~Selamat membaca~
Sedangkan Gilen masih memperhatikan langkah kecil Kendes yang masuk melalui garasi menuju dapur.
"Pa.." tegur Kellen saat melihat ayahnya tak bereaksi. Dia tau sang ayah pasti sedang menatap kagum ibunya yang masih terlihat seperti remaja, di usianya yang sudah menginjak 33 tahun.
Gilen tersentak dan merasa sangat malu karena kedapatan menatap Kendes tak berkedip.
"Ayo masuk," ajak Kellen sembari tersenyum simpul. Anak itu berpura pura tak mengerti arti tatapan penuh puja sang ayah terhadap ibunya.
Di dalam kamarnya Kendes membersihkan diri. Terdengar suara bersin-bersin dari dalam kamar Kendes menandakan bila alergi wanita itu kambuh.
"Masih sering kambuh?" Tanya Gilen menatap pintu kamar Kendes dengan tatapan cemas. Kellen memperhatikan ekspresi sang ayah dengan hati senang.
"Belakangan malah lebih parah semenjak musim penghujan seperti sekarang ini. Mama bahkan pernah sampai sesak nafas, dan masuk IGD tengah malam seorang diri saat aku menginap di rumah papa bulan lalu. Untung masih bisa nyetir sendiri dan selamat sampai tujuan, dan lagi Tante Misha langsung meluncur ke rumah sakit untuk menemani mama." Cerita Kellen terlihat sendu.
Itulah alasannya Kellen senang saat ayahnya memintanya untuk menginap lebih lama di rumah sang ibu. Kondisi Kendes tak bisa di bilang baik-baik saja bila musim penghujan seperti ini.
"Ini.. ramuan untuk mama?" Tanya Gilen menunjuk pot kecil berisi beberapa ramuan herbal yang sedang Kellen rebus untuk minuman sang ibu.
"Hmmm," jawab anak itu sembari mengangguk kecil. Kellen sangat telaten merawat ibunya, dan itu tak luput dari perhatian Gilen. Kellen bahkan sangat kaku terhadapnya meski dirinya tengah sakit sekalipun. Melihat betapa perhatiannya Kellen terhadap Kendes, terbersit rasa cemburu di hati Gilen.
Diapun ingin mendapatkan perhatian yang sama, seperti yang Kellen tunjukkan kepada ibunya tanpa canggung.
"Kepala papa juga sering pusing belakangan ini, kira-kira obat sakit kepala yang cocok untuk papa apa ya.." pancing Gilen mencoba menarik perhatian putranya.
Kellen menghentikan aktivitasnya yang sedang mengaduk ramuan herbal di dalam pot di atas tungku.
"Papa coba tanya mama saja, aku takut salah rekom obat. Tar papa malah over dosis lagi," canda Kellen membuat ekspresi Gilen tampak kecewa. Namun laki laki itu tetap mengangguk sembari tersenyum tipis.
Gilen berharap Kellen akan merekomendasikan obat apapun untuknya, meski tak sesuai akan dia sambut dengan antusias. Nyatanya Kellen bahkan masih mencandai curahan hatinya tanpa empati sedikitpun. Setidaknya itulah yang Gilen tangkap.
"Kamu lagi masak apa sayang?" Tanya Kendes mengalihkan perhatian kedua laki-laki beda generasi tersebut.
Gilen tampak terpana, pesona mantan istrinya tak pernah memudar. Entah apa yang menyebabkan keduanya harus berpisah, dan menjadi dua orang asing yang seperti saling menghindari satu sama lain.
"Mama cantik banget," puji Kellen tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.
Kendes tersipu mendengar pujian putranya, terlebih di sana ada mantan suaminya juga.
"Ck, kecil kecil sudah pintar merayu..." Omel Kendes menjewer kecil telinga Kellen.
"Aduh ma! Ampun ampun....tapi benar kok, mamaku wanita paling cantik sejagat raya ini." Kukuh Kellen dengan penuh pujian.
"Benar kan pa?" Gilen tampak kelabakan mendengar perkataan sang anak. Namun laki-laki itu tetap membenarkan ucapan putranya dengan mengangguk kecil.
"Kamu benar, seorang ibu selalu paling cantik di mata anaknya." Jawab Gilen sarkastik. Tanpa sadar Kendes membalas tatapan dalam yang Gilen lontarkan kepadanya. Hingga deheman Kellen meleburkan rasa nyaman yang mulai hinggap.
Kendes segera menuju meja makan di mana terhidang satu mangkuk rawon, satu mangkuk soto babat dan nasi goreng spesial yang bisa di pastikan milik putranya.
Kendes tampak keheranan, bagaimana bisa Kellen menembak kedatangan sang ayah ke rumah mereka, sampai sampai menyiapkan makan malam untuk laki-laki itu.
"Kok malah bengong ma, ayo duduk.." tegur Kellen menarik kursi untuk sang ibu lalu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Gilen di biarkan menyiapkan kursinya sendiri seperti biasanya.
Makan malam tersebut terasa sedikit canggung. Karena malam ini adalah makan malam pertama mereka setelah hampir lima tahun berpisah. Di mana posisi Gilen menempati kursi kepala keluarga, dan Kendes sebagai ibu rumah tangga serta seorang putra yang tampan dan manis.
Selesai makan malam Gilen pamit pulang. Sebelum itu, laki-laki itu mengatakan bila dirinya akan membiarkan Kellen menginap satu minggu lagi di kediaman Kendes, karena dirinya sedang banyak kesibukan di luar rumah. Dia tak ingin Kellen kesepian dan merasa bosan tinggal bersamanya. Terlebih sang kakek tak pernah benar-benar menerima putranya yang hanya anak dari wanita biasa.
"Terimakasih sekali lagi sudah mengantarku pulang, dan.... sudah mengijinkan Kellen tinggal lebih lama bersamaku." Ucap Kendes tersenyum tulus. Dia memang sangat senang bila Kellen memiliki lebih banyak waktu bersamanya, karena dirinya tak memiliki siapapun di dunia ini selain sang anak, juga sahabat yang kini tengah menjauh dari jangkauannya tanpa kabar.
"Tak masalah," sahut Gilen singkat.
Sebelum pergi, Gilen tampak ingin menyampaikan sesuatu namun terlihat ragu.
"Itu...mobilmu. Apa tak sebaiknya membeli mobil baru saja? Bukan sekali dua kali mobil itu bermasalah, suatu saat kamu bisa di buat kesulitan karena mobil itu." Nasihat Gilen menatap Kendes dengan tatapan serius.
Kendes mengalihkan pandangannya, bukan hanya Gilen yang berpendapat demikian. Tapi Misha sudah sering kali memintanya untuk menjual mobilnya, dan mengganti dengan mobil baru. Namun Kendes masih merasa belum memerlukan mobil baru.
"Akan aku pikirkan nanti, sekali lagi terimakasih sudah berkunjung." Kendes menjawab singkat agar percakapan tersebut segera berakhir.
Tubuhnya sedikit meriang, itu karena Kendes memang tak bisa terkena air hujan walau hanya beberapa tetes saja.
Gilen mengangguk paham, dia tau bila Kendes lebih suka di jahili oleh mobil bututnya ketimbang membuang uang untuk membeli mobil baru. Mobil itupun hanyalah mobil bekas yang Kendes beli empat tahun lalu. Itu karena dirinya kerap mengomeli Kendes bila menjemput Kellen menggunakan sepeda motor usang milik mendiang mantan mertuanya.
Kendes memang keluar dari rumahnya tanpa membawa apapun selain pakaian lama miliknya. Rumah itu merupakan salah satu kompensasi perceraian yang dia berikan untuk Kendes. Rumah minimalis sederhana pilihan wanita itu sendiri, saat mereka hendak mencari rumah baru yang akan Kendes tempati pasca perceraian mereka.
Sejumlah uang tabungan yang di siapkan khusus untuk biaya hidup Kendes, dalam jumlah yang cukup bila wanita itu menganggur selama dua sampai tiga tahun. Namun Kendes merupakan wanita mandiri. Setelah bercerai Kendes langsung melamar pekerjaan di berbagai perusahaan. Namun dirinya yang masih belum bisa melepaskan Kendes sepenuhnya, menarik wanita itu masuk ke perusahaannya dengan cara yang licik. Itu sebabnya Kendes bisa menjadi salah satu karyawan di perusahaan konstruksi milik keluarga Gilen.
"Aku pamit, jangan lupa meminum ramuan herbal yang di buat oleh Kellen. Anak itu begitu perhatian terhadapmu, jangan sia-siakan perhatiannya." Entah kalimat tersebut merupakan sindiran atau memang sepenuh hati Gilen ucapkan.
Kendes hanya mengangguk lalu memegang gagang pintu. Gilen melihat itu merasa terusir secara halus. Dengan sadar diri laki-laki itu pamit dan benar-benar pergi.
Kellen memperhatikan kedua orang tuanya diam-diam. Terbersit harapan dalam benaknya agar Tuhan kembali mempersatukan kedua orang tuanya.
"Aku harap doaku tak terlalu berat untuk di kabulkan," monolog Kellen kembali memejamkan kedua matanya. Sejak tadi dia berpura-pura tertidur agar sang ayah lebih leluasa berbicara dengan ibunya. Namun hingga satu jam mereka bersantai di ruang keluarga, baik ibunya maupun sang ayah lebih banyak berbicara dengan bahasa batin.
Dalam hatinya merasa kesal namun Kellen tak bisa memaksa keadaan harus sesuai harapannya. Kedua orang tuanya berhak memilih untuk dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang yang mereka kehendaki.
TBC
Semoga terhibur, jangan lupa tap LOVE untuk pendatang baru, ok...
Salam sayang, author AQYa TRi