Malam hari kemudian, Audrey tidur pulas di samping Abian sang suami.
Abian yang sebenarnya belum tidur itupun kemudian memandangi wajah cantik Audrey seraya membenarkan bantal guling yang ada di tengah-tengah mereka.
"Bisa bersama denganmu sekarang ini rasanya seperti mimpi, Drey. Dulu kamu adalah cinta yang sulit aku gapai, namun kini kita bersama!" ucap Abian sambil tersenyum dan terus memandangi wajah tenang Audrey yang sedang tidur pulas.
"Felix, maafkan aku sebab aku nggak bisa melepaskan Audrey! Aku sangat mencintainya!" lanjut Abian sambil memasang tatapan sendunya.
Suara rintihan Audrey yang terdengar secara tiba-tiba pun membuat Abian beranjak duduk.
"Ada apa, Drey?" tanya Abian pada Audrey yang terjaga dalam tidurnya.
Audrey menjawab sambil memegangi perutnya sendiri, "Perutku sakit, Bie!"
"Biar aku baluri minyak kayu putih ya?" tawar Abian yang kemudian segera turun dari kasurnya untuk mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam laci meja rias.
Setelah mendapatkan minyak kayu putih, ia pun kembali naik ke kasur dan memindahkan bantal guling yang berada di tegah itu ke lain tempat agar tak ada jarak antaranya dan Audrey.
"Kamu mau apa?" tanya Audrey pada Abian yang hendak mendekatinya.
"Aku hanya ingin menolongmu, Drey!" jawab Abian seraya menatap Audrey.
"Taruh lagi bantal guling itu ditengah dan berikan minyak kayu putih itu padaku!" pinta Audrey yang masih dalam posisi rebahan.
"Biar aku saja yang memijatnya!" tawar Abian.
"Enggak, Bie!" tolak Audrey dengan tegas.
Mendengar penolakan dari Audrey, Abian pun dengan segera mengembalikan bantal guling itu ditengah dan setelah itu ia memberikan minyak kayu putih itu pada Audrey. Audrey pun menerimanya dan segera mengoleskan minyak kayu putih itu ke atas perutnya yang tertutup kain selimut baju tidur dan selimut itu.
"Apakah nggak ada sedikitpun cinta untukku? Sehingga kamu nggak mau ku sentuh, padahal aku hanya berniat menolongmu yang sudah sah menjadi istriku!" batin Abian seraya kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Hati pria itu sedikit hancur kala bantuannya ditolak mentah-mentah oleh sang istri hanya dengan alasan belum cinta.
Keesokkan harinya, Abian sudah rapi dengan seragam lorengnya.
"Bie, ini bekalmu!" ucap Audrey seraya menyerahkan kotak bekal yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Terima kasih, Drey!" jawab Abian sambil tersenyum.
Tentara angkatan darat itu merasa bahagia dan senang karena sang istri mau menyiapkan bekal untuknya, makanan ini pasti akan ia habiskan nanti siang.
"Hati-hati ya!" ucap Audrey sambil tersenyum.
"Iya, em ... apa kamu nggak mau mencium tangan suamimu sebelum suamimu pergi tugas?" tanya Abian pada Audrey.
Pertanyaan Abian membuat Audrey terdiam sejenak sejenak, ingatannya kembali pada masa rumah tangganya bersama Felix, sebelum Felix berangkat kerja ia pasti akan mencium tangan Felix terlebih dahulu. Bahkan tidak sering ia mencium kening suaminya sebelum suaminya kerja.
"Entah mengapa aku nggak bisa menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri pada Bie. Mengapa untuk mencium tangannya saja rasanya sangat sulit aku lakukan?" batin Audrey seraya memasang tatapan sendunya.
"Baiklah, jika nggak mau ya nggak apa-apa! Mungkin kamu masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan suami barumu ini!" ucap Abian sambil tersenyum.
Tentara angkatan darat itupun hendak beranjak pergi dari rumahnya, namun Audrey menghentikannya.
"Sini tangannya!" pinta Audrey pada Abian. Abian tersenyum dan kemudian mengulurkan tangan kanannya, Audrey pun segera menerima tangan sang suami dan lantas mencium punggung tangan sang suami dan bertepatan dengan itu Felix tiba-tiba datang.
Betapa hancurnya hati nahkoda kapal itu setelah menyaksikan mantan istrinya bersalaman dengan pria lain.
Audrey yang sadar akan kedatangan pria yang masih sangat amat ia cintai itupun dengan segera melepaskan tangan Abian agar tidak melukai hati pria yang masih berdiri di depan pintu rumahnya itu.
"Harusnya aku yang di sana, bukan dia, Drey!" batin Felix yang seolah tidak rela Audrey bersama dengan pria lain.
"Felix, ada perlu apa kesini?" tanya Abian sambil tersenyum kepada sahabatnya yang datang secara tiba-tiba itu.
"Aku hanya ingin melaksanakan kewajibanku, aku ingin memberi nafkah!" jawab Felix.
"Nafkah?" tanya Abian.
"Nafkah untuk anakku maksudnya! Bukan untuk Audrey, dia kan sudah menjadi milikmu!" jawab Felix sambil mencoba tersenyum meski hatinya sangat rapuh.
"Baiklah, jika begitu aku pergi ya! Aku harus segara tiba untuk mengikuti apel pagi!" Abian berpamitan pada Felix dan Audrey.
"Iya, Bie!" jawab Audrey.
Abian pun segera pergi keluar rumahnya untuk menjalankan tugas negara yang ia emban dipundaknya.
"Silahkan masuk, Kak!" ucap Audrey yang mempersilahkan Felix untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Drey, apakah kamu bahagia bersama Bie?" tanya Felix setelah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Audrey.
Audrey bungkam ketika Felix menanyakan masalah rumah tangganya dengan Felix sebab sebenarnya hubungan rumah tangganya dengan Abian belum harmonis melainkan masih canggung dan dingin, itu semua karena hatinya yang belum bisa memberi rasa cinta pada Abian.
"Mengapa diam?" tanya Felix pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Bie menunaikan semua tanggung jawabnya sebagai seorang suami, Kak! Dia selalu memberiku uang nafkah, melindungi ku dan merawat. Tapi ...," jawab Audrey sambil menatap Felix dengan tatapan sendu.
"Tapi apa?" tanya Felix pada Audrey yang kini justru menundukkan kepalanya.
"Tapi aku belum bisa menunaikan kewajibanku dengan benar! Aku bahkan sulit untuk mencium tangannya sebelum ia berangkat kerja dan aku ...," jawab Audrey.
"Drey, jika kamu nggak bahagia dengannya, aku selalu ada untukmu! Kembalilah padaku kapanpun kamu mau!" ucap Felix.
"Tapi aku nggak bisa meninggalkan Bie begitu saja. Aku takut melukai hatinya, Kak!" Audrey sebenarnya sangat ingin kembali pada Felix, namun tidak mungkin ia meninggalkan Abian yang sudah menerimanya apa adanya serta yang selalu ada saat ia membutuhkannya, tanpa Abian mungkin ia akan kehilangan janin yang ia kandung.
"Dia nggak akan sakit hati, Drey. Dia itu nggak mencintaimu dan dia menikah hanya untuk menolongmu saja, tidak lebih!" jawab Felix yang belum tahu bahwa Abian juga mencintai Audrey hingga detik ini.
"Kak Felix belum tahu juga tentang perasaan Bie padaku!" batin Audrey.
"Sebaiknya aku beri tahu dia sekarang saja!" lanjut Audrey di dalam hatinya.
"Ya sudah, ini uang nafkah untuk anakku! Aku pergi ya, aku harus bekerja!" Ucapan Felix membuat Audrey bungkam dan mengurungkan niatnya untuk mengatakan kebenarannya terlebih setelah Felix mengeluarkan kata kerja.
"Ini bukan saat yang tepat! Kak Felix sedang sibuk sekarang dan untuk membicarakan masalah cinta harus butuh ruang dan waktu yang tepat!" batin Audrey seraya menerima uang pemberian dari Felix sang ayah biologis dari anak yang ia kandung.
"Terima kasih, Kak!" jawab Audrey sambil menatap Felix dengan tatapan sendu.
"Sama-sama!" ucap Felix yang kemudian segera pergi dari rumah sahabatnya.
Siang hari kemudian, Audrey ikut ke mall bersama dengan Diandra sang ibu mertuanya. Kini kedua wanita beda usia itu sedang duduk di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir Diandra.
"Sebaiknya beli s**u dan vitamin serta lain-lain dulu saja, jangan membeli perlengkapan bayi!" ucap Diandra yang duduk di sebelah Audrey.
"Kenapa nggak boleh membeli perlengkapan bayi, Ma?" tanya Audrey pada ibu mertuanya.
"Pamali! Jika bayi masih di dalam kandungan dibelikan barang-barang, Drey. Tunggulah sampai usianya delapan atau sembilan bulan dulu agar aman!" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Itu hanya kepercayaan orang zaman dahulu, Ma. Tapi karena ini nasihat dari mama, Drey akan mematuhinya!" ucap Audrey sambil tersenyum. Ia sebenarnya sangat ingin pergi ke toko baju bayi untuk membeli beberapa baju bayi, namun ia merasa tidak enak apabila membantah mertuanya.
Audrey adalah wanita yang baik dan sangat berbakti pada orang tuanya, sejak kecil ia tidak pernah membantah ayahnya meski sang ayah terus ringan tangan dan memakinya.
"Kamu ingin punya anak pertama cewe apa cowo, Drey?" tanya Diandra pada menantunya yang sedang memegang tas selempang.
Pertanyaan sang mama mertua membuat Audrey terdiam sejenak kala pikirannya tertuju pada Abian kala Diandra menyebut anak pertama.
"Anak pertama? Maksudnya aku juga harus punya anak kedua?Lantas bagaimana aku bisa punya anak dari Bie, aku saja nggak mencintainya. Tapi bagaimana masa depanku dengan Bie nanti? Masa Bie selamanya akan membujang dan nggak punya keturunan?" batin Audrey. "Tapi aku sungguh nggak bisa dengannya sebab aku nggak ada rasa sayang yang lebih dari sekedar teman padanya!" lanjut Audrey di dalam hatinya.
"Kok melamun?" tanya Diandra pada menantunya yang hanya diam melamun setelah ia bertanya soal anak.
"Oh, tidak apa-apa, Ma!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Apa Bie sudah memberi nafkah lahir dan batin?" tanya Diandra pada menantunya lagi.
"Tadi malam Bie sudah memberikan uang nafkah pada Drey, Ma!" jawab Audrey.
"Hanya nafkah lahir? lalu nafkah batin?" tanya Diandra pada Audrey.
Audrey dengan segera menggelengkan kepalanya kala mama mertua menanyakan soal nafkah batin.
"Oh, belum juga. Mama akan bicara padanya!" ucap Diandra. Audrey terkejut dengan ucapan Diandra, wanita itupun dengan segera melarang. "Enggak perlu, Ma. Sebab Audrey nggak membutuhkan itu!"
"Maksudnya?" tanya Diandra yang tidak mengerti dengan makna tidak membutuhkan yang dilontarkan oleh menantunya itu.
"Em ... Audrey 'kan sedang hamil, jadi ya lebih baik nggak usah!" jawab Audrey yang memanfaatkan kehamilannya untuk menjadi alasan.
"Oh, baiklah jika begitu!" ucap Diandra sambil tersenyum.
"Sampai kapanpun yang ada di hatiku hanya Kak Felix! Enggak ada yang lain!" batin Audrey memasang tatapan sendunya.
"Hugh, akhirnya sampai juga!" ucap Diandra setelah ia dan menantunya tiba di halaman depan mall.
"Yuk turun, Drey! Nanti kamu belanja keperluanmu saja, seperti s**u penguat kandungan, vitamin, alat rias mu. Belanja bulanan tugas Mama!" ucap Diandra.
Wanita paruh baya itu tak ingin Audrey mengurus persediaan bulanan sebab Audrey sekarang sedang mengandung dan kandungannya lemah, jadi Audrey tidak boleh kelelahan.
"Baik, Ma. Audrey ingin ke girl hair salon dulu, soalnya ini rambut Audrey sudah lama tidak perawatan!" ucap Audrey. Memang benar jika Audrey sudah jarang ke salon untuk merawat rambutnya, semenjak dua bulan lalu. Entah mengapa setelah mengandung ia jadi malas untuk pergi ke salon.
"Tapi rambutmu indah, Drey? Mama malah nggak menyangka bahwa sudah lama nggak perawatan di salon?" ucap Diandra yang tidak mempercayai keterangan menantunya.
Rambut Audrey sangatlah indah, warnanya hitam pekat, panjang, wangi dan bersinar, rambut Audrey juga selembut kapas sehingga akan melayang-layang bila tertiup angin.
"Sejak kecil Drey selalu rutin merawatnya, Ma. Jujur saja, Audrey lebih suka merawat rambut daripada wajah. Jadi, Audrey ke salon hanya untuk merawat rambut saja bukan untuk spa wajah atau kulit!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Iya karena rambut adalah mahkota wanita!" ucap Diandra.
***
Malam hari kemudian, Felix sedang bersama dengan Devina yang kini menjadi rekan bisnisnya.
Felix memang masih bekerja sebagai seorang nahkoda kapal, namun kini ia juga ingin membangun bisnis.
"Felix, dalam bisnis kamu harus semangat dan jangan bawa-bawa urusan pribadimu!" ucap Devina setelah melihat Felix yang hanya diam, pria itu masih belum bisa melupakanmu Audrey.
"Aku belum bisa melupakannya! Belum bisa dan nggak akan pernah bisa!" jawab Felix.
"Setidaknya lupakan dia ketika kita sedang mengurus bisnis! Kalau diluar bisnis, kamu boleh mengingatnya!" pinta Devina agar Felix mau fokus mengurus bisnis.
"Sulit bagiku, Dev!" jawab Felix. "Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan ini besok pagi saja! Aku mau istirahat!" lanjut Felix yang kemudian pergi ke lantai dua meninggalkan Devina di ruang tamu.
Devina menghela nafasnya, berbisnis dengan orang yang sedang patah hati memang sulit dan harus sabar dalam menghadapinya.
Devina kini membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja dan setelah selesai ia hendak pulang, namun Saskia tiba-tiba menghampirinya.
"Dev!" panggilnya pada Devina mantan pacar anaknya itu.
"Iya, Tan?" jawab Devina.
"Kamu mantan pacar putra Tante, kamu dulu pacaran selama tiga tahun dengannya, kan?" tanya Saskia sambil tersenyum.
"Iya, Tan!" jawab Devina secara singkat.
"Em ... apakah kamu sudah nggak mencintai putraku?" tanya Saskia pada Devina.
"Tidak, Tan. Dia juga sudah punya istri!" jawab Devina sambil tersenyum.
"Tapi istrinya sudah nggak ada, hatinya kosong sekarang, Dev! Apa kamu tidak berniat untuk mengisi kekosongan hatinya itu?" Pertanyaan Saskia membuat Devina terdiam sejenak.
"Aku nggak enak pada istrinya dan sekarang Felix hanyalah rekan bisnisku, tidak lebih!" jawab Devina sambil tersenyum.
"Tante ingin kamu mengobati lukanya dan menikah dengannya!" ucap Saskia sambil menatap Devina dengan tatapan sayu. "Lagipula kamu juga masih sendiri, kan?" lanjut Saskia.
"Enggak, Tan! Saya nggak bisa!" tolak Devina. "Sudah ya, Tan. Dev pulang dulu!" lanjut Devina yang kemudian bergegas keluar dari rumah Felix.