Malam hari kemudian, Audrey pergi ke kamar adik iparnya.
"Mau apa Mbak ke sini?" tanya Faya dengan sangat ketus dari atas ranjangnya.
"Faya, mbak mohon jangan bersikap seperti ini pada mbak. mbak nggak ada niat untuk—"
"Aku benci Mbak Audrey!" Ucapan Faya membuat Audrey terdiam sejenak dan kemudian ia bertanya, "Mengapa kamu benci Mbak Drey?"
"Karena mbak yang telah membuat aku di marahi oleh papa dan kakakku, padahal selama ini papa dan kakak nggak pernah meninggikan suaranya terhadapku!" jawab Faya.
"Mbak nggak ada niat untuk membuat mereka memarahi—"
"Enggak ada niat? Lantas mengapa mbak pura-pura sakit waktu terjatuh? Mengapa?" tanya Faya dengan nada tinggi.
"Faya, mbak nggak berpura-pura! Mbak benar-benar sakit waktu itu, Faya!" jawab Audrey seraya menatap adik iparnya dengan tatapan sendu.
"Mbak akan merampas keluargaku, baik itu kakak, papa dan mamaku!" ucap Faya dengan nada tinggi lagi.
"Buat apa Mbak lakukan itu, Faya? Buat apa mbak merampas orangtua kandung dan kakakmu?" tanya Audrey pada Faya.
"Karena mbak nggak punya keluarga sendiri! Ayah dan ibu tiri serta saudara-saudara mbak nggak ada yang peduli pada mbak. Mangkanya sekarang mbak ingin merampas keluargaku, sebab mbak iri terhadapku yang hidup sempurna, kan!" tuduh Faya pada Audrey.
"Faya, mbak akui memang mbak iri padamu yang mendapatkan kasih sayang dari orangtua serta kakakmu. Tapi mbak nggak pernah memiliki niat untuk merampas mereka darimu, nggak sekalipun Faya!" jawab Audrey dengan jujur.
"Keluar dari kamarku!" titah Faya dengan nada tinggi, gadis itu mengusir kakak iparnya sendiri, kakak ipar yang care dan menyayanginya itu.
"Mbak ingin memperbaiki hubungan kita!" jawab Audrey yang menolak untuk keluar.
"Keluar!" bentak Faya pada kakak iparnya dengan suara yang keras.
Audrey kemudian terpaksa pergi, walau sebenarnya ia belum ingin pergi.
Keesokkan harinya, Faya sedang merebus air panas untuk membuat mie instan di dapur.
"Faya, kamu nggak sekolah?" tanya Audrey dengan lembut pada adik iparnya.
"Mau sekolah atau nggak itu adalah urusanku!" jawab Faya dengan ketus.
Faya kemudian pergi untuk mengambil mie instan yang ada di dalam lemari sebab air rebusannya sudah mendidih, namun ia menyenggol panci kecil yang sedang ia pakai untuk merebus kuah.
Melihat panci itu akan jatuh, Audrey yang kebetulan ada di sampingnya pun segera mengulurkan tangannya untuk melindungi Faya.
Audrey meringis kala air panas itu menyentuh kulit tangannya, rasa perih dan panas sangat menyiksanya.
Bukannya menolong, Faya justru melihat ke sekeliling untuk mengecek apakah ada saksi mata di sana.
Setelah mengetahui bahwa tak ada satu orang di dapur, Faya segera merogoh saku celananya dan mengambil lipstik dari dalam sana.
"Kamu ingin merampas dan aku hanya ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku!" batin Faya.
Faya kemudian segera mengoleskan lipstik ke tangannya sendiri dan setelah selesai, ia memasukkan kembali lipstik itu ke saku celananya.
"Aduh, panas!" teriaknya yang pura-pura kepanasan.
Mendengar suara teriakan seseorang, Satria dan Abian yang berada di rumah itupun dengan segera berlari ke arah dapur.
"Ada apa Faya?" tanya Satria pada putrinya setelah tiba di dapur.
"Tanganku terkena air panas, Pa!" adu Faya pada papa dan kakaknya.
Untuk menipu orangtua dan saudaranya, Faya hanya memperlihatkan luka palsunya dari jarak jauh agar Satria dan Abian tidak mencurigai luka bakar palsu itu.
"Siapa yang merebus air sepagi ini?" tanya Abian pada adiknya.
"Tad—"
"Mbak Audrey yang merebus air, aku nggak tahu dia sengaja atau nggak menyenggol pancinya sehingga air panasnya mengenai tanganku, Kak!" ucap Faya seraya memotong ucapan Audrey.
Faya memilih untuk mengambil kesempatan itu untuk berbohong, gadis itu tak ada rasa welas asih sedikitpun pada kakak iparnya yang terluka karena menyelamatkannya, tampaknya rasa benci di hatinya mampu menghilangkan sisi baik dalam dirinya.
"Benar begitu Drey?" tanya Abian pada Audrey.
"Mbak ingin merampas papa dan kakakku, mbak ingin merampasnya dariku!" Ucapan Faya kemarin malam kembali teringat dalam benak Audrey sehingga membuat Audrey bungkam.
"Aku harus memperbaiki hubungan Faya dan keluarganya agar dia nggak marah padaku lagi! Biar saja Bie dan papa berpikiran negatif padaku, asal mereka nggak memarahi Faya lagi!" batin Audrey.
"Audrey?" panggil Abian pada istrinya yang hanya diam.
"Iya, aku yang merebus air ini dan aku memang sengaja menumpahkan airnya! Dulu adikmu hampir membuatku kehilangan anakku, jadi nggak ada salahnya bila aku membalasnya, kan? Jadi, kami sekarang impas!" jawab Audrey yang terpaksa berbohong agar Faya senang dan membuang jauh-jauh pikiran negatifnya pada Audrey.
"Drey! Apa yang kamu lakukan ini salah. Drey, aku bisa menerima apapun kesalahanmu, tapi ini menyangkut keluargaku!" ucap Abian.
"Bie, jika kamu ingin marah, marah saja! Karena aku nggak akan pernah sakit hati sebab aku belum mencintaimu!" jawab Audrey yang kemudian pergi dari sana.
"Drey—"
"Bie cukup! Jangan bertengkar lagi, ini hanya masalah kecil!" ucap Satria yang menghalangi putranya yang sepertinya akan berseteru dengan menantunya.
"Sini Faya, kakak obati lukanya!" ucap Abian seraya mengulurkan tangannya.
"Enggak perlu, Kak! Aku bisa mengobatinya sendiri!" jawab Faya yang kemudian segera pergi dari sana agar tak ada yang melihat luka bakar palsunya dari jarak dekat.
Sementara itu, Audrey kini duduk di atas ranjang sambil memeluk boneka beruang miliknya.
"Aku harus selalu mengalah demi kebaikan semua orang!" ucap Audrey dengan mata yang berair. "Hugh, tapi ini nggak masalah! Dari kecil aku selalu mengalah untuk Bianca dan Kak Nicho, kan?" lanjut Audrey seraya menyeka air matanya yang hendak jatuh.
"Biarlah Bie dan papa melihat keburukan dalam kebaikanku saja! Tuhan nggak pernah tidur, ia selalu melihat semua yang terjadi di dunia ini!" ucap Audrey sambil mencoba untuk tersenyum meski hatinya sedang terluka.
Memang tidak ada cinta untuk Abian, namun nama baik Audrey sudah berubah menjadi buruk di mata suami sahnya sendiri serta di mata mertuanya. Istri dan menantu mana yang sanggup di benci oleh suami dan keluarga suaminya, tidak ada satupun istri yang sanggup menerima hal itu.
Malam hari kemudian, Abian rebahan di samping sang istri yang sepertinya belum tidur itu.
"Drey, maaf karena aku telah memarahi mu! Tentu kamu tahu bahwa seorang kakak nggak bisa melihat adiknya ter—"
"Iya, aku juga seorang kakak! Meski Bianca adalah adik tiriku tapi selama ini aku selalu mengalah. Iya, seorang kakak memang harus selalu mengalah pada adiknya dan seorang kakak nggak akan pernah tega melihat adiknya terluka!" ucap Audrey seraya memotong ucapan Abian.
"Drey, aku mohon sama kamu jangan lukai Faya lagi, kasihan dia! Batin dan mentalnya baru saja sembuh, aku nggak ingin adikku kembali depresi dan kehilangan senyuman lagi!" pinta Abian pada Audrey yang tidur dengan posisi miring membelakangi dirinya.
"Iya, tenang saja! Aku nggak akan melukainya lagi karena aku memang nggak pernah punya niat ingin membuatnya celaka!" jawab Audrey.
"Apa maksudmu?" tanya Abian pada istrinya.
"Ah, sudahlah! Lebih baik kita tidur!" ucap Audrey yang kemudian membalikkan posisi tubuhnya menjadi menjadi rebahan.
"Good night!" ucap Abian yang mengucapkan selamat malam terlebih dulu.
"Good night too!" jawab Audrey yang kemudian memejamkan kedua matanya untuk pergi ke alam mimpi.
***
"Dia masih hidup sampai detik ini! Tapi aku nggak akan menyerah!" ucap seorang pria sambil menghisap sebatang rokok yang menyala bara apinya.
"Keberuntungan mu sangat tinggi, Drey! Sehingga kamu selamat berkali-kali dari serangan yang ku luncurkan. Tapi, aku nggak akan pernah menyerah! Camkan itu!" lanjut pria itu sambil tersenyum miring.