Part 4 Mantan menyebalkan

1087 Words
~Selamat membaca~ Kendes tersenyum lebar saat melihat siapa yang menghubunginya. "Halo sayang," sapa Kendes dengan suara girang. "Mama di mana, kok jam segini belum sampai di rumah?" Tanya Kellen terdengar khawatir. "Mobil mama..mogok lagi.." ungkap Kendes terkekeh kecil. "Eh? Kok kamu bisa tau mama belum pulang? Bukannya kamu sekarang di rumah papa?" Tanya Kendes keheranan. Pasalnya sekarang adalah jadwal menginap Kellen di rumah sang ayah. "Papa bilang ada banyak kerjaan dan sedikit sibuk beberapa waktu ke depan, jadi aku di minta menginapnya lain waktu saja. Aku jemput ya ma? Udah malam nih, Kellen juga belum makan malam di kulkas cuma ada telur sama mie instan." Usul Kellen. "Gak, gak! Hujannya lebat banget nih, nanti kamu bisa sakit kalau hujan-hujanan. Mama pesan taksi saja, kamu tunggu di rumah, gak lama kok dari sini." Tolak Kendes cepat. Kellen pasti akan menjemputnya menggunakan motor sport pemberian sang ayah. Kendes tak suka menunggangi motor yang membuat pinggangnya encok setelah menaikinya. Lagi pula hujan masih cukup deras, bisa bisa putranya jatuh sakit karena hawa dingin. "Ya sudah, aku tunggu di rumah. Mama mau di pesankan makan malam apa? Aku mau go food aja," tawar Kellen penuh perhatian. "Yang berkuah kuah kayanya enak deh, dingin dingin gini.." sahut Kendes sembari merapikan barang yang akan dia bawa dari mobilnya. Seperti biasa mobilnya akan di jemput oleh mobil derek menuju bengkel langganannya. "Rawon? Soto?" Tawar Kellen memberikan pilihan. "Rawon boleh deh, ekstra dagingnya ya..." Kellen terkekeh kecil mendengar permintaan Kendes. Ibunya selalu suka dengan tumpukan potongan daging di dalam kuah rawonnya, setiap kali mereka menyantap makanan tersebut. "Ok," balas Kellen kemudian tertawa renyah. "Taksi mama udah nyampe tuh, mama matiin dulu ya bye sayang .." Kendes memutuskan panggilan lalu bergegas turun tanpa memperhatikan mobil yang dia naiki. Kabut yang menempel di kaca mobilnya, membuat pandangannya tak fokus pada kendaraan yang menepi tepat di samping mobilnya. "Perumahan Puspita blok F nomor 27..." Ucap Kendes sambil menepuk-nepuk bekas rintikan hujan di blazernya. "Aku sudah tau," jawab sang sopir dengan nada bariton yang khas. Kendes meneguk ludah kaku. Dia tau siapa pemilik suara tersebut tanpa harus melihat siapa orangnya. Perlahan Kendes mengangkat wajahnya dan benar saja, Gilen menatapnya dari balik kaca depan tatapan tanpa ekspresi. "Maaf, aku pikir taksi online yang aku pesan." Cicit Kendes merasa konyol sendiri. Bagaimana bisa dia tak teliti melihat mobil tersebut sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya tanpa permisi. "Mogok lagi?" Bukannya menjawab Gilen lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Hmmm..." Sahut Kendes berdehem pelan. "Aku... tunggu taksiku saja.." ucap Kendes lagi hendak turun dari mobil Gilen. Namun pintu mobil tak dapat dia buka karena sudah di kunci oleh pemiliknya. "Biar aku saja yang mengantarmu pulang, cancel taksinya sekarang. Kellen sendirian di rumah jangan egois," Kendes mendengus karena putranya di jadikan alasan Gilen untuk mengguruinya. "Kellen sudah besar, dan lagi aku tak ingin merepotkanmu." Sanggah Kendes jengah. Gilen tak pernah berbicara lembut kepadanya bahkan sejak mereka masih terikat pernikahan. "Memang tidak merepotkan, tapi kamu sudah mengotori jok mobilku dengan pakaian basahmu." Sarkas Gilen tak mau kalah. Kendes melirik tempat duduknya yang memang sedikit basah. "Kalau begitu biarkan aku turun," pinta Kendes yang merasa tersinggung. "Ck! Setelah mengotori mobilku sekarang ingin kabur seenaknya. Dasar tidak bertanggungjawab!" Lagi-lagi perkataan Gilen bagai goresan pisau di jantung Kendes. "Duduk dengan benar, pasang seatbelt. Aku tak ingin terjaring razia karena membawa penumpang tak patuh aturan." Perintah Gilen dengan nada pedas. Kendes hanya bisa menuruti perintah laki-laki angkuh tersebut. Apa daya diapun sudah kepalang tanggung berada di dalam mobil sang mantan suami. Dan lagi putranya pasti akan semakin cemas bila dia belum kunjung tiba. Dalam perjalanan hanya ada keheningan. Kendes tak berniat memulai pembicaraan apapun dengan laki-laki sombong di hadapannya. Wanita itu sibuk membalas chat putra semata wayangnya, yang saat ini tengah memamerkan semangkuk penuh rawon pesanan Kendes. Wanita itu tak berhenti tersenyum melihat bagaimana putranya begitu perhatian terhadapnya. "Thanks sayang...mama tak sabar untuk segera sampai.." tulis Kendes dalam pesannya. Uap panas yang tertangkap kamera putranya, membuat Kendes tak sabar untuk segera tiba di rumah. Di jok depan Gilen sesekali mencuri pandang ke arah belakang melalui pantulan kaca. Senyum lebar Kendes sedikit mengusik ketenangan hatinya. "Orang bilang tak baik bermain handphone saat berada dalam kendaraan yang sedang melaju," tegur Gilen tanpa menoleh. Kendes mengangkat kepalanya lalu menatap punggung Gilen dengan tatapan sebal. "Aku tak sedang mengemudi, jadi tak masalah bila aku bermain ponsel." Sanggah Kendes membela diri. "Bermain ponsel tak baik untuk kesehatan lambung," dalih Gilen tak masuk akal. Kendes mencebikkan senyum sinis. Sejak kapan bermain ponsel di dalam mobil bisa membuat seseorang terserang penyakit lambung. Bilang saja dia iri karena tak bisa bermain ponsel karena sedang mengemudi. "Baiklah," Kendes akhirnya mengalah. Berdebat dengan Gilen tak akan membuatnya memenangkan apapun. laki-laki bermulut tajam itu akan selalu memiliki banyak alasan, untuk membuatnya kalah telak tanpa perlawanan. Perjalanan akhirnya mengantarkan Kendes sampai ke depan rumahnya yang sederhana. Gilen memarkirkan mobilnya tepat di depan garasi kecil milik Kendes yang hanya muat dua kendaraan saja. Mobilnya juga motor sport sang anak. "Terimakasih banyak sudah mengantarku pulang dengan selamat," ucap Kendes tulus. "Hanya terimakasih saja? Aku mengantarmu dan melewatkan makan malamku, apa hanya sebatas rasa terimakasih yang aku dapatkan? Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu yang bisa kamu hidangkan untuk menjamu seorang tamu yang tengah kelaparan?" Gluk! Cecaran Gilen benar benar sampai menembus tulang punggungnya. Kendes meneguk ludah susah payah. Untuk makan malam mereka saja sang anak memesan makanan online. Lalu apa yang bisa dia hidangkan untuk mantan suaminya? "Aku...belem sempat berbe..." Tok tok tok Suara ketukan kaca mobil Gilen menghentikan kalimat yang hendak Kendes ucapkan. Gilen menurunkan kaca mobilnya sambil memamerkan senyuman kepada putranya. "Maafkan papa baru bisa mengantar mamamu pulang, kamu tau mamamu selalu riweh sendiri bila di tawarkan bantuan." Ucap Gilen mengorbankan Kendes sebagai kendala perjalanan mereka. Kellen hanya tersenyum kemudian mengangguk paham. Anak laki-laki itu memang tak banyak bicara bila ada sang ayah di bersama mereka. "Ayo turun pa, kebetulan mama sudah memesankan makanan kesukaan papa. Sepertinya mama masih belum move on dari hobi makan papa saat cuaca dingin seperti ini." Ucap Kellen tertawa kecil. Kendes meringis mendengar dirinya di fitnah oleh kedua pria sekaligus di waktu bersamaan. Tak ingin pusing dengan kedua laki-laki yang membuat kepalanya berdenyut, Kendes memilih untuk turun terlebih dahulu. Rasanya masih sulit untuk bersikap biasa saja di hadapan mantan suaminya itu. Pernikahan serta perpisahan mereka tak meninggalkan kisah yang indah. Hampir tak pernah ada cerita indah, sepanjang perjalanan pernikahan keduanya. Satu satunya keindahan dan kebahagiaan dalam pernikahan tersebut adalah kehadiran Kellen. TBC Semoga masih betah di sini ya, teman teman... Salam sayang, author AQYa TRi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD