Keesokkan harinya, lebih tepatnya di malam hari yang tidak cerah berbeda dengan kemarin, malam ini hujan lebat dan angin kencang sedang melanda ibukota Jakarta.
Seorang wanita hamil yang tak lain adalah Audrey kini sedang menatap dirinya di cermin sambil tersenyum.
"Ternyata bajuku ini masih muat, tapi mungkin beberapa bulan lagi pasti nggak akan muat karena perutku akan semakin membesar!" ucap Audrey.
Sehabis ia berucap, tiba-tiba terdengar suara robek dan ia pun segera melihat ke sumber suaranya.
"Oh. Astagfirullah!" ucap Audrey kala dua kancing bajunya lepas dan mental ke sembarang arah, lebih parahnya lagi dua kancing yang lepas itu di bagian dadanya sehingga bra hitam yang ia kenakan itu kelihatan.
"Drey!" Panggilan Abian yang tiba-tiba masuk membuat Audrey segera menutupi bagian dadanya yang terbuka.
"Jangan lihat aku!" pinta Audrey seraya membelakangi Abian.
"Oke!" jawab Abian.
Audrey kemudian dengan cepat membuka lemari pakaian yang memang berada tepat di hadapannya itu, iapun segera meraih dress yang lain, setelah mendapatkannya, Audrey bergegas lari ke kamar mandi untuk menganti bajunya.
"Ada apa dengannya?" tanya Abian pada dirinya sendiri yang merasa aneh dengan kelakuan istrinya.
Tak beberapa lama kemudian, Audrey keluar dari kamar mandi dan bergegas ke meja rias untuk menggunakan krim siang malam miliknya.
Abian pun pergi ke meja rias juga untuk menaruh jam tangannya, namun ia berhenti dibelakang Audrey kala mencium aroma sampo Audrey yang natural, Abian memejamkan kedua matanya sambil menghidup aroma wangi itu.
"Kamu mau apa?" Pertanyaan Audrey membuat Abian menghentikan aktivitasnya dan segera mencoba membuka jam tangannya.
"Menaruh jam tangan!" jawab Abian.
"Kamu mencium rambutku?" tanya Audrey pada Abian.
"Oh, tidak! Aku hanya ingin menaruh jam tangan saja!" sangkal Abian sambil tersenyum.
"Oh, baiklah!" ucap Audrey yang kemudian lanjut memakai krim, Abian tersenyum dan kemudian menghirup aroma wangi itu lagi, namun pria itu mengalihkan pandangannya ke atas kala Audrey menatapnya lagi.
"Jangan macam-macam ya, Bie!" ucap Audrey yang memperingatkan.
"Aku hanya ingin melepas jam tangan!" jawab Abian.
"Melepas jam tangan! Lalu mengapa lama sekali? Jam itu saja masih ada di pergelangan tanganmu?" tanya Audrey pada Abian.
"Em ... anu ... ini jam tanganku sepertinya rusak talinya, jadi agak lama melepasnya!" jawab Abian yang berbohong, ia secara alas memberi alasan atas pertanyaan Audrey.
"Benarkah? Coba sini aku lihat!" ucap Audrey sambil beranjak dari duduknya dan kemudian mengambil tangan Abian.
"Mana rusak? Ini nggak rusak, kok!" tanya Audrey setelah ia bisa dengan mudah melepas jam tangan itu.
"Tadi rusak!" jawab Abian sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara petir yang membuat Audrey terkejut dan refleks memeluk tubuh Abian.
Jantung pria itu berdetak dengan sangat kencang ketika Audrey memeluknya dan kini ia bisa mencium aroma rambut Audrey dengan sangat dekat.
"Jangan takut! Hanya suara petir!" Ucapan Abian membuat Audrey sadar telah memeluk pria lain selain Felix, Audrey pun dengan segera melepaskan pelukannya namun beberapa rambutnya tersangkut di kancing baju tidur Abian.
Audrey dengan segera berusaha untuk menarik rambutnya namun usahanya sia-sia, kepalanya bahkan sudah sakit akibat ia menarik paksa kepalanya.
"Tenang! Tunggu sebentar!" ucap Abian yang kemudian menggunakan kedua tangannya untuk memegang kanan kiri kerah baju tidurnya dan lantas menariknya secara bersamaan dengan arah yang berlawanan sehingga dua kancing baju bagian atasnya lepas dan mental ke sembarang arah.
Audrey tercengang kala melihat d**a bidang suaminya yang sedikit terekspos itu, setelah sadar dari keterkejutannya, Audrey segera menutup kedua matanya dan menjauh dari sang suami.
"Cepat ganti baju!" titah Audrey seraya terus membelakangi sang suami.
Abian pun segera pergi ke arah lemari pakaian dan langsung mengambil baju tidur yang lain dan kemudian ia membawanya ke kamar mandi.
Keesokkan harinya, Abian pergi ke dapur untuk menemui istrinya yang hendak menyiapkan bekal untuknya.
"Drey!" panggilnya pada Audrey. Audrey menoleh dan kemudian bertanya, "Ada apa, Bie?"
"Aku nggak usah membawa bekal! Nanti siang aku mau pulang saja, Drey. Jika nggak keberatan ... bisakah kamu makan siang di luar bersamaku?" tanya Abian pada Audrey.
"Maaf, Bie. Aku nggak bisa!" tolak Audrey seraya menatap Abian dengan tatapan sendunya.
"Makan siang lah di luar, Drey! Selama menikah kalian nggak pernah menghabiskan waktu berdua, kan? Jadi, sekarang terima saja tawaran putraku!" ucap Diandra yang tiba-tiba datang bersama dengan Satria.
"Ya, kalian harus sering menghabiskan waktu berdua, agar rumah tangga kalian semakin harmonis!" sahut Satria sambil tersenyum.
"Ingin sekali aku menolak tawaran Bie. Tapi aku nggak enak sama papa dan mama!" batin Audrey.
"Baiklah, Bie, aku mau!" jawab Audrey yang akhirnya mau diajak makan siang oleh Abian.
"Terima kasih, Drey!" ucap Abian sambil tersenyum.
***
Siang hari kemudian, Abian membawa istrinya ke restoran untuk makan siang bersama.
"Kamu mau pesan apa, Drey?" tanya Abian pada Audrey yang hanya duduk diam di kursinya.
"Terserah kamu saja!" jawab Audrey dengan tatapan sendunya. Audrey merasa bosan berada di sana, ia lebih senang jika makan siang bersama Felix daripada Abian.
"Drey, aku tahu kamu nggak mau makan siang bersamaku! Kamu tadi hanya nggak enak sama mama dan papaku, kan? Tapi bolehkah aku meminta hubungan kita seperti dulu lagi? Seperti seorang teman!" pinta Abian pada Audrey.
"Sekarang sudah sangat jauh berbeda, Bie! Kamu memintaku untuk kembali seperti dulu dan itu sama saja dengan aku mengkhianati Kak Felix!" tolak Audrey seraya menatap Abian dengan tatapan sendu.
"Felix sangat beruntung karena dicintai olehmu!" ucap Abian. "Drey, demi kebahagiaanmu aku rela kamu pergi dariku dan kembali pada Felix!" lanjut Abian.
Audrey terkejut mendengar hal itu, ia pun segara menatap Abian dengan tatapan yang seolah tak percaya.
"Apa katamu tadi?" tanya Audrey lagi untuk memastikan apakah pendengarannya itu masih baik-baik dan tidak salah.
"Cinta nggak harus memiliki, Drey! Jadi, demi kebahagiaanmu aku rela mengalah!" ucap Abian sambil menatap Audrey dengan tatapan sayunya. Ia merasa percuma saja menahan Audrey untuk dirinya karena yang ia dapatkan hanya raganya saja bukan hatinya.
Audrey terdiam setelah mendengar penjelasan dari Abian yang mau merelakannya kembali untuk Felix. Audrey sangat ingin kembali pada Felix, namun ia merasa kasihan dan tidak enak pada Abian yang juga mencintainya, Audrey bukanlah wanita kejam yang bisa dengan mudah menyakiti pria sebanyak dua kali dalam satu kehidupan.
"Bie, nggak mungkin aku meninggalkanmu! Kamu adalah satu-satunya orang yang ada di saat aku sendirian!" jawab Audrey kemudian.
"Aku mencintaimu dan itu sudah merupakan kewajibanku untuk menolong dan menemanimu, Drey!" ucap Abian. "Selama satu tahu aku mencoba melupakanmu setelah kamu menikah namun aku tidak bisa!" lanjut Abian seraya menatap Audrey dengan tatapan yang sama, masih sendu dan dengan raut wajah yang sedih.
"Apa katamu, Bie?" tanya Felix yang tiba-tiba datang menghampiri Audrey dan Abian.
"Kak Felix?" ucap Audrey yang terkejut karena Felix ternyata juga ada di sana.
"Apa katamu tadi!" bentak Felix seraya memegang kerah baju Abian dan menariknya hingga Abian berdiri.
"Tenang, Kak!" ucap Audrey seraya ikut berdiri dari duduknya.
"Felix, tolong dengarkan penjelasanku!" pinta Abian.
"Aku kira kamu benar-benar sahabat sejatiku, aku kira kamu menikahi istriku hanya untuk menolongnya. Tapi aku salah! Ternyata kamu mencintainya, ternyata kamu ingin merebutnya dariku! Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Marah Felix pada sahabatnya yang telah ia anggap sudah mengkhianatinya.
"Kak Felix, please dengarkan penjelasan kami berdua dulu, please!" pinta Audrey sambil memegang tangan kiri Felix.
"Minggir!" Marah Felix seraya menepis tangan Audrey.
Audrey yang kehilangan keseimbangan kemudian jatuh dan ia meringis kala merasakan rasa sakit di perutnya.
"Audrey!" teriak Abian yang kemudian hendak menolong Audrey namun dihalangi oleh Felix yang mencekal tangannya.
"Tolong jangan buat kegaduhan di sini!" pinta semua pengunjung restoran yang takut dua orang itu akan berkelahi pada saat jam makan siang.
Audrey terus merintih sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit dan keram itu.
"Kamu sahabatku dalam hidupku tapi kamu juga pengkhianat dalam hidupku!" teriak Felix yang hendak menonjok Abian, namun dihentikan oleh para pengunjung restoran.
Dua orang pria kini memegangi Felix yang sedang emosi agar tidak berkelahi dengan pria berseragam tentara itu.
"Drey!" ucap Abian yang kemudian segera mengangkat tubuh istrinya dan bergegas keluar dari restoran.
"Hey, mau kamu bawa kemana istriku? Kembalikan! Dasar pencuri sialan!" teriak Felix sambil mengumpat.
"Tenang, Mas! Tenang!" ucap pengunjung restoran yang mencoba meredam kemarahan Felix.
"Jangan ikut campur kalian!" bentak Felix seraya melepaskan tangannya dari pegangan dua pria itu.
***
Di rumah sakit, Felix masih bertengkar dengan Abian sahabatnya sendiri.
"Mengapa kamu rebut istriku? Mengapa?" marah tepat di depan wajah Abian.
"Felix, tadinya aku mau melepasnya untukmu tapi setelah melihat kelakuanmu aku jadi ragu!" ucap Abian dengan nada tinggi.
"Bilang saja jika kamu ingin memilikinya!" bentak Felix pada Abian.
"Kamu sudah membuatnya terluka, kamu sudah kasar padanya dan juga pada calon anakmu sendiri! Jadi, aku nggak akan pernah melepaskannya lagi!" ucap Abian dengan nada tinggi lagi.
Pria itu merasa sangat marah sebab istrinya dilukai oleh pria lain, padahal tadinya ia sudah akan merelakan istrinya pada pria lain itu namun setelah kejadian ini dia mengurungkan niat baiknya itu.
"Dasar kurang ajar!" bentak Felix. "Kembalikan dia kepadaku!" lanjut Felix dengan nada tinggi.
"Enggak! Aku nggak bisa mempercayakan dia padamu lagi karena kamu sudah kasar kepadanya!" tolak Abian dengan tegas.
"Keluarga pasien?" Panggilan seorang Dokter yang baru keluar dari UGD mampu menghentikan pertengkaran itu.
"Saya suaminya, Dok!" ucap Abian dan Felix secara bersamaan.
"Apa?" tanya Dokter yang merasa kaget sebab ada dua orang pria yang mengaku sebagai suami Audrey.
"Saya suaminya!" jawab Felix.
"Enggak, Dok! Saya suaminya, dia hanya mantan suami!" sangkal Abian.
"Dia istriku!" bentak Felix pada Abian.
"Terserah mu saja! Dok, bagaimana kondisi Audrey?" Abian bertanya mengenai kondisi Audrey di akhir kalimatnya.
"Tadi kondisinya buruk! Kandungannya lemah, jadi saya harap suaminya bisa menjaganya dengan baik!" jawab sang Dokter.
"Lalu kondisinya sekarang?" tanya Felix pada sang Dokter.
"Dia sudah baik-baik saja, tapi untuk sementara waktu dia harus di rawat inap dulu!" jawab sang Dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih!" ucap Abian sambil tersenyum.
Sang dokter kemudian segera pergi dari sana dan seorang suster menghampiri Abian serta Felix.
"Maaf, Pak. Kalian harus segera membayar uang administrasinya!" ucap sang Suster.
"Baik, Sus!" jawab Abian dan Felix secara bersamaan.
Abian kemudian hendak pergi untuk mengurus biaya rumah sakit Audrey, namun Felix menghentikannya.
"Jangan pernah membiayai keluargaku!" ucap Felix.
"Dia istriku sekarang dan sebagai seorang suami aku harus membiayainya!" jawab Abian.
"Tidak! Ini kewajibanku!" tolak Felix.
"Dia istriku!" ucap Abian.
"Dia mengandung anakku!" jawab Felix.
Abian terdiam setelah mendengar jawaban Felix sebab memang benar bahwa alasan Audrey sakit adalah karena anak yang ia kandung lemah jadi otomatis ini merupakan kewajiban seorang ayah untuk membiayai anaknya. Tentu saja Abian masih mengingat nasihat ustadz yang dulu menikahkannya dengan Audrey.
Karena Abian hanya diam, Felix pun segera pergi untuk membayar biaya rumah sakit.
"Drey, tadinya aku sudah rela melepas dirimu, agar kamu bisa bahagia lagi. Namun sekarang aku berubah pikiran dan nggak rela kamu kembali pada Felix, seseorang yang telah membuatmu terluka!" ucap Abian yang kemudian masuk ke dalam ruang UGD untuk menemui istrinya.