Part 6 Dua hati yang saling memendam rasa

1042 Words
~Selamat membaca~ Setiba di mansion utama, Gilen menatap bangunan megah yang dia tempati beberapa tahun ini. Di mana di dalam sana, kebebasan dan kemerdekaannya bukanlah sesuatu yang bisa dia peroleh dengan mudah. "Sampai kapan kamu akan menjadi seorang pria pengecut Gilen..." Gilen terkekeh getir mentertawakan takdirnya yang tak seindah pangeran di kisah kisah dongeng. Dengan langkah gontai Gilen mengayunkan kedua kakinya memasuki rumah mewah tersebut. Dan ya, dirinya di sambut oleh tatapan tajam sang kakek yang terasa menghunus hingga menembus tulang belakang. "Apa begini kamu di ajarkan? Mengingkari janji makan malam keluarga bukanlah sesuatu yang sederhana Gilen! Seharusnya bila kamu tak bisa menepati janjimu, paling tidak hubungi kami dan katakan apa yang membuatmu sibuk di luar sana." Sarkas Randall dengan suara berat. Laki-laki 72 tahun itu merasa jika cucunya tak pernah serius dalam hal apapun. "Pa.. mungkin Gilen sedang mengalami kendala di jalan apalagi sedang hujan deras sejak senja tadi." Bela Nazura dengan sedikit keberanian. "Apa kamu lihat merk mobil putramu, Nazura? Apa mobil Gilen memungkinkannya untuk memberikan alasan mogok di tengah perjalanan?" Sergah Randall pada menantunya dengan tajam. Nazura terdiam sambil menunduk dalam. Dia juga kesal namun saat ini Gilen lebih membutuhkan pembelaan, ketimbang ikut di cecar pertanyaan memojokkan darinya. "Maaf kek, aku mampir ke rumah teman dan lupa waktu. Lain kali tak akan terulang lagi, aku janji, maafkan aku." Sela Gilen menengahi. Walau ibunya juga menyebalkan, namun melihat sang ibu di bentak membuat hatinya tak tega. "Sudah seharusnya kamu meminta maaf, kami semua menunggumu seperti orang bodoh dan kamu malah menikmati waktu luang bersama orang lain." Sambar Randall tegas. "Maaf sekali lagi, aku lelah dan ingin beristirahat. Selamat malam semuanya, maaf atas ketidaknyamanan kalian malam ini karena ketidakhadiranku dalam makan malam keluarga." Ucap Gilen menekan kata keluarga dengan intonasi yang rendah namun penuh penekanan. Sofi sejak tadi hanya diam di sisi sang kakek menyusul langkah lebar Gilen menuju lift. Di dalam sana Sofi masih tak bersuara. Wanita itu merasa Gilen banyak berubah setahun terakhir ini. Laki-laki itu hampir tak pernah berbicara secara langsung dengannya. "Jangan bertanya apapun malam ini, aku sangat lelah," ucap Gilen saat melihat gelagat Sofi yang hendak mengatakan sesuatu. Sofi terdiam tanpa kata saat suara bass menghentikan apa yang akan dia sampaikan. "Baiklah, aku ingin beristirahat terlebih dahulu." Ucap Sofi akhirnya. Apa lagi yang bisa dia lakukan bila Gilen sudah menolak mendengarkannya bahkan sebelum mulutnya terbuka. Di dalam kamar mandi mewahnya, Gilen merendam tubuh letihnya di dalam bathtub berisi air hangat. Dengan tatapan menerawang, ingatan Gilen flashback ke 16 tahun yang lalu. Malam yang seharusnya menjadi malam untuk saling menyapa para alumni teman-teman SMA nya dengan tawa bahagia. Malah mengantarkan Gilen ke pelukan hangat seorang wanita muda di sebuah kamar hotel. Malam kelabu itu rupanya mengubah status Gilen setelah sembilan bulan kemudian. Sesosok bayi laki-laki terlahir dari rahim seorang pelayan hotel, yang tanpa sengaja Gilen tiduri dalam pengaruh minuman keras. Usia Kendes baru 17 tahun kala itu, terpaksa harus menanggung aib akibat malam panasnya bersama seorang pria asing. Gilen muda menolak untuk menikahi Kendes, namun demi nama baik keluarga, Gilen terpaksa menikahi Kendes walau tetap di rahasiakan kepada publik. Tak banyak orang yang mengetahui siapa Kendes dalam keluarga Gilen. Semua keluarga laki-laki itu selalu memperkenalkan Kendes sebagai pengasuh bagi Kellen hingga genap berusia 10 tahun. Gilen hanya akan menyentuh Kendes saat dirinya dalam pengaruh minuman beralkohol. Namun wanita muda itu tak pernah menolaknya meski di perlakukan bagai seorang ja lang. Kendes bertahan demi putranya. Dirinya hanya seorang wanita yang bahkan tak tamat SMA. Ijazah SMA yang dia punya merupakan ijazah kejar paket, agar status pendidikannya tak semakin membuat keluarga Gilen malu. "Kenapa kamu tak pernah meminta apapun padaku selama hampir sebelas tahun kita bersama, Kendes? Mengapa? Kenapa kamu tak pernah marah saat kamu aku hina di depan banyak orang tanpa perasaan? Apa di hatimu sama sekali tak ada aku di sana, walaupun hanya untuk menumpang di sudut hatimu? Kenapa membuatku terpesona jika hatimu tak bisa aku miliki sepenuhnya?" Sederet ungkapan hati Gilen bukan sekali dua kali laki-laki itu ungkapkan pada keheningan. Gilen sejatinya mencintai Kendes sejak lama, walau entah sejak kapan perasaan itu mulai dia rasakan. Namun melihat reaksi Kendes yang biasa saja bahkan tak pernah menunjukkan kecemburuan sedikit pun, saat dirinya membawa seorang wanita pulang ke rumah, membuat Gilen yakin Kendes tak pernah peduli padanya selain putra mereka. Itulah sebabnya Gilen melepaskan Kendes tepat di usia Kellen yang ke sepuluh tahun. Gilen berpikir Kendes akan lebih berbahagia bila terlepas dari laki-laki breng sek seperti dirinya. Namun melihat wanita itu bahkan belum menikah hingga kini, membuat Gilen bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya Kendes cari dalam hidupnya. Malam sunyi, di temani lampu kamar mandi yang temaram. Gilen merenungi nasib pernikahannya dengan wanita pilihan sang kakek. Melepaskan Kendes bukan sepenuhnya keinginan hati Gilen. Sang kakek memiliki andil atas status duda yang dia sandang selama kurang dari 2 bulan itu. Karena dua bulan setelah menyandang status duda, Gilen harus menikah dengan Sofi atau keluar dari lingkaran keluarga Admaja. ******************** Di tempat berbeda, Kendes tak dapat memejamkan kedua matanya. Ini bukanlah pertemuan pertamanya dengan Gilen, tapi pertemuan kali ini merupakan interaksi terdekat mereka setelah sekian tahun lamanya. Tentu saja memori lama yang berusaha Kendes kubur dalam dalam kembali menyeruak keluar. Rasa yang sudah hampir mati mulai tumbuh kembali. Bayangan tentang perjalanan pernikahannya membuat Kendes mengalami trauma panjang setelah perceraiannya. Itu sebabnya, Kendes selalu menolak cinta yang datang menghampiri kesendiriannya. Baginya Kellen adalah segalanya, dia tak ingin menukar kebahagiaan putranya dengan memiliki seorang kekasih apa lagi sampai kembali menikah. Tak mudah berbagi kasih sayang secara adil, pasti akan ada hati yang merasa terluka dan terabaikan walau tanpa sengaja. "Seharusnya kamu tak pernah menyapaku lagi, Gilen. Bukankah kita sudah bersepakat untuk menjadi orang asing setelah perpisahan kita dahulu?" gumam Kendes menyapu sudut matanya yang sedikit basah. Ada amarah di hatinya. Rasa marah atas rasa yang tak kunjung mati, pada mantan suaminya. Rasa yang tanpa dia pelihara, namun tetap tumbuh subur setiap harinya. "Sepertinya aku harus mulai mencari pekerjaan di tempat yang baru," lagi lagi Kendes bergumam kecil sembari memejamkan kedua matanya. Wanita itu bertekad untuk benar benar menjauh dari lingkaran keluarga Admaja. Sudah cukup baginya harus melihat Kellen setiap harinya, anak laki laki yang memiliki rupa menduplikasi sang mantan suami. TBC Semoga terhibur untuk tiga babnya ya teman teman.... Salam sayang, author AQYa TRi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD