Bloody Tragedy 2

968 Words
Lian Hua masih terus berlari tanpa mempedulikan arah. Ketika dia hampir kehabisan nafas, ia baru sadar kalau sudah berada ditengah hutan sendirian. Gelap. Ia tak tahu dimana posisinya saat ini. Selain membaca buku dan bermain pedang, Hua lemah di segala bidang, termasuk mengenal arah. Ia tidak tahu mana utara dan selatan. Yang ia tahu selama ini adalah Kak Hao yang selalu memandu dan menemaninya kemanapun ia ingin pergi. Dia tak pernah pergi sendiri. Sekalinya pergi sendiri dia akan tersesat seperti ini. Dengan gontai Lian Hua terus berjalan. Dia tidak takut pada kegelapan atau pun binatang malam. Yang ia takutkan adalah kemarahan Kakaknya. Kak Hao saat ini pasti panik mencarinya. Lian Hua tersenyum getir. ”Kakak? Apa aku masih boleh memanggilnya seperti itu?” Setelah lama berjalan, ia melihat cahaya di kejauhan. “Baguslah, aku akan bermalam di desa itu lalu meminta bantuan kepada Kepala Desa untuk mengantarku pulang.” Tekat Lian Hua sudah bulat. Walaupun ia masih kesal dan sedih atas kenyataan yang baru saja ia ketahui, namun logikanya berkata bahwa ia harus bersikap lebih tenang dan meminta penjelasan Kakaknya lebih rinci. Tiba di desa yang tak dikenal, Lian Hua bingung harus bertanya pada siapa. Rumah-rumah penduduk sudah tertutup rapat. Apa sopan jika ia mengetuk dan mengganggu istirahat orang lain? Ah, dalam kondisi darurat seperti ini, mengapa ia masih memikirkan tata krama yang diajarkan orang tuanya? Lagi lagi ia mendesah pelan. Sepertinya malam ini ia terpaksa harus tidur di jalanan. Kruccuuuk... Tiba-tiba perutnya terasa perih. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Tidak, jangan sekarang. Kumohon bertahanlah. Lian Hua terus berdoa dalam hati sambil meremas perutnya. Ia baru ingat bahwa perutnya yang kosong hari ini telah diisi makanan yang pedas dan asam. Jangankan dalam kondisi perut kosong, dalam kondisi normal pun penyakit lambung Hua sering kambuh jika tidak berhati-hati. “Matilah aku sekarang,” umpat Lian Hua pada dirinya sendiri sambil menyeret tubuhnya ketepian jalan. “Siapa yang akan mati Nona? Hehehe...” Dua orang lelaki yang sedang mabuk muncul dari tikungan jalan. “Astaga! Bukankah ini Lian Hua yang sombong itu? Haahaa...sepertinya peruntungan kita sedang baik hari ini, Ketua!” Hua semakin merasa mual. Bau arak yang menyeruak dari mulut mereka membuat perutnya kembali melilit. “Menyingkirlah kalian, aku sedang tidak ingin meladeni manusia tidak berguna seperti kalian!” “Ow...ow...ow...mulutnya masih pedas seperti biasanya. Tapi kali ini kami tidak akan melepaskanmu.” Lelaki itu kembali tertawa sambil bertepuk tangan. Kali ini tidak kurang dari sepuluh orang muncul dari berbagai arah. Lian Hua mengernyitkan dahinya. Dalam kondisi seperti yang ini, apa dia bisa melawan mereka semua? Apa yang dikhawatirkan Lian Hua benar-benar terjadi. Karena menahan sakit dan tak dapat berkonsentrasi, akhirnya ia dengan mudah dapat dilumpuhkan. Tanpa perlawanan berarti, ia pun dibawa ke sebuah gubuk di tepi hutan. “Jangan macam-macam! Kalian sudah tahu siapa keluargaku, bukan!?” “Haahahhaa...tentu kami tahu Nona. Dan kami sangat tahu bahwa tiga hari yang lalu keluargamu dihabisi oleh kawanan perampok.” Perampok? Jangan bilang kalau Kepala Desa menutupi masalah ini dari luar. “Sudahlah, jangan menolak lagi. Kami akan bersikap lembut jika kau melayani kami dengan baik.” Seringai menjijikkan terlihat jelas di wajah mereka. “Melayani kalian? Jangan bercanda. Aku ini laki-laki sama seperti kalian.” “Apa kau ingin menipu kami?” Dengan sebuah isyarat lelaki itu memerintahkan agar anak buahnya menahan kedua tangan dan kaki Lian Hua. Satu persatu pakaian Lian Hua dirobek paksa dengan tatapan liar. Entah apa yang Hua rasakan kini. Semuanya bercampur aduk antara sakit tak tertahankan pada perutnya serta rasa takut akan perbuatan para lelaki itu. “Astaga...tubuhnya benar-benar indah, sama seperti wajahnya yang seperti bidadari. Walau dadanya rata, namun kulitnya yang halus dan lembut ini...” “Hentikan! Aku bilang hentikan...!!!” Lian Hua meronta-ronta ketika pemuda itu mulai menarik celananya. Nafasnya semakin cepat. Beberapa detik kemudian pandangannya menjadi gelap. Hua pun tak sadarkan diri. ** Hal pertama yang Lian Hua lihat ketika membuka matanya adalah, tatapan seorang gadis cantik yang menyeringai. Hua berusaha menggerakkan tubuhnya. Kaku. Sepertinya ia sudah terlalu lama berbaring tanpa di gerakkan. “Haiya...pertama yang seharusnya diucapkan oleh orang yang baru saja siuman adalah, “Aku ada dimana” atau “Kau siapa?”, ucap gadis itu masih dalam seringainya. Dahi Lian Hua bertaut. Gadis ini benar, dimana aku saat ini? Mengapa Kak Hao tidak ada disisiku saat aku bangun? Dilihatnya lagi, seorang gadis cantik berwajah imut layaknya bayi. Cantik dan menggemaskan. Sepertinya gadis itu lebih muda darinya. Otaknya berputar cepat dan langsung teringat akan kejadian malam itu. Malam itu...malam itu...mereka... “Tenanglah, para lelaki biadap itu sudah ku bunuh malam itu juga. Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi.” Lian Hua masih terdiam dengan wajah kebingungan. “Malam itu aku kebetulan sedang melintas dan melihat para lelaki busuk itu sedang...” Gadis itu berdehem pelan lalu melanjutkan kembali kata-katanya. “Aku hanya tak suka dengan perbuatan b***t mereka. Untung saja aku datang tepat waktu kalau tidak mungkin kau sudah...” Lian Hua meremas kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Ada satu hal yang harus ia tanyakan pada gadis ini untuk memastikan sesuatu. “Nona. Apa...apa saat itu ada noda darah?” wajah Hua bersemu merah. Menurut buku yang ia baca, seseorang akan kehilangan kesuciannya saat lelaki lain menyentuhnya dan menemukan noda darah. Ia tak mengerti mengapa bisa ada noda darah karena buku yang ia baca tidak menjelaskan secara rinci. “Ya, tentu saja ada banyak darah saat itu.” Ujar sang gadis dengan riang. Lian Hua terkesiap. Tubuhnya lemas, air matanya perlahan turun di pipinya. Ia sudah tak suci lagi. Bagaimana ia akan bertemu Kak Hao nanti? Sementara itu, sang gadis hanya memiringkan kepalanya dan menatap Lian Hua keheranan. Mengapa anak ini justru bersedih? Tentu saja akan ada banyak darah saat aku membunuh mereka, bukan? Aku datang tepat waktu sebelum mereka menyentuhnya, seharusnya dia bersyukur bukan bersedih seperti ini. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD