Keesokkan harinya, Audrey sedang melihat kartu pers yang menandakan bahwa dia adalah seorang jurnalis di salah satu koran ternama di ibukota Jakarta.
"Aku rindu pada pekerjaanku ini!" ucapnya seraya mengelus perut buncitnya.
Sudah berbulan-bulan Audrey tak bekerja sebagai seorang jurnalis, dikarenakan kondisi kehamilannya yang lemah dan tak memungkinkan untuk bekerja, terlebih menjadi seorang jurnalis.
"Drey, kamu ingin kerja lagi?" tanya Abian pada Audrey.
"Enggak, Bie. Aku nggak mungkin membahayakan bayi ini!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Baguslah! Sebab aku juga nggak mengizinkanmu bekerja, baik ketika mengandung atau sesusah mengandung!" ucap Abian yang kemudian keluar dari kamar setelah ia mengenakan seragam lengkap TNI AD berserta rompi anti pelurunya.
Audrey menghela nafasnya dan kemudian memasukkan kartu itu ke dalam kotak berukuran lumayan besar, namun ia tanpa sengaja menemukan foto pernikahannya dengan Felix.
Tangan wanita hamil itu tergerak mengambil foto itu dan kemudian melihatnya dengan sangat lekat dan lantas mengelus foto itu untuk menghilangkan sedikit debu yang menempel.
"Andai saja kamu nggak pernah hilang Kak! Mungkin kita masih bersama dan aku nggak akan terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini!" ucap Audrey seraya menatap sendu ke arah foto pengantin itu.
Tanpa ia sadari, Faya kini berdiri di depan pintu kamar Audrey yang masih terbuka.
"Oh, jadi Mbak Audrey masih menyimpan foto-foto suami pertamanya? Wah, sepertinya aku dapat ide untuk menjauhkannya dari kakakku!" batin Faya sambil bahagia Kate mendapatkan ide.
Audrey kini menaruh kembali foto itu dan menutup kotaknya, setelah itu, ia segera menyimpan kotak itu ke dalam lemari.
"Sebaiknya aku pergi ke apotek untuk membeli vitaminku yang sudah habis kemarin!" ucap Audrey yang kemudian pergi ke arah dompetnya yang terletak di atas meja.
Setelah meraih dompetnya, Audrey pun segera membuka dompet itu dan ia hanya menemukan selembar uang berwarna hijau dari dalam sana.
"Bie belum memberiku nafkah untuk bulan ini, beberapa Minggu lalu aku belanja bulanan ke mall dengan uang nafkah papa untuk mama!" ucap Audrey.
"Harusnya kemarin Bie memberiku nafkah tapi mengapa enggak? Apakah dia marah padaku?" lanjut Audrey yang bertanya-tanya di dalam hatinya.
Audrey kemudian meletakkan dompetnya ke atas meja sambil menghela nafasnya, wanita itu harus mengurungkan niatnya untuk membeli vitamin seharga ratusan ribu itu sebab uang yang ia miliki sangat jauh dari kata cukup.
"Sebaiknya aku temui Bik Ningsih untuk memintanya membersihkan kamar!" ucap Audrey yang kemudian keluar dari kamarnya untuk memanggil asisten rumah tangganya yang memang sudah kembali bekerja setelah beberapa hari cuti.
Melihat pergerakan sang kakak ipar, Faya dengan segera langsung bersembunyi di balik sofa yang berada tak jauh dari sana.
Setelah Audrey benar-benar pergi, Faya dengan segera masuk ke dalam kamar Audrey untuk melancarkan rencananya.
"Sebaiknya aku mencari foto-foto Kak Felix terlebih dahulu!" ucapnya yang kemudian pergi ke arah lemari penyimpanan kotak itu dan segera mengambil foto pernikahan Audrey dan Felix.
"Kalau hanya satu saja nggak akan cukup! Aku akan cari yang lain!" ucapnya yang kemudian pergi ke arah laci dan lantas menariknya.
Betapa terkejutnya Faya ketika melihat ada segepok uang dan kertas yang berisi tulisan di dalamnya.
"Uang siapa ini? Kata Mbak Audrey tadi dia belum di beri uang, jadi nggak mungkin ini uangnya dia, kan?" tanya Faya pada dirinya sendiri.
Agar tidak penasaran, Faya pun segera membaca surat kecil yang ada di samping uang senilai 5 Juta itu. Kertas kecil berbentuk hati dan berwana merah itu berisi:
My beloved wife.
Drey, ini uang nafkah dariku untuk bulan ini. Tadi sebenarnya aku ingin memberikannya langsung kepadamu, tapi ternyata ada masalah sehingga kita tidak punya waktu untuk berbicara berdua serta kondisinya sangat tidak memungkinkan.
Jadi, aku berinisiatif untuk menaruh uang ini di laci agar kamu bisa mengambilnya besok.
I Love You, Drey.
"Oh, jadi ini uang nafkah dari kakak untuk istrinya?" ucap Faya seraya meremas surat itu dan langsung membuangnya ke kotak sampah.
"Aku taruh di sini saja atau aku berikan pada Mbak Audrey?" lanjut Faya yang berdiskusi dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba sebuah pikiran jahat muncul di dalam pikiran Faya kala ia mengingat percakapannya dengan salah satu sahabatnya melalui sambungan telepon kemarin malam.
Obrolan di telepon kemarin malam.
"Faya, ada barang bagus loh. Kemarin si Angel membeli kalung berlian yang indah. Katanya itu barang brand dari luar negeri. Bagaimana jika kita membelinya juga?" ajak Syakira dari sambungan teleponnya.
"Berapa harganya, Sya?" tanya Faya pada sahabatnya.
"Murah kok, hanya enam juta saja, Faya!" jawab Syakira sang putri bungsu Arkan yang tak lain adalah Ceo perusahaan skincare ternama di ibukota Jakarta.
"Nanti deh, Sya, aku pikir-pikir dulu ya!" ucap Faya.
Kembali pada masa sekarang.
"Uangku dari ayah hanya tersisa 1 juta dan itu nggak cukup untuk membeli kalung limited edition itu. Bagaimana ... jika aku menggunakan uang ini?" ucap Faya sambil tersenyum.
"Lagipula aku nggak mencuri, aku menemukannya dan ini adalah uang kakak kandungku sendiri!" lanjut Faya.
"Faya?" Panggilan sang kakak ipar yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Faya dengan segera memasukkan uang itu ke saku celananya.
"I—iya?" jawab Faya dengan gugup.
"Kamu sedang apa?" tanya Audrey pada Faya.
"Aku ... aku ... hanya—"
"Drey, kemari Nak!" Panggilan Diandra membuat Faya bernafas lega karena perhatian sang kakak iparnya teralihkan.
"Iya, Ma!" jawab Audrey yang kemudian pergi dari sana.
"Hugh, hampir saja!" ucap Faya yang kemudian dengan segera mencari foto Felix lagi.
Siang hari kemudian, Audrey hendak membuang sampah yang ada di dalam kotak sampah kamarnya, namun ia menemukan kertas yang sepertinya masih baru di dalam sana.
"Kertas apa ini?" tanyanya seraya mengambil kertas itu dan lantas membacanya.
Setelah selesai membaca surat itu, Audrey dengan segera mengecek laci lemarinya setelah tahu bahwa sang suami sudah memberinya uang nafkah.
"Kok nggak ada?" ucapnya setelah tidak menemukan uang dari dalam sana.
Audrey kemudian segera keluar dari kamarnya dan ia langsung berpapasan dengan Faya yang sedang memegang kalung berlian yang sangat indah.
"Faya?" panggilnya pada sang adik ipar.
"Apa?" tanya Faya tanpa menatap ke kakak iparnya, gadis itu masih terpesona dengan keindahan kalung yang baru ia beli, sehingga tatapannya enggan beralih dari kalung itu.
"Apa kamu tadi melihat uang di laci?" tanya Audrey dengan lembut agar tidak melukai hati sang adik ipar.
"Enggak!" jawab Faya secara singkat.
"Jangan bohong, Faya! Mbak tadi menemukan surat dari Bie di kotak sampah dan orang yang ke kamarku adalah kamu!" ucap Audrey.
"Mungkin itu perbuatan Bik Ningsih!" Faya dengan santai menuduh asisten rumah tangganya yang bahkan tidak tahu apa-apa mengenai uang di laci itu.
"Mbak memang menyuruh Bik Ningsih untuk membersihkan kamar tadi, tapi dia bilang nanti sore nanti bersihkannya soalnya dia masih sibuk di dapur!" jawab Audrey.
"Mungkin saja dia berbohong!" ucap Faya sambil menatap Audrey.
"Faya, mbak dari tadi ada di dapur bersama Bik Ningsih!" jawab Audrey. "Mbak nggak akan marah padamu! Mbak hanya ingin kamu jujur saja!" lanjut Audrey.
"Iya! Aku yang ambil, tapi aku nggak mencuri, aku menemukannya! Lagipula ini uang kakakku!" jawab Faya dengan jujur.
"Faya, itu uang nafkah dan mbak memerlukannya un—"
"Untuk bayi itu?" tanya Faya seraya menunjuk ke arah perut buncit Audrey. "Itu bukan anak Kak Bie dan itu bukan keponakanku. Seharusnya kamu sadar, mbak! Kamu itu bukan siapa-siapa di sini dan Kak Bie menikahimu hanya karena belas kasihan saja, nggak lebih dari itu!" lanjut Faya.
"Baiklah! Tapi uang itu pasti masih ada, kan? Mbak minta sedikit saja untuk membeli vitamin dan s**u penguat kandungan!" pinta Audrey dengan lembut dan menatap Faya dengan tatapan sendu.
"Maaf, Mbak! Uangnya sudah habis untuk membeli kalung ini!" jawab Faya sambil tersenyum dan menunjukkan kalung berlian yang baru ia beli tadi.