Putri Ustad Syahrul

1419 Words
Malam ini, sesuai dengan rencana yang telah diatur oleh Umi Dewa untuk mengadakan acara syukuran sekaligus melepas nazar. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, memang tak banyak, hanya ada beberapa orang anak yatim dari panti asuhan Impian Bersama dan beberapa orang ustad kenalan Abinya, serta kerabat terdekat. Dewa tampak malas keluar kamar, anak itu memang suka sekali menyendiri jika ada keramaian di rumahnya. Dewa lebih memilih tiduran di kasur tercinta sembari memainkan ponselnya yang tak ada satu pun pesan masuk, kecuali dari Musfiq dan Beno yang menagih bayaran karena berbohong pada Buk Nana saat upacara tadi. Di bawah sana, Umi nya terlihat sibuk sekali menyiapkan cemilan yang akan disuguhkan kepada tamu. Dengan dibantu Danu, pekerjaan Umi jadi sedikit ringan. Danu sangat telaten mengantarkan minuman pada tamu yang telah duduk di ruang tengah. “Nak, apa kamu lihat Dewa?” tanya Umi pada Danu saat pria itu hendak mengantarkan beberapa piring makanan ringan. “Danu belum lihat, Umi. Mungkin, masih di kamar,” jawab Danu sopan. “Ya sudah. Umi mau susul Dewa dulu, makasih, ya, Nak sudah mau bantu Umi.” Umi Rahmah menepuk pelan pundak Danu yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Danu membalas senyuman Umi, kemudian meninggalkan tempat itu untuk menuju ruang tengah. Sementara di kamar, Dewa terlihat gelisah. Entah apa yang ada di dalam benak pria itu hingga membuat hatinya tak tenang. Dewa terus mengotak atik ponselnya, kemudian melemparkan benda tak bersalah tersebut dengan kasar. Untung saja nggak jatuh ke lantai, kalau sampai jatuh dan rusak, jangan harap Umi mau membelikan yang baru. Tok!tok!tok!!! Dewa menoleh saat seseorang di luar sana mengetuk pintu kamarnya dengan pelan. “Masuk Umi, nggak Dewa kunci, kok,” ujarnya yang sudah tahu orang tersebut adalah Uminya. Umi Rahmah muncul dari balik pintu, menatap heran putranya yang masih berbaring di tempat tidur. Kemudian, Umi Rahmah berjalan mendekati, duduk di pinggir ranjang dan mengusap lembut kepala Dewa. “Dewa kenapa belum siap-siap, tamu sudah pada datang, loh.” Dewa bangkit dan duduk di sebelah Uminya, “Umi, Dewa lagi nggak enak badan. Dewa nggak ikut, yah, acara syukurannya.” Dewa memasang muka memelas seperti orang sakit beneran. Umi Rahmah tersenyum, sebagai seorang ibu, beliau sudah paham karakter masing-masing anaknya. Dewa tipe anak nakal yang suka berbohong pada Umi jika dia nggak suka sama sesuatu. Sedangkan, Restu kakak kedua Dewa tipe anak yang penurut. Tak pernah membantah perkataan orang tuanya, rajin ibadah dan tengah menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren milik Ustad Syahrul yang merupakan teman masa sekolah Abi nya. Umi Rahmah geleng-geleng kepala, “Umi tahu kamu berbohong, sekali saja jadi anak penurut, bisa?” “Umi, bukannya Dewa nggak mau jadi anak penurut. Tapi, Dewa nggak suka ada Ustad Syahrul, nanti Dewa dipaksa lagi untuk masuk pesantren,” “Nggak ada yang memaksa, Nak. Ustad Syahrul nggak akan memaksamu lagi. Umi janji, nggak akan ada pembahasan tentang pesantren lagi nanti,” bujuk Uminya. “Tetap aja, Umi, Ustad Syahrul akan memuji kak Restu untuk membuat Dewa iri nantinya.” Dewa berdiri, melangkah menuju meja belajarnya dan meraih komik yang sempat dibelinya tadi. Umi Rahmah kembali menghampiri Dewa yang sibuk membuka lembar demi lembar komik tersebut tanpa membacanya. “Kalau Dewa nggak mau kak Restu dipuji Ustad Syahrul, ya Dewa harus masuk pesantren juga, supaya bisa seperti kak Restu,” bujuk Uminya sekali lagi. “Tuh, kan. Umi juga memaksa Dewa, pokoknya Dewa nggak mau turun.” Dewa bangkit menjauh dari Umi dan menuju tempat tidurnya lagi. “Sekali ini saja, kamu bisa nurut, nggak, sih, Nak? Umi janji nggak akan memaksa untuk masuk pesantren lagi. Tolonglah, anggap ini permintaan terakhir Umi.” Pinta Umi memohon. “Umi ngomong apa, sih? Dewa nggak suka dengarnya.” “Kalau Dewa nggak mau menuruti permintaan Umi, berarti Dewa nggak pernah sayang sama Umi. Dewa nggak mau melihat Umi bahagia nantinya, Dewa nggak mau jadi anak yang membanggakan untuk Umi dan Abi. Umi benar-benar kecewa dengan Dewa.” Umi Rahmah menitikkan air mata. Wanita paruh baya itu sangat sedih dengan sifat putra keduanya. “Jangan nangis, Umi. Dewa nggak suka liatnya.” Dewa mengusap pelan pipi Umi dengan penuh kasih sayang. “Dewa sayang Umi, kok.” Lanjutnya pelan. “Bener, Dewa sayang Umi?” Dewa mengangguk, “Berarti Dewa mau menuruti permintaan Umi?” lagi, Dewa mengangguk. “Turunlah, Nak. Semua tamu menanti kehadiranmu, jangan buat Umi dan Abi malu di hadapan para tamu.” Dewa menarik napas berat, menghembuskan dengan terpaksa, “Baiklah Umi, Dewa akan turun. Umi duluan saja, Dewa mau ganti baju dulu,” ujarnya menyerah. Umi Rahmah tampak tersenyum, kemudian meninggalkan Dewa yang masih mematung di tempat. Sementara Dewa masih bingung dengan ucapannya barusan, bagaimana bisa dia turun dan menghadapi Ustad Syahrul nantinya? *** Empat puluh lima menit berlalu, Dewa belum juga turun. Umi semakin resah dibuatnya, acara syukuran sudah dimulai dari tadi, dan sebentar lagi akan ditutup dengan doa oleh Ustad Syahrul. Umi tampak pasrah, sifat Dewa memang keras seperti batu. Abi melirik Umi, berbisik dengan pelan agar tak terdengar. “Dewa mana, Mi. Dari tadi Abi tak melihatnya.” “Dia ada di__” ucapan Umi terpotong saat mendengar langkah kaki mendekat. “Maaf, Umi. Dewa telat,” ujar Dewa sembari duduk di samping Abi. Umi mengangguk, begitu pun dengan Abi yang memilih tidak mengeluarkan suara karena Ustad Syahrul tengah memimpin doa penutup sekaligus doa keselamatan untuk keluarga ini. Dewa ikut larut dalam suasana doa tersebut yang menyentuh hati saat suara Ustad Syahrul dengan merdunya melantunkan ayat-ayat Allah sebagai penutup. Saat para tamu mengamini doa yang dipimpin Ustad tersebut, saat itu juga mata elang Dewa menangkap sosok wanita yang mengenakan kerudung biru muda setelan dengan gamisnya. Sudah dipastikan itu anak Ustad Syahrul yang satu pesantren dengan kak Restu, kakak kandungnya. Meski, mereka beda lokasi, karena pesantren yang dipimpin Ustad Syahrul tak mengizinkan lelaki dan perempuan berada di tempat belajar yang sama. Dewa meliriknya sebentar, kemudian matanya kembali fokus ke depan. Pria itu sama sekali tak tertarik dengan santriwati itu karena bukan tipe cewek idamannya. Merasa jengah berada di sana, Dewa bangkit dan hendak meninggalkan para tamu yang tengah mencicipi makanan yang telah dihidangkan. Namun, tangannya dipegang erat oleh sang Umi, membuat Dewa tak bisa berkutik. “Umi, Dewa mau ke kamar sebentar,” bisiknya pelan. “Umi mau kamu di sini, nggak baik meninggalkan acara saat tamu masih ada di sini,” balas Uminya pelan. Dewa menurut saja, pria itu menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali. Mencari cara agar bisa menjauh dari situ, bukan tak suka dengan acara syukuran yang diadakan oleh Umi nya, hanya saja dia merasa risih dengan kehadiran Zahara, anak dari Ustad Syahrul. Danu yang melihat kegelisahan hati Dewa, menghampirinya dan mengambil posisi menggantikan Umi, sementara wanita paruh baya itu menghampiri tamu undangan. “Lo kenapa?” bisiknya pelan, tapi bisa di dengar oleh Abi. Dewa memalingkan muka, malas melihat wajah geram Danu yang seolah-olah siap menerkam dirinya. Hanya sebentar, kemudian kembali kesemula. “Gue malas duduk di samping lo, yang kerjaannya cuma ngoceh nggak jelas kayak emak-emak rempong,” balasnya tak kalah berbisik sembari menatap wajah Danu tajam. Danu terdiam, dia tak menyangka sahabatnya akan berkata demikian. Terlebih lagi yang sangat disayangkan olehnya adalah perubahan sikap Dewa yang jauh dari kata sopan, kecuali pada orang tuanya. Danu menghela napas berat, menatap ke depan dan melihat satu persatu tamu yang mulai meninggalkan rumah, kecuali Ustad Syahrul dan putrinya. “Gue nggak nyangka, lo bakalan seperti ini, Wa.” Dewa yang hendak meninggalkan tempat duduknya, membeku saat mendengar perkataan dari sahabatnya. “Lo berubah, benar-benar berubah. Hanya karena insiden itu lo bersikap seperti ini? lo sadar nggak, perilaku lo sangat melukai hati Umi,” ujarnya lagi sembari menatap Dewa dengan mata berlinang. “Lo nggak usah peduli sama gue, karena lo bukan siapa-siapa.” Dewa kembali menatap tajam ke arah Danu, membuat pria itu terdiam. Pertahanannya runtuh, air mata mengalir begitu saja ke pipinya. Dengan cepat Danu menghapus butiran bening itu agar tidak ada yang melihatnya. Dewa meninggalkan Danu sendirian. Dia tak peduli dengan perasaan sahabatnya. Padahal mereka sudah seperti adik-kakak, selalu ada saat membutuhkan. Kini, Danu merasa sendiri, sahabatnya sudah jauh dari jangkauannya. Dia merasa tak sanggup untuk menggapainya kembali dan mengembalikan sifat Dewa yang dulu. “Wa, mau kemana?” langkahnya terhenti saat mendengar teriakan dari Umi. Dewa menarik napas berat, kemudian membalikkan badan untuk menatap Umi. “Dewa mau ke kamar, Mi,” ucapnya tersenyum. “Nanti saja ke kamar, ada yang mau Umi bicarakan. Ayo, ikut Umi.” Ajak Umi Rahmah, mau tidak mau, Dewa mengikuti langkah Umi menuju ruang tengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD