Fajar buru-buru keluar dari ruang kerjanya dan pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Ia melihat Rania duduk di depan meja rias, tatapannya beralih ke ranjang. Di sana sudah ada pakaian kantornya, kemeja merah dan celana hitam. "Kamu yang siapin pakaian saya?" tanya Fajar dengan raut wajah dingin. "Iya," jawab Rania sambil tersenyum. Ia hanya ingin mencoba menjalankan perannya sebagai seorang istri. Semoga saja dengan cara ini bisa membuat Fajar luluh dan menerima dirinya. "Lain kali gak usah. Biar saya yang siapin sendiri. Dan jangan pernah usik lemari saya lagi," tekan Fajar, ia kelihatan tidak suka Rania menyiapkan pakaiannya. Senyuman Rania langsung pudar. Tadinya ia berhayal, kalau Fajar akan mengucapkan terima kasih padanya. Namun, ternyata ekspektasinya tidak sesuai dengan

