Ular Iblis

1444 Words
Wajah Zhang Hao terlihat sangat kusut dan kacau. Sudah tiga hari Lian Hua menghilang. Seluruh orang desa sudah dia kerahkan untuk mencari adiknya, namun hasilnya nihil. “Ini semua salahku. Kenapa aku sebodoh ini dan mengatakan yang sebenarnya. Aku memang kakak yang tidak berguna. Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku...aku...” Zhang Hao terus saja mengutuk dirinya sambil menusuk-nusukan belati pada batang pohon yang besar. “Kak Hao...” Lei Feng mendekati Zhang Hao yang sejak tadi meranyau. Tak pernah sekalipun ia melihat pemuda yang diseganinya ini hilang kendali seperti sekarang. Apa keberadaan Lian Hua sangat berarti baginya? Bahkan saat seluruh keluarganya dibantai pun ia tak sekacau ini. “Ada apa Lei Feng? Apa Yang Ren sudah menemukan adikku?” Lei Feng agak terkejut. Bahkan perkataanya menjadi dingin dan tak peduli dengan kedudukan ayahnya sama sekali. “Aku tidak tahu, tapi Ayah memintamu untuk segera menemuinya diruang belajar.” Zhang Hao tampak acuh dan kembali menusuk-nusukkan belatinya. Lei Feng agak ragu, namun sepertinya dia ia harus mengatakannya pada Zhang Hao. “Terjadi p*********n di desa sebelah. Dan diantara korban, kami mencurigai ada pakaian yang dikenakan Hua saat terakhir kali. Itulah sebabnya...” Mata Zhang Hao membelalak, tanpa menunggu Lei Feng menyelesaikan kata-katanya, ia langsung melesat secepat kilat. ** Disinilah Zhang Hao sekarang. Duduk tersungkur dalam sebuah gubuk yang berbau busuk. Pandangannya kosong menatap dipan yang dipenuhi noda darah yang sudah mengering. Tak ada lagi air mata yang jatuh di wajahnya. Jiwanya terasa kosong. Semuanya sudah berakhir untuknya. “Aku...aku sudah menghancurkan semuanya. Sebaiknya aku mengakhiri hidupku saja!” Baru saja ia akan mengambil belati di pinggangnya, sebuah tamparan keras mendarat di wajah Zhang Hao. “Apa ini yang kau sebut putra dari keluarga Zhang? Memalukan! Mendiang Ayah dan Ibumu bahkan Tuan Muda Lian Hua akan malu melihat wajahmu di alam sana!” ucap Yang Ren dengan wajah mengeras. Zhang Hao terdiam, menatap belati yang masih dipegang erat ditangan kanannya. “Lalu apa yang harus aku lakukan?” “Pergilah ke Shuang Lian. Katakan semua yang sudah terjadi dan terimalah hukumanmu dengan jiwa ksatria yang seharusnya.” Zhang Hao terdiam. Akhirnya ia harus kembali ke tempat itu juga. ** Dua tahun berlalu setelah kejadian itu. Kini Lian Hua mengembara bersama Na Lin, gadis cantik yang telah menolongnya. Melihat Lian Hua yang hilang arah dan tidak tahu apa-apa, akhirnya Na Lin memutuskan untuk menjadi pelayannya. Dan jika di tanya mengapa, dengan riang gadis itu akan menjawab, “Aku hanya ingin bersenang-senang menjadi pelayan seorang Tuan Muda yang berwajah seratus kali lipat lebih cantik dariku. Oh, Tuan Muda Hua...apa Dewa tidak salah menempatkan jenis kelaminmu saat kau dilahirkan ke dunia ini?” Jika sudah bertanya seperti itu, maka ayunan pedanglah yang akan menjadi jawabannya. Tuan Mudanya memang memiliki banyak kelemahan. Tapi jika sudah berurusan dengan pedang, sebaiknya ia menghindar dari serangan Tuannya, walaupun Na Lin terbiasa bertarung dan membunuh dengan mudah. Karena Lian Hua sangat mengerikan jika sedang marah. Sudah dua tahun ini ia melayani sang Tuan. Selama dua tahun itu juga Hua jarang bersuara. Pandangannya terlalu dingin untuk seseorang yang memiliki wajah cantik seperti dirinya. Ah, ada satu hal lagi yang membuat Na Lin tak habis pikir. Walau ia selalu benci digoda dan di bilang wanita cantik, tapi ia masih saja mengenakan pakaian wanita. Ohh, Tuan Mudaku...apa kau sengaja ingin membuat semua lelaki disana tergila-gila olehmu? Jika itu benar, aku tak akan menolongmu lagi jika kau diserang para penyamun itu. Lian Hua akan terdiam jika ia bertanya seperti itu dan menjawabnya dengan wajah sedih dan terluka, ”Aku sudah berjanji pada mendiang Ayah bahwa aku akan memakai pakaian wanita sampai umurku genap lima belas tahun. Aku tak punya pilihan, ini adalah satu-satunya yang dapat kulakukan agar tak mengecewakan keluargaku lagi.” Na Lin hanya akan mengangkat kedua bahunya mendengar jawaban sang Tuan Muda. “Ah...” Na Lin membuyarkan lamunannya. Di pandangnya makhluk cantik yang berdiri dihadapannya itu, yang anehnya adalah seorang laki-laki. “Ehmm...Tuan Muda, malam ini ada pekerjaan di desa Morra. Kepala Desa di sana meminta kita membersihkan jalan. Karena sebentar lagi akan banyak tamu yang melintas untuk mengikuti ujian.” “Hmm.” Kata Hua sambil mengangguk lalu berjalan kembali kearah pohon willow dan duduk di sana sambil membaca. Ya Dewa...dia duduk di sana, di tepi danau dilindungi pohon yang rindang. Pemandangan ini benar-benar pemandangan surgawi. Andai aku dapat mengabadikannya. Na Lin tersenyum kecut dengan imajinasinya sendiri. Lian Hua memang sangat cantik dan anggun, namun semuanya berubah seratus delapan puluh derajat saat ia menjadi pemburu iblis bertangan dingin. Setelah kejadian itu Lian Hua memutuskan untuk mengembara dan menjadi pembasmi iblis bayaran. Selain dapat membalaskan dendam keluarganya, ia pun bisa bertahan hidup dari pekerjaan itu. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Seperti malam ini... “Tuan Muda, apa Anda menginginkan sesuatu? Sudah berjam-jam kita disini, namun tak ada satupun tanda-tanda iblis yang muncul.” Lian Hua hanya diam. Perlahan ia merapatkan jubahnya dan kembali mengawasi sekitar. Na Lin meliriknya sekilas, dan tahu apa yang harus ia lakukan. “Baiklah. Aku akan mencari minuman hangat untukmu.” Lian Hua mengangguk pelan. Lagi-lagi Na Lin tersenyum melihat tingkah Tuannya. Selalu bersikap dingin tapi memiliki sisi yang menggemaskan. Tak lama setelah Na Lin pergi, Lian Hua melihat sesuatu yang aneh dibalik semak-semak. Karena penasaran ia pun mendekat. Sebisa mungkin ia berjalan tanpa suara. Saat Lian Hua semakin mendekat, ia mendengar suara erangan wanita. Betapa terkejutnya Hua saat melihat seorang pria yang sedang menghisap energi seorang wanita. Lian Hua tak merasakan aroma iblis pada pria itu. Lalu siapa pria itu? Merasa diawasi, pria itu berhenti. Mata mereka saling bertemu. Sebelum Lian Hua bertindak, pria itu langsung menghilang di tengah kegelapan. “Tuan Muda, aku merasakan ada hawa iblis di sebelah sana.” ujar Na Lin yang berlari menghampiri Lian Hua. Hua mengangguk dan mulai melesat ke arah yang ditunjuk Na Lin tadi. Sesampai mereka di sana, dua pemuda sudah bertarung melawan belasan iblis. Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung bergabung menyerang iblis-iblis itu. “Siapa kalian? Kawan atau lawan?” tanya pemuda yang lebih muda sambil bertarung. “Hei, Tuan Muda, apa disaat seperti ini pantas kau menanyakan kawan atau lawan? Lihatlah dengan siapa kau bertarung, seandainya aku jadi kau, mendapat bantuan dari musuh pun aku bersedia asal dapat memusnahkan iblis-iblis ini!” ketus Na Lin. Pemuda itu mengerutkan keningnya sambil cemberut. Melihat reaksi itu, Na Lin hanya menggeleng dan kembali membantu Tuannya. “Na Lin, iblis-iblis ini sedikit aneh. Mereka tidak mati jika jantungnya ditusuk," bisik Lian Hua di samping Na Lin. Gadis itu berpikir sejenak, lalu dengan bantuan Lian Hua, ia melayang dan menebas kepala iblis itu dengan mudahnya. Lian Hua bergidik melihat kepala yang menggelinding di tanah. Dahinya berkerut sambil menatap Na Lin yang tersenyum lebar. “Itu..itu...benda itu menggelinding. Aku tak suka melihat benda itu menggelinding.” Rasanya Na Lin ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Tuan Mudanya yang berwajah dingin ini ternyata tidak suka benda yang menggelinding? Apakah itu tidak terdengar sangat konyol? Kalau begitu bagaimana dengan bola kaki? Apakah Lian Hua juga akan takut pada bola kaki? “Mereka hanya perlu ditebas, bukan? Nona, sebaiknya kalian menyingkir saja!” Na Lin dan Lian Hua saling pandang. Percaya diri sekali pemuda ini. Dasar sombong. Karena jumlah iblis yang tersisa tinggal sedikit, mereka pun memutuskan untuk menepi, dan melihat seberapa jauh kemampuan para pemuda itu. Kemampuan dua pemuda itu ternyata lumayan. Bahkan pemuda yang sejak tadi tak bersuara nampak seperti ksatria yang berpengalaman. Ia mampu menebas iblis-iblis itu tanpa membuat pakaiannya kotor karena cipratan darah. Sementara pemuda yang satu lagi... Mata Lian Hua langsung terbelalak melihat pemuda yang bertarung penuh dengan percaya diri itu. Setelah ia berhasil menebas iblis yang terakhir, Hua langsung melompat ke arahnya dan memeluknya sangat erat. Pemuda itu terkejut. Wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Diakui atau tidak, ia sangat terpukau melihat wajah Lian Hua yang kini membiru. Membiru? Bagaimana bisa?! Pandangan pemuda itu kini beralih ke bahu kiri Lian Hua. Seekor ular besar berwarna putih menggigitnya. Melihat adegan yang sangat cepat itu, Na Lin hanya sempat menangkap dan melempar ular itu jauh-jauh dari Tuannya. Tubuh Hua terkulai lemas. Tanpa berpikir panjang Na Lin langsung merobek pakaian di bahu Lian Hua dan menyesap kuat-kuat racun dari bekas gigitan ular itu. Dua pemuda itu hanya berdiri mematung melihat darah yang dimuntahkan gadis itu, mampu menghanguskan tumbuhan yang menyentuhnya. “Nona, ular itu...” “Ular iblis, peliharaan Ratu kegelapan. Jika kalian ingin berterima kasih karena Tuanku menyelamatkan kalian, sebaiknya kalian membantu kami untuk mencari penginapan!” Kata Na Lin dingin sambil memapah Lian Hua. Dua pemuda itu saling pandang. Setelah pemuda yang lebih muda mengangguk, pemuda yang satunya lagi mengambil alih tubuh Lian Hua dan menggendongnya dengan hati-hati. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD