“Ra, kamu mau kan nikah sama aku?”
Rara menatap sosok lelaki di hadapannya dengan tatapan binggung. Sebentar sebentar, bukankah lelaki di hadapannya ini katanya sudah punya perempuan yang ia sukai? Dan katanya tengah mempersiapkan pernikahan dengan perempuan itu? kenapa lelaki itu kini malah mengajaknya menikah? Apa ia salah dengar?
“Kamu mau menikah? Wah selamat ya!” ucap Rara sembari pura-pura tersenyum. Yah, ia hanya salah dengar. Lelaki itu tidak mungkin mengajaknya menikah. Mungkin lelaki itu tadi bilang, Ra, aku mau menikah. Bukan,mengajaknya menikah.
“Ra, aku mau nikah sama kamu? Kamu mau kan?” Rara semakin binggung. Tampaknya kali ini ia tak salah dengar, lelaki itu benar-benar mengatakan apa yang ia dengar kan? lelaki itu benar-benar mengajaknya menikah kan?
“Gus, kamu ndak ngeprank aku kan?”
Gus Al tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. “Nggak, aku serius. Aku beneran mau nikah sama kamu.”
“Tapi..” Rara menundukkan kepalanya, kemudian menggeleng. “Nggak Gus, saya tau. Kamu sudah suka sama seseorang dan akan menikah dengan orang itu.”
“Iya, Ra. Orang itu kamu.”
“Apa?”
“Kamu orang yang aku sukai dan aku inginkan jadi istriku.”
“Gus...”
“Aku udah nggak bisa nahan ini lagi Ra,” wajah Gus Al terlihat sangat sedih, ia seolah telah menanggung beban hidup selama bertahun-tahun. “aku udah suka kamu sejak kita kelas sepuluh,”
“Gus...”
“Aku sudah suka kamu, bahkan sebelum kamu menyukaiku.”
Apa-apaan ini? Apa semesta tengah membuka tabir yang selama ini menghalangi dirinya dan bayhaqi—pikir Rara. Gadis itu senang, bahkan senang sekali mendengar ucapan Bayhaqi. Tapi....ia juga bingung. Karena semuanya terjadi tiba-tiba. Baru saja hari ini ia ingin melupakan Bayhaqi, tapi..kenapa tiba-tiba Bayhaqi bilang menyukai dirinya? Tiba-tiba Bayhaqi mengajaknya menikah padahal pagi tadi, ia mendengar Bayhaqi akan menikah dengan orang lain. Jika kalian jadi rara, pasti kalian akan merasakan ini. Bingung yang menyenangkan. Terlalu terkejut namun takut percaya.
“Aku masih nggak percaya, sumpah kenapa bisa tiba-tiba sih. Njenengan bohongin kulo kan Gus?”
Gus Al menggelengkan kepala cepat, “aku serius.”
“Terus kenapa kamu dulu menolakku ketika aku kirimin kamu surat?”
“Terus aku harus gimana Ra? Ngajak kamu pacaran?”
“...” Rara diam.
“Jujur nggak Cuma kamu yang terluka waktu itu, tapi aku juga terluka Ra. Orang yang aku sukai dari dulu juga suka sama aku, tapi aku nggak bisa apa-apa, dan aku malah ngelukai perasaannya.
“Berarti anggapan temen-temen kalau kamu suka aku itu bener?”
“Ya. Dan aku paling sebel sama Viana karena uda bikin kamu deket sama Anas.”
Rara terkekeh, oh jadi waktu itu Bayhaqi cemburu? Makanya ngelarang dia pacaran sama Anas?
“Tapi waktu itu aku nggak pacaran sama Anas.”
“Iya nggak pacaran, tapi setiap hari Anas cerita tentang kamu terus.”
“Oh makanya kamu bilang yang nggak-nggak tentang aku ke Anas?”
Gus Al mengangguk, “Iya.” Sembari menatap Rara takut. “sebenernya tujuan aku njelekin kamu ke anas, biar dia jauhin kamu. Eh malah dia bikin drama dengan ngajak tawuran.”
“Wah, ternyata njenengan masih kayak anak kecil ya?”
“Kok aku? Ya anas itu.”
Rara tertawa kecil, dan Gus Al malu sekali jika menginggat kejadian itu.
“Terus kenapa kamu selama setahun terakhir nganggep aku nggak ada di dunia ini? aku mikirnya kamu marah dan nggak mau ngeliat aku lagi.”
“Emang.”
“Ha?”
“Karena semakin aku liat kamu, semakin aku pengen banget bilang tentang perasaanku.”
Rara sekarang sadar, jika selama ini tidak hanya dirinya yang terluka. Namun, lelaki di hadapannya juga sama terlukanya dengan dirinya. Ia pasti juga mengalami kesulitan seperti yang ia rasakan.
“Aku berniat untuk lupain kamu Ra, tapi ternyata kamu malah muncul lagi di hadapanku.”
“Sumpah aku nggak tau kalau ini pondok orang tua kamu, Bay.”
“Iya, aku tau. Tapi nggak usah ngurung diri di kamar demi nggak ketemu aku juga kali.”
“Kamu tau?”
“Kamu kira Umik nggak bilang ke aku kalau ada temen sekelasku yang mondok disini? Umik bilanglah. Dan kamu kira ngapain aku berkeliaran di pondok selama ini kalau nggak cari kamu?”
Rara tersenyum malu, oke. Gadis itu kini percaya apa yang Bayhaqi katakan.
“Dan akhirnya aku bisa nemuin kamu.”
“Terus selama ini kamu kemana?”
“Aku buat perjanjian sama Umik Ra.”
“Perjanjian?”
“Ketika aku habis ketemu kamu di bawah pohon waktu itu, aku langsung minta Umik buat ngelamar kamu. Tapi Umik masih ndak setuju. Beliau akan setuju kalau Buya juga setuju.”
“Buya?”
“Buya itu kakek aku. Makanya selama ini aku tinggal di pondok pesantren Buya yang juga rumahnya Syifa. Kamu nggak salah faham kan? Syifa itu sepupu aku.”
“Iya aku tau.”
“Heheh, kirain kamu salah paham dan cemburu.”
“Hii, aku nggak kayak kamu ya yang cemburuan!” Ucap Rara bohong. Haha.
“Kan itu dulu.”
“Yayaya, terus Buya uda ijinin?”
“Ya, makanya aku kembali. Aku uda dapet izin dari keluargaku Ra, kali ini aku akan meminta izin kepada keluargamu.”
Rara tersenyum malu, Rara mohon ini jangan mimpi. Rara mohon, setelah ini jangan ada sesuatu yang bilang jika apa yang Bayhaqi ucapkan hanya bohong. Rara mohon, semuanya berjalan sesuai keinginannya.
“Dan sebelum aku meminta izin kepada keluargamu, aku mau minta izin ke kamu dulu Ra. Kamu mau kan jadi istriku?”
Tanpa menunggu lama, Rara mengangguk.
Bayhaqi tersenyum senang, “aku nggak bisa janjiin bakal bikin kamu bahagia terus, tapi aku janji akan menemanimu selama sisa hidupku.”
“Hiks, alay banget.” Saut Rara yang membuat Bayhaqi tertawa.
“Aku serius Ra.”
“iya-iya. Janji kalau kita akan tetap bertahan sebesar apapun rintangannya?”
“Janji.”
Dan ketika keduanya sibuk melempar senyum malu-malu, pintu Umik tiba-tiba terbuka. Membuat keduanya terperanjat karena saking terkejutnya. Jantung Rara bahkan seolah-olah akan copot.
“Udah?” Ucap Umik dengan nada sedikit sewot. “Udah ngobrolnya? Dari tadi umik tungguin ko ngga selesai, selesai.”
UPS. Malu sekali!! Harusnya Rara sadar, jika mereka tengah di depan kamar Umik. Dan harusnya ia juga ingat jika Umik menunggunya untuk bicara.
“Maaf Umik,” ucap Rara.
“Nggak, kamu nggak salah. Yang salah itu Al! Udah dibilangin biar Umik yang bicara sama kamu, eh malah dia bicara sendiri. biar apa sii?? Biar keliatan romantis?” selama ini Rara tidak pernah tau, Umik marah. Tapi kali ini, melihat Umik seperti itu, membuatnya rindu pada Mamanya.
Sementara itu Gus Al malah terkekeh, tidak menampakkan wajah bersalah sama sekali. “Kan Al mau ngelamar calon Al sendiri Mikk!”
“Tuhkan! Tsk, hmm...anak jaman sekarang itu memang ya, gayanya itu hlo.”
“udah Mik, kita ke dalam aja. Katanya mau ngomong sama aku?” ucapku mencoba mengalihkan perhatian Umik.
“Oh iya, ayok!” Umik pun membuka pintu dan mempersilahkan Rara masuk.
“Mik, aku ikut.”
“Ha? Nggak boleh! Udah sana kamu ke kamar!” Ucap Umik pada anaknya dengan wajah kesal, ia pun menutup pintu tepat di hadapan Gus Al.
Haduuuh, Rara baru tau hubungan Umik dan Gus Al ternyata segemes itu.