Sudah dua hari ini Lian Hua hanya diam di kamarnya. Tidak, kurang tepat jika kamar ini disebut kamarnya. Karena sejak kejadian tiga hari yang lalu, Hua dan Hao tinggal di kediaman Kepala Desa.
Wajahnya yang putih semakin pucat karena tak tersentuh sinar matahari. Matanya yang biasanya bersinar jenaka, kini menjadi sembab dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya.
Zhang Hao yang melihat hal itu tidak bisa berkata apa-apa. Peristiwa p*********n malam itu memang sangat mengerikan. Tak ada satupun yang selamat kecuali mereka berdua. Selebihnya, semua menjadi mayat dengan potongan tubuh yang mengerikan.
“Hua...makanlah sedikit!”
Lian Hua hanya melirik sekilas saat kakaknya membawa baki berisi makanan untuknya.
“Makanlah! Jika kau sampai sakit Kakak akan merasa sangat bersalah pada mendiang Ayah dan Ibu.” bujuknya.
Lian Hua langsung mengerutkan keningnya saat melihat makanan yang dibawakan Zhang Hao. Dengan wajah serius, ia menatap lurus tepat ke dalam bola mata kakaknya yang terlihat sendu.
“Kak Hao, aku mengerti jika peristiwa malam itu tidak bisa dihindarkan.” Dengan nafas berat Hua mendesah.
“Tapi kali ini...” Lian Hua menundukkan wajahnya sambil menggeleng pelan.
“Ada apa, Hua?” wajah Zhang Hao mulai khawatir.
“Kakak, apa kau juga ingin membunuhku dengan memberikan telur itu? Apa kau lupa kalau aku alergi telur?” ucap Lian Hua dengan nada serius.
Hao terkejut. Agak lama sistem otaknya bekerja. Beberapa detik kemudian, ia langsung terbawa terbahak-bahak sambil mengacak-ngacak rambut adiknya. Lian Hua yang cemberut hanya diam sambil menatap kesal kakaknya.
“Hahaha! Maaf Hua, aku hampir saja lupa. Pantas beberapa hari ini kau selalu menolak untuk makan.”
Hao mendehem pelan sambil merapikan kembali rambut Lian Hua yang acak-acakan.
“Maaf Hua, dalam situasi kacau seperti ini aku lupa mengatakan pada pelayan kalau kau tidak bisa memakan makanan olahan telur, sementara keluarga ini sangat menyukai telur.”
Dalam diam Zhang Hao tersenyum lega. Syukurlah adiknya ini masih berusaha tegar. Walaupun ia tahu bahwa setiap malam Lian Hua terbangun karena mimpi buruk lalu menangis sendirian.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengganti makananmu.”
Baru saja Zhang Hao akan beranjak pergi, Lian Hua langsung menahan tangannya. Zhang Hao pun menoleh, tatapannya bertemu dengan mata polos adiknya.
“Ada apa lagi ,Hua?”
Lian Hua terlihat salah tingkah. ”Ngg...itu, emm, anu...aku ingin pergi membaca buku tapi...”
Zhang Hao mengerutkan dahinya sambil menyusuri wajah adiknya yang kebingungan. Sepertinya ada yang salah disini, tapi apa? Ah, ya Dewa. Penampilannya.
“Astaga, jika Ayah disini, beliau pasti akan membunuhku karena membiarkanmu seperti ini.”
Wajah Lian Hua bersemu merah. Selama ini ia selalu dimanjakan oleh keluarganya. Ia tak pernah diperkenankan mengurus dirinya sendiri. Pakaian, rambut, sepatu, dan yang lainnya, semua diatur oleh Kak Hao. Kata Ayah hanya Kak Hao yang boleh melayaninya. Alhasil, untuk memakai pakaian dengan benar pun ia tidak bisa. Pakaian yang dikenakannya miring sebelah dengan kancing baju yang tidak pada urutannya.
Lian Hua menyesal, mengapa ia harus mengikuti perintah ayahnya? Jika sudah seperti ini, dia juga yang repot. Kak Hao pasti sedang sibuk menyelidiki p*********n mengerikan itu dan ia tidak boleh bergantung pada kakaknya terus menerus.
Zhang Hao tersenyum lembut. ”Kakak minta maaf, kakak terlalu sibuk sendiri sampai melupakan keperluanmu.”
Lian Hua menggeleng pelan. Tanpa banyak bicara Zhang Hao melepaskan satu persatu pakaian Lian Hua. Hua hanya diam dan memperhatikan dengan serius tiap gerakan kakaknya. Ia hanya berharap kelak ia bisa melakukannya sendiri.
“Nona Hua, aku membawakanmu...”
Mata Lei Feng terbelalak. Wajahnya merona merah dengan cepat. Tubuhnya mematung menatap lurus ke arah Lian Hua yang sedang bertelanjang d**a.
Lian Hua mendengus pelan. ”Apa yang kau lihat Tuan Muda? Apa kau tak pernah melihat laki-laki berganti pakaian?”
“I-itu..maaf, aku tak bermaksud...” Lei Feng langsung membalikkan badannya dan hendak berlari keluar. Namun langkahnya tertahan mengingat kata-kata terakhir Lian Hua yang agak janggal.
“Laki-laki?” Lei Feng memutar tubuhnya kebingungan.
“Ya, aku laki-laki. Apa ada masalah dengan itu?” ujar Hua ketus.
Zhang Hao yang baru saja selesai merapikan pakaian Lian Hua hanya tersenyum geli.
“Maaf Tuan Muda, adikku ini memang laki-laki sejati. Namun karena peraturan ayah kami, ia hanya boleh berpakaian laki-laki saat usianya lima belas tahun. Jadi aku harap Tuan Muda dapat mengerti dan menjaga rahasia ini.”
Lei Feng masih terlihat kebingungan.
“Dan satu lagi, Tuan Yang Ren telah mengetahui hal ini sejak awal. Kata beliau, jika Anda berani mengejek atau menyebar identitas Lian Hua, akan ada hadiah spesial menanti Anda.”
Apa mereka mengancam? Ya, mereka berdua pasti mengancamku. Sungguh, Kakak beradik yang mengerikan...
**
Lian Hua berjalan berdampingan dengan Lei Feng. Mereka tak ada yang bersuara. Lian Hua yang baru saja kembali dari perpustakaan langsung asyik melahap bukunya sambil berjalan. Sementara, Yang Lei Feng, ia hanya sesekali mencuri pandang ke arah Lian Hua dengan dahi berkerut.
Cantik sempurna. Bagaimana mungkin makhluk di sampingku ini adalah laki-laki? Jika orang menyebutnya titisan Dewi, mungkin aku akan lebih percaya.
“Berhenti melihatku dengan tatapan menjijikkan itu, Lei Feng. Kalau kau masih tidak percaya aku ini laki-laki, aku bisa membuktikannya di kamar mandi.”
“Ah, apa maksudmu? Aku,,,aku tidak...”
Hua mendesah pelan. Ah, terlalu banyak mendesah bisa memperpendek umur katanya. Tapi apa lagi yang bisa ku lakukan? Batin Lian Hua.
Tiba-tiba pandangan Lian Hua tertuju pada sebuah pohon yang sangat rindang. Bukan karena pohonnya tapi ia tertarik pada rumah kayu yang bertengger di salah satu batang pohon itu.
“Kau ingin mencoba naik ke atas sana?” tanya Lei Feng yang mengikuti arah pandang Lian Hua.
“Sepertinya menyenangkan,” Hua tersenyum riang. Dengan gerakan yang lincah dan riang, dalam sekejap ia sudah sampai diatas pohon besar itu.
“Benar, dia laki-laki. Mana mungkin seorang gadis bertingkah seperti itu.” Gumam Lei Feng sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa yang kau katakan, Lei Feng?
“Ah, tidak. Aku akan segera menyusul ke atas.” Katanya sambil nyengir kuda.
Sesampainya di atas, Lei Feng membuka bungkusan yang sejak tadi ia bawa. Manisan buah mangga. Tidak- tidak, ini bukan manisan, mana ada manisan yang rasanya pedas? Kata Kak Hao, makanan kesukaan Lian Hua adalah cemilan ini. Buah mangga muda yang diiris tipis lalu di balur dengan cabai halus. Membayangkannya saja sudah membuat gigi ngilu, apalagi memakannya.
Namun melihat Lian Hua memakannya dengan lahap membuatnya jadi penasaran. Agak ragu ia mengambil sepotong lalu menggigitnya.
“Ugh...makanan apa ini? Pedas dan asam. Bisa-bisa perutku langsung sakit setelah makan ini.”
Lian Hua tersenyum mengejek. ”Kehidupan itu pedas dan masam seperti makanan ini, Tuan Muda. Jika untuk ini saja Anda tidak kuat, bagaimana Anda sanggup menghadapi kehidupan yang lebih pedas dan lebih masam dari buah ini?”
Lei Feng terlihat jengkel. Dengan cepat ia segera turun dari rumah pohon itu. Bukan karena perkataan Hua. Tapi karena mulutnya yang terasa pedas dan perutnya yang mulas.
**
Malam yang dingin. Lian Hua masih berada di atas rumah pohon itu bersama Lei Feng. Setelah beberapa kali keluar masuk kamar mandi, akhirnya Lei Feng kelelahan dan tertidur di samping Lian Hua.
Langit terlihat muram. Bintang-bintang enggan berkelip, sementara bulan yang seharusnya purnama lebih memilih sembunyi di balik awan.
Lamunan Lian Hua menjadi buyar saat ia mendengar beberapa langkah kaki yang mendekat.
“Bagaimana keadaan Tuan Muda Lian Hua?”
“Dia sudah jauh lebih baik.”
Tuan Yang Ren dan Kakak. Apa mereka baru pulang? Kenapa mereka mengobrol di tempat seperti ini?
“Lalu bagaimana hasil penyelidikanmu?”
“Mereka utusan Ratu iblis. Sepertinya barrier pertahanan desa ini mulai melemah sehingga mereka dapat mendeteksi kekuatan Tuan Muda saat menyembuhkan Anda.”
Lian Hua tercekat. Jadi semua ini salahnya? Andai ia mendengarkan perkataan Zhang Hao dan tidak menggunakan kekuatannya saat itu, tentu saat ini keluarganya akan baik-baik saja.
“Nasi sudah menjadi bubur, lalu apa tindakan Anda selanjutnya? Apa Anda akan mengatakannya pada Tuan Muda dan membawanya ke Shuang Lian?”
“ Tidak, Shuang Lian sangat berbahaya untuk saat ini. Dan aku tidak mau jika Hua tahu akan jati dirinya, kalau ia bukan putra dari keluarga Zhang.”
Kraaaakkk...
Sebuah ranting patah dan jatuh diantara dua orang yang sedang mengobrol itu. Zhang Hao mendongakkan kepalanya . Dilihatnya Lian Hua yang membeku dan Lei Feng yang berwajah memelas minta maaf. Sepertinya anak itu sengaja ingin memberitahukan bahwa Lian Hua mendengar pembicaraan mereka, melalui sorot matanya. Lian Hua melompat turun tepat dihadapan Zhang Hao.
“Aku minta penjelasan.”
Zhang Hao berusaha bersikap tenang menghadapi adiknya itu.
“Penjelasan? Seharusnya aku yang meminta penjelasan. Mengapa kau masih ada diluar malam-malam begini?”
“Aku mendengar semuanya. Apa benar kalau aku, aku bukan…” suara Lian Hua bergetar. Entah sejak kapan matanya basah dan membuat aliran sungai di pipinya.
Zhang Hao mendesah pelan lalu memejamkan matanya. ”Ya.”
Mata Lian Hua membelalak tak percaya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia ingin lari. Lari dari tempat itu dan berharap apa yang di dengarnya hanya candaan Kakaknya saja.
Tapi wajah itu, wajah itu bukanlah wajah yang menunjukkan kebohongan. Ada kepedihan di wajah kakaknya saat mengatakan kebenaran ini.
“Tuan Muda Hua, dengarkan dulu,” kini Tuan Yang Ren ikut bicara.
“Anda jangan salah paham, Anda memang bukan anak dari keluarga Zhang tapi bukan berarti Anda anak yang dibuang oleh orang tuanya.”
Lian Hua mengerutkan dahinya.
“Dengarkan, orang tuamu menitipkanmu pada keluarga Zhang. Mereka tidak membuangmu. Keluarga Zhang hanya berusaha merawatmu dengan baik sesuai perintah.”
Zhang Hao menutup wajahnya dengan frustasi. Orang tua ini...ah, ucapannya itu hanya akan memperburuk keadaan . Yang Ren sudah mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan.
Lian Hua tersenyum getir. “Oh, jadi seperti itu.”
Zhang Hao kembali menatap adiknya yang terlihat sangat terguncang.
“Pantas saja Ayah dan Ibu memperlakukanku begitu berbeda. Itu karena aku adalah anak ”titipan” yang harus dirawat dengan baik?” Lian Hua tertawa. Tawa kepedihan. Ia tak mengira selama ini.
“Kau telah mengkhianatiku, Kak! Kau, juga Ayah dan Ibu." Lian Hua terdiam, lalu tertawa kecut. “Tidak, bukan Ayah dan Ibu. Aku seharusnya memanggil mereka TUAN DAN NYONYA ZHANG.”
Lian Hua berlari dan terus berlari. Ia tak lagi mendengarkan teriakan orang-orang dibelakangnya. Yang Hua inginkan saat ini hanyalah sendiri dan menjauh dari segalanya.
**