya untuk mengambil hak anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD