Dentang-denting senar piano bergema di ruang yang cukup lega. Jari-jari tangan memainkan alunan Alpha by Vangelis (lagu kosmik) dengan irama low-nya, di mana wanita ini duduk dan bajunya putih bahu kembang, bawahan hitam, setengah formal.
Di luar rumah tampak terparkir dua kendaraan, sedan hitam di depan Navara yang baru datang.
"Sini sekalian sama tas kamu," pinta Yusuf setelah membuka pintu mobil, mengambil tas gendong tuannya di pangkuan Seha.
"Oh, iya," Seha turun dari mobil dan segera melepaskan tas body-crossnya. "Biar aja sih Bang. Emangnya mau ditaro di mana?"
Yusuf tak menjawab. Dia langsung pergi membawa dua tas yang ada, masuk rumah meninggalkan para bocah di serambi yang cukup lega ini.
"Yuk? Kita ketemu Cintya dulu, Sar."
Teni mengajak sambil meraih tangan Seha. Tanpa tanggapan, Teni mengandengnya naik teras.
"Eh. Sodara lo sekolah di mana emang, Net? Cowok apa cewek? Itu Mercedez-nya dia?"
Seha sempat melihat sedan mengkilat hitam itu, namun pertanyaannya tidak dijawab. Teni sudah menyeretnya masuk rumah.
Musik berhenti mengalun ketika Teni dan Seha datang. Si wanita berdiri menjawab salam yang Teni ucapkan. Senyum tersungging di wajah manisnya, perempuan ini berusia sekira 39 tahun.
"Walaikusalam. Mama suka ini. Tidak ada debu, sampah, apik tertata. Hhhss.. mmh. Harum kamarmu masih di sini, Tuan Puteri."
"Khan udah gue bilang bisa, Cin. Ngurus rumah kek gi-"
Teph!
Telunjuk menempel di bawah kerah Teni.
"Siapa?" tanya wanita ini agak membungkuk.
"Teni, Cintya. Siapa lagi?" jawab Teni sambil bergerak ke depan Seha, membelakangi si teman.
"Bukan kau tapi dia, Tuan. Yunita-mu?"
"Hhh.." hela Teni, menatap lawan bicara, memperhatikannya.
"Hm. Kurasa iya teman es-em pe-mu. Ini paling Mama nantikan, Puteriku. Kau berhasil menemukan soul.. mate. Inilah kenapa Mama berkunjung."
"Jadi?"
"Boleh Mama tanya Maesaroh?"
"Gak Cin. Gak ada interview eksklusif. Nih aset Teni sendiri. Bukan Yuyun, tapi asli. Nih emang orangnya, Cintya."
Senyum mengembang demi kalimat yang keluar, yang Teni jabarkan.
"Hm. Aset kamu ya? Jadi Mama gak boleh tanya-tanya dia?"
"Gak. Pokoknya, gak."
"Apa Mama keliat seperti Priyanto, eyangmu itu Puteriku? Ini menyebalkan. Yaa. Baiklah bila itu yang kamu sangka, Puteri Gendutku. Mama senang liat kamu merawat Pivi."
Wanita ini menekan beberapa tuts piano. Tling.. tlang.. tling.. Tluung!
"Hhh. Tiap ari gue rawat. Tapi khan gak cuma Pivi perabot di rumah ini, Cin. Jendela, pintu, sofa, tangga, piring, gelas, lantai.. Yang bikin capek tuh gajiannya."
Cintya si kalem cantik senyum tak menimpali. Selesai dengan piano kesayangannya, dia menatap tangan para bocah.
"Ini tak terlepaskan. Aset kamu ya? Imbangan? Bagaimana bila temanmu ini kelak ketakutan?"
Teni membiarkan sang ibu mengamati tangannya. Lalu, "Sarah udah teruji, Cin. Dia malah jail, minta dicium lagi."
"Hm?"
Pipi Seha memerah sambil nunduk.
"Sarah ya? Ketimbang kamu panggil Saroh, nama Sarah lebih asik. Kau memang memikirkannya, Puteriku."
Cintya menggiring-giring rambut Seha. Poni di situ menghalangi, Cintya menyelipkannya ke sisi kepala Seha.
"Hai Sarah. Kamu cantik sekali."
Cintya menatap Seha agak lama karena anak itu hanya senyum-senyum di depannya, tak banyak bicara. Cupp! Cintya mendaratkan bibirnya di kening yang ada.
"Maafkan kami yang dulu ya, Sarah? Kebanyakan dari kami adalah analis. Kami mungkin tak ingin didahului. Maka sebelum merah terjadi, itu harus kami cegah Sarah. Selamat datang di rumahmu ini ya, Sayang."
Cupp!
"Priyanto belagu. Sok tau."
"Baiklah Tuan Puteriku. Akan kusampaikan padanya. Eyang menyenangi ocehanmu. Apa hanya itu saja, Tuan?"
"Sar, si Botak nih hobi cari musuh. Dia kemudian merekrut targetnya. Pengennya pensi, tapi belum ketemu alesan. Ya kalo mau berhenti gawe berenti aja ya, gak usah cari masalah."
"Enak di sini sama keluarga besar lo, Net. Makasih Ma. Udah nerima Sarah di sini."
"Cintya, Sayang," ralat wanita ini, berseri-seri. "Biarkan kami menampung banyak opini dengan bentuk komunikasi tersebutkan. Selain di Moon Park, inilah lapangan kerjaku."
"Tapi.." gantung Seha, bingung.
"Ssstt! di kompleks sono tuh rumah dia Sar. Bukan rumah sih, tapi sirkuit. Kita cuma boleh jadi anaknya di Moon Park."
"Oh. Hhh-hh! Gue orang baru sih. Dari planet Mars. Abisnya Bumi suka menarik perhatian gini, Net."
"Selamat datang di rumahmu, Sarah. Aku masih di sini bila kau perlu sesuatu, Puteri Gendut. Seperti biasa, hanya bicara harga properti."
Cintya kembali duduk di depan Pivi.
"Love you Cin," ucap Teni.
"Lop yu tu, Puteriku."
Wessh! Navara sudah kembali ke jalanan selepas magrib ini.
Teni dan Seha berpakaian sama, baik warna kaosnya maupun celana mereka.
Di kursi itu Seha duduk memperhatikan layar hape, sementara Teni curhat sambil menyetir. Entah mereka hendak main ke mana, Seha masih cengar-cengir menatap foto selfie seorang siswi gemuk berseragam SMP di sebelah Cintya.
". . Seminggu abis kepindahan Yuyun, gue dibawa ke Roland, udah gak tinggal di Mun Pak lagi. Isi kamar diangkut semua ke sana. Itu suruhan si Priyanto. Si botak. Papa-mama emang gak bisa nolak permintaan Eyang. Si botak gak suka cucunya manja, pengennya sosok yang berontak. Iya sih mandiri. Lah terus di kelas gue, masih ada bangku yang sebenernya conflict home kami, Sar. Bayangan Yuyun. Gue lalu dikasih berkas proposal, ada selusin profile dan foto cewek. Mereka emang mirip lo. Korporasi jadi perhatian kek gitu ke gue. Akhirnya gue mulai tau diri. Siapa Yuyun."
"Tapi diam-diam, lo gak bisa terus sembunyi. Kepikiran Yuyun terus sampe berubah kurus gini?"
"Eh gila, lo tau aja ya. Ada ige Kerin? Dia punya medsos gak? Gue penasaran deh sama Kerin lo, Sar."
"Dia galak. Gue sempat mikir, nama Cintya tuh dia. Taunya itu si Mama. Udah. Kerin gue emang lo seorang. Kita satu otak."
"Mama dilarang punya anak lagi. Gue gak ada sodara, Sar. Lo aja banyak yang mirip kok."
"Kapan pertama kalinya lo liat tampang gue, Net?"
"Es-de, kelas tiga. Nama dia Sahara. Sumpah deh lo tuh manis banget, Sar."
"Ya lo gak usah minder. Udah kece, tajir. Bau lo gak abis-abis. Kita samaan lagi pengen sebebas ini bareng bucinan."
"Yuyun nolak gue, Sar. Gue harus tau diri. Kata Mama juga suatu saat gue bakal ketemu imbangan idupnya. Gue harus mulai bersaing sama Yuyun. Dia juga punya mansion yang lagi dilelang katanya."
"Daerah itu banyak villa juga khan? Hebat ya masih sekolah udah pada bisnis properti."
"Tuh rumah lagi direbutin para pembelinya, Mama sengaja nyerang pelelangan sebelah, pamer harga aset segitu. Secara gak langsung itu harga bodi gue, bonusnya tuh rumah. Foto cewek yang selusin itu para pembeli. Buka deh folder buyer my heart. Muka lo semua, ada di situ. Gue bingung mau jual diri apa tidak. Pasti lo gak setuju khan?"
Seha yang masih memegang iPhone Teni segera mencari file gambar yang disebutkan. Setelah ditemukan dan discroll-scroll, Seha suprise.
"Njir. Haha. Gue siapa ya? Pada kembar gini orang. Beneran ya, nih planet Bumi?"
"Mama nunggu ini Sar. Kami gak perlu duit milyaran buat dapet hati lo. Udah jelas muka lo bukan editan. Ada emaknya, bukan produk tabung. Lo komoditi ekspor. Gue jelek."
Entah berapa lama perjalanan mereka, mobil telah terparkir menghadap pantai. Agak jauh dari situ, lokasi berair, Teni membuang sesuatu. Seha bertanya, kenapa dirinya tak ikut dibuang seperti koin tadi.
"Beda kerajaan. Lo dari Mars. Kalo balik ke laut, gak bakal diakuin sama mereka," kata Teni berjalan menggandeng Seha.
"Ke mana lagi kita sekarang? Goa Majapahit apa pemandian tujuh-rupa kembang?"
"Udah gitu doang kata si botak. Kita bangun tenda sekarang. Nih kemping rekomen si Mama. Beda banget khan, ide perayaan anak sama ortunya?"
"Iya beda. Moga aja hari depan ada kalender flat earth, yang merah semua itu. Biar kita bisa terus bareng kek gini, Net."
"f**k. Lo minta gue ganti kelamin hari lo pulang kampung? Susah ngerubah tabiat si Botak, Sar."
"Baru juga ketemu. Masa iya sih kita harus pisah lagi?"
"Lo harus tinggal di Bumi. Abaikan panggilan mudik. Gue marah. Liat gue sekarang."
Teni menyoroti Seha dengan lampu hape. Orang yang digandengnya menunduk menahan tawa.
"Hhh-hh! Galak banget."
"Gue takut sama tawa lo ketimbang pantai gelap nih Sar. Jailnya nagih banget. Gombal lagi dong, Sayang."
"Oke. Tiap gue minta dibunuh tuh artinya love you Net. Bukan Buaya empang. Kita udah lebih dari temen. Suatu saat bakal ada rasa jealous. Moga aja gak terjadi."
"Ya jangan. Kalo kejadian, lo jangan sampe lewat sebulan ya perginya Sar."
"Kalo lewat sebulan artinya apa?"
"Lo positif selingkuh."
"Buset. Lo pilih setia daripada bales dendam? Pemaaf banget."
"Gue jelek Sar. Bagusan Kerin."
"Kalo udah nyampe tujuan gini mending kita samain visi deh, nyari laki bareng Net. Biar bisa trisom."
"Hahah! Boleh. Oke. Cowok adil khan ya? Gue mau ngomongin itu udah keduluan."
"Ya. Trus nih. Kitanya juga kudu cari modal dulu. Mandiri, Net. Kita bakal lama nemuin pria langka ini."
Mereka sampai di mobil. Keduanya langsung menurunkan barang-barang bawaan. Segulung matras, sebuah pemanggang plus paketan arang, kotak es isi bahan makanan laut, sekantong peralatan survive, sepancang tripod penerangan dan selipat besar tenda yang diikat bersama tongkat pipanya.
"Nih belum dibuka arangnya Net?" tanya Seha menyeka dahi, sudah berkeringat saat mengamati karung kecil, barang terakhir yang mereka turunkan.
"Iya."
"Jelas gak cocok buat api unggun. Khusus buat manggang aja ya."
"Ya udah. Cari bahan buat bonfire kita. Sekalian lo awasin sekitar kemah. Kalo ada apa-apa jerit aja."
"Gue gak bakal jauh-jauh dari lo kok. Siapa tau malah lo yang digentayangin duluan sama tempat ini. Jerit aja ya."
"Iya. Oke, ntar gue jeritin kalo emang ada penampakan sama gangguan alam."
Clikh! Teni menekan saklar lampu diode setelah mendirikan tripod jangkung tersebut. Dia membiarkan Seha pergi membawa senter jinjing, membiarkannya pergi meronda dan mencari kayu.
Teni menarik tali pengikat, lokasinya di samping kanan mobil, mulai kerja untuk membangun kemah. Tongkat dan pipa lengkung Teni pisahkan. Dia mendahulukan tenda, membuka lipatannya. Setelah parasut digelarkan dan diposisikannya, Teni mulai menyambungkan pipa-pipa yang ada.
Terang Bulan, desiran ombak, hawa dingin di lokasi tak diketahui ini sama sekali tak terasa hawa-hawa angkernya. Lokasi ini hanya tampak jarang dijamah orang sebab tidak terlihat sampah-sampah di sepanjang pesisir. Tempat ini berada di kejauhan jalan sepanjang hutannya.
Satu jam kemudian berlalu. Seha datang ketiga kalinya, menyeret seikat besar ranting yang dikumpulkan. Tali yang dia pakai bekas tali pengikat tenda.
Teni baru saja selesai mengisi mistik dengan air galon di belakang mobil itu, saat Seha sampai di depannya, mereka beradu bibir saling kiss meet. Cyuuph!
"Udah dulu Sar. Jauh keknya harus bolak-balik gini. Dah banyak. Nih kayu cukup sampe pagi juga."
"Haa. Lagi plis.." rengek gadis ini, langsung manja.
Teni mengabulkan permintaan Seha. Mereka cup-cap lagi.
Tenda telah dibangun, matras lesehan sudah tergelar, panggangan sedang mengapi, Teni dan Seha sudah duduk tanpa sepatu, sibuk men-tiir sosis, baso, dan sogut seafood dengan lidi-lidi sate. Keduanya tengah menyiapkan makanan bakar.
Sepatu mereka berada di tepi tikar dekat box pendingin. Di situ Teni baru saja menaruh wadah minumnya, lalu membereskan bungkusan bekas. Kini mereka sedang menunggu makanannya matang di pemanggangan. Seha sibuk membalikkan sate-sate tersebut.
Teni jejalkan sampah yang dikumpulkannya ke kantong yang ada di bak Navara. Dia membuka pintu, lalu mengambil bantal plus sweater.
Blugh!
Beres menutup pintu, Teni kembali ke matras menaruh barang bawaan. Sementara Seha menunggui makanan bakar mereka, membolak-balik, serta memisahkannya ke piring plastik karena sudah masak.
Teni duduk merangkul Seha dari belakang, menaruh dagu di taktak si teman sambil memeluknya.
"Hei.. Kok lo gak risih ya, gue meluk-meluk kek gini, Sar? Malah anteng bakar-bakaran."
"Hhh-hh. Geli tau."
"Gue belum ngapa-ngapain, baru nempel gini."
Seha bersandar sambil memindahkan panggangan satu per satu ke piring yang ada. Tangan satunya memegangi tangan Teni yang melingkar di perut. Seha lalu mengasongkan, menyuapkan satu sosis hangat pada Teni.
Klupp! Teni menggigit.
"Umm.." kunyah Teni.
"Lo mau gue tidurin?" tanya Seha, kemudian mencium bekas gigitan Teni pada sosis tersebut, dan Seha menggigit lalu mengenyam-nya.
"Mm. Enak, Net. Mmm," merem Seha, mengunyah sambil mengantuk.
Melihat tingkah Seha yang demikian cringe, Teni hanya senyum, bahkan langsung mencium pipi Seha yang gembul mengunyah makanan.
"Udah pernah nidurin siapa lo?"
"Meja warteg, meja kelas, perpus. Mmm, enak banget. Umm."
"Bukan nidurin, lo nih tukang ngiler."
Seha mengambil baso. Dia sodorkan lagi pada Teni.
"Bulet nih?" tanya Teni.
"Hhh-hh!"
"Kalo asli celaka nih."
"Hhh-hh! Apa sih?"
Hap! Teni segera mencaplok sebutir bulat itu. Lalu menempatkan kepalanya pada pelipis Seha sambil mengenyam-ngeyam.
"Lo pernah Net? Sama siapa tuh?" tanya Seha.
Teni cepat menggeleng kepala.
"Kita pernahin aja yuk, sekarang. Hhh-hh!" ajak Seha, to the point.
"Gue nge-kiss si Mama pas tidurnya itu. Dia bangun."
"Hhh-hh! Si Mama kaget?"
"Guenya mirip si Papa, jadi Mama tidur lagi. Cuek."
"Trus?"
"Tapi dianya pura-pura tidur. Di situ Mama nyuruh gue ngambil lipstiknya. Gue nurut aja. Abis diambilin, gue diem, duduk manis diolesin gincunya. Dia tidur lagi sambil cengar-cengir kek lo."
"Hhh-hh! Masa sih?"
"Iya anjrit. Gue bingung banget sama tawanya itu. Tapi, gue tetep liat kaca lagi. Tawa Mama malah makin gede coba."
Cupp!
"Hhh-hh!"
Seha hanya ketawa-tawa saat Teni mengecup pipinya lagi.
"Kalo mau.. ya tidurin aja gue tiap ari, Cantik."
"Hahah. Itu kata gue Ineeet."
"Terserah ya. Hm?" gemas Teni mengencangkan pelukan. "Hh?"
"Aaa! Hahaah!"
"Perkosa nih! Gue perkosa juga nih. Hh!"
"Aaarh.. Sakiiit! Hahaa! Hk. Aaargh.. Hahaa!"
Teni tetap mengelitiki perut Seha tanpa ampun. Dia tak berhenti. Tawa dan jerit yang ada pun makin keras.
"Aaa.. aaa! Haha! Salah pegaaang!"
Teni langsung berhenti. Dua tangan Teni sudah Seha tempatkan lebih ke atas, tepat kiri-kanan 'bantal' tersebut. Teni kebingungan.
"Hh, hh, hh. Iya pindah ke sini, Net. Hhh-hh!"
"Auh auh-nya mau sekarang?"
Seha masih senyum, tak menjawab selain membiarkan merah di pipi.
"Mau sekarang apa ntar?" ulang Teni.
"Ya. Pedes dulu deh. Hhh-hh.. Gue gak ada lipstik, Net. Saos. Nyeblak dulu apa langsung? Eh, aduduh..!"
Dengan jahilnya Teni menarik tubuh Seha ke belakang. "Keburu tumpah gue. Hhh-hh!"
Tanpa lanjut mengobrol, tanpa disuruh, masing-masing segera memposisikan diri. Teni lanjut rebahan, Seha balik menghadap Teni dan angkang di atas si teman, juga membantu Teni memposisikan bantal dalam nafas agak naik-turun.
"Hhh-hh! Gila, akhirnya gue diperkosa juga. Sini Sayang."
Seha abaikan komentar Teni. Dengan tenang dia menggiring rambut, menurunkan kepalanya demi bibir yang masih bahagia dan berseri.
"Cepet Say."
Teni memejam mata menyambut nafas kecil Seha tanpa peduli apapun lagi, mengangkat kepalanya agar cepat beradu dengan bibir yang ada. Ciyapp..! Caaph..! Cyuuph!
"Mhh!"
Entah apa yang Teni alami saat melenguh begitu. Dia tiba-tiba memeluk Seha, merapatkan dadanya. Seha bersuara akibat dekapan yang ada.
"A-akh.."
Teni duduk mengangkat diri, lalu mengeratkan kunciannya akibat dipicu desah Seha.
Dagu Seha terangkat atas pelukan yang ada.
Satu detik, dua detik, tiga detik.. sebelas detik..
"Hhh..!" lepas Teni kemudian, lemas, mendadak puas menekan tubuh lawannya.
Usai didekap, Seha mendelik. Lalu dia menatap wajah Teni. Seha mendapati mata sahabatnya agak berair, Teni secantik ini dicahayai Bulan saat diam melawan tatapan.
Seha lihat bibir Teni masih merekah, kembali dia labuhkan mulutnya ke tujuan, menyentuh kelembutannya, pemiliknya pelan menutup mata.
Cyu.. upp!
Saat Seha mencium Teni, lidah lawan bergerakkan, tubuh Seha lalu mengendik begitu saja.
"Mmhh. Caem banged.. Mhh!"
Seha duduk di pangkuan temannya hingga sedikit menjepit badan Teni. Sentakkan ini membuat Teni senyum.
"Hhh-hh.. Gue jelek tau."
Seha tak peduli, hanya memaju-majukan duduknya. Teni membiarkannya, diam menatap bulu mata Seha yang rapat basah.
"Eaa.. Kuda-kudaan," komen Teni. "Tarik maaang.. Hhh-hh!"
Seha beringsut dari duduknya, rebah di samping Teni dengan wajah sudah merah-merah.
"Ih bego. Napa berenti, anjrit. Hhh-hh!"
"Hikk. Lagi deh.. gencet gue Net. Tadi enak banget pijetannya."
Seha menyeka-nyeka mata, lalu tangannya melingkari tubuh Teni lagi. Teni segera membaringkan diri.
"Lo kuad banget, Sar.. bisa nahan kangen gue."
"Kapan aja gencet ya. Jangan dilepas Net."
"Masih lemes Cantiiik.. bukan pipis biasa. Hhh-hh..!"
Seha senyum, Teni berseri memainkan bulu mata Seha, menatapnya tanpa bosan. Seha bergeser ke posisi lebih dekat, menaruh kepalanya ke bantal yang sama.
"Kapan level tenda kita Beb?"
Sssrr.. Tak dijawab, Teni hanya mengigiti bibirnya sendiri sambil memainkan bibir Seha.
Tampaknya, objek satu itu lebih sering Teni perhatikan. Kesegarannya seperti tak pernah pudar, warna dan ranumnya masih sama cerah dengan warna di ruang perpus, memuaskan. Lalu membingungkannya, seperti tak pernah membekas, terus menggodanya di mana ada level-tenda seperti kata pemiliknya tadi.
Teni ungkap rasa yang ada dengan kata love-you-Sar. Dia tak percaya bibir itu miliknya seorang. Melihat saja sudah membuatnya lemas, tumpah membekas, apalagi nanti di level tenda. Saat mengulum Seha, Teni tak bisa lagi berkata sadar sewaktu melepaskan semuanya. Teni memang ingin selalu menyatu dengan karakter seramnya itu.
Sssrr.. Wrrrss..
Mereka saling diam menikmati bunyi-bunyi desir malam, ombak-ombak itu. Seha sudah mengemut ibu jari Teni.
Empunya tangan bergetar pundak atas aksi temannya.
Teni biarkan hangat mulut Seha membasahi jarinya.
"Jangan pergi lagi ya Sar. Sahara udah segede lo ini di peristirahatannya. Dia bayi tabung."
"Hu um."
"Hhh-hh. Najis ish."
Seha tak peduli dan terus mengemut.