Disebuah ruangan yang serba putih dengan banyak alat-alat medis serta aroma obat tercium sangat menyengat, tampak seorang wanita mulai terjaga setelah tak sadarkan diri hampir satu jam lamanya.
"Aku di mana?" tanya Audrey, mulai melihat Abian yang duduk di dekat ranjang yang ditidurinya.
"Kamu ada di rumah sakit, Drey. Tadi kamu pingsan diperjalanan!"
"Bie, di mana ibu dan ayah mertuaku?" tanya Audrey pada Abian.
"Em, mereka … sedang diluar!" jawab Abian dengan ekspresi yang mencurigakan bagi Audrey.
"Ada apa Bie? Apa terjadi sesuatu?" tanya Audrey penasaran saat melihat seperti ada yang disembunyikan oleh pria itu.
"Tidak Drey! Tidak ada apa-apa!" jawab Abian yang sepertinya sedang berbohong.
"Aku harus menyembunyikan kejadian tadi dari Audrey. Pokoknya, Audrey nggak boleh tahu, aku nggak mau dia sampai banyak pikiran, kasihan janinnya nanti," batin Abian memutuskan.
"Kandunganku nggak kenapa-napa, kan?" tanya Audrey pada Abian dengan suara lirih karena ia merasa tubuhnya masih sangat lemah.
Abian pun tersenyum dan kemudian menjawab, "Kamu tenang aja, Drey! Kandunganmu baik-baik saja!"
"Aku tidak ingin kehilangan anak ini, Bie. Dia adalah kenangan terakhir dari kak Felix. Jadi, aku nggak mau kehilangan dia. Sekalipun aku harus hidup tanpa seorang suami, aku akan tetap menjaga kandunganku ini."
"Tapi kandungan dan janinmu lemah, Drey. Kamu butuh seorang pendamping untuk bisa menjaga kamu!"
"Nggak, Bie. Aku nggak butuh itu. Lagi pula aku nggak pernah ngerasa sendirian karena kak Felix dan Allah selalu bersamaku!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Felix beruntung punya istri yang setia seperti kamu."
"Terima kasih ya, Bie. Terima kasih karena kamu selalu menolongku. Sejak kak Felix hilang, kamu satu-satunya orang yang selalu ada di sampingku!"
"Sama-sama, Drey. Tapi sebenarnya aku ingin menjadi suamimu." Ucapan Abian seketika membuat Audrey terkejut.
"Maksudnya?" tanya Audrey pada Abian.
"Aku kasihan sama anak yang ada dalam kandunganmu. Mau bagaimanapun anakmu itu butuh seorang ayah, Drey. Selain itu, kandungan kamu juga lemah. Jadi, izinkan aku menjadi suamimu agar aku bisa selalu menjagamu!"
"Aku nggak mau dinikahi hanya karena kasihan."
"Enggak, Drey. Bukan itu alasanku … sebenarnya aku juga sudah mencintaimu, bahkan sebelum kamu menikah dengan sahabatku sendiri, sejak di masa SMA!"
"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku saat kita dipertemukan kembali satu tahun lalu?" tanya Audrey yang begitu penasaran tentang alasan Abian menyembunyikan rasa cintanya selama ini.
"Sebenarnya, di hari itu, aku juga ingin menyatakan cinta dan melamarmu, terlebih setelah aku menjadi tentara dan sudah hidup mapan. Namun, kamu mengatakan bahwa kamu akan menikah dengan pria lain dan pria itu ternyata adalah sahabatku sendiri!" jawab Abian yang masih memasang tatapan sendu sambil teringat akan kenangan masa lalu. Kenangan di mana ia memutuskan untuk merelakan cintanya demi kebahagiaan Audrey juga Felix, sahabatnya.
Tepat satu tahun yang lalu. Saat itu, sore hari di rumah Audrey, tampak dua orang tengah duduk saling berhadapan di sebuah kursi yang ada di taman belakang rumah.
"Bie, tiga hari lagi aku akan segera menikah."
Ucapan itu sukses membungkam mulut Abian yang nyaris saja mengatakan isi hatinya pada Audrey.
"Apa? Menikah?"
"Iya, aku akan menikah dengan Felix."
"Felix?"
"Iya, Felix Daneswara!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Mungkin Felix yang lain bukan Felix sahabatku," batin Abian.
Tiba-tiba suara berat dari seorang pria berseragam putih yang merupakan seorang nahkoda muda terdengar memanggil. Audrey pun menoleh, melihat Felix yang ternyata benar adalah sahabat Abian.
"Loh, Bro. Kok kamu di sini? Kamu mengenal calon istriku?" tanya pria berseragam putih yang tak lain adalah Felix calon suami Audrey yang berprofesi sebagai nahkoda.
"Oh, jadi calon istrimu adalah Audrey?" tanya Abian pada Felix.
"Iya. Apa kau mengenalnya?" tanya Felix pada Abian.
"Dia teman semasa aku SMA, dulu dia adik kelasku, aku kelas tiga dan dia masih kelas satu!" jawab Abian.
"Oh, begitu. Baiklah, kami pergi dulu ya?! Aku mau cari baju pengantin!" ucap Felix sambil tersenyum dan mengandeng tangan calon istrinya.
"Hm, baiklah!" jawab Abian, menyembunyikan raut wajahnya yang sendu. Masih menatap kepergian Audrey dengan Felix penuh kesedihan.
Tiga hari setelah kejadian itu, pernikahan Audrey akan dilangsungkan dan kini Felix berada di dalam kamar bersama dengan Abian.
"Bie, cantik kan calon istriku?" ucap Felix, mengulas senyum bahagia di hari istimewanya. Tentu saja Felix tidak tahu bahwa sahabatnya itu juga mencintai wanita yang sama dengannya.
"Iya, secantik bidadari!" Abian memaksa kedua sudut bibirnya tetap tersenyum, walau hatinya masih sulit menerima kenyataan yang ada. Sakit, tentu saja. Siapa yang tidak merasakan sakit saat wanita yang dicintainya menikah dengan sahabatnya sendiri?
"Terus kamu kapan nyusul?"
"Entahlah, jodohku belum kelihatan dan rasanya sulit untuk aku gapai!" jawab Abian dengan tatapan yang masih lurus ke depan.
"Ada apa, Bie? Sepertinya kamu tidak bahagia ketika aku akan menikah?" tanya Felix sambil berdiri dan menatap sahabatnya.
"Nggak! Aku nggak apa-apa kok, aku senang dan bahagia kamu akan segera menikah!" jawab Abian yang akhirnya menampilkan senyuman. Pria itu kini mulai kembali melihat sahabatnya yang telah mengenakan jas pengantin.
"Bie—" Ucapan Felix terpotong kala Abian menariknya ke dalam pelukannya.
"Felix, Audrey adalah temanku, teman masa SMA. Dia gadis yang sangat cantik, anggun, cerdas dan baik. Jadi, aku minta jaga dia dengan baik, sayangi dan cintai dia dengan sepenuh hatimu dan jangan pernah mengecewakannya!" ucap Abian seraya memeluk sahabatnya dengan sangat erat kala d**a pria yang merupakan seorang tentara itu terasa sesak karena ternyata cintanya tak terbalaskan, terlebih ia harus menyaksikan pernikahan wanita yang ia cintai dengan sahabatnya sendiri.
"Pasti, Bie. Kamu tidak perlu khawatir." Felix tak menaruh curiga, walau sedikit terkejut dengan pelukan dari sahabatnya itu.
"Kamu tidak tahu jika aku juga mencintai calon istrimu, cinta dalam diam!" batin Abian sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Bie, aku rasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Bicaralah, kita sudah bersahabat sejak kecil, kan?!" ucap Felix.
"Enggak! Aku nggak apa-apa, Felix!" jawab Abian seraya melepaskan pelukannya.
"Tapi kamu menangis?" tanya Felix pada sahabatnya kala mata sahabatnya itu merah.
"Masa sih?" Abian masih rapat menyembunyikan kenyataan yang ada. Berpura-pura tegar di depan Felix, walau rasa sakitnya begitu menyiksa.
"Iya, itu matamu basah."
"Oh, ini hanya kelilipan debu aja kok."
"Hm, baiklah!" jawab Felix yang percaya dengan perkataan Abian.
***
Kembali ke rumah sakit. Saat ini, Audrey masih tidak menyangka apa yang baru saja didengarnya. Kenyataan di mana Abian jatuh cinta padanya sejak dulu.
"Harusnya kamu bilang sama aku, Bie. Aku merasa bersalah karena telah menyakitimu?!" ucap Audrey setelah mendengar kisah sedih dari Abian.
"Nggak, Drey! Jangan minta maaf, aku nggak apa-apa!" jawab Abian.
"Tapi aku ngerasa bersalah, apalagi kamu harus menyaksikan pernikahanku dan setelah aku menikah, aku juga sering curhat tentang keharmonisan keluargaku. Bahkan aku pamerkan surat hasil rumah sakit yang menyatakan aku hamil. Bie, andai saja aku tahu jika kamu mencintaiku. Maka, aku tidak akan pam—"
"Sudah, Drey! Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang yang kita pikirkan adalah masa depan!" jawab Abian seraya memotong ucapan Audrey. "Aku sangat berharap kamu mau mengizinkan aku menjadi suamimu, Drey. Aku benar-benar nggak tega melihat kamu dan anak yang kamu kandung hidup terlantar tanpa suami dan sebatang kara?!" sambung Abian dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Tapi aku nggak sebatang kara, Bie. Ayah dan ibu mertuaku bisa menjagaku!"
"Itu dulu bukan sekarang, sekarang mereka sudah per—" Abian menghentikan kalimatnya saat ia sadar bahwa akan membongkar kejadian yang harusnya ia tutupi dari Audrey.
"Mereka sudah apa, Bie?" tanya Audrey pada Abian.
"Em … nggak, Drey! Mereka hanya sudah—"
"Sudah apa Bie?" tanya Audrey lagi dengan tegas seraya memotong ucapan Abian.
"Aku akan ceritakan semuanya padamu, tapi kamu tenang ya setelah tahu semuanya!" pinta Abian.
"Oke," jawab Audrey.
"Jadi, tadi ada seseorang yang menyebarkan sebuah video tentang perselingkuhanmu dengan seseorang. Tetapi aku tidak yakin itu benar dan mungkin itu hanya video dan foto editan, aku pun mengatakannya pada ayah dan ibu mertuamu bahwa itu video sepertinya editan. Tetapi orang misterius itu mengirim foto di mana aku menggendong mu tadi. Jadi, suasana makin panas dan mereka tidak mau percaya padaku, alhasil ayah dan ibu mertuamu..." Abian menghentikan kalimatnya untuk memberikan kesempatan Audrey menenangkan diri.
"A—ayah dan ibu mer—mertuaku kenapa?" tanya Audrey dengan terbata-bata kala ia merasa syok.
"Ayah dan ibu mertuamu tidak mau menerima janin yang kamu kandung, mereka tidak percaya itu anak Felix!" jawab Abian.
"Nggak, Bie, aku tuh nggak pernah selingkuh." Audrey menangis terisak. Rasanya begitu sakit saat kesetiannya harus dibalas dengan tudahan yang tidak mendasar. "Ini benar-benar anak Felix, Bie, hanya dia ayahnya!" ucap Audrey lagi, membiarkan air mata terus menetes hingga membasahi kedua pipinya.
"Aku tahu, Drey. Aku juga sudah coba menjelaskan pada mereka, tapi mereka tidak ada yang percaya. Jadi, mereka memutuskan untuk pergi dari rumah kamu!" Abian menceritakan dengan perlahan semua yang terjadi.
"Ya Allah, kenapa fitnah itu datang di saat aku baru saja kehilangan kak Felix? Kenapa?" Mendengar hal itu, Audrey pun semakin terisak karena mengetahui dirinya telah dituduh berselingkuh.