Perjodohan

1214 Words
“Apa?” teriak Dewa histeris saat keluarganya membahas tentang perjodohan yang ditujukan untuk dirinya. “Dewa, pelan-pelan ngomongnya, Nak,” bisik sang Umi. “Nggak Umi, Dewa nggak setuju. Apa-apaan sih, bahas beginian di tengah malam. Lagian juga, kenapa Ustad Syahrul belum pulang juga? Ini udah malam loh Ustad, nggak malu apa sama tetangga, anaknya seorang Ustad masih berada di rumah orang lain?” “Dewa! Lo kalo ngomong bisa dijaga nggak, sih?” Restu berdiri dengan emosi yang berusaha ditahannya. Meski ia tahu sikap Dewa sudah sangat keterlaluan, namun sebagai seorang kakak Restu paham betul apa yang dirasakan adiknya. Usia masih kecil, sudah dijodohkan dengan wanita yang sama sekali tak dicintai. Akan tetapi, Dewa tetap bersalah. Bicara tidak sopan pada orang yang lebih tua darinya. Pria yang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi itu sudah banyak melalui masalah yang tak bisa diterima oleh akal sehatnya sendiri. Kematian kakak perempuannya membuat Dewa membenci putri Ustad Syahrul yang tak mengerti sama sekali. “Nggak usah munafik, Kak. Gue tahu, lo masih belum bisa terima untuk sekolah di pesantren itu, kan? Pengecut! Lo nggak bisa membohongi perasaan lo sendiri, gue tahu lo masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa kak Mila, kan? Dewa sudah tak tahan lagi dengan sikap Restu yang seolah semuanya baik-baik saja. Padahal jauh dari lubuk hati yang terdalam, kakak laki-lakinya itu lah yang paling terpuruk saat mendengar kabar kematian Mila. Restu sempat mengalami depresi berat akibat dari berita dadakan itu. Dewa juga stress mendengarnya, kakak perempuan satu-satunya yang sangat mereka cintai, harus pergi dengan cara tragis. Sejak saat itu sifat Dewa berubah seratus delapan puluh derajat. Awalnya anak baik dan kalem, kini menjadi pria yang sedikit nakal dan suka bikin ribut di sekolah. “Lo nggak usah bohong lagi, Kak. Gue tahu apa yang lo rasakan sekarang. Jangan bodohi pikiran lo karena ini, lo berusaha tegar agar Umi dan Abi tak bersedih. Iya, lo bisa dan lo kuat. Tapi, gue nggak bisa, Kak, melupakan semua kejadian itu begitu saja.” Dewa menitikkan air mata. Untuk kesekian kalinya ia menangis kala mengingat sang kakak. Semua orang terdiam, begitu juga dengan Restu. Kakak kandung Dewa itu tampak menahan sesak di dadanya. Gumpalan cairan bening memenuhi rongga mata dan siap tumpah jika ia mau. Restu berusaha untuk tetap mengontrol diri. Apa yang dikatakan Dewa barusan menjadi cambuk baginya. Selama ini dengan sekuat tenaga ia melupakan kejadian itu, namun, hari ini justru Dewa kembali memutar tayangan lama yang mungkin sudah memudar warnanya. Restu menangis. Pria itu mengusap pipinya yang dibanjiri air mata, Umi dan Abi ikut sedih mendengar penuturan Dewa. Ustad Syahrul tampak menganggukkan kepala pada putrinya. Ustad itu paham dengan perasaan anaknya yang terluka karena perjodohan ini. Namun, ia tak bisa berkata-kata. “Hm, Umi Rahmah, Ustad Fadil, maaf sepertinya kami harus pamit. Lain kali aja kita bahas permasalahan ini. Sepertinya Dewa belum siap, begitu pun dengan Zahara. Maaf jika kedatangan kami membuat keluarga Ustad bersedih. Kalau begitu, kami permisi. Assalamualaikum.” Ustad Syahrul beserta putrinya meninggalkan kediaman keluarga Dewa. Tak ada kata apa pun, orang tua Dewa merasa malu pada Ustad Syahrul. Dewa yang sedari tadi melepas kepergian sang Ustad dan putrinya dengan tatapan marah merasa puas kala melihat Zahara menangis di hadapannya sebelum perempuan itu pergi. “Tidurlah, Nak. Besok Abi bicarakan ini lagi dengan Ustad Syahrul, semoga beliau bisa memaafkan kita,” ujar Abi Fadil ramah. Pria paruh baya itu tak dapat menyembunyikan kesedihannya, beliau pun melangkah pergi diikuti Umi meninggalkan Dewa yang masih bingung dan tak mengerti. “Puas.” Satu kalimat akhirnya keluar dari mulut Restu, Dewa berbalik menatapnya dengan kening mengkerut. “Maksud, lo?” “Lo hebat, Wa. Gue nggak nyangka lo bisa seperti ini, lo pintar memainkan peran lo. Gue belum tentu bisa seperti itu, iya gue nggak bisa. Asal lo tahu, gue sampai detik ini masih mengingat kejadian yang menimpa kak Mila, gue nggak akan pernah melupakan itu semua dengan mudah. Tapi, gue juga nggak mau seperti lo, dendam pada orang yang salah. Gue hanya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi tanpa ada rasa benci pada siapa pun, termasuk Ustad Syahrul dan Zahara. Lo hebat, hanya semalam lo bisa menyakiti hati wanita lemah seperti dia. Apa dendam lo sudah terbalas? Gue harap setelah ini lo bisa merenungkan sikap keterlaluan yang menyebabkan orang lain terluka. Jadi pribadi yang lebih baik lagi, sebelum lo menyesal.” Restu menepuk pelan pundak Dewa, kemudian meninggalkan pria itu yang masih terdiam seribu bahasa. *** Dewa membaringkan tubuhnya di ranjang empuk dengan sprei bergambar tayo. Pria itu menatap nanar langit-langit kamar, pikirannya masih kacau tak dapat berpikir dengan jernih. Apa yang dilakukannya tadi sudah benar. Iya, setidaknya dia bisa menggagalkan rencana perjodohan itu. Dewa tak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua dan kakak laki-laki nya itu. Setelah apa yang terjadi menimpa Mila, mereka malah mau menjalin silaturrahmi dengan keluarga Ustad Syahrul. Dewa bangkit, duduk di tepi ranjang. Pria dengan sejuta pesona itu tampak mengacak rambutnya yang tadi disisir dengan rapi, mengatur nafas perlahan dan berusaha untuk menghapus kejadian barusan dari ingatannya. Dewa meraih ponsel yang berada di meja samping, mengotak atik benda tersebut dan kemudian menyalakan lagu Kutang Barendo milik penyanyi minang yang tidak diketahui namanya. Pria itu tampak menikmati lagu tersebut. Segurat senyum kembali tersirat di wajah tampannya. Dewa memang suka lagu yang bergenre humor, ada kesan tersendiri yang disampaikan lagu itu dan mungkin sesuai juga dengan sifat jailnya. Namun, yang jadi masalah lagu minang tersebut tak ada kesan humornya, Dewa tertarik saja dengan judul lagu tersebut. Dewa kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang, sembari bernyanyi-nyanyi kecil lah ilalah kutang barendo, nan tampuruang sayak babulu, lah tamanuang nan tuo-tuo mancaliak bujang lah marando. Dewa tertawa, lagu itu sangat lucu baginya. Saat sedang asik bernyanyi, sebuah pesan masuk di aplikasi w******p, tertera nama Danu di sana, Dewa pun membukanya. [Udah tidur?] [Ngapain lo nanya!] [Pengen aja, emang nggak boleh?] [Jijik gue, Dan. Nggak biasanya lo, kayak nanya ke cewek tau nggak] [  Gue lebih jijik tau nggak? Biasanya lo manggil gue dengan sebutan beb, anjir geli gue] [Halah, lo nikmatin juga. :/ ngapain lo chat gue, udah malem ini.] [Gue cuma mau ngasih tau, Krista lagi sakit. Mungkin besok dia nggak sekolah, soalnya dia mau operasi katanya] Dewa terkejut, ia hampir melupakan gadis itu. Dengan secepat kilat Dewa kembali membalas pesan dari Danu. [Serius lo? Kok dia nggak ngasih tau gue?] Dewa bangkit dari rebahannya dan kembali duduk di tepi ranjang saat mendengar kabar tentang wanita yang dicintainya. [Emang lo siapanya? Pacar juga nggak] [Iya juga sih. Yaudah, makasih infonya, besok gue mampir ke sana] [Emang lo tau rumah sakitnya di mana?] [Nggak, emang di mana?] [Sorry, gue ngantuk] [Kasih tau gue Danu] Danu memilih untuk tidak membalas dan membiarkan Dewa semakin penasaran. [woi] dengan nada kesal, Dewa mengirim emoticon marah. [Danu pacarnya buk Nana] Serentetan chat balasan dikirimnya kembali, namun dengan kesal Danu akhirnya membalas juga. [Berisik, besok gue kasih tau di sekolah] Saat Dewa hendak membalas kembali, Danu terlebih dahulu mematikan data selulernya agar Dewa tak menganggunya lagi. Dewa mengumpat, melihat w******p Danu telah offline. “Sial, awas lo ya. Gue ketekin lo besok,” rutuknya. Dewa meletakkan kembali ponselnya di atas meja di samping tempat tidur. Musik pengantar tidur kembali ia putar, kali ini bukan lagu kutang barendo melainkan lagu fenomenal Tak Tuntuang dari Upiak Isil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD