Dewa berjalan di belakang Danu yang terus saja menyumpahinya tanpa tahu apa kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengekori pria itu seperti anak alay yang kesal karena dicuekin. Hampir satu jam lebih Dewa membersihkan kolam renang dan perpustakaan secara bergantian. Meski lelah, Dewa tetap saja berusaha untuk menjajarkan langkahnya dengan Danu, karena hari ini ia sudah berjanji pada Umi akan pulang cepat dan harus mengajak Danu ke rumahnya.
Mereka sampai di parkiran sekolah, Dewa menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia berhenti di sebelah motor Danu, menatap pria itu yang sibuk dengan helm nya sendiri.
“Dan, temenin gue ke emol dulu, yah!” pintanya memohon.
Danu meliriknya sekilas, kemudian menghidupkan mesin motor dengan suara yang sedikit bising.
“Males gue. Hari ini gue udah janji sama Umi lo, mau datang tepat waktu tanpa keluyuran dulu. Lagian ngapain lo ke mall? Mau nyari jodoh lagi?” ujar Danu dengan nada sinis.
“Iya kali gue nyari jodoh, ‘kan udah ada Neng Krista.” Dewa meraih helmnya yang tergantung pada jok motor. Kemudian mengenakan dengan tergesa.
“Bilang ke Umi, gue ada sesuatu yang harus dikerjakan dulu. Nggak lama, kok, bentar doang,” ujarnya pada Danu.
“Ogah,” tolak Danu cepat. “Mau ngapain lagi, sih lo. Jangan suka buat onar deh, Wa, kasian Umi dan Abi yang semakin stres mikirin ulah lo.”
Dewa menatap Danu dengan tajam, ada perasaan tak suka yang muncul dari dalam dirinya. Sejak masuk SMA, sikap Danu yang dulu sama sengklek dengan sikap Dewa, kini berubah total seratus delapan puluh derajat. Entah apa yang menyebabkan Danu berubah, Dewa sama sekali tak mengetahuinya.
Danu tak pernah suka menceritakan kehidupan pribadinya pada orang lain, meski orang lain itu adalah sahabatnya sendiri, Dewa.
“Ayolah, Dan. Bentar doang, kok. Lima menit!” pintanya sekali lagi.
“Apaan lo lima menit, jarak dari sekolah saja ke mall sekitar setengah jam lebih. Belum lagi kejebak macet, ntar aja ke mall nya.”
Tanpa berkata lagi, Dewa segera memundurkan motornya, meninggalkan Danu yang tadi membuatnya sangat kesal. Hari ini Dewa berniat untuk membelikan Umi kado spesial, sesuai dengan hari spesial yang akan dirayakan Umi dan Abi nya. Untung saja sudah banyak siswa yang pulang. Jadi, Dewa tidak perlu repot-repot menunggu antrian untuk mengeluarkan motor kesayangannya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit lewat enam detik, Dewa akhirnya tiba di sebuah mall yang terletak di daerah Jakarta Pusat dengan selamat. Motornya berhenti tepat di parkiran mall tersebut. Sebelum turun dari motor, Dewa tampak merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm yang ia kenakan.
“Udah sampai, ya? Kirain belum, cepat amat nyampenya. Danu, sih, nggak percaya apa yang Dewa katakan, udah dibilangin bentar doang malah marah nggak jelas. Dasar aneh.” Ocehnya tak karuan.
Dewa turun dari motor dan masuk ke dalam mall tanpa berpikir lagi. Semua mata memperhatikan dirinya, karena bajunya basah dan lupa membawa gantinya. Dewa malah cengengesan tak jelas, pria itu senang diperhatikan oleh banyak orang. Biasa, orang tampan memang selalu jadi perhatian. Menurut Dewa.
Dewa melangkah menuju toko yang menjual pakaian dalam wanita. Upps, kenapa dia ke sana, ya? Dasar pria m***m, udah jelas itu toko khusus pakaian dalam wanita, malah masuk ke sana. Tunggu, guys. Tujuannya ke sana memang untuk membeli pakaian wanita, bukan untuk Krista, tapi untuk Uminya. (Bisa aja lo bocah).
“Siang Mba cantik,” Sapanya dengan ramah kepada pelayan toko.
“Siang, Mas,” jawab pelayan tersebut dengan ragu. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kemudian.
Dewa mengangguk pelan, matanya melirik kiri kanan setiap sudut toko yang dipenuhi dengan pakaian dalam wanita. “Mba, saya mau beli pakaian dalam wanita, ada?” tanyanya. Sebuah pertanyaan yang tak perlu di jawab.
“Ya jelas ada, Mas. Kan, Mas nya masuk ke toko khusus wanita,” jawab si pelayan. “Mas mau yang mana? Yang atas atau yang bawah?”
Mata Dewa membulat sempurna, “Mba ini bisa aja becanda nya. Ditanya saya mau yang atas atau yang bawah, ya mau dua-duanya, Mbak.”
Pelayan toko menatap tajam ke arahnya, pikiran Dewa sudah tidak waras lagi. Senyum yang tadi mengembang dibibirnya, perlahan mulai menghilang. Dewa tampak berpikir, hadiah apa yang cocok untuk Uminya.
“Mba, saya mau nyari beha,” ujarnya langsung yang membuat pelayan toko terkejut.
“Hah?” Patung pajangan yang tadi dipegangnya jatuh seketika, niatnya untuk meninggalkan pria aneh ini harus terhenti saat Dewa menyebut benda tersebut.
“Haelah, Mba. Jangan menatap saya seperti itu, iya tau saya tampan. Seluruh dunia juga mengakui kalo saya tampan.” Dengan penuh percaya diri Dewa berucap sembari mengangkat alisnya sebelah.
“Buat apa, Mas? Hadiah untuk pacar, ya?” tanya pelayan toko kemudian.
“Bukan, ini hadiah untuk Umi. Ini hari spesialnya Umi, makanya Dewa mau ngasih sesuatu yang spesial juga.”
“Bentar, saya ambil dulu barangnya.” Pelayan toko tersebut beranjak meninggalkan Dewa yang masih sibuk melirik salah satu pelayan toko yang wajahnya hampir mirip dengan seorang yang dikenalnya.
“Ini, Mas. Model terbaru dan banyak dicari oleh ibuk-ibuk. Bahannya nyaman, tanpa kawat penyangga dan sangat adem dikenakan,” ujarnya sembari menyerahkan beberapa helai kepada pria itu.
Dewa tampak berpikir, barang yang diperlihatkan pelayan toko itu tak sesuai dengan keinginannya. “Yang lain ada nggak, Mba?”
“Nggak ada, ini model terbaru. Yang lama ada, mau?” tawar si pelayan toko.
Dewa mangguk-mangguk, pelayan toko yang bernama Sari itu meninggalkan Dewa dan segera mengambil barang model lama yang kemudian diserahkan pada Dewa. “Ini, Mas. Barangnya juga bagus, tapi keluaran lama.”
“Nggak suka yang ini. ada yang lain, nggak?” tolak Dewa yang membuat Sari kesal.
Sari menarik napas berat, “Mau yang seperti apa, sih? Emang umur Umi nya berapa?”
“Dih, mbak nya kepo. Ngapain tanya-tanya umur Umi Dewa? Yang jelas, lebih muda dari mba,” jawabnya yang membuat Sari si pelayan toko menatapnya kesal.
“Saya nggak kepo, saya cuma tanya umurnya berapa. Supaya saya bisa mencarikan yang sesuai dengan kriteria Mas,” ujar Sari gemas.
Dewa berpikir, menaksir umur Umi yang selama ini tak diketahuinya. Dewa tipikal cowok pelupa, jangan kan umur Umi, tanggal lahirnya saja dia tak ingat. “Umur Umi sekitar empat puluhan kalo nggak salah,” jawabnya.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Sari kembali meninggalkan Dewa dan sibuk mengotak-atik setumpuk pakaian dalam yang terbungkus plastik di gudang. Kemudian kembali menghampiri Dewa setelah mencari barang yang diinginkan pria itu.
“Ini.” Sari menyerahkan beberapa helai lagi.
Masih dengan keputusan yang sama, Dewa tampak tidak suka dengan barang yang ditawarkan Sari tadi. Dewa menolak mentah-mentah, kemudian mengelilingi toko tersebut. Pengunjung yang datang ke toko itu menatapnya dengan heran. Dewa sepertinya tidak peduli dan terus saja memperhatikan barang yang bagus untuk Uminya.
Sari menatapnya kesal, gadis itu medecak tak karuan. Ulah Dewa barusan membuatnya sangat lelah.
“Kamu mau yang model seperti apa?” tanyanya untuk terakhir kali.
Jika Dewa masih membuatnya kesal, dengan sigap Sari akan menendangnya keluar dari toko. Gadis itu siap mengambil resiko nantinya.
“Gambar Hello Kitty yang warna Pink, ada nggak?” ujarnya lantang yang membuat seluruh pengunjung menatapnya kaget.
“Hah?”
Sari tak menyangka, jika Dewa akan membeli pakaian dalam untuk Uminya yang bewarna merah muda tersebut. Lagi dan lagi Sari dibuat tercengang oleh Dewa, pemeran utama yang membuat semua orang geram.
“Nah, kan. Mba nya kebiasan menatap Dewa begitu. Orang tanya itu seharusnya dijawab, bukan malah bengong.”
Sari menarik napas berat, kemudian menghembuskannya. Gadis itu berusaha untuk mengontrol emosinya agar selalu sabar menghadapi pelanggan seperti Dewa.
“Itu untuk Uminya atau untuk pacar, sih?” tanya Sari sekali lagi.
“Ya untuk Umi lah.”
“Emang Umi nya umur berapa? Kok pakaian dalamnya warna pink,”
“Kepo, kan! Tanya umur Umi segala. Barang yang Dewa minta, ada nggak?”
Sari geleng-geleng sendiri, “Sebentar,” ujarnya berlalu.
Sekitar lima belas menit kemudian, Sari datang menghampiri Dewa dengan membawa barang yang dimintanya. Pria itu tersenyum saat menatap barang tersebut yang sesuai dengan permintaannya.
“Nah, ini yang Dewa mau. Berapa harganya, Mbak?”
“75.000,” jawab si pelayan toko singkat.
Dewa kaget, menatap Sari dengan tatapan penuh selidik. “Jangan bohong. Mbak jangan suka memanfaatkan ketampanan dan kepolosan Dewa, ya? Dewa tahu harganya berapa.”
“Astaga, Mas. Saya nggak pernah memanfaatkan orang, emang segitu harganya. Udah harga pas, nggak ada nego-nego lagi.” Teriaknya dengan nada tinggi.
Dewa menutup telinga saat Sari pelayan toko itu berteriak tepat di hadapannya. “Nggak usah teriak, Dewa dengar, kok.”
“Kamu bikin saya emosi dari tadi.”
“Habisnya ini barang mahal banget, di sekolah Dewa aja murah,” ujarnya.
“Emang ada di sekolah jualan beginian?”
“Ada dong. Ibuk guru Dewa yang jual di kantin.”
Sari berpikir, mana ada sekolah jualan pakaian dalam begini, di kantin pula tuh. “Dasar nggak waras, udah stres kamu.”
“Beneran, harganya cuma lima ratusan.” lanjut Dewa.
“Ngawur kamu, mana ada barang ini harganya lima ratus,” ucap Sari yang kelewat emosi.
“Ada, Dewa liat yah tadi di kantin katanya 3 BH Rp 500. Gitu,” ujar Dewa menatap Sari yang melihatnya heran.
“3 BH 500? Emang ada?”
“Ada, barangnya di taruh di toples permen, di sana tertulis 3 BH 500.”
Sari memejamkan matanya, mengatur napas yang mulai nggak karuan karena Dewa. Bagaimana bisa seorang pria menawar pakaian dalam segitu murahnya.
“Astaga, dasar bego. Itu bukan BH yang ini,” tunjuknya pada pakaian dalam wanita, “Yang dimaksud BH itu adalah ‘buah’. Tiga buah permen harganya lima ratus.” Teriaknya lantang.
Dewa ternganga mendengarnya, “Masa, sih?”
“Keluar nggak lo,” usir Sari padanya sembari mendorong Dewa dengan gagang sapu.
Dengan kesal Dewa keluar dari toko itu tanpa membeli barang yang tadi dia inginkan. Dewa berpikir pelayan toko itu tidak ramah dan membuatnya diusir dari sana.
“Dasar Mbak nya aneh. Orang mau beli malah di suruh pergi. Dewa bilangin ke Umi loh.” Dewa cemberut, matanya sesekali melirik toko pakaian dalam itu dan beranjak pergi dari sana.