bc

Pesona Sang Gus

book_age4+
2.3K
FOLLOW
71.5K
READ
possessive
goodgirl
drama
sweet
bxg
highschool
first love
school
spiritual
wife
like
intro-logo
Blurb

Cerita ini tentang kehidupan Rara di pesantren, yang menuntutnya untuk melakukan apapun sendiri. Tapi ia tidak menyangka, jika harus mencintai sendiri pula. Rara menyukai teman kelasnya di Madrasah Aliyah yang bernama Baihaqi. Tapi sayangnya, Baihaqi memilih mengabaikan perasaan Rara. Selama satu tahun ini, Rara mencintai Baihaqi dalam diam. Rara sering meninggalkan sepucuk surat untuk Baihaqi di loker meja lelaki itu, tapi tidak pernah ada balasan. Rara sudah mengamalkan doa-doa yang katanya bisa memikat orang yang kau sukai, tapi tidak pernah berhasil. Baihaqi tetap dingin, padahal Rara sudah kehabisan tenaga untuk berusaha.

Hingga suatu saat mereka bertemu kembali dan Baihaqi mulai jujur tentang perasaannya pada Rara. Mereka pun memutuskan bersama, namun banyak sekli rintangan yang menghadang. Akankah mereka masih bisa bersama?

Ini tentang satu kisah diantara beribu kisah cinta yang tumbuh dari doa berharap bahagia.

chap-preview
Free preview
Bab 1

Bab 1

Mager. Itulah satu kata yang mampu mendiskripsikan posisiku saat ini. Ya, aku benar-benar malas melakukan apapun. Bahkan untuk bergerak dari posisi tengkurap seperti ini pun aku malas. Apalagi jika mengingat Aba dan Umi tidak bisa datang menemuiku Minggu ini, membuatku bertekad untuk tidak keluar kamar, dari pada harus memendam iri ketika melihat temanku bisa bertemu orang tuanya.

Sejak satu tahun yang lalu aku memang tinggal di pondok pesantren. Pesantren yang berada di salah satu kota di Jawa Timur. Tinggal di pesantren membuatku belajar banyak hal. Belajar untuk mandiri, belajar melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan di rumah dan belajar untuk bisa bertahan ditengah-tengah kultur yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Jika di rumah aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah apapun, lain halnya dengan di sini. Setiap hari aku memiliki jadwal piket kamar, jadwal piket rumah pengasuh pondok atau biasanya disebut rumah ndalem, dan jadwal piket gedung asrama. Tadi pagi selepas subuh adalah jadwalku piket rumah ndalem. Mungkin karena itu pula, sekarang badanku sakit semua.

Dengan posisi yang sama, sesekali tanganku memijat kakiku. Engh..Capek sekali. Tapi rasa capek itu tidak masalah jika dibandingkan dengan kebahagianku bisa melihat Baihaqi pagi tadi. Aku melihatnya tengah sibuk mengurus kolam ikan Pak Yai yang berada di area belakang ndalem. Dia terlihat sangat tampan, padahal aku yakin dia belum sempat mandi. Penampilannya yang hanya menggenakan kaos polos hitam dengan kerah v neck dan sarung batik bewarna coklat, berhasil merenggut segala perhatianku. Bahkan hingga sekarang, karena sosoknya itu malah berlari-larian di pikiranku. Baihaqi adalah cowok pertama yang membuatku begini, salah satu support system yang membuatku bertahan di Pondok.

Aku melihat Baihaqi pertama kali ketika pertengahan tahun kemarin. Ketika aku tengah pusing-pusingnya ujian pondok dan ujian pertengahan semester di sekolah. Ketika aku tengah belajar di kantin, dan melihatnya berjalan bersama teman-temannya. Aku melihatnya tersenyum bahagia, namun entah kenapa aku yang melihatnya turut merasakan kebahagiaan itu. Aku yang tadinya dipusingkan dengan segala materi yang harus kuhapal, menjadi sedikit bisa bernafas lega. Hanya dengan melihat senyum lelaki yang bahkan baru ku ketahui sosoknya. Aneh memang, tapi itu benar adanya. Sejak saat itu, aku selalu mencari keberadaannya. Di kantin, di jalan menuju sekolah, di perpustkaan, di lapangan, bahkan di tengah-tengah kerumunan para santri ketika malam jumat, karena hanya malam itu santri putra dan putri dapat bertemu. Kadang bisa melihatnya dari dekat, kadang pula hanya bisa melihat punggungnya. Sekalipun begitu, aku sangat senang.

Di tahun kedua ini, aku berharap bisa sekelas dengan Baihaqi. Agar aku tidak harus bersusah payah lagi hanya untuk melihatnya.

Selain Baihaqi, di Pondok aku memiliki support system yang lain. Mereka adalah Viana, Lida, Sofa dan Ani. Kita berlima satu kamar yang berisikan hampir 20 santri putri. Kamarnya pun tidak besar, hanya 10m x 10m. Di kamar seukuran itu, terdapat lemari besar dengan 20 pintu. Di setiap pintunya, ada nama setiap santri. Selain lemari, di kamar itu ada setumpuk kasur lipat yang di letakkan di ujung kamar dekat lemari. Kasur itu, akan digelar jika waktu tidur tiba. Ya, di pondok tidur hanya beralas kasur lipat. Ada pula baju-baju yang di gantung di pipa panjang di bagian atas, baju itu jika digunakan harus diambil dengan kayu atau biasanya disebut getek. Di dekat pintu kamar, ada rak dimana tempat gayung warna-warni berjejeran. Ada yang warna kuning, merah muda, hijau, dan biru. Gayung-gayung itu, berisikan perlatan mandi setiap santri. Kemudian di samping rak gayung, ada rak sepatu dan sandal. Jika malam, rak itu dimasukkan tapi jika pagi, rak itu akan diletakkan di luar. Sungguh, indah sekali kan tinggal di pondok pesantren? Mengajarkan kita untuk hidup bersama manusia lain. Tidak boleh egois dan harus sabar. Karena hidup di pondok pesantren, apa-apa harus antri. Makan antri, mandi antri, bahkan mau kencing pun harus antri. Yang paling menyakitkan itu, kalau mau bab tapi semua kamar mandi penuh. Harus nunggu, sampai rasanya nggak mau bab lagi.

Dan keempat teman yang kusebut support system itu kini entah kemana. Karena kamar sepi. Hanya ada aku dan tiga santri lain yang sama sama hanya tiduran. Mungkin nasip mereka sama denganku, yang tidak disambang keluarganya.  Huhu. Sekalipun sudah mondok satu tahun, aku masi saja rindu Mama Papa. Sayangnya, mama papa jarang sekali datang ke pondok atau biasanya disebut sambang. Katanya sih, biar aku terbiasa. Terbiasa merindu si iya.

Aku beranjak dari rebahanku. Kemudian melipat kasur dan kembali meletakkannya di tempatnya. Sebaiknya aku tidak boleh malas-malasan dan meratapi nasip seperti ini. Pertama, aku harus mandi dulu. Sekalipun hari ini aku tidak bertemu Papa Mama. Aku mengambil handukku yang kuletakkan di pipa panjang, kugunakan getek untuk meraihnya. Kemudian kuambil gayung bewarna biru yang ada namaku. Baru saja aku hendak pergi ke kamar mandi, ada Mba Fatim kepala komplek B masuk ke dalam kamar dengan wajah bingung. Aku menatapnya khawatir.

"Tolongin sebentar dek," ucapnya padaku dan ketiga teman kamarku.

"Kenapa Mbak?"

"Ada masalah apa?" ucap teman kamarku yang bernama Mba Ain dan Mba Eni bersautan.

"Kamar sebelah ada yang sakit, temen kamarnya semuanya ke pendopo, kalian berempat tolong anterin ke ukp ya. Mbak Fatim harus ngurusi santri baru."

Ukp adalah unit kesehatan pesantren, yang letaknya jauh sekali. Harus membutuhkan beribu-ribu langkah sampai kesana. Melewati rumah ndalem, gedung serba guna, aula besar dan masjid. Ukp berada di dekat asrama putra. Aku yang sadar jika ukp berada di dekat asrama putra pun sontak bersemangat.

"Ayo mbak, mana anaknya!" ucapku sembari berjalan mengikuti Mba Fatim. Kalau gini kan bisa satu dayung dua pulau terlampaui. Bisa bantu teman dan siapa tau bisa bertemu Baihaqi. Wkwk

Ketiga teman kamarku yang lain berjalan di belakang.

Setelah tiba di kamar sebelah, kami berempat pun segera membantu Lilis untuk bangun. Aku dan Mbak Ain membantu memapah Lilis. Mbak Eni menuju kantor putri untuk meminta mobil ambulan agar tidak usah jalan ke upk, dan Mbak Zaid mengambil selimut dan beberapa barang yang lain. Untungnya, mobil ambulannya ada, sehingga kita bertiga tidak perlu jalan menuju UKP. Lilis terlihat sangat lesu, wajahnya pucat, katanya sudah sehari tubuhnya tidak mau dimasuki makanan. Jika Lilis memakan sesuatu, ia pasti akan muntah. Mungkin itu alasannya, gadis itu sampai tak punya daya untuk berdiri.

"Kayaknya usus kanu bermasalah deh lis," ucap Mba Eni setelah mendengar penjelasan lilis.

"Kamu ndak tawar makan pedas ya?" Tebak Mbak Zaid.

"Iya," ucap Lilis.

"Lah iku penyebabnya." Simpul Mbak Ain.

"Aku kamarin makan Mi gacoan, terus beli yang paling puwedes. Uenak mbak, tapi nggak taunya jadi gini.." jelas lilis.

"Mene mane baleni mane yo?" besok-besok lakukan lagi ya, kata Mbak Ain sarkas.

Lilis hanya nyengir. Aku pun turut tersenyum. Mobil ambulan sudah berhenti, tanda jika kami sudah sampai di upk. Jika naik kendaraan, ke upk membutuhkan sepuluh menit. Bayangkan jika jalan kaki? Mungkin membutuhkan setengah jam sembari memapah Lilis. Pondokku ini memang lumayan besar. Sekalipun berada di plosok, fasilitasnya cukup memadai. Bagunan disini pun masih bercorak jaman dulu.

UKP hari minggu lumayan sepi, di kursi tunggunya hanya ada tiga santri yang masih menunggu untuk dipanggil. Biasnya, jika hari aktif, kursi tunggu yang kuhitung berjumlah dua puluhan itu penuh. Aku dan teman-temanku pun memilih duduk di belakang. Agar kami bisa duduk berdekatan. Setelah duduk, aku mengamati sekitar. Tiga santri itu santri putra semua. Salah satunya, ada yang sangat aku kenali punggungnya. Jantungku berdetak kencang saat menyadari itu punggung siapa. Itu punggung Baihaqi. Ia tengah mengenakan jaket MU bewarna merah, dan sarung yang sama dengan yang kulihat pagi tadi. Disampingnya ada kresek hitam yang aku penasaran apa isinya.

"Eh kok kita nggak ada yang ambil nomer urut si?" Mba Ain memecahkan keheningan.

"Oh pakek ambil ya?" tanya Mba Zaid.

"Iyaa! Kalau nggak ambil kita nggak tau dong masuk kapan?"

"Yauda, biar aku aja." Ucapku sembari berjalan menuju meja yang diatasnya berisikan setumpuk nomor. Meja itu berada tak jauh dari tempat Baihaqi duduk. Ketika aku berbalik, aku mengambil kesempatan itu untuk melirik sosoknya. Yang ternyata....subhanallah, tengah sibuk menghafal Alfiyah. Aku hampir saja terpaku di tempat, jika saja petugas UKP tidak menganggu momen terkesima ku dengan menerikai nomor urutan. Ternyata itu nomor urutan Baihaqi. Ia masuk sendiri, dan membuatku menebak-nebak, dia sakit apa ya? Kok kelihatannya dia baik-baik saja?

"Eh ada yang kenal nggak tadi siapa?" ucap Mbak Eni ketika aku sudah duduk di tempatku semula. Aku masih belum mengerti siapa yang dimaksud Mbak Eni.

"Siapa? Yang baru aja masuk ke bilik?" tanya Mba Ain.

"Iyaa, ganteng banget." ucap Mba Eni bersemangat.

Aku kembali tercengang, rasanya aneh sekali jika ada yang bilang kalau Baihaqi tampan selain aku sendiri.

"Kayaknya dia anak SMA deh, soalnya aku gaperna liat dia di MA." Ucap Lilis.

"Masak? Kok aku nggak pernah liat?" Ucap Mba Ain heboh.

"Kayaknya wajahnya nggak asing." Mba Zaid menyauti, dan aku cukup terkejut. Apa Mbak Zaid kenal Baihaqi?

"Sapa Zai namanya? Kenal ga nggak kamu?" ucap Mbak Eni.

"Kok kamu jadi kepo en?" Ucap Mbak Ain, ngegas.

"Kepo aja sih." ucap Mbak Eni sembari nyengir.

Apa diluaran sana juga banyak cewek yang suka sama Baihaqi? Apa tidak hanya aku yang minta pada Tuhan untuk dijodohkan dengan baihaqi? Baihaqi memang cukup tampan, dan mumgkin saja tidak hanya aku yang menyukainya.

"Oh aku ingat! Dia dulu adik kelasku pas di mts." Ucap Mbak Zaid tiba-tiba.

"Ha? Jadi dia dari dulu uda mondok disini? Namanya siapa??" mba eni masih saja kepo dengan namanya.

"Lupa namanya, tapi kabarnya dia keluarga ndalem."

"Apaaa???"

Aku, Mbak Ain, Mbak Eni dan Lilis sangat terkejut dengan apa yang baru saja kita dengar. Pasalnya, kalau ada yang nyebut keluarga ndalem, itu sangat...sangat...sakral. Bagi seluruh penduduk pondok pesantren Al-islah, keluarga ndalem itu layaknya sebuah kerajaan yang harus dihormati dan diidolakan karena mereka semua keturunan orang alim.

"Berarti dia Gus? Anaknya Pak yai yang paling kecil?" tanya Lilis.

Pak Yai memiliki enam anak, empat anak perempuan yang biasanya kami sebut Ning. Ning Aufa, Ning Kiya, Ning Nadya, dan Ning Aisha. Sementara dua yang lain adalah laki-laki. Mereka biasanya kami panggil Gus. Gus Ahdan anak pertama dan Gus satunya anak terakhir yang aku tidak tau siapa namanya. Karena kabarnya, anak Pak Yai yang terakhir ini jarang di rumah. Sudah satu tahun di sini, aku tidak pernah melihatnya dalam acara haul pondok atau acara besar pondok lainnya.

"Bukan, aku pernah liat Gus Akbar sekali. Nggak kayak gitu wajahnya, kurang ganteng." Saut Mba Zaid. Diantara kami berempat, hanya Mbak Zaid saja yang sudah mondok disini bertahun-tahun. Wajar jika dia tau, segala macam informasi disini.

"Hmm jadi dia siapa?"

"Sepupunya Gus ahdan, anak adiknya Pak Yai." Jelas Mba Zaid yang membuat kami beroh ria.

"Gada kesempatan, mundur aja sebelum berjuang." Ucap Lilis sembari menepuk punggung mba Eni yang ada disebelahnya.

"Bener kamu lis, yauda ganti topik aja."

Entah kenapa, moodku yang tadinya baik-baik saja menjadi buruk. Kenyataan Baihaqi masih bagian dari keluaraga ndalem membuatku takut untuk terus menyukainya. Karena aku takut kisah ini berakhir tak indah. Karena jika Baihaqi keluarga ndalem, semakin tipis sekali kesempatanku bisa berakhir bersamanya.

Beberapa menit kemudian Baihaqi sudah keluar dari bilik pemeriksaan, ia pun berjalan menuju keluar UKP. Aku menatapnya dari belakang, dengan tatapan sedih. Mungkin seharusnya aku sadar diri ya Bai....aku ini siapaa jika kamu keluarga ndalem. Aku hanya santri biasa yang bahkan tidak menawan. Selepas kepergian Baihaqi dari UKP, aku kembali mencari Baihaqi di tempat duduk yang dIa duduki tadi. Aku ingin melihat bayangannya yang tertinggal. Namun aku malah melihat kantong hitam yang tadi dipegang Baihaqi tertinggal disana. Apa Baihaqi lupa? Tiba-tiba tubuhku beranjak dari dudukku, dan menuju kursi yang tadi Baihaqi duduki. Mengambil kantong hitam itu, dan berjalan cepat keluar UKP. 

Apa aku sudah gila? Kenapa aku berniat menyerahkan ini pada Baihaqi? Kita berdua kan tidak saling mengenal?  ucap diriku pada diriku sendiri. 

Ah, gpp. anggap saja saling membantu. Ucap diriku yang lain pada diriku sendiri. 

Aku pun berjalan dengan cepat menyusul baihaqi. Namun langkahnya yang lebar dan langkahku yang kecil membuatku susah menyusulnya. 

"Baihaqiii!!!" Aku berteriak cukup keras, dan berhasil membuat Baihaqi menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik menatapku heran.

"Ada apa? siapa ya?" 

Lihatlah, disaat aku sibuk menyebut namanya dalam setiap doa, dia malah tidak tau namaku. 

"Aku Rara, ini punyamu kan?" Aku menunjukkan kantong kresek bewarna hitam itu.

Wajahnya yang sejak tadi tidak enak dilihat itu seketika terlihat bahagia. Ia tersenyum manis, membuat jantungku berdesir-desir. 

"Wa, Makasi ya." Baihaqi kembali tersenyum. Kali ini senyumnya hanya untukku. 

Hari ini, pertama kalinya aku mendengar suara Baihaqi. Pertama kalinya, aku bisa melihat senyum yang hanya untukku. Dan mungkin ini pertama kalinya Baihaqi sadar, bahwa ada aku di dunianya. 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Another Life - The Scandal

read
41.2K
bc

The Bad Girl's Baby

read
72.2K
bc

Caliana, Bukan Istri Cadangan

read
118.3K
bc

My Soulmate Sweet Duda (18+)

read
994.9K
bc

Istri Kecil Guru Killer

read
124.8K
bc

KAMAR SEBELAH

read
108.9K
bc

Merah Hitam Cinta

read
277.9K