Arya masih mematung tidak jauh dari dinding yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia seakan tidak percaya kalau jalur yang ia pilih itu adalah jalan buntu. “Nggak ... nggak mungkin, kalau itu jalan buntu! Apa iya aku kurang fokus? aku harus memfokuskan pikiran dan berusaha menenangkan diriku, aku akan menutup mata, lalu setelah semuanya tenang, aku akan membukanya kembali.” Arya berusaha untuk menutup matanya, memfokuskan pikirannya, dan mengatur pernapasannya untuk menenangkan jiwa juga pikirannya. Setelah beberapa menit berlalu, Arya kembali membuka mata, tetapi dinding itu masih berdiri dengan kokoh di hadapan Arya. “Apa? dinding itu masih ada di sana?” mata Arya terbelalak tidak percaya. Tak lama kemudian Arya kembali mendengar suara nyanyian Syila. Dia merasa frustrasi, tapi dia ter

