Sudah menjadi kebiasaan setiap siswa SMA Melati Kencana, kalau bel sudah berbunyi tak ada satu pun yang berlari untuk mengunjungi perpustakaan. Mereka lebih memilih untuk duduk dan bergosip di warung atau pun cafe seberang jalan. Padahal kalau dihitung-hitung total belanja mereka per orangnya hanya sekitar tiga ribu rupiah saja, tapi tempat itu sudah seperti pasar dibuatnya.
Hari ini Dewa telat keluar kelas, karena harus menyelesaikan tugas dari Pak Santul terlebih dahulu. Guru itu merupakan guru yang menggantikan Buk Revi karena beliau telah pensiun. Padahal Buk Revi masih belum tua banget, ini dikarenakan beliau mengalami struk dan tak kuat lagi untuk mengajar. Maka, anak tertua Buk Revi mengajukan surat serta berkas lainnya untuk mengurus pensiun guru yang satu itu.
Pak Santul terus memperhatikan Dewa yang sesekali melirik ke arahnya. Guru itu terkenal sebagai guru kiler di sekolah yang sebelumnya. Salahkan saja Dewa, kenapa dia harus menembak p****t Pak Santul dengan karet gelang saat beliau sedang menerangkan pelajaran. Alhasil, guru itu marah dan menjewer telinga Dewa hingga berubah warna.
“Apa kamu lihat? Kerjakan tugas kamu itu,” bentaknya saat Dewa hendak ijin ke toilet.
Nyali pria itu seketika menciut, Pak Santul benar-benar guru yang tak bisa diajak becanda.
“Jangan galak-galak, Pak. Ntar jodohnya tambah lari, loh,” godanya kemudian.
“Apa kamu bilang?” Pak Santul yang tadinya duduk di meja guru, kini berjalan menghampiri Dewa dengan wajah sangar.
Dewa meneguk salivanya, pria itu mencari cara agar Pak Santul menjauh darinya. Bukan karena takut melihat wajah guru itu, melainkan Pak Santul tadi mengeluarkan angin yang baunya busuk banget.
“Bapak habis makan apaan, sih, Pak?”
“Ngapain kamu tanya!”
“Habisnya kentut Bapak bau. Kayak orang habis makan bangke nya naga terbang,” ujarnya sembari menutup hidung.
Pak Santul melirik ke arah jendela, banyak siswa yang berkerumun di sana sembari tertawa karena mendengar ucapan Dewa barusan. Bukan murid SMA Melati Kencana namanya, kalau nggak bisa mencari letak kelemahan gurunya. Sebelum Pak Santul datang ke sekolah itu, duo rusuh Beno dan Musfiq telah mencari tahu tentang sang guru. Kenyataannya Pak Santul masih jomlo, meski umur sudah memasuki angka 40.
“Biarin, ini wangi parfum saya yang terbaru,” ujarnya berkilah.
Dewa menyunggingkan bibirnya. “Mana ada parfum baunya masyaAllah banget, Pak. Kalau di semprotkan ke tumbuhan juga bakalan mati,” ledeknya.
“Diam kamu,” bentak Pak Santul. Pipi pria paruh baya itu sudah mulai panas karena menahan malu.
Dewa cengengesan, tak ada rasa takut dalam dirinya. Ia dengan santainya menggoda guru kiler yang akan membuat nilainya tak aman. Ah, biar saja, namanya juga orang tampan.
“Iya, saya diam, Pak. Ini tugas saya sudah selesai lo dari tadi.” Dewa menyodorkan buku latihannya yang disampul dengan kertas kado gambar tayo.
Pak Santul merebutnya dengan kasar, kemudian dengan secepat kilat beliau keluar dari ruangan itu. Siswa yang tadinya menguping, memilih untuk memubarkan diri dari pada berurusan dengan Pak Santul.
Dewa tertawa puas sesaat setelah Pak Santul meninggalkan kelasnya. Kemudian diikuti oleh duo rusuh Beno dan Musfiq yang ikut tertawa melihat tingkah Dewa.
“Gila, lo. Berani juga ya menggoda guru itu,” ucap Beno diiringi gelak tawa keduanya.
“Lo nggak liat tadi mukanya udah kayak udang rebus, merah coy.” Timpal Dewa lagi.
Mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal. Merasa puas dengan aksi akrobat barusan. Musfiq memegang perutnya karena mengontrol tawanya, begitu pun dengan Beno yang sedari tadi meneteskan air mata. Membuat Dewa dan Musfiq menatapnya bergantian.
“Kenapa, lo?” tanya Musfiq memastikan.
“Kayak cewek labil lo, dikit-dikit nangis. Heran gue.” Dewa menimpali.
“Wa, gue laper,” ujar Beno dengan wajah memelas, karena sudah seminggu nggak makan.
“Terus apa urusannya sama gue, noh kantin banyak makanannya. Ngapain lo ngadu ke gue, emang gue emak lo apa?”
Beno terdiam, menatap Musfiq dengan tatapan penuh selidik. Sedangkan Dewa seperti orang tak bersalah saja. Pria itu memang memiliki pesona yang luar biasa, ketampanan yang sangat luar biasa juga, dan kelakuan yang luar biasa nakalnya. Itu lah, cerita akan indah jika ada pria itu, begitu pun sebaliknya.
“Justru gue mau nagih bayaran kita ke lo,” lanjut Beno yang diikuti anggukan dari Musfiq.
“Bayaran apa? Perasaan gue nggak pernah boking lo berdua,” ujarnya dengan santai.
“Njirr! Siapa juga yang mau di boking sama lo. Nenek gue juga kalo gue tawari gratis ke lo bakalan nolak beliau.” Beno terlihat sedikit kesal, karena Dewa melupakan janjinya.
“Itu, Wa. Saat upacara kemaren, lo kan janji mau bayar kita kalau Buk Nana nyariin lo. Nah, kita udah melakukan apa yang lo suruh.” Musfiq menimpali.
Dewa seperti mengingat sesuatu, padahal jarak hari saat perjanjian itu tidaklah jauh. Dengan mudahnya dia melupakan itu semua, perlu di ruqiyah kayaknya.
“Oo, itu. Gue ingat.” Beno dan Musfiq senang mendengarnya. Kedua bocah langka itu tersenyum tanpa henti.
“Tapi, nyatanya Buk Nana tetap nyariin gue ke sana. Gue dihukum lagi sama dia. Waktu gue sama si sipit cuma sebentar, dan sekarang lo minta bayaran? No!” tolaknya sembari menggoyangkan jari telunjuknya.
Beno dan Musfiq tampak bersedih, keduanya memasang muka seperti orang habis dianiaya. Nggak ada enaknya dilihat. Dewa menarik napas berat, kemudian menghembuskan dengan kasar. Pria itu menatap sahabatnya dengan tajam, memastikan kedua bocah itu beneran belum makan atau sudah.
“Nggak usah pasang muka jelek, udah jelek tambah jelek lagi,” Beno dan Musfiq menatapnya dengan kesal
“Ya udah. Berhubung gue lagi baik, gue traktir kalian hari ini,” lanjutnya yang membuat Beno dan Musfiq kembali ceria.
“Yes, beneran ya, Wa?” tanya Beno.
Dewa mengangguk. “Asik, makan gratis,” seru Musfiq.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan ke kantin tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap mereka horor dikarenakan bel sudah berbunyi, pertanda waktu istirahat sudah habis. Namun, trio somplak ini malah tak mempedulikannya.
“Nah, lo mau pesan apa? Minta ke Mbak Cinta, gue mau masuk dulu. Anak pintar nggak boleh bolos, nanti nilainya jadi jelek,” ujar Dewa yang berlalu meninggalkan mereka berdua dengan sehelai uang kertas.
Beno dan Musfiq menatap punggung Dewa yang semakin lama semakin menghilang di balik tembok. Kemudian mata mereka kembali terfokus pada uang kertas yang berada di tangan Musfiq. Mereka saling pandang, menghembuskan nafas berat karena melihat uang tersebut. Bagaimana mereka bisa makan dengan uang senilai dua ribu rupiah itu? Untuk beli cilok Mang Ujang saja nggak cukup. Apalagi mau makan nasi soto Mbak Cinta yang enak dan lezat itu.
“Dua ribu dapat apa, Mus?” bisik Beno pelan.
Musfiq memejamkan matanya, menyumpahi Dewa agar dalam keadaan baik-baik saja supaya mereka bisa balas perbuatan pria itu hari ini. Perut keroncongan, di tambah lagi teriakan Mba Cinta semakin membuat dua pria langka itu kesal.
“Kita beli roti dua ribu aja, Ben. Nanti dibagi dua, lumayan untuk mengganjal cacing yang mulai berontak.” Musfiq menyeringai tak jelas, wajahnya masih terlihat seperti orang teraniaya.
Ide nya untuk membeli roti seharga dua ribu rupiah itu pun disetujui sahabatnya. Beno meraih roti yang terbungkus plastik di rak makanan paling tengah, dan Musfiq memberikan uang itu pada Mbak Cinta yang dari tadi memasang muka jutek. Mereka pun meninggalkan kantin dengan hati yang sedikit lega, hari ini mereka bisa makan meski sepotong roti berdua.
Saat asik mengunyah roti, tiba-tiba mereka dihadapkan pada satu masalah, yaitu Pak Santul menatap tajam sembari berkacak pinggang ke arahnya. Beno dan Musfiq saling pandang, menelan roti dengan terpaksa dan mengambil ancang-ancang untuk segera lari ke kelas sebelum Pak Santul menghukumnya untuk membersihkan toilet.