Bab 16. Terpaksa Berbohong Demi Adik Iparku

1117 Words
Sore hari kemudian, Audrey memergoki sang adik ipar yang sedang meluncurkan aksinya memasang banyak foto Felix dengan maksud agar Abian cemburu. "Faya, apa yang kamu lakukan?" tanya Audrey pada Faya yang sedang menata foto. Faya yang mendengar suara Audrey pun terlonjak kaget dan langsung berbalik menatap sang kakak ipar. Audrey kini berjalan ke arah Faya untuk berbicara langsung. Faya hanya diam sambil menundukkan kepalanya, gadis itu bingung akan kehadiran Audrey. "Mengapa Mbak Audrey ada di rumah? Bukankah tadi dia pergi jalan-jalan bersama Kak Bie?" batin Faya yang bertanya-tanya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Audrey lagi. Karena sudah tidak ada pilihan lain, Faya akhirnya secara gamblang mengakui semua rencananya. "Aku benci Mbak! Aku ingin memisahkan Mbak dari kakakku, aku akan melakukan segala cara untuk itu! Salah satunya ini!" Wanita hamil itu terkejut mendengar penuturan dari sang adik ipar yang ternyata masih berbuat jahat terhadap dirinya, padahal kemarin sang adik ipar sudah mengambil uang nafkahnya. "Faya, Mbak tidak menyangka bahwa kamu punya sifat pendendam. Selama ini Mbak selalu mencoba memahami dan memaafkan segala kesalahanmu karena kamu hanyalah anak kecil, tapi...," ucap Audrey dengan tatapan sendunya. "Lalu apa yang bisa Mbak lakukan untuk melawanku?" tanya Faya dengan nada menantang pada Audrey. "Mbak mohon jangan melakukan hal yang bisa membuat kakakmu sakit hati sebab itu sama saja dengan menusuk saudara sendiri Faya. Dan satu lagi, Mbak memang belum mencintai kakakmu, tetapi dia adalah orang baik yang harus Mbak jaga perasaan dan hatinya!" jawab Audrey dengan suara yang lembut. Faya yang merasa marah dengan jawaban dari Audrey pun dengan segera berjalan ke arah luar tanpa berkata sepatah kata apapun. "Hugh." Lega Audrey yang kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah foto-foto guna menyingkirkannya agar Abian tak melihat. Namun, ketika ia menyentuh salah satu fotonya dengan Felix yang sedang berbahagia karena kehamilannya, ia terdiam dan menatap lekat ke arah foto itu. "Andai kita masih bersama, Kak. Pasti aku sangat bahagia!" ucapnya yang kemudian hendak menaruh foto itu ke laci namun bunyi pintu terbuka membuatnya langsung berbalik dan menatap ke arah pintu. Seorang pria berseragam loreng berdiri di depan pintu kamar dan menatap lurus ke arah Audrey yang masih menyentuh foto. Audrey hanya bungkam, ia sudah terlambat untuk menyembunyikan semuanya, suaminya sudah melihat ada banyak foto Felix yang terpanjang di dinding. Tanpa sepatah kata apapun, Abian berjalan ke arah lemari pakaian dan lantas mengambil satu style baju tidur lalu ia segera membawanya keluar dari kamar itu. "Apa aku sudah membuatnya sakit hati?" tanya Audrey pada dirinya sendiri seraya memandang kepergian sang suami dengan tatapan sendunya. Malam harinya, Abian masuk ke dalam kamar dan ia melihat istrinya sudah tertidur tanpa memakai selimut. "Kamu sedang mengandung, Drey. Tetapi kamu membiarkan tubuhmu kedinginan," ucap Abian seraya memakaikan selimut ke tubuh sang istri. Setelah selesai menyelimuti, ia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang dilengkapi oleh kasur empuk itu. "Entah bagaimana caranya aku bisa membuatmu mencintaiku, Drey? Tetapi aku tidak akan menyerah untuk membuat istriku mencintaiku dan melupakan mantannya yang telah menyakiti hatinya!" ucap Abian yang kemudian menutup kedua matanya untuk pergi ke alam mimpi, siapa tahu di alam mimpi ia bertemu dengan Audrey yang sudah mencintainya dan menganggapnya sebagai seorang suami. Namun, ia terbangun kala teman tidurnya meringis kesakitan. "Drey?" panggilnya seraya menggoyang tubuh Audrey agar Audrey bangun, namun Audrey tak kunjung bangun juga. "Drey, tolong jangan buat aku takut!" pintanya yang kemudian segera memeriksa denyut nadi Audrey. Setelah tahu bahwa istrinya sedang tidak baik-baik saja, ia pun bergegas menghubungi dokter dan mengabari keluarganya. *** Seorang dokter kandungan kini tegah memeriksakan Audrey dengan di dampingi oleh Abian dan seluruh keluarga Abian. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Abian yang tidak sabar mengetahui kondisi Audrey padahal sang dokter baru saja memeriksa Audrey. "Sebentar, Pak. Saya periksa dulu!" jawab sang Dokter seraya membuka satu persatu mata Audrey untuk memeriksa kondisi wanita hamil empat bulan itu. "Dia sepertinya tidak meminum vitamin dan s**u penguat kandungan, Pak!" terang pria berjas putih itu setelah selesai memeriksa pasiennya. "A—apa? Audrey telat minum vitamin dan s**u penguat kandungan?" tanya Diandra untuk memastikan semuanya. "Iya, Bu. Seharian ini sepertinya dia banyak beraktivitas tetapi tidak meminum keperluannya!" jawab sang Dokter. "Baik, Dok. Terima kasih sudah datang, kami akan mengurus semuanya!" ucap Satria. "Baik, Pak. Kalian mungkin masih menyimpan resep vitamin dan s**u penguat kandungan dari saya beberapa hari lalu, jadi segeralah membelinya jika sudah habis!" jawab sang Dokter seraya memasukkan alat stetoskopnya ke dalam tas hitam miliknya dan kemudian segera pamit pulang. "Akh, sakit sekali kepalaku!" rintih Audrey kala siuman dari pingsannya. "Drey, di mana kamu simpan vitamin dan obat penguat kandunganmu? Biar aku ambilkan!" ucap Abian seraya duduk di samping sang istri. "Vitamin dan s**u penguat kandungan sudah habis, aku tidak punya uang untuk membelinya!" jawab Audrey. "Apa Felix tidak memberikan hak untuk anaknya?" tanya Diandra pada menantunya. "Audrey dan Felix sedang berkonflik, Ma. Jadi Felix mungkin saja sudah lepas tanggung jawab!" Abian yang menjawab pertanyaan Diandra. "Bie, apa kamu tidak memberinya nafkah?" tanya Satria pada putra sulungnya. Mendengar pertanyaan Satria membuat Faya yang sedari tadi memang berada di dalam kamar Audrey pun gugup karena ialah yang telah mengambil uang itu. "Gawat nih! Kalau Papa tahu maka aku akan dimarahi!" Panik Faya di dalam hatinya. Gadis yang masih duduk di bangku SMA itu terlihat sangat gugup dan ketakutan. "Drey, aku sudah menaruh uang nafkah di laci lemari. Apakah kamu tidak menemukannya dari kemarin malam?" tanya Abian pada Audrey. Mendengar pertanyaan sang suami, Audrey tampak melihat ke arah Faya. Dan hal itu membuat Faya semakin ketakutan. "Gawat! ini benar-benar gawat!" Faya merasa takut sebab mungkin sang kakak ipar akan melaporkan hal itu pada semua anggota keluarganya. "Em ... aku sudah menghabiskan uang itu untuk membeli kalung berlian, Bie!" jawab Audrey dengan bohong. Lagi-lagi wanita berusia 20 tahun itu harus mengalah dan mengakui kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. "Apa?" Abian terkejut mendengar jawaban sang istri. "Mengapa Mbak Audrey tidak berkata jujur?" batin Faya seraya memasang ekspresi bingungnya. "Mbak Audrey nih ternyata lebih mementingkan ego daripada anak Mbak Audrey sendiri, sungguh aku tak menyangka!" Bukannya mengakui kesalahannya, Faya justru makin membuat Audrey terlihat salah di mata keluarganya. "Ya sudah, nanti aku belikan vitamin dan s**u penguat kandungan menggunakan uang tabunganku!" ucap Abian dengan tatapan sendunya, sebenarnya ia tidak marah pada Audrey sebab sudah tanggung jawabnya sebagai seorang suami untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan sang istri. "Tidak perlu, Bie! Akan aku jual kalung itu lagi dan uangnya bisa untuk kebutuhanku!" Audrey menolak hal itu sebab ia tidak ingin membebani Abian. "Sebaiknya kalian bicara berdua! Kami orangtua tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian!" ucap Satria yang kemudian mengajak istri dan anak bungsunya untuk keluar dari kamar Audrey guna memberi kesempatan untuk Audrey dan Abian berbicara berdua agar lebih jelas dan tak ada kesalahpahaman antara mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD