Beberapa hari kemudian, Audrey dibawa pulang oleh Abian. Namun, ketika Audrey baru saja tiba di depan rumahnya, sudah berdiri tiga orang yang menunggunya sejak tadi.
"Ibu, Ay—"
"Cukup memanggilku dengan sebutan ibu dan suamiku dengan sebutan ayah!" Ucapan Saskia sangat menusuk hati Audrey, lagi-lagi ia harus merasakan pahitnya ditolak oleh keluarganya.
"Bu, semua itu nggak benar. Audrey tidak pernah selingkuh dan janin ini adalah anak kak Felix, cucu Ibu dan Ayah?!" ucap Audrey dengan tatapan sendu. Gadis itu berusaha meyakinkan mertuanya bahwa ia tidak pernah selingkuh dari suaminya.
"Sekarang juga angkat kaki dari sini dan jangan pernah menuntut harta gono-gini karena kamu telah mengkhianati suamimu!" Usir Bram pada menantunya yang baru pulang dari rumah sakit.
"Jangan lupa bahwa ini adalah rumah keponakan saya. Jadi, kami berhak mengusir istri munafik dan tidak setia seperti kamu!" maki Mawar sambil tersenyum kecut.
"Ibu, Ayah. Jika Audrey pergi dari sini, Audrey harus ke mana?" tanya Audrey dengan begitu mengiba.
"Kamu kan masih punya ayah, saudara kandung, dan saudara tiri, pulanglah ke mereka atau cari ayah dari janinmu itu, minta pertanggungjawaban darinya!"" jawab Bram dengan tatapan sendu sebab sebagai seorang pria ia sebenarnya tidak tega mengusir wanita yang sedang hamil. Namun, pria itu tak punya pilihan lain setelah melihat berbagai foto dan video Audrey saat bersama dengan pria lain. Belum lagi foto saat Abian menggendong menantunya, semakin menghilangkan sisi baik dalam pikirannya pada Audrey.
"Mereka semua tidak pernah peduli padaku, ayah, kakak, dan adik tiriku tidak ada yang peduli padaku!" ucap Audrey.
Di saat Audrey masih memohon, tiba-tiba Mawar datang dan langsung melempar koper yang berisi barang-barang Audrey tepat di depan wanita itu hingga membuatnya terlonjak kaget.
"Pergi dari sini!" Usir Saskia pada sang menantu.
"Ayo masuk!" ucap Mawar, mengajak Saskia dan Bram untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Audrey dan Abian di luar. Bram dan Saskia pun mematuhinya dan mereka bertiga masuk tanpa memedulikan nasib Audrey.
"Aku harus ke mana?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil memegangi perutnya yang buncit.
"Drey, untuk sementara waktu kamu tinggal di rumahku saja. Tenang, di sana ada banyak anggota keluargaku?!" Abian menawarkan bantuan pada Audrey.
"Tidak, Bie. Aku takut akan terjadi kesalahpahaman lagi jika aku tinggal di rumahmu!" tolak Audrey.
"Ini bukan hanya demi kamu, tapi juga demi calon anakmu. Apalagi sekarang kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan kam—"
"Bie, tolong hubungi ayahku!" pinta Audrey seraya memotong ucapan Abian. Meski Audrey sudah tahu bahwa ayah dan keluarganya akan menolaknya. Namun, ia masih sangat berharap pada mereka.
"Buat apa menghubungi orang yang tidak bisa membantumu, Drey?" tanya Abian pada Audrey.
"Bie, apa salahnya mencoba? Lagi pula aku nggak punya pilihan lain.”
"Baiklah, tunggu sebentar!" ucap Abian yang kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Setelah berhasil meraih ponselnya, Abian pun segera menghubungi Arga, ayah kandung Audrey.
"Ini, Drey!" ucap Abian seraya menyerahkan ponsel miliknya pada Audrey setelah terhubung dengan Arga yang ada di luar kota. Lebih tepatnya di kota Tangerang.
"Halo, Ayah?!" ucap Audrey.
"Halo, ada apa sih? Ganggu banget!" ketus Arga dari seberang sana. Membuat hati Audrey semakin sakit dan hancur.
"Ayah, Audrey butuh bantuan ayah karena kak Felix sudah meninggal dan Audrey—"
"Ayah lagi sibuk! Banyak urusan di kantor dan ayah juga nggak ada waktu untuk mengurusi masalah kamu dan calon anakmu itu, perusahaan dan uang sangat penting untuk ayah!" Arga dengan cepat memotong ucapan Audrey. Pria itu terdengar enggan bicara pada Audrey.
Mendengar perkataan itu, air mata Audrey pun jatuh tak tertahankan. Perkataan yang membuatnya jadi mengerti bahwa di mata ayahnya, Audrey tidak lebih berharga dari materi.
"Ayah, tolong bantu Audrey, sekali saj—" Audrey menghentikan kalimatnya kala sang ayah dengan tega memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
"Bie, coba hubungi Kak Nicho!" pinta Audrey seraya memberikan ponsel itu pada Abian.
"Drey, sudahlah! Jangan berharap apa-apa pada keluargamu, jika ini diteruskan, maka kamu akan semakin terluka!"
"Bie, tolong?!" bujuk Audrey dengan tatapan sendu hingga Abian tak tega menolak permintaan sang wanita yang sangat ia cintai itu. Ia pun segera menerima ponselnya dari tangan Audrey dan lantas menghubungi Nicholas, kakak kandung Audrey.
"Ada apa sih?" ketus Nicho dari seberang teleponnya, padahal Audrey belum mengeluarkan satu kata pun.
"Kak, Audrey butuh bantuan Kakak, Aud—"
"Memangnya urusan Kakak hanya kamu? Drey, Kakak juga punya keluarga dan istri. Jadi, tolong jangan membebaniku!" ucap Nicho yang langsung memutus sambungan teleponnya.
"Bie, mengapa aku tidak pernah diinginkan, tidak ada seorang pun yang menginginkanku." Audrey menangis. Merasakan sakitnya terbuang dan tak diinginkan oleh orang-orang yang harusnya mencintainya.
"Drey, sabar ya, kamu masih punya aku! Aku mohon terima tawaranku untuk tinggal di rumahku!" bujuk Abian pada Audrey.
Karena tidak punya pilihan lain, Audrey pun terpaksa menerima tawaran Abian demi keselamatannya dan juga anak yang ia kandung. Mau bagaimanapun ia harus punya tempat tinggal untuknya berlindung.
***
Setibanya di halaman rumah Abian, Audrey melihat ada tiga orang tentara di depan rumahnya di mana salah satunya adalah orang yang dikenalinya.
"Ayo keluar, Drey!" ajak Abian sambil tersenyum. Audrey pun segera keluar dari mobil dan ia ikut menghampiri tiga orang tentara angkatan darat itu bersama dengan Abian.
"Papa?" panggil Abian pada papanya yang bernama Satria. Pria yang juga berprofesi sebagai tentara.
"Ada apa, Bie? Kenapa kamu bawa Audrey ke sini?" tanya Satria dengan ekspresi bingung.
"Pah, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Abian pada papanya.
"Baiklah!" jawab Satria, mulai melangkah bersama Abian agak sedikit menjauh dari Audrey. Tentu saja Abian tidak ingin jika Audrey sampai mendengar pembicaraannya dengan sang ayah.
"Ada apa?"
"Papa pasti tahu kabar tentang Felix, kan?"
"Ya, Felix hilang dan dinyatakan meninggal beberapa hari lalu!" jawab Satria yang memang sudah mengetahui soal informasi itu.
“Sekarang karena hal itulah, terjadi kesalahpahaman antara Audrey dan keluarga suaminya. Pah, Bie mau minta izin agar sementara waktu Audrey bisa tinggal di sini dulu ya?"
Mendengar penjelasan dari Abian, Satria pun terdiam sejenak. Sebenarnya ia merasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika mengizinkan, terutama soal pandangan dari masyarakat sekitar.
"Pah, aku mohon! Kandungan Audrey lemah dan dia butuh seseorang yang bisa menjaganya. Kasihan dia, Pah! Dia sekarang hidup sebatang kara, keluarga suami dan keluarga kandungnya menolaknya!" ucap Abian yang mencoba membujuk ayahnya yang merupakan seorang tentara berpangkat Mayor yang di mana artinya jauh lebih tinggi daripadanya.
"Bukannya Papa nggak mau nolongin dia, tapi apa jadinya nanti jika dia tinggal disini? Ingat, Bie! Kita adalah abdi negara yang harus menjaga wibawa kita di mata masyarakat?!" jawab Satria.
"Pah, sebenernya Bie udah jatuh cinta sama Audrey sejak SMA. Jadi, Bie memutuskan untuk menikahinya!" ucap Abian seraya menundukkan kepala, ia merasa takut Satria akan marah bila tahu bahwa ia mencintai istri orang.
"Enggak perlu takut untuk melamarnya, Bie! Seorang pria yang rela menikahi janda yang ditinggal mati oleh suaminya, pahalanya itu sangatlah besar, terlebih seorang janda yang sangat membutuhkan. Jika kamu serius, papa akan merestui kalian, tapi sebelum menikah, dia tidak boleh serumah denganmu!" jawab Satria.
"Lalu ke mana dia akan tinggal, Pah?" tanya Abian seraya mengangkat kepalanya.
"Kamu ingin menjadi suaminya dan menjadi ayah dari anaknya, kan? Jadi, sebagai pria yang bertanggung jawab kamu harus memberikan dia tempat berteduh. Sewakan dia rumah kontrakan yang tak jauh dari sini agar kamu dan Diandra bisa mengawasinya!"
Abian tersenyum bahagia karena Satria memang tidak pernah menolak untuk membantunya.
"Papa memang orang yang bijaksana, Bie bangga punya orang tua seperti Papa yang bisa menjadi pengayom Bie dan juga mama!" ucap Abian sambil tersenyum.
"Sekarang, cepat cari rumah kontrakan agar Audrey bisa istirahat!" titah Satria pada putranya.
"Baik, Papa!" ucap Abian yang kemudian segera pergi ke arah Audrey yang masih berdiri di depan rumahnya.
***
Sore harinya, Abian tampak sedang berbicara dengan Audrey di ruang tamu rumah kontrakan yang sudah didapatnya. Rumah yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kediamannya.
"Drey, papa dan mamaku sudah merestuiku untuk menikahimu dan sekarang hanya tinggal persetujuan dari kamu saja! Apa kamu bersedia?” tanya Abian. Pria tetap menampilkan senyuman, walau detak jantungnya tak beraturan saat ini karena menantikan jawaban Audrey.
"Sebenarnya aku ingin menjalani masa iddahku dulu, Bie! Dan, untuk menikah lagi aku masih ragu!" jawab Audrey.
"Drey, tapi kamu perlu suami!" bujuk Abian. "Jika sebulan atau dua bulan kita tanpa ikatan itu tidak masalah, tapi jika dalam jangka waktu lama, bagaimana dengan pendapat masyarakat bila melihat aku terus datang ke sini membantumu, mereka akan salah paham nantinya!" ucap Abian.
Audrey terdiam, memang benar bahwa harus ada sebuah status yang jelas dalam hubungan antara dirinya dan Abian untuk menjaga nama baik Abian yang merupakan seorang tentara dan juga menjaga nama baik Audrey agar tidak di cap sebagai wanita tidak baik, apalagi status dirinya adalah seorang janda.
"Baiklah, aku mau jadi istrimu!" jawab Audrey setelah hanya diam beberapa menit dan memikirkan semua dengan matang.
Seulas senyuman pun terulas dari kedua sudut bibir pria berusia 22 tahun itu kala Audrey yang dua tahun lebih muda darinya menerima tawarannya untuk menikah.
"A—aku senang sekali, akhirnya aku bisa men—menjadi suami dari wanita yang aku cintai sejak du—dulu!" ucap Abian dengan terbata-bata sebab pria itu tak dapat menahan rasa bahagia hingga membuatnya jadi salah tingkah.
"Tapi maafkan aku kalau seumpamanya dalam rumah tangga kita aku tidak bisa mencintaimu.”
"Cinta setelah menikah itu lebih indah daripada cinta sebelum menikah. Aku akan membuatmu jadi mencintaiku, Drey!"
***
Satu Minggu kemudian, Audrey berada di rumah Abian dan ia terlihat sangat cantik dengan dress pengantin yang indah. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda yaitu perutnya yang buncit. Tetapi Audrey tetap tersenyum sebab kehamilannya itu sah di mata agama, dia tidak pernah hamil di luar nikah.
"Itu calon istri anakmu, Dra?" tanya seorang tamu undangan pada Diandra sang mama Abian.
"Iya, cantik sekali calon menantuku, kan?" jawab Diandra dengan bangganya.
"Tapi kok perutnya buncit?" tanya tamu undangan tadi bernama Naira.
"Oh, dia gadis suci, sebenarnya dia sudah pernah menikah, tapi suaminya meninggal dalam tugas. Dia mantan istri Felix, nahkoda kapal yang hilang dan dinyatakan meninggal itu, kamu tahu kan beritanya?”
"Oh, begitu. Aku kira dia hamil sama putramu di luar nikah!"
Tak lama berselang, akad yang penuh haru akan segera berlangsung. Tampak kebahagiaan tersirat di wajah Abian. Namun, berbeda dengan pria itu, raut wajah Audrey terlihat sendu. Tak ada raut bahagia sedikit pun di wajahnya. Wanita itu masih belum bisa melupakan suaminya, ditambah lagi pernikahannya saat ini tidak dihadiri oleh ayah atau saudara kandungnya karena keduanya beralasan sibuk.
"Saudara Satria Abian Dewantara bin Armada Satria, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan seorang wanita bernama Qalesya Audrey Argantara binti Argantara, dengan mas kawin berupa cincin berlian senilai 7 juta dan seperangkat alat sholat dibayar, tunai!" ucap seorang penghulu yang langsung disambut Abian tanpa terdengar ragu.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Qalesya Audrey Argantara binti Argantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" jawab Abian dengan tegas.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya sang Ustadz.
"Sah!" jawab seluruh tamu undangan.
"Bie! Drey!" Panggilan seorang pria berseragam putih dari depan pintu rumah, seketika membuat Audrey dan Abian langsung menoleh.