Langkah Krista mendadak terhenti, satu tangga lagi ia akan sampai pada lantai tiga kelasnya. Namun, melihat seorang pria yang tengah duduk bersila tepat di depan pintu kelasnya, membuat gadis itu harus terdiam, berpura-pura menjadi patung.
“Pagi, Neng Krista cantik,” sapa seorang pria dengan senyum paling tampan, menghampirinya.
Krista mengerutkan kening, pria yang berdiri dihadapannya ini adalah pria aneh yang ditemuinya kemarin.
Namun, Krista pura-pura tak mengenalnya. “Siapa?” tanya Krista tak ramah.
“Neng, masa lupa sama babang tampan bernama Dewa Permata Angkasa? Pria tampan sejagat raya ini,” ujarnya menatap dalam manik mata milik Krista.
Gadis itu berdecak, memberikan tatapan kesal. Namun, sedetik kemudian ia berusaha untuk menjauh dari sana. Secepat kilat Dewa mencegat agar gadis itu tak pergi dari hadapannya.
“Mau kemana, sih? Bang Dewa belum selesai ngomong.”
Krista menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk mengontrol diri agar tidak emosi pagi ini. “Mau lo, apa?” tanyanya menatap pria itu tajam.
Dewa tersenyum, menampilkan sederetan gigi putih. “Maunya bang Dewa itu, Neng Krista jadi pacar Dewa,” ujarnya langsung.
Krista terperangah. Mimpi apa dia semalam, ditembak pria aneh di pagi hari. “Dasar gila, cowok aneh, stress. Pergi nggak lo,” usirnya dengan makian. Krista naik pitam dibuatnya.
Dewa terlihat kecewa mendengar ucapan sang pujaan hati. Senyumnya perlahan memudar, namun sedetik setelah itu ia berusaha untuk tersenyum kembali. “Neng, kata Pak Ustad, nggak baik ngomong seperti itu pada orang ganteng. Dosa. Ngomongnya harus pelan dan lemah lembut, biar Bang Dewa yang tampan ini semakin cinta sama Neng Krista yang cantik.”
Krista semakin kesal, “Sejak kapan pak ustad ngomong begitu? Jangan ngawur, deh,” ujarnya berlalu.
Dewa tak mau kalah, pria itu mengejar Krista hingga ke dalam kelas. Pagi ini, baru sebagian siswa yang datang, dikarenakan masih sekitar pukul setengah tujuh.
“Wah, kelasnya pacar Dewa keren juga, yah?” Dewa terpana menatap ruangan kelas itu ditata seunik mungkin. Sehingga, kelas lain yang melihatnya akan terpana.
“Ngapain lo ngikutin gue. Keluar.” Krista yang baru menyadari hal itu, langsung mengusir Dewa tanpa rasa iba sedikit pun.
Tapi, pria yang bernama Dewa ini malah duduk dimeja guru sembari memperhatikan satu persatu teman sekelas Krista yang mulai berdatangan.
“Perhatian semua.” Suaranya begitu lantang, membuat anak kelas X IPA1 ini terkejut. “Bang Dewa tampan mau memberikan informasi penting untuk kalian semua,” ujarnya lagi.
Siswa kelas X IPA1 itu pun memperhatikan Dewa dengan fokus. Begitu pun dengan Krista, gadis itu sudah tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh pria aneh yang satu ini, agar pria tersebut segera keluar dari kelasnya setelah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.
“Begini. Bang Dewa baru saja jadian dengan salah satu siswa di kelas ini. Namanya Maura Kristiani Karundeng, cewek mata sipit yang duduk dibarisan nomor tiga itu.” Tunjuknya dengan dagu ke arah Krista yang semakin menatap dirinya tajam.
Semula mereka yang memperhatikan Dewa dengan seksama, kini beralih pada sosok Krista. “Serius, Kris? Lo jadian sama makhluk aneh ini?” tanya Cindai mendekati.
“Kok bisa? Lo kan nggak suka sama dia! Kenapa mau diajak pacaran?” Oca ikut menimpali.
Braaaakkk!!!
Suara gebrakan meja berhasil membuat tubuh Cindai dan Oca serta beberapa teman lainnya terlonjak secara bersamaan. Mereka menatap ke pelaku dengan gemetar, bisa dipastikan itu adalah si mata sipit yang mempunyai kekuatan dadakan untuk membuat temannya bungkam.
“Udah selesai omonng kosongnya?” tanyanya pada Dewa, alien dari planet lain yang membuat hari-harinya di sekolah menjadi tak tenang.
“Waw, pacar Dewa luar biasa. Di luar kelihatan lembut, ternyata kekuatan dalamnya keren banget. Bang Dewa terkejut.” Dewa menatap Krista dengan hati gembira. Membuat gadis itu semakin kesal dibuatnya.
“Keluar.” Gadis itu menyeret paksa lengan Dewa hingga tiba diambang pintu.
“Cie, pegang-pegang Dewa. Tuh, kan, jadi cinta sama babang tampan ini,” ujarnya kepedean.
“Dengar, ya, makhluk planet Mars. Gue nggak suka sama lo, jadi lo jangan ganggu gue lagi. Paham!” dengan kesal Krista berbicara dengan nada tinggi sembari berkacak pinggang.
Pria itu malah tersenyum manis yang membuat Krista semakin sensi. “Mau suka mau nggak, bang Dewa minta nomornya Neng Krista, dong.” Pintanya memelas.
“Jangan harap.” Gadis itu berlalu, “ Tutup pintu kelasnya!” suruh Krista dengan tajam kepada siapa pun.
Braaaakkk!!!
Dewa menghela napas berat, meratapi kedua kali nasib tak beruntungnya. Dia menatap pintu kelas Krista dengan sendu.
“Bang Dewa nggak akan menyerah, Dewa pasti akan mendapatkan hati Krista. Pasti.”
***
Krista mencoba untuk fokus mengerjakan beberapa soal matematika di depannya, namun teman sekelasnya yang nyinyir seperti lambe merah ini terus saja merecokinya seperti granat. Krista tak bisa berkosentrasi.
“Jadi, kalian beneran pacaran?” tanya Cindai untuk terakhir kali.
Krista menghela napas berat, meletakkan pensil dan menoleh ke samping. Kesabaran gadis itu sudah mulai habis, dia merasa malu karena ulah makhluk Mars Dewa.
“Gue nggak punya pacar, dan dia bukan pacar gue!” sentak Krista tajam.
“Tapi dia bilang barusan, nggak mungkin, kan, dia bohong?” terka Cindai. Senyumnya mengembang.
“Wahh!! Setelah dari SD lo jomblo, akhirnya punya pacar juga.”
“Lo nuduh gue bohong, gitu?” Krista kesal dengan sahabatnya sendiri yang meragukan ucapannya dan lebih percaya dengan omong kosong pria itu.
“Nggak gitu, Kris. Dewa tampan, loh. Kalian cocok banget, cobalah buka sedikit hatimu untuknya, siapa tahu betah,” ujar Cindai memberikan saran.
Krista tak ingin menghiraukannya lagi. Dia kembali menatap ke depan, meraih pensil dan mengerjakan soal-soal matematika yang tinggal beberapa soal lagi. Gadis itu membiarkan Cindai mengoceh tak jelas.
Cindai yang merasa diabaikan pun menoleh ke Oca. "Ca, Lo pernah mikir nggak, sih, punya temen kayak Krista?" tanyanya pelan, namun bisa didengar oleh gadis itu.
Oca menoleh sebentar, kemudian berbisik di telinga Cindai. "Mungkin gue lagi mimpi, Ndai," ujarnya.
Krista menepuk mejanya dengan keras, membuat kedua sahabatnya itu langsung terdiam dan berpura-pura mengambil buku dalam tas.
"Ca, lo punya pulpen dua nggak?" Oca menggeleng.
Cindai menarik napas, ia menoleh ke arah Krista yang masih fokus sama bukunya. Cindai merasa takut untuk meminjam pulpen Krista lagi setelah tadi ia bergosip tentangnya.
"Kris, pinjam pulpen, dong." Cindai memelas.
Krista tak menjawab, namun ia langsung melempar salah satu pulpen kesayangan nya pada Cindai.
"Makasih, Kris." Cindai tersenyum sumringah