Sepulang sekolah, Dewa langsung menuju rumahnya. Pria itu jarang sekali kumpul bersama dengan temannya, kecuali saat lagi bete. Hari ini, Dewa sudah berjanji pada uminya agar pulang lebih cepat. Meskipun Dewa termasuk anak nakal di sekolah, jika sudah berurusan dengan uminya, pria itu berubah menjadi anak yang penurut.
Dewa tiba di rumah setelah menghabiskan waktu diperjalanan selama lebih kurang tiga puluh menit lewat enam belas detik. Setelah menutup kembali gerbang rumahnya, Dewa segera berjalan menuju teras. Ia menemukan abinya yang tengah memberikan sedikit rejeki pada orang yang membutuhkan. Ini yang sangat disukai Dewa pada pribadi orang tuanya, nggak pernah sombong dan selalu peduli pada orang lain.
“Assalamualaikum, Abi,” ucap pria itu sembari menyalami tangan abinya.
“Walaikumsalam. Tumben anak abi pulang cepet?” ujar abinya menggoda.
“Abi bukannya seneng anaknya pulang cepat, malah marah nggak jelas. Dewa pergi lagi, nih.” Rajuknya. Dewa memang suka sekali merajuk seperti anak perempuan lainnya. Tapi, pria itu tetaplah Dewa, sang pemeran utama yang nakal dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Namun, tetap tampan.
“Jangan.” Larang abi, “Temui umi sana!”
Dewa tersenyum, segera ia melangkahkan kaki ke dalam untuk menemui sang ibunda tercinta.
“Umi... umi!!!” teriakannya menggema disetiap sudut ruangan, itu yang membuat Dewa suka berteriak di rumahnya.
“Astaqfirullah, bukannya mengucap salam malah teriak nggak jelas. Assalamualaikum,” ujar uminya sedikit kesal. Wanita paruh baya itu muncul dari arah dapur.
Dewa memeluk uminya yang mendekat, kemudian mengecup pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
“Assalamualaikum, umi cantik.” Dewa melepas pelukan uminya seraya mecium tangan yang mulai keriput itu.
“Walaikumsalam, anak umi yang nakal. Ganti baju, sana. Jangan lupa shalat dulu.”
“Dewa udah shalat, Mi.” Bohongnya. Padahal jelas dari raut wajah pria itu bahwa dirinya belum menunaikan perintah Allah.
“Masa, kapan?” tanya uminya meragukan.
“Kemarin,” jawab Dewa sekenanya.
“Kemarin? Sekarang belum, kan?” umi Rahmah kaget mendengar jawaban santai putra keduanya itu.
“Teman Dewa aja cuma seminggu sekali ibadahnya, nggak ada, tuh, diomeli ibunya.” Dewa mengangkat alisnya sebelah, kemudian meninggalkan sang umi yang masih tertegun menatapnya.
“Kita beda sama dia, Dewa.” Teriak uminya.
Dewa menghentikan langkah, dan membalikkan badan menatap umi yang tengah meliriknya dengan tajam. Ditambah lagi sang abi ikut berdiri di samping uminya.
“Nggak ada bedanya, Umi. Kata pak ustad, kita itu sama. Nggak ada yang berbeda dan nggak boleh membedakan. Umi, nih, perlu di ruqiah dulu, biar bisa berpikiran jernih.” Ujarnya lantang. Wajah pria itu seperti tak berdosa saja, padahal apa yang dia katakan barusan tentu menyakitkan bagi uminya.
“Astaqfirullah. Anak kita kenapa, abi.” Umi Rahmah menatap abi Dewa saat pria paruh baya berperawakan tinggi itu muncul dari arah luar.
“Dewa nggak kenapa-napa kok, Umi. Dewa sehat.” Dewa menghampiri umi dan abinya.
“Dewa, minta maaf sama umi. Apa yang kamu katakan barusan, itu telah menyakiti hati umi!” Perintah abi.
Dewa berlutut, memohon ampun dari ibunya. Pria itu sadar, bahwa ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua. Dia tak ingin menjadi anak durhaka. “Umi, maafin Dewa, yah. Tadi keceplosan, Dewa nggak bermaksud untuk menyakiti hati umi.”
“Iya, umi maafkan. Lain kali, jangan diulangi lagi.” Umi Rahmah membelai lembut puncuk kepala Dewa. Kemudian, membantu pria itu untuk berdiri.
“Sekarang, kamu shalat. Umi akan tunggu di meja makan.”
“Nanti lah, Umi. Makan dulu, yah, Dewa lapar.” Elak Dewa dengan muka memelas.
“Dewa, shalat sekarang! Atau kamu akan lihat umi mati di sini biar kamu bebas sesuai kehendak hatimu.” Ancam umi Rahmah.
“Yah, Umi nggak asik. Pakai ngancam segala.”
“Dewa, ikuti perintah umi, Nak.” Abi Fadil ikut angkat suara.
“Iya, abi. Dewa becanda tadi, umi langsung marah-marah aja, lagi PMS pasti.”
“Dewa.” Teriak abi.
“Iya, Dewa shalat. Abi sama umi jangan teriak-teriak gitu, kan Dewa jadi takut.” Dewa meninggalkan orang tuanya yang masih berdiri dengan bingung.
***
Dewa melempar tasnya ke sembarang arah, membaringkan tubuhnya diatas kasur yang terasa sangat empuk. Dewa memandangi langit-langit kamar. Bayang-bayang gadis pujaan hatinya tergambar lagi dan membuatnya tak berhenti tersenyum. Dewa menoleh ke samping, melihat berbagai poster milik artis favoritnya yang terpajang cantik di dinding kamar bernuansa biru langit itu.
Kecintaan Dewa pada pablik figur itu begitu besar. Sejak dulu, dia sangat menyukai dunia keartisan. Jika tidak dilarang uminya, mungkin saja pria itu sudah ikut bermain peran disalah satu sinetron, meski sebagai figuran, yang hanya menampilkan kakinya saja dilayar kaca.
Drtt.... Drttt....
Ponsel Dewa berdering nyaring, Dewa mengeluarkan dari saku, menatap layar ponsel. Ada nomor seseorang di sana yang menghubunginya. Dewa berpikir keras, antara menerima panggilan tersebut atau mengabaikannya. Dewa memutuskan untuk mengangkat panggilan itu, dari pada dia menjadi bahan untuk meluapkan amarah orang itu.
“Iya, kenapa, beb,” ujarnya menempelkan benda pipih tersebut ditelinganya.
“Njirr! Berapa kali gue bilang, jangan panggil gue dengan sebutan itu. Jijik!” balasnya yang tak lain adalah Danu, sahabat Dewa sejak dulu. Dewa menjauhkan ponselnya dari telinga, saat mendengar teriakan lantang dari Danu.
“Iya, maaf.” Dewa mengerucutkan bibirnya, “Kenapa telephon Dewa? Emang, ada hal penting, ya?” tanyanya kemudian.
“Nah, iya. Gue mau bilang, sekarang ini gue lagi sama gebetan lo.”
Dewa tampak berpikir keras, mengartikan setiap kata Danu yang menurutnya membingungkan. “Gebetan? Siapa?” Dewa melanjutkan kembali setelah terdiam beberapa saat.
“Krista! Siapa lagi. Kan, lo sukanya sama si sipit itu.” Suara Danu terdengar nyaring ditelinga saat dirinya tertawa yang membuat Dewa menyumpahinya dalam hati.
“Awas kalau kamu macam-macam sama dia.” Ancam Dewa pada pria itu.
“Cie, marah.”
“Jangan becanda, Dan. Gue nggak suk__” ucapan Dewa terhenti saat mendengar teriakan maut dari uminya.
“Dewa, kamu ngobrol sama siapa? Shalatnya udah, belum? Nanti umi sita, ya, ponselnya!”
“Iya, Umi. Dewa mau shalat, kok.” Balasnya tak kalah lantang dari uminya.
“Dasar nakal. Shalat dulu sana, kasian umi teriak-teriak gitu.” Ucapan Danu membuat Dewa geram.
“Berisik.” Dewa memutuskan sambungannya, kemudian beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk berwudhu’.
***
Selesai shalat, Dewa bergegas turun dan menuju meja makan, karena dari tadi umi Rahmah terus berteriak memanggil namanya.
“Menu apa hari ini, Umi?” tanyanya setelah duduk di sebelah umi. Mata elangnya tak pernah lepas dari piring-piring di meja makan yang berisi makanan enak tersebut.
“Umi masak makanan kesukaanmu. Nih, jengkol goreng dan tumis pete balado. Kamu kan doyan pewangi mulut itu.” Ujar uminya sembari menuangkan nasi ke piring abi dan piring Dewa.
Dewa tampak tersenyum. Makanan kesukaannya begitu menggoda, pria itu sudah tidak sabar untuk segera melahapnya. Dia mengambil tiga sendok jengkol goreng dan dua sendok tumis pete balado. Umi dan abi tertegun melihat putranya yang makan sangat lahap.
“Pelan-pelan, Wa, nanti keselek.” Ucap abinya.
“Nggak bisa pelan, Bi. Enak soalnya.” Jawab Dewa disela-sela makannya yang membuat beberapa butir nasi melompat keluar dari dalam mulut.
“Kasian, sayang, yang keluar itu!” umi Rahmah ikut menimpali.
“Tenang, Umi. mereka nggak akan sedih, kok.” dewa memungut kembali nasi yang tadinya keluar dari mulut pria itu, kemudian memasukkan kembali dan mengunyah bersama kawanannya.
“Dewa, jorok sekali anak umi.” teriak uminya histeris.
“Wa, makanan yang sudah keluar nggak boleh dimasukin lagi, udah kotor.” ucapnya abinya yang ikut menimpali.
“Abi, Umi. kata pak ustad, nggak boleh mubazir, makanan itu nggak boleh dibiarkan bersisa.”
“Iya, sayang. tapi, nggak gitu juga, kali. Masa yang udah keluar dipungut lagi.” ujar umi Rahmah, “Ya, sudah. Besok kamu harus pulang cepat, ya!” perintah umi.
“Kenapa, Umi?” tanya Dewa yang menghentikan aktifitasnya.
“Besok, umi mau buat acara syukuran. karena umi mau melepas nazar sekalian merayakan hari spesial.”
Dewa memperhatikan uminya sejenak, kemudian menatap abi yang masih lahap mengunyah makanan. “Hari spesial?” tanyanya.
“Iya.”
“Abi sunat lagi, Umi?” pernyataan Dewa berhasil membuat abinya tersedak. Segera umi Rahmah memberikan air untuk suaminya.
“Ngasal aja kamu. Mana mungkin abi sunat lagi.” umi Rahmah terlihat geram.
“Ya, kali aja dipotong lagi, biar nggak melirik wanita lain, ya, kan, Abi!” Dewa mengangkat alisnya sebelah, menatap abi yang memandangnya dengan muka memerah. Seketika nyali Dewa seketika menciut saat melihat tatapan tajam dari umi dan abinya.
“Becanda.” lanjutnya.