Badai pun Datang

1261 Words
Mereka duduk saling berhadapan sambil menyesap teh hangat yang disediakan Nyonya Zhang. Ya, mereka. Kepala Desa bersama putranya Lei Feng datang berkunjung ke rumah Lian Hua untuk meminta maaf. Menurut cerita sang Lei Feng, sudah jelas bahwa semua adalah kesalahannya. Tapi sekarang malah Lian Hua dan Zhang Hao yang berwajah pucat. “Saya benar-benar menyesal dan berharap Nona Hua mau memaafkan kesalahan saya.” ujar Lei Feng sambil melirik ke arah Lian Hua yang sejak tadi hanya menunduk. “Tapi saya benar-benar kagum dengan Nona Hua. Tidak hanya pandai bertarung, Nona juga menyembuhkan luka yang cukup parah.” Lei Feng beralih pada Tuan dengan sorot mata penuh harapan. "Bisakah Anda mengajari saya juga?” Tuan Zhang Xian Zhong hanya diam. Wajahnya yang sejak tadi terlihat tenang kini berubah merah melihat kedua anaknya yang semakin tertunduk dalam. “Habislah kita,” bisik Lian Hua pelan di samping kakaknya. Zhang Hao terlihat jauh lebih tegang dibanding adiknya. Tanpa menunggu sang Ayah bersuara, ia langsung jatuh berlutut. “Mohon ampun Ayah, semua salahku karena tidak bisa menjaga Adik dengan baik.” Sang ayah mendengus pelan lalu bangkit dari tempat duduknya. “Kau tidak hanya membiarkan adikmu bertarung tapi juga membiarkannya menggunakan kekuatannya untuk mengobatimu?.” sang Ayah terlihat geram dan mengambil cambuk yang menempel di dinding. “Hamba bersalah. Hamba siap menerima hukuman, Ayah.” Nyonya Zhang menahan nafas dan menggenggam tangan Lian Hua erat-erat. “Tunggu Ayah!” Lian Hua ingin bangkit dari tempat duduknya namun sang Ibu menahannya. “Aku yang bersalah, kenapa harus Kakak yang menerima hukuman atas kesalahanku?” “Tidak, tidak, ini kesalahanku, Tuan Zhang. Bukankah aku yang seharusnya dihukum?” teriak Lei Feng yang berusaha membela Zhang Hao. Kepala Lei Feng langsung dipukul pelan oleh ayahnya yang mendengus. “Diamlah, atau aku akan melipat gandakan hukumanmu.” “Tapi Ayah, Kak Hao tak melakukan kesalahan apapun.” Lagi lagi sang Ayah memelolotinya. Lei Feng hanya bisa kembali diam dan melihat drama keluarga yang tidak dimengertinya ini. “Aku harap ini adalah yang terakhir kalinya.” ujar Tuan Zhang Xian Zhong dengan suara tegasnya. “Ingat posisi dan tugasmu, Hao.” Tangan yang memegang cambuk itu diangkat tinggi-tinggi. Semua seakan berhenti bernafas dengan mata terbelalak. Zhang Hao pun hanya pasrah sambil memejamkan matanya. “Uhuuk.” Ayunan cambuk Tuan Zhang terhenti di udara. Ia langsung menoleh ke asal suara tadi dan mendapati Lian Hua sedang meremas jantungnya sambil terbatuk. “Uhuuk! Uhuuk!” “Jika kau ingin bersandiwara untuk menolong kakakmu, lupakan saja Hua,” ujar sang Ayah dingin. “Ayah. Aku tidak...uhuk! uhuk!” batuknya semakin menjadi. Cairan merah kental menyelusup di antara jari-jari Lian Hua. “Xiao Hua, apa yang terjadi? Suamiku, Xiao Hua tidak sedang bercanda.” teriak Nyonya Zhang sambil memegang tubuh Lian Hua. Tanpa pikir panjang, Tuan Zhang Xian Zhong langsung melempar cambuk ditangannya dan berjongkok di hadapan Lian Hua. “Ada apa Nak? Apa jantungmu sakit lagi?” Lian Hua menggeleng pelan. Namun sang Ayah langsung terkesiap melihat noda darah yang melumuri mulut dan tangan mungil anak kesayangannya ini. “Kakak...”wajah Lian Hua terlihat sendu melihat sosok kakaknya yang masih berlutut tidak berdaya menatapnya. Sang Ayah mendesah pelan. Lagi lagi ia kalah. Setelah ia memberi isyarat pada Zhang Hao, ia menghampiri tamunya yang sejak tadi terpaku. “Maaf atas kejadian ini, Tuan Yang.” “Tidak, tidak, justru kami yang meminta maaf. Karena kami...” Tuan Yang Ren terlihat agak bingung harus berkata apa. Lei Feng yang sejak tadi diam mengerutkan dahinya melihat Zhang Hao yang dengan hati-hati menggendong Hua. Bukan, bukan karena Zhang Hao yang menggendong Lian Hua, tapi karena Lian Hua yang kini menyeringai kepadanya sambil mengepalkan tinjunya. Tengkuk Lei Feng meremang. Anak ini sangat mengerikan, alangkah baiknya ia tak mengusik anak ini lagi. Atau ia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padanya kelak. ** “Kau sudah keterlaluan, Hua.” tegur Zhang Hao sambil mendudukkan Lian Hua di tepi ranjangnya. Dengan lembut Hao membersihkan noda darah yang masih menempel dengan sapu tangan yang sudah dibasahi. Lian Hua hanya tersenyum kecil, menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. “Sudah aku bilang itu salah Ayah.” ucapnya tak berdosa. “Tapi tetap saja, berbohong itu tidak baik. Menggigit lidahmu sendiri sampai terluka seperti itu.” Lian Hua terlihat tak peduli. Zhang Hao mengerutkan dahinya lalu mendesah. “Kami tak pernah bisa menang berargumen denganmu.” Lagi-lagi Lian Hua hanya tertawa. Namun, kali ini tawanya langsung terhenti saat melihat sosok yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya. “A-ayah...” Sang Ayah hanya tersenyum tipis. Ia tak marah, justru dengan lembut membelai kepala Lian Hua. “A-ayah, a-aku...” “Ayah tahu kau sangat menyayangi kakakmu, tapi kau tak boleh lupa pesan Ayah. Kakakmu adalah pelindungmu. Setiap pelindung bertanggung jawab penuh atas Tuannya.” “Tapi Ayah, aku bukan...” “Hao,,,” sang Ayah memotong kata-kata Hua yang ingin protes. “Malam ini akan ada badai, tidurlah bersama adikmu. Jika badai tak dapat dihentikan, kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Wajah Zhang Hao berubah tegang. Dengan agak gugup ia pun mengangguk. “Hamba menerima perintah.” ** Malam semakin larut. Zhang Hao tidur menyamping sambil memandang Lian Hua yang tertidur lelap. Zhang Hao tersenyum tipis. Adiknya ini benar-benar terlihat mempesona. Jika sedang tidur pulas seperti ini, Lian Hua bagai bayi malaikat yang sangat menggemaskan. Zhang Hao mengerjapkan matanya. Dahi Hua berkerut seakan menahan sakit. Butiran keringat mengalir di dahinya. Apa ia sedang bermimpi buruk? Anak yang malang. Saat Zhang Hao menyeka keringat di dahi Lian Hua, di luar ia mendengar tiupan angin yang sangat kencang dan merobohkan sesuatu. Alih-alih menyeka keringat Lian Hua, Zhang Hao justru mengangkat tubuh mungil itu. Lian Hua mengerang pelan, lalu kembali tertidur di pelukan Hao. Dengan sangat pelan ia berjalan ke arah lemari pakaian Lian Hua. Membukanya lalu menggeser beberapa pakaian yang menggantung di sana. Dan menemukan tuas kecil dari kayu menyemul disudut lemari itu. Perlahan ia menggesernya dan sebuah pintu lain pun terbuka. Zhang Hao yang masih menggendong Lian Hua memasuki pintu itu setelah ia merapikan kembali pakaian-pakaian yang menggantung. “Kakak, kita dimana?” Zhang Hao tersenyum dalam gelap. “Kita akan bermain petualangan mencari jalan rahasia, kau suka bukan?” bisik Hao melihat adiknya yang terbangun dalam dekapannya. “Jangan bohong, mana mungkin kita main di tengah malam seperti ini?” Baru saja Zhang Hao akan membuka mulutnya, terdengar suara teriakan yang diiringi dengan dentingan pedang. Mata keduanya membola. Lian Hua baru saja akan meronta sebelum Zhang Hao mendekap erat tubuhnya dan menutup mulutnya. “Dengar Hua, kau harus tenang. Tidak boleh membantah. Aku akan menjelaskan semuanya jika kita selamat. Apa kau mengerti?” tanya Zhang Hao berbisik tapi terdengar tegas dan tak terbantahkan di telinga Hua. Lian Hua menatap kakaknya tak mengerti tapi dengan terpaksa ia pun mengangguk. Darah. Bau amis darah dimana-mana. Terdengar suara pintu dibanting. Benda-benda dihancurkan. Dan erangan suara yang sangat di kenali Lian Hua. “Dimana terataiku, Jenderal Zhang? Kau sembunyikan dimana dia?” “Bermimpilah, sampai matipun aku tidak akan menyerahkannya pada iblis betina sepertimu.” Lian Hua menggenggam erat-erat tangan Rhein. Tubuhnya bergetar. Tak terasa air mata turun di pipinya. “Baiklah, sepertinya kau sudah mengetahui kalau aku akan datang, dan mengirimnya ke tempat itu. Karena kau sudah tidak berguna lagi, sebaiknya kau mati saja menyusul istrimu itu!” Terdengar adu pedang yang memekikkan telinga. Lian Hua hanya menangis dalam diam. Tak lama kemudian terdengar suara tebasan disusul benda yang menggelinding di lantai. Mata Hua terbelalak. Dengan tubuh yang semakin dingin, akhirnya ia tak sadarkan diri di pangkuan Zhang Hao. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD