~Selamat membaca~
Melihat Misha berjalan lesu masuk ke ruangan mereka, Kendes langsung berdiri dari kursinya.
"Gimana Mis? Aman?" Tanya Kendes dengan suara nyaris seperti berbisik.
Misha menyunggingkan senyum simpul seraya mengangkat kedua jari jempolnya. Kendes merasa lega namun juga keheranan. Tak biasanya Misha meresponnya dengan ekspresi seadanya. Namun berhubung masih jam kerja, Kendes memilih untuk memendam rasa penasarannya.
Tak terasa waktu pulang kerja telah tiba, Kendes yang baru selesai membereskan mejanya di buat semakin keheranan. Pasalnya Misha tak lagi nampak di meja kerjanya. Tas yang biasa wanita itu taruh di samping komputernya pun tak terlihat lagi di tempatnya.
"Nis, Misha mana?" Tanya Kendes saat Nisa melintas di depan mejanya.
"Udah pulang tuh, waktu kamu sibuk beberes meja sama tas." Sahut wanita itu singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya menjemput kebebasan.
Akhir pekan selalu menjadi momentum paling membahagiakan bagi para karyawan seperti mereka. Itu sebabnya setiap karyawan senantiasa bekerja dengan senyuman sejuta watt di akhir jam kerja mereka di akhir pekan. Termasuk juga Kendes. Wanita itu lega karena dalam dua hari paling tidak dia bisa sejenak menenangkan hati dan pikirannya sendiri.
Kendes terbengong-bengong mendapatkan jawaban dari Nisa.
"Aneh, Misha kan gak bawa mobil tadi. Biasanya juga pulang pergi sama aku...apa aku ada salah bicara ya...kok Misha jadi berubah sikap gini..." Kendes terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
Misha tak pernah bisa jauh darinya. Wanita itu akan menemaninya setiap saat tanpa dia minta. Mendapati Misha seperti menjaga jarak dengannya, jelas membuat Kendes merasa aneh dan tak terbiasa.
Beberapa kali panggilannya di abaikan, lalu panggilan berikutnya langsung di rijek tanpa perasaan. Hati Kendes semakin kacau juga sedih.
"Ck! Ada apa sih sama nih anak, kok jadi aneh gini!?" Gerutu Kendes dengan mata berkaca-kaca. Misha satu-satunya orang selain putranya yang memahami dirinya. Saat di jauhi tanpa sebab yang jelas, membuat hati Kendes merasa sangat sedih.
Sedangkan di ruangan lain, seorang pria sejak tadi terus memperhatikan apa yang Kendes lakukan di ruangannya. Melihat wanita itu menyapu matanya yang mulai basah, membuat hatinya tak tega.
Kendes tak memiliki siapapun di dunia ini selain Kellen juga Misha dan keluarganya. Tentu saja sikap Misha membuat Kendes merasakan kesedihan yang mendalam.
"Emir, kamu pastikan Kendes pulang dengan aman." Setelah memberikan perintah singkat tersebut, Gilen kembali menatap layar laptopnya.
"Baik tuan," sahut Emir patuh. Emir adalah asisten pribadinya. Laki-laki tersebut bekerja padanya sejak 15 tahun silam. Mereka adalah sahabat karib sejak masa putih abu-abu, namun nasib Gilen lebih beruntung karena berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan dirinya hanya anak seorang sopir pribadi yang mengabdi di keluarga Gilen sejak masih muda.
Gilen memejamkan kedua matanya seperti sedang memikirkan hal yang berat.
Seharusnya minggu ini jatah menginap Kellen adalah di rumahnya. Namun melihat bagaimana sedihnya Kendes saat ini, membuat Gilen berubah pikiran.
"Halo son, minggu ini papa sedang sangat sibuk. So, kamu di tempat mama saja selama satu minggu ke depan. Tak masalah, bukan?"
"Its ok pa, Kellen malah senang bisa punya waktu lebih banyak sama mama. Papa kan sudah punya Tante Sofi dan beberapa keluarga di rumah papa, sedangkan mama hanya sendirian saja kalau aku tidak ada." Jawab Kellen tak terduga.
Gilen meneguk ludah susah payah. Selama ini dia tak pernah sekalipun bertanya apa yang putranya inginkan. Baginya, selama kebutuhan Kellen terpenuhi maka tanggung jawabnya sebagai seorang ayah sudah cukup. Nyatanya Kellen memiliki keinginan sendiri. Anak remaja itu lebih cenderung memikirkan ibunya yang kesepian, ketimbang berdiam di kediamannya yang serba mewah dan serba ada.
"Baiklah, artinya kita sepakat, bukan?" Ucap Gilen memastikan.
"Deal pa, aku senang papa sibuk aku jadi punya banyak waktu sama mama." Ulang anak itu lagi tanpa tau bila perkataannya berpotensi menjadi belenggu dalam hati Gilen, sang ayah.
"Ok, jaga mama baik-baik. Love you son, bye!" Setelah memutuskan panggilan, Gilen tampak termenung.
Percakapan singkatnya dengan sang anak membuat Gilen menyadari sesuatu. Harta sesungguhnya adalah orang yang kita sayangi. Sama seperti Kellen yang ternyata lebih memilih ibunya ketimbang dirinya dengan segala kemewahan yang bisa dia berikan.
Selama ini Kellen terlalu pandai menyembunyikan perasaannya, sama seperti Kendes ibunya. Gilen melupakan satu hal, Kellen adalah putra yang di kandung dan di lahirkan dengan penuh perjuangan oleh mantan istrinya. Jelas bila Kellen akan lebih cenderung memihak ibunya. Ikatan batin antara anak dan ibu tak bisa dia putuskan begitu saja hanya dengan setumpuk harta yang akan binasa.
Setelah menghubungi putranya Gilen mencoba untuk merenungi sesuatu yang belakangan mengganggu pikirannya.
Terlalu larut dalam kemelut perasaan yang sedikit kacau, Gilen sampai tak menyadari bila jam kerjanya telah usai.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Dering panggilan menjeda lamunan Gilen. Rupanya panggilan dari sang istri, semakin membuat Gilen muram.
Dengan malas Gilen terpaksa menjawab. Jika tidak, Sofi akan memulai celotehan sepanjang rel kereta tiada henti.
"Aku sedang bersiap untuk pulang," ucap Gilen tanpa basa basi.
"Baiklah, aku pikir kamu lebih betah di kantor karena di sana ada mantan istrimu." Sindir Sofi to the poin dengan nada sinis.
Gilen tak menanggapi, karena hanya akan menambah panjang daftar obrolan mereka. Hubungan mereka tak sehangat pasangan normal lainnya untuk berbagi kisah panjang lebar.
"Katakan pada mama aku ingin makan malam dengan menu seafood," alih Gilen. Terdengar suara decakan lidah Sofi karena dirinya tak menyukai makanan tersebut.
"Baiklah, sampai jumpa di rumah..." Setelah berbincang singkat, Gilen memutuskan untuk bersiap-siap pulang ke rumah. Rumah di mana dirinya bagai boneka bagi keluarga besarnya. Terutama sang kakek yang memiliki kekuasaan paling tinggi di rumahnya.
Istana megah yang di kuasai oleh kuasa sang kakek sebagai penguasa. Di mana segala keputusan penuh berada di tangan laki-laki renta namun masih kokoh dalam hirarkinya.
"Sampai kapan akan seperti ini...." Gumam Gilen lalu menyambar kunci mobilnya. Gilen tak suka hari-harinya di recoki, termasuk laki-laki itu tak suka menggunakan jasa seorang sopir pribadi seperti kebanyakan orang kaya pada umumnya.
**************************
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, namun Kendes harus berjuang dengan mobil bututnya di tengah guyuran hujan. Mobil dengan merk sejuta umat tersebut kembali mogok untuk yang kesekian kalinya. Lelah rasanya bila harus kembali mengunjungi bengkel untuk kendala yang sama. Tapi apa daya, Kendes tak memiliki cukup uang untuk mengganti mobil baru.
Bisa saja dia memanfaatkan sang anak. Tapi Kendes bukan ibu yang seperti itu. Akan lebih baik baginya hidup dalam keterbatasan namun tak membebani putranya atau orang lain.
"Seharusnya kamu mogoknya nanti saja, paling tidak tunggulah sampai aku gajian." Dumel Kendes memukul kemudi mobilnya dengan hati dongkol. Misha masih tak bisa dia hubungi, entah apa kesalahannya sampai sahabatnya itu menjauhinya tanpa sebab.
Drrrtt drrrtt drrrtt
TBC
Adakah yang melipir kemari???
Isi kolom komentar untuk menyambung silaturahmi kita, ya teman-teman.
Salam sayang, author AQYa TRi