Bab 17. Terjadi Kesalahpahaman Karena Kuberi Haknya

1402 Words
Abian sudah mencoba membujuk Audrey, namun Audrey tetap tidak ingin meminta uang nafkah lagi dan beralasan akan menjual kalung berliannya. "Baiklah, jika begitu!" Abian akhirnya menyerah dalam membujuk Audrey. "Aku akan pergi ke rumah Kak Felix, menuntut hakku! Jika itu nggak berhasil maka aku diam-diam akan bekerja sebagai seorang jurnalis lagi!" batin Audrey. "Drey, nanti malam aku keluar untuk dinas, mungkin akan pulang besok pagi! Jadi, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa meminta bantuan pada Mama atau Papa!" ucap Abian seraya menatap istrinya dengan tatapan sendu. Sebenarnya Abian merasa tidak enak sebab jarang berada di rumah, padahal tugas seorang suami adalah menemani dan menjaga sang istri. Namun mau bagaimana lagi, sebagai seorang TNI yang harus menjadi prioritasnya adalah negara bukan keluarga atau urusan pribadinya. "Iya, Bie. Enggak apa-apa, aku bikinin kopi untukmu ya?" Audrey menawarkan kopi di akhir kalimatnya. "Enggak perlu, Drey! Aku bisa membuatnya sendiri, lebih baik kamu istirahat saja!" Abian menolak tawaran sang istri sambil tersenyum. "Itu sudah merupakan tanggung jawabku sebagai seorang istri! Jadi biar aku buatkan. Cuaca sedang nggak baik, aku takut kamu masuk angin nantinya!" ucap Audrey yang kemudian beranjak pergi ke arah dapur. "Ada baiknya aku mandi dulu deh! Nanti habis mandi minum kopi buatan Audrey." Pria itu segara pergi ke kamar mandi sambil tersenyum, ia merasa bahagia karena ini adalah kali pertama Audrey membuatkan kopi untuknya, rasanya seperti mimpi tapi ini nyata. Tak beberapa lama kemudian, Audrey kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas kopi hangat untuk sang suami. "Pergi ke mana dia?" tanya Audrey pada dirinya sendiri seraya menaruh kopi hangat itu ke atas meja yang ada di samping ranjang. "Drey!" Panggilan seorang pria dari dalam kamar mandi membuat Audrey langsung pergi ke sana. "Ada apa?" tanya Audrey yang sudah tiba di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup. Kini terdengar suara pintu terbuka namun tidak terbuka semua, hanya sedikit dan muncul sebuah kepala dari pintu yang terbuka tidak sepenuhnya itu. Audrey mengalihkan pandangannya ke sembarang arah kala ia sadar bahwa pria yang ada di dalam sana adalah Abian, suaminya. "Ada apa, Bie?" tanya Audrey tanpa melihat ke arah pintu yang hanya memperlihatkan kepala Abian saja, sementara pria itu menyembunyikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun. "Em ... aku nggak tahu jika di dalam kamar mandi nggak ada handuk. Jadi, boleh tolong ambilkan handuk untukku?" pinta Abian pada Audrey. "Baiklah, tunggu di sana!" jawab Audrey yang kemudian segera pergi mengambilkan handuk yang mungkin masih tersimpan di lemari pakaian. Setelah mendapatkannya, Audrey pun segera kembali ke arah pintu kamar mandi dan langsung memberikan handuk itu tanpa melihat ke arah Abian. "Terima kasih, Drey!" ucap Abian yang kemudian menutup pintu kamar mandi dan dengan segera memakai handuk itu. Audrey pun segara pergi ke atas ranjang dan duduk di atasnya sambil memperbaiki rambut panjangnya yang terurai menjadi dicepol agar ia bisa tidur dengan nyaman. Terdengar pintu terbuka lagi dan terlihatlah Abian yang keluar dari kamar mandi, pria itu hanya mengenakan handuk yang menutupi pusar hingga lututnya saja. Sementara Audrey kini hanya fokus menatap layar ponselnya dan menonton vidio-vidio bayi yang ada di sana Malam harinya, Abian sudah rapi dengan seragam tentaranya dan sekaligus rompi anti peluru serta helm tentara yang melekat di kepalanya. "Drey, bolehkah aku menciummu?" pinta Abian pada istrinya yang berdiri di depannya. "A—apa?" Audrey terkejut mendengar permintaan sang suami. "Em, maksudku ... aku ingin mencium kening istriku sebelum aku berangkat tugas!" ucap Abian yang menjelaskan semuanya. "Maaf, Bie. Aku nggak bisa!" Audrey menolak permintaan sang suami sebab Audrey masih mencintai Felix dan tidak ada rasa yang lebih dari sekedar teman terhadap Abian. "Baiklah!" jawab Abian sambil memaksa tersenyum. Sakit, tentu saja sakit tidak pernah mendapatkan haknya meski hanya sedikit atau secuil saja. "Aku berangkat! Assalamualaikum," ucapnya yang kemudian segera pergi untuk menunaikan tugas negara. Tengah malam kemudian, Audrey sudah tertidur namun ia terjaga dari tidurnya kala mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras. "Bangun! Bangun!" teriak seorang gadis dari balik pintu. Audrey pun mengusap kedua matanya dan bergegas pergi ke arah pintu. "Ada apa?" tanyanya. "Kakak ada di rumah sakit, jika kamu nggak mau menjenguknya ya sudah!" jawab gadis yang mengenakan baju tidur berwarna coklat itu yang kemudian bergegas turun untuk ikut kedua orangtuanya. "Faya, apa maksudmu?" tanya Audrey dengan suara yang keras, namun Faya tak mendengarkannya. "Apa jangan-jangan?" Firasat Audrey mulai buruk, ia pun segera menutup pintu kamarnya dan bergegas turun ke lantai sana. "Ada apa, Ma? Pa?" tanya Audrey pada kedua mertuanya setelah ia tiba di depan pintu. "Enggak apa-apa, Drey!" jawab Satria. "Tapi tadi Faya ...," ucap Audrey. "Faya, mengapa kamu beri tahu dia?" tanya Satria pada putrinya. "Kenapa dia nggak boleh tahu?" tanya balik Faya. "Sudah! Karena Audrey sudah tahu, ayo kita segera pergi!" ajak Diandra. "Tunggu! Apa yang terjadi pada Bie?" tanya Audrey dengan panik. "Nanti kamu bisa lihat sendiri, ayo berangkat!" jawab Satria yang kemudian masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh seluruh anggota keluarganya. *** "Ada luka yang cukup serius di bagian kakinya dan kemungkinan dia nggak akan bisa berjalan dengan benar selama beberapa hari, Pak!" Ucapan seorang dokter yang berdiri di depan UGD membuat Audrey semakin cemas dan sadar bahwa mungkin suaminya sedang terluka. "Bie kenapa?" tanya Audrey. "Kecelakaan dalam tugas, ia terkena panah dari musuhnya!" Jawaban Diandra membuat Audrey terkejut. "Ada dua luka, Pak. Luka panah itu ada di bagian lengan kiri dan sementara untuk luka di kaki itu adalah luka benturan dan tertusuk kayu. Mungkin setelah terkena panah, ia jatuh?!" lanjut sang dokter. "Benar, Dok! Dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh!" jawab seorang anggota tentara yang merupakan rekan Abian. "Drey, bolehkah aku menciummu?" Pertanyaan Abian tadi tiba-tiba terlintas dalam benak Audrey. Audrey meneteskan sebutir air mata, sungguh kejamnya ia tidak pernah memberikan hak Abian atas dirinya, bahkan tadi ia menolak permintaan Abian untuk mencium keningnya. "Maaf, Bie. maaf!" batin Audrey. "Apakah kita boleh masuk, Dok?" tanya Diandra pada sang dokter. "Boleh, tapi dia masih belum siuman." Setelah mendengar jawaban dari sang dokter, seluruh anggota keluarga Abian beserta tiga rekannya pun segara masuk ke dalam ruang UGD tersebut untuk melihat kondisi Abian. Keesokkan harinya, Audrey menatap lekat wajah sang suami yang masih terlihat tenang dan kedua matanya belum terbuka. "Bie, maafkan aku! Harusnya aku memberikan hakmu. Istri macam apa aku ini yang melepas kepergian suami dengan mudah!" ucap Audrey sambil menangis. Beruntung di dalam ruangan itu kini hanya ada Audrey dan Abian saja hingga cukup memberikan ruang dan waktu untuk Audrey bicara berdua dengan sang suami. "Bie, aku nggak tahu jika semuanya akan berakhir seperti ini, aku nggak tahu bahwa kamu akan terluka," ucap Audrey dengan mata yang penuh dengan air sehingga air-air itu jatuh membasahi pipinya. "Bie, aku memang belum mencintaimu tapi aku peduli padamu sebagai teman dan kamu juga peduli padaku, kan?!" lanjut Audrey seraya menggenggam telapak tangan Abian dengan sangat erat. Tiba-tiba Abian bergeming, ia siuman dari pingsannya yang sudah berjam-jam lamanya. "Drey?" ucapnya setelah melihat hanya ada Audrey di sisinya. "Bie? Kau sadar?" Bahagia Audrey seraya memeluk tubuh suaminya yang masih terbaring di atas brankar rumah sakit, wanita yang di dalam hatinya dipenuhi oleh penyesalan itu kini tanpa sadar telah menyentuh pria lain selain Felix. "Ya Allah, apakah ini mimpi?" batin Abian yang tak percaya Audrey memeluk tubuhnya. "Drey, ini benar kamu?" tanya Abian kemudian. Audrey pun mengangkat kepalanya dan kemudian berkata, "Bie, kamu boleh mencium keningku saat ini saja!" Perkataan Audrey membuat Abian terkejut sekaligus bahagia. "Benarkah?" tanya Abian untuk memastikan semuanya. Audrey dengan segera menganggukkan kepalanya. Abian pun segera menarik kepala Audrey dan lantas mencium kening mulus Audrey dalam jangka waktu yang lama, pria itu juga memejamkan kedua matanya untuk menghayati dan merasakan ciumannya. *** Siang hari kemudian, di sebuah rumah berlantai dua. "Maaf, Felix! Bukan maksudku untuk ikut campur dalam hubunganmu dengan Audrey, tapi aku paling nggak bisa menyembunyikan kebenaran!" ucap Devina setelah menunjukkan sebuah foto yang ia dapatkan tadi. "Dari mana foto ini?" tanya Felix pada Devina. "Audrey memposting foto itu ke sosial medianya, namun ia telah menghapusnya begitu mengetahui aku melihat postingannya," jawab Devina dengan bohong. Wajah Felix memerah karena marah, jika ia tahu itu di rumah sakit mungkin ia tidak semarah ini namun foto itu berlatar di dalam sebuah kamar yang di mana menunjukkan Audrey sedang berpelukan dan dicium oleh Abian. "Dia bilang nggak mencintai Abian, tapi ternyata dia mau dia sentuh oleh pria itu! Dasar munafik!" ucap Felix dengan nada marah. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Devina pun segera membuka pintu rumah Felix dan setelah pintu terbuka, terlihatlah Audrey berdiri di depan pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD