Yes, Akhirnya Kudapatkan Juga

1221 Words
Surga bagi siswa siswi SMA Melati Kencana adalah, pulang di saat yang tidak tepat. Iya, hari ini mereka terpaksa dipulangkan lebih awal, karena guru mau menjenguk Buk Mega yang sudah lebih dari dua minggu terbaring di rumah sakit. Kasusnya sama dengan Buk Revi, terserang struk . Namun, Buk Mega tidak separah Buk Revi yang mengharuskan beliau untuk istirahat total. Buk Mega masih bisa berbicara dengan baik, jika dibandingkan dengan Buk Revi yang sudah terbata-bata kalau bicara. Mendengar hal ini, tentu membuat mereka senang. Biasanya pulang sekitar jam tiga, sekarang harus pulang jam setengah dua belas. Ada sebagian siswa yang memanfaatkan waktu ini untuk menemui pacarnya, ada juga yang nangkring di cafe seberang untuk sekedar bergosip, dan ada juga sebagian untuk mampir ke mall dan toko-toko buku lainnya. Berbeda hal nya dengan Krista, gadis bermata sipit itu memilih untuk pulang ke rumah karena besok ada acara pernikahan kakak sepupunya. Upacara pemberkatan akan diadakan di gereja Santa Maria, yang mana jarak dari rumahnya dengan gereja itu lumayan jauh. Maka, Krista dan keluarga hari ini akan berangkat ke rumah saudaranya yang tak jauh dari tempat pemberkatan besok. Krista berjalan santai menuju gerbang depan, diikuti oleh dua sahabatnya Cindai dan Oca. Mereka terlihat senang, sembari tertawa pelan karena sesuatu hal. Langkah Krista mendadak terhenti kala melihat seorang pria tengah berdiri di pintu gerbang sembari menyandarkan punggungnya di sana. Gadis itu tampak merengut kesal, kapan Dewa berhenti untuk mengganggunya? Sejak pria itu mengaku pacaran dengannya, sejak saat itu juga hari-hari Krista menjadi tak tenang di sekolah. Ia terus saja jadi bahan tertawaan temannya saat pria tampan itu membuat ulah. “Hallo, cantik. Mau Dewa antar?” tawarnya saat Krista tengah berdiri di hadapannya. “Nggak perlu, nggak usah repot-repot,” tolaknya cepat. “Nggak repot, kok. Masa sama pacar sendiri repot.” Dewa tersenyum, meski Krista melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Pria itu bahkan tak punya malu, meski sudah ditolak berkali-kali ia tetap bersikukuh untuk menggoda gadisnya itu. Krista menatap Dewa lekat, tatapannya kali ini penuh dengan selidik. “Lo, sebenarnya anak siapa, sih?” tanyanya pelan. Dewa tertawa, pertanyaan macam apa itu? Apa dia tak tahu, bahwa Dewa anak dari seorang wanita hebat? Mungkin Krista belum tahu, biar Dewa yang kasih tahu. “Lucu, ya? Ada yang nanya begini ke Dewa, emang Neng nggak tahu kalau Dewa itu anak Umi dan Abi? Kalau belum tahu, mari ikut Dewa, kenalan sekalian sama calon mertua.” Dewa membalas tatapan Krista dengan lembut. Membuat gadis itu mundur selangkah karena tak kuat menatap mata elang itu lebih lama. Dewa tersenyum, Krista sepertinya salah tingkah. “Gue cuma mau bilang, berhenti untuk ganggu gue. Anggap kita nggak kenal, dan jangan pernah muncul di hadapan gue lagi,” ujar Krista mengingatkan. “Kalau Dewa nggak mau?” pertanyaan itu berhasil membuat Krista kembali menatapnya tajam. “Nggak kenal, maka kita harus kenalan, dong. Masa satu sekolah tapi tak saling sapa. Eh, salah. Perasaan Dewa terus yang mengejar Neng Krista, kan Dewa juga pengen dikejar.” “Lo mau dikejar?” Tanya Krista memastikan, Dewa pun mengangguk, “Bentar, gue mau panggil orang gila sana, biar ada yang mengejar lo,” tunjuknya pada perempuan yang berdiri di halte seberang sembari tertawa sendiri. “Jangan dong. Masa orang tampan dikejar orang gila, kan nggak lucu jadinya.” Dewa menggeleng cepat. Krista yang hendak menyebrang pun menghentikan langkahnya. “Terus mau lo apa?” “Minta nomornya, dong. Dewa janji, setelah ini Dewa nggak akan ganggu Neng Krista lagi, paling cuma lewat w******p doang,” ujarnya cengengesan. Krista menarik napas panjang, berpikir sejenak antara memberikan nomornya pada pria gila ini atau tidak? Gadis itu menatap sahabatnya, berharap ada solusi yang lebih keren lagi diberikannya, namun itu semua nihil. Kedua sahabat Krista malah mengangkat kedua bahunya pertanda tak ada ide yang harus mereka katakan. “Sini hanphone lo.” Dengan malas, Krista menjulurkan tangannya pada Dewa. Mau tidak mau ia harus memberikan nomor itu, agar Dewa berhenti menganggu dirinya saat di sekolah. “Beneran?” tanyanya memastikan, Krista mengangguk. Dewa tampak senang dan segera memberikan ponselnya pada Krista. Gadis itu memencet beberapa tombol, setelah dirasa cukup ia pun mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. “Lo harus menepati janji, jangan ganggu gue lagi kalau di sekolah,” ujarnya. “Siap! Tapi, kalau sekali-kali nggak apa-apa kan?” “Dewa,” teriak Krista dengan lantang, membuat pria itu dan sahabat Krista menutup telinga. “Iya, iya, Dewa dengar, kok. Nggak usah teriak juga. Kalau begitu, Dewa pamit dulu, bye Neng Krisjon,” ujar Dewa yang membuat mata Krista melotot tajam ke arahnya. Dewa gugup, iya dia gugup. Karena tatapan Krista membuat akal sehatnya hilang. “M-maaf, maksudnya Krismon, ups salah lagi.” Dewa menutup bibirnya dengan kedua tangan. Mulut Krista komat kamit tak jelas. “Lo bilang apa tadi?” bentak Krista sembari berkacak pinggang. “Krisjon, eh Krismon. Aduh, maaf, maksudnya Kris-Kris-Krista.” Dewa mengumpat pada dirinya yang salah menyebutkan nama. Pria itu tak mau jika Krista marah dan menghapus nomornya lagi. “Awas saja kalau lo manggil gue dengan sebutan itu lagi.” Ancamnya. Nasib baik hari ini jemputan Krista sudah datang, sehingga Dewa tak perlu mendengarkan ocehan maut yang keluar dari mulut Krista. Pria itu bernafas lega. Berhadapan dengan Krista ternyata lebih seram dibandingkan dengan Pak Santul. Pria itu mengelus dadanya pelan, menatap mobil pribadi Krista yang telah menjauh. Saat ia berbalik, di situ Dewa melihat seorang gadis berkerudung putih lengkap dengan seragam pesantren dan atribut lainnya. Dewa menatapnya malas, beranjak menjauh darinya. “Assalamualaikum.” Suara gadis itu terdengar lembut, membuat Dewa menghentikan langkahnya. “Ngapain lo datang ke sini?” tanyanya dingin dan menusuk hingga ke tulang. Gadis bernama Zahara Maharani itu pun mengusap dadanya yang bergemuruh. Perkataan kasar Dewa barusan membuat hatinya seakan diiris sembilu, namun ia harus menyampaikan apa yang seharusnya Dewa tahu. “Maaf, Mas. Kedatangan Zahara kemari bukan untuk mencari masalah. Zahara tadi dapat telephon dari Abi Mas Dewa. Beliau bilang Umi sekarang ada di rumah sakit," ujar Zahara yang tak berani menatap wajah Dewa. Dewa terkejut, kenapa Umi nya bisa masuk rumah sakit? Padahal pagi tadi beliau masih dalam keadaan baik-baik saja. “Apa lo bilang? Umi di rumah sakit? Lo becanda, kan?” Dewa tak percaya dengan ucapan Zahara. “Iya, Mas. Abi Mas Dewa sudah berusaha untuk menghubungi Mas, tapi nggak ada jawaban.” Dewa sadar, tadi sempat me-riject panggilan dari Abi nya sebelum ia memberikan ponsel itu pada Krista. Dewa terpukul, menyesal karena mengabaikan panggilan itu. “Rumah sakit mana?” tatapan Dewa mulai kosong. Apa yang terjadi pada Umi nya membuat pria itu lemah. “Rumah sakit Kasih Setia, Mas,” jawab Zahara. Dewa bergegas mengambil motornya di tempat parkir, kemudian dengan kecepatan penuh Dewa melajukan motornya meninggalkan sekolah yang mulai sepi dan Zahara yang masih berdiam sendiri. Gadis itu menangis, ada sesak di dalamnya melihat sifat Dewa yang cuek padanya. Sedangkan pada Krista ia lebih terbuka. Zahara sadar, dirinya bukan siapa-siapa bagi Dewa. Namun, yang sangat ingin ia tanyakan saat ini adalah : kenapa sifat cowok itu begitu dingin padanya dan juga Ustad Syahrul. Apa yang telah dilakukan Abi nya? Sehingga Dewa begitu benci pada mereka berdua. "Zahara nggak tahu apa kesalahan Zahara, Mas. Sehingga Mas Dewa sangat membenci Zahara dan juga Abi,” isaknya kemudian. Zahara mengusap lembut pipinya, melangkah meninggalkan tempat itu dan menuju halte seberang untuk menunggu angkutan umum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD