Hari Senin yang cukup sibuk. Pukul setengah tujuh pagi siswa SMA Melati Kencana berkeliaran untuk bersiap menjalankan upacara bendera, kegiatan wajib hari senin. Dewa memakai topi upacaranya, bersiap berdiri dan keluar kelas.
“Wa, gue denger, hari ini yang bertugas di UKS itu Krista, gebetan lo,” ucap Musfiq teman sekelas Dewa yang merupakan keturunan India.
“Iya, Krista dan ayang beb Cindai. Gue mau pingsan aja, deh, biar bisa dirawat sama tangan lembut Cindai.” Tambah Beno mengkhayal, pikirannya menerawang jauh.
Dewa menghentikan langkahnya saat dua pria jomblo ini menyebut nama Krista. Senyumnya merekah, sebuah ide licik muncul dibenaknya.
“Ben, tolongin Dewa, yah.” Pintanya memohon.
“Tolongin apa?” tanya Beno yang masih dibawah alam sadar.
“Dewa mau tidur di UKS. Nanti, kalau buk Nana nyariin, bilang Dewa sakit perut, yah.”
Seketika Beno tersadar, matanya membulat sempurna menatap Dewa yang tengah tersenyum. “Nggak mau. Bohong itu dosa.” Tolaknya cepat yang diikuti anggukan dari Musfiq.
“Ayolah, nanti Dewa bayar, deh.”
Beno dan Musfiq saling berpandangan sebentar, tersenyum penuh arti. “Baiklah, kami setuju,” ujar Beno dengan senang.
Dewa mendecak sinis. “Giliran mau dibayar kalian setuju. Nggak pernah ikhlas menolong Dewa yang tampan ini.”
“Iya, mana ada yang gratis di dunia ini, Wa,” jawab Musfiq enteng.
“Yes, biar kita bisa beli bakso Mang Udin yang enak dan lezat itu, “ sambung Beno. “Udah lama juga kita nggak makan bakso.”
Dewa memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengatur napas agar lebih tenang. Akibat keceplosan, ia hari ini harus rela memberikan uang jajannya pada dua makhluk yang sudah sebulan tidak makan itu demi bisa berduaan dengan pujaan hatinya, Krista.
“Terserah kalian. Nanti Dewa kasih uangnya.” Dewa langsung pergi begitu saja, tak ingin berlama-lama di sana karena nanti buk Nana akan mulai melakukan tugasnya untuk memeriksa setiap kelas.
“Lo sih!” ucap Musfiq menyalahkan Beno.
“Kok gue? Kan, elo yang yang bilang setuju,” sahut Beno tak terima.
“Lah, kan elo yang bilang mau beli bakso Mang Udin.”
“Hello, Mas. Numpang tanya! Apa upacaranya sudah dimulai?”
“Belum!” jawab mereka serempak.
Seketika keduanya terdiam, menutup mulut rapat dengan kedua tangannya saat melihat buk Nana sudah berdiri dihadapannya dengan memegang rol kayu panjang serta mata melotot.
“Ngapain masih di sini? Sana baris!” perintahnya yang membuat Beno dan Musfiq lari pontang-panting tanpa mikir dua kali.
***
Dewa masuk secara diam-diam ke ruangan UKS, membuka pintu pelan dan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa putih ini. Tak ada siapa pun, kecuali dirinya dan beberapa kasur empuk.
“Kok sepi, yah? Mana Neng Krista?” tanya Dewa dalam hati.
Pria itu berjalan mengelilingi ruangan agar bisa menemukan sosok yang dicarinya. Sesekali dia melirik kedinding yang terdapat nama petugas UKS. Mata elang milik Dewa berhenti pada sebuah nama Maura Kristiani Karundeng. Senyum Dewa kembali mengembang, dia yakin krista akan datang ke sini sebentar lagi. Tanpa berpikir panjang, Dewa segera membaringkan tubuhnya di atas kasur, tak lupa menarik tirai putih untuk menutupi biliknya. Dewa ingin tidur saja pagi ini dari pada dirinya kena inspeksi dadakan dari buk Nana.
Ceklek!!!
Baru saja Dewa memejamkan mata, terdengar suara pintu UKS terbuka dengan sangat lembut. Kedua mata Dewa kembali terbuka lebar. Dewa bangun, membuka tirai putih yang menjadi penghalang biliknya. Ketika tirai terbuka sempurna, saat itulah Dewa dapat melihat jelas siapa yang membuka pintu.
“Neng sipit...,” lirih Dewa terpesona. Kedua matanya membulat sempurna, menatap wanita yang ada dihadapannya sekarang.
“Ternyata benar kata pak ustad, kalau jodoh itu nggak akan kemana!” ujarnya asal, “Neng pasti senang, kan? Ketemu bang Dewa yang tampan ini?” tanya Dewa kepedean.
Krista tak menjawab, wanita itu diam dan memandang Dewa dengan malas. Dia terlihat begitu kesal, jelas terlihat dari raut wajahnya yang sedikit meredam emosi.
“Neng ke sini pasti mau bertemu bang Dewa, kan?” tanya Dewa mendekat.
“Dih, pede banget. Nggak, siapa juga yang mau nemuin lo,” jawab Krista sinis, gadis itu menarik kursi dan duduk.
Krista menghela napas, dalam hati ia sangat menyesal menerima tawaran dari Cindai untuk menggantikan Oca bertugas karena gadis itu lagi sakit. Dewa berdiri di sampingnya. Pria itu tak berhenti tersenyum dan memandangi Krista.
“Lo ngapain di sini, sih?” tanya Krista kesal.
“Mau bertemu pacarnya Dewa lah.” Jawabnya asal.
Krista sudah tahu siapa yang dimaksud pria itu. Nggak ada wanita lain yang diganggu oleh Dewa selain dirinya. Tak ingin berlama-lama, Krista berdiri dan berniat untuk meninggalkan ruang UKS.
“Neng Kris mau kemana?” langkah Krista terhenti saat suara Dewa nyaring menggema di ruang UKS memanggil namanya.
Gadis itu berbalik, “Mau keluar. Sumpek di sini ada makhluk asing.” Krista membuka pintu UKS lebar-lebar.
“Ternyata kamu di sini? Ngapain kamu, Dewa?” suara berat menyapa Dewa dengan sangat lantang.
Krista mematung di tempat, tangannya mencengkram erat knop pintu. Matanya melotot takut, bahkan bernapas pun terasa sulit sekali. Kenapa bisa ada buk Nana di sini? Astaga, Krista lupa bahwa buk Nana yang bertugas untuk piket hari ini.
Buk Nana mengedarkan pandangannya. “Krista, kenapa kamu yang bertugas hari ini? Mana Oca?” tanya buk Nana.
“Maaf, buk. Oca lagi sakit, jadi aku yang mengambil alih tugasnya.” Jawab Krista gugup.
“Oooo, gitu.” Buk Nana mangguk-mangguk, “Jadi, kamu ngapain di sini?” lanjutnya menatap Dewa kemudian.
Dewa terdiam, sepertinya pria itu kehabisan ide. Tampak jelas dari raut wajahnya yang sangat ketakutan melihat tatapan tajam dari guru kiler yang satu itu.
“Aduh, buk. Perut saya sakit.” Dewa tiba-tiba memegang perutnya yang seolah-olah kesakitan, sebelah matanya melirik buk Nana yang tak bergeming.
“Jangan pura-pura kamu. Saya sudah hafal tipe murid nakal seperti kamu ini. Bangun, sekarang kamu ikut saya!” perintahnya.
“Tapi, buk. Berilah sedikit hatimu untuk Dewa, jangan hukum Dewa, ya, buk?” ujarnya memelas.
Buk Nana memejamkan kedua matanya, “Diam kamu. Apa kamu mau saya tambah hukumannya?”
Dewa menghela napas pasrah. “Tidak, Buk.”
“Kamu kembali ke kelas, soal UKS biar ibuk yang ambil alih.” Ucap buk Nana pada Krista yang sedari tadi tersenyum mendengar hukuman yang akan diberikan pada Dewa.
“Baik, Buk.” Krista menganggukkan kepala, menuruti perintah buk Nana.
Sebelum keluar, Krista sempat melirik Dewa yang terus menatapnya tanpa berkedip. Dalam hati, gadis Tionghoa ini sangat bersyukur karena pria aneh yang berasal dari makhluk mars ini mendapat hukuman yang menurutnya memang layak untuknya.
“Syukurin, siapa suruh datang ke sini.” Batinnya, Krista mengangkat sudut bibirnya yang membentuk senyum miring, kemudian keluar dengan perasaan senang.
***
Sore hari, SMA Melati Kencana terlihat mulai sepi, menyisakan segelintir murid yang mengikuti ekstrakurikuler atau murid kelas XII yang mengikuti kelas tambahan dan murid kelas X yang mengikuti les matematika di sekolah.
Begitu juga dengan Dewa, alien dari planet lain yang suka membuat keributan di kelas. Sepulang sekolah, Dewa harus menjalankan hukuman yang diberikan Buk Nana padanya karena tak mengikuti upacara bendera hari ini. Hukumannya sangat ringan, membersihkan kolam renang dan merapikan buku di perpustakaan.
Dewa mengedarkan pandangan di seluruh penjuru, hari ini ia membersihkan kolam renang seorang diri, karena sepertinya hari ini tak ada yang membuat pelanggaran selain dirinya sendiri. Sebenarnya, ia tak bersalah. Hanya karena berduaan dengan Krista di UKS, membuatnya harus dihukum seperti ini.
Bagi Dewa, ini sudah biasa. Selama ia masuk ke sekolah ini, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya bebas dari hukuman. Ada aja tingkahnya yang membuat guru harus memberinya hukuman.
“Luas banget kolam renangnya, Dewa capek, Buk,” lirih Dewa, memijati pundaknya yang terasa kencang.
Dewa menatap Buk Nana yang hanya diam dan terus memainkan ponselnya dengan fokus. Dewa berjalan mendekati Dewa yang tak menghiraukan ocehannya.
“Buk,” panggil Dewa.
Buk Nana diam tak menjawab, bahkan menoleh pun sama sekali tidak.
“Ibuk nggak ada niat, gitu, untuk membelikan Dewa minuman?”
“Nggak,” jawab buk Nana singkat.
“Serius lah, Buk. Dewa haus banget ini.”
“Selesaikan dulu tugasmu, Dewa!” suruh buk Nana.
Dewa berusaha untuk tersenyum. “Kalau ngga, gini aja. Ibuk gantiin Dewa untuk membersihkan kolam, sementara Dewa beli minumannya dulu. Ibuk mau, nggak?”
“Nggak. Enak aja kamu nyuruh-nyuruh guru.” Tolak buk Nana dengan tatapan tajam.
“Yah, kok enggak, sh, Buk,” lirih Dewa lemah. “Ibuk nggak kasian liat Dewa yang kehausan begini? Nanti kalau terjadi apa-apa sama Dewa, ibuk mau tanggung jawab? Kalau Dewa pingsan, ibuk mau gendong Dewa?”
“Minum aja air kolamnya, bersih dan seger lagi!”
Dewa memalingkan pandangan, menatap air kolam yang begitu menggoda. Kemudian Dewa kembali menatap buk Nana. “Nggak mau, Buk. Bau pesing.” Ujarnya.
Buk Nana mengerutkan keningnya, “Kata siapa bau pesing? Orang airnya jernih begitu.”
“Dewa nggak mau minum air bekas kencingan, Buk.”
“Siapa yang kencing?” tanya buk Nana.
“Tadi, Dewa liat Danu sengaja kencing di sini. Katanya biar airnya bebas dari kuman, malah kumannya tambah banyak.” Ucapnya berbohong.
“Lo fitnah gue?” tanya seseorang dari belakang.
“Iya,” ujar Dewa berbalik.
Seketika matanya melotot mendapati Danu tengah berdiri tepat di belakangnya. “Sejak kapan Danu ada di sana?”
“Sejak lo fitnah gue,” jawabnya mendekati. Tatapannya begitu tajam menatap wajah polos Dewa.
“Minumannya buat Dewa, ya?” tanyanya yang melirik botol air mineral segar di tangan kanan Danu.
“Nggak, lo udah fitnah gue.” Tolak Danu tak ada lembut-lemutnya
Dewa menggertak kesal. Ia pun mengeluarkan seluruh tenaganya untuk merebut botol air mineral dari tangan Danu.
“Serahin airnya, Danu!!!” teriak Dewa, menarik botol dengan kencang.
“Oke,” jawab Danu dengan tak berdosanya melepaskan botol itu begitu saja.
Dan.... byuuuurrrrrr!!!
Tubuh Dewa yang tak bisa diseimbangkan akhirnya terdorong sendiri hingga ia terpeleset masuk ke dalam kolam. Danu dan buk Nana menonton kejadian itu dengan raut wajah senang, bahkan sama sekali tak ada niat untuk menolong.
Dewa muncul dari dalam air.“ Danu, awas lo ya. Tega bener lepasin botolnya!” teriak Dewa begitu kesal.
“Sorry, Wa.”
Dewa mencak-mencak tak jelas melihat sekujur tubuhnya basah kuyup karena air. Dewa menangkat kepalanya, menatap Danu yang tengah asik becanda dengan buk Nana. “Buk Nana sama Danu pacaran, ya?” tanya Dewa yang membuat wajah guru dan sahabatnya memerah bak kepiting rebus.
“Sembarangan aja lo ngomong,” jawab Danu.
“Dewa, buruan naik. Selesaikan tugasmu dan kita pulang sekarang!” perintah buk Nana.
“Bantuin Dewa naik, Buk.”
“Kamu bisa sendiri, kan?”
“Nggak bisa, kaki Dewa pegel.”
“Ya udah, kamu tidur di situ aja. Ibuk mau pulang.”
Dewa mendecak kesal. Ia perlahan berjalan ke pinggir kolam, setelah itu berusaha untuk naik. Dewa hanya bisa pasrah melihat buk Nana dan Danu tertawa renyah.
“Kalian pacaran, kan? Hayo ngaku!”
Buk Nana menatap Dewa dengan kesal, “Berani sekali kamu ngomong seperti itu sama guru.”
“Lagian Danu ngapain di sini?” tanyanya yang membuat buk Nana dan Danu terdiam.
“Ya jemput lo lah,” jawab Danu kemudian. Rencananya untuk mengajak buk Nana pulang bersamanya harus sirna karena Dewa.
“Awas kamu, Dewa,” batin Danu yang menatap Dewa dengan kesal.