Bab 1
Metafisika. Rak buku satu ini ternyata ada pengunjungnya. Juga bisa untuk mengintip murid lain yang ada di meja baca, dan siswi ini pun senyum mengamati objeknya. Lalu dari sekian banyak buku yang ada di lemari, diambillah buku berjudul Levitasi. Mungkin memang berkaitan dengan fisika-lain, minat bacanya.
Siswi ber-tagname Teni Sarasvati ini membuka halaman, langsung ke bagian tengah isi buku. Dia berputar badan, membelakangi rak buku.
Teni sedang pura-pura membaca.
"Hiks.. Napa lo ke sini? Ketauan orang ntar. Mampus gue. Hiks, hiks.."
Kalimat yang ada, tertangkap kuping Teni. Namun gadis rok putih ini hanya lanjut membaca, membuka satu lembar halaman. Srekh! Dia kembali konsen dengan bacaannya, mengabaikan kegusaran akibat monolog tak jelas tadi.
"Gue bilang gak papa. Hiks. Iya, ih.. Lagi pengen sendiri aja. Hiks."
Perpustakaan begitu sepi sehingga suara yang berlangsung terdengar jelas di telinga Teni, radius terdekat narasumber.
Walau hanya mereka bertiga di ruangan, satunya lagi petugas perpus, Teni menikmati kegiatannya menguping. Tapi..
Hening. Tidak ada suara yang keluar selain sengak-senguk.
"Hiks.. hiks.."
Teni langsung menutup buku. Kleph!
"Fake.."
Selesai menaruh buku bacaan, Teni memperhatikan lagi orang yang ada di meja baca itu. Kali ini siswi cengeng mendapatinya, lalu dia duduk menaruh dagu di meja.
Wajah yang Teni perhatikan kembali terhalang buku yang diberdirikan.
"F*ck. Tau aja.."
"Hhh-hh."
Terlihat oleh Teni getaran pundak si gabut berlangsung saat mendengar gumam umpatannya. Rona di wajah Teni berubah merah. Siswi berduka itu sudah tahu dimata-matai olehnya, masih terus menahan-nahan tawanya di kursi baca.
"Gila juga nih cewek. Serem banget tawanya."
Teni duduk di samping si gila dengan pipi masih dibiarkan berwarna. Teni diam bersilang tangan, menunggu orang di sebelahnya peduli. Yang terjadi, siswi gila kian terguncang memalingkan arah wajah, lengkap ditutupi buku.
"Iya gue ngikutin lo. Kenapa gak nangis di atap lagi? Kek kemarin itu sih."
"Hhh-hh."
"Eh, ke kantin yuk? Gue traktir deh. Sten jus di sana tuh punya gue loh."
"Kerin gak kek gini deh. Hhh-hh."
"Kerin?"
"Iya."
Teni menerka-nerka dalam diam. Lawan bicaranya sudah berhenti cengiran namun masih tiduran seperti duduknya orang yang sukses diracun.
"Muka lo kek di sampul novel Indigo," balas Teni, memberitahu. "Gue jelek. Tapi muka nih pernah dipake buat cover album lagu di yutub. Gue langsung tutup akun. Biar gak dicolong lagi."
Orang yang diajak bicara bangkit dari rebahannya. Wajah sembabnya masih tampak di bulu kelopak, rapat tak teratur, masih basah. Tagname di bajunya terbaca Maesaroh.
"Gak makan? Kita ngantin yuk?" tawar Teni menyentuh punggung tangan orang yang diajaknya.
Seha, seram habis, menggeleng dalam duduk manisnya. Duduk menaruh tangan di pangkuan paha, membiarkan pancar dukanya dingin menyirat. Seha termenung diajak bicara.
Dari menyentuh punggung tangan, Teni menghela nafas. Dia menidurkan kepala sambil menelisikkan jari di telapak tangan Seha, menyatukannya. "Hhh.."
Teni meniduri tangan satunya sambil diam menatap Seha.
Orang yang dipegangi memperhatikan senyum yang tersungging, lalu diam-diam balas menyentuh punggung tangan itu dalam genggamannya.
Seha biarkan senyum yang ada terus mengarah padanya. Sedikit bingung, tangannya bergerakan untuk lebih rapat. Seha turut melepaskan nafasnya. "Hhh."
"Kek gimana emang Kerin? Yakin, gue bukan dia?"
Yang ditanya terdiam, sirat sedihnya menguap, sudah hilang sejak meremas-remas jari si penanya.
Seha senyum begitu saja tanpa berani menatap Teni.
Teeet..!
Teni langsung bangun menggerutu. "Ih anjrit. f**k! Baru juga ke sini. Berisik amat sih."
"Hhh-hh," cengir Seha, pundaknya bergetaran lagi. "Khan."
"Nyebelin anjrit. Bel sialan."
SMA Swadaya dengan gapura gerbang yang anti karat sudah menampakkan para penghuninya jam bubar ini di halamannya. Banyaknya mobil pribadi yang datang menjemput dan antri untuk keluar sudah mencirikan warna lokasi. Mereka memang dari golongan orang berada, bahkan terbiasa pulang di jam ashar ini.
"Rada ke depan aja, arah tangga baswey ini, Ganteng."
Teni menelepon sambil berjalan menggandeng Seha. Dia bicara pada sopirnya yang kebingungan mencari, bukan sedang bicara pada orang special. Sebutan ganteng yang Teni intonasikan terdengar kehalusan dari seorang bos.
"Elo ini udah ditungguin di sini malah pengen ke ujung jalan. Bocah edan."
"Kerja Yusuf Adipati, gak usah ngeluh. Gue kabur juga nih. Mampus lo."
"Huh. Iya, iya. Ikutin apa kata bos gue aja dah. Tunggu di situ. Masih macet. Pada nyeberang nih, Nyonya."
"Fuck."
Dit!
Sambungan langsung ditutup dengan gerakan yang tak kalah galak.
Teni tetap melangkah di kejauhan gerbang ini, menjauh dari sekolahnya yang masih dipadati murid bermobil.
"Gak bokap, gak dia.. pada ngomporin umur gue, Sar."
"Itu penghormatan."
"Tau.. tapi pada lebay. Iya gue pewaris tunggal. Penghormatan nih kerasa penyembahan berhala."
"Keren juga diseret anak tajir. Setuju. Tumbalin gue aja sih. Gue mau kok disebut Meneer, Nyonya."
"Tumbal apa juga? Gak ada tumbal. Jaman robot Mars gini lo bagus dijemur. Dijejeli mutiara murni. Kalung janur kuning day."
"Ya udah kita ke laundry deh. Giling nih bodi. Biar klepek-klepek. Hhh-hh!"
"Serem juga digiling. Lo kek cabe blender. Bawaannya merah terus. Kata gue yang mukanya jelek."
"Abis siapa berani nolak sih? Diculik lo kek gini? Kata gue yang dibawa, iklas sebagai terpidana mati."
"Gak ada tumbak-tembak. Dari es-de lo udah ngehantuin gue. Tanggal ini muka lo gak berubah pas gue sentuh."
"Kesentuh meledak tuh ranjau bukan muka, bukan wajah, bukan tampang. Lo bisa bunuh gue lagi. Kapan aja, Beb."
"Berhala mereka ini baru nemu kenyamanannya, berhala yang benci pas diketawain. Biar jelek, gue gak pernah bunuh orang atau nyuruh nembak."
"Gue pengen mati di tangan lo. Baru deh lo suruh orang ngubur gue di hati lo."
"Puisi buaya."
"Gue padamu, lo gak percaya?" tanya Seha. "Eh, aduh!"
Di perjalanan mereka, saat bergandengan tangan begitu, Teni mendadak lari. "Ayo! Tuh mobil gue. Cepet, keburu bel."
Seha yang mengaduh segera tanggap. "Jangan dilepas!"
Agak jauh di depan mereka tampak half-truck hitam, jenis pickup yang memang jarang dibawa kondangan.
Dalam waktu 8 detik, kedua siswi sampai di alamatnya yang disebut DTB, dekat tangga busway. Dekat situ sudah menepi seunit Navara, sesuai permintaan Teni. Si pemilik abai dengan nafasnya yang memburu, dibukanya pintu belakang dan melepaskan tangan Seha.
"Hh, hh.. Buaya wajib masuk empang. Tapi buat lo, bagusnya dibikin senang."
Saat sama lelah, ngos-ngosan, Seha membetulkan tali tas di taktaknya dengan cengar-cengir penuh arti, dibawanya mood tersebut ke dalam mobil yang telah dibuka untuknya. Tampak d**a Seha pun sedang naik-turun, duduk manis tanpa peduli keringat dan capeknya lagi.
Teni lepas tas gendongnya, dia taruh di pangkuan Seha. Tukang gombal yang duduk bahagia, kembali melirik Teni.
"Mahar," ucap Teni.
Blugh!
Seha sontak kaget, angkat bahu atas bunyi pintu terbanting. Pelakunya berlari memutar muka mobil.
"f**k. Napa gue gak minta geser! Dasar g****k. Hahaah!"
Seruan yang berlangsung terdengar ceria, tentu masih diperhatikan oleh sopir yang duduk di mobil, karena masih menunggunya.
Blugh! Bunyi kedua menyusul, ditarik dari dalam oleh pemiliknya yang sudah duduk.
"Hh, hh.. Selamet, gue bebas klakson."
Tin! Baru saja diucap, Yusuf si pengeluh iseng.
"Kabur ke mana nih?" sambung bang sopir.
"Ke rumah mertua lagi aja, Cup."
"Eh, bocah. Lu ngomong mahar tadi, gitu maksudnya?" tanya pria kebapaan ini menatap spion tengah.
"Kabur tuh serius Pak Tua. Kawin lari yang bercanda."
Brmm! Bunyi gas, tanda sahutan. "Baik. Nyonya. Dimengerti."
"Jinakin kaki lo. Jangan niru gaya orang. Pengen jalan kaki, ya turun aja. Gak usah marah."
Pria ini diam tak menanggapi, sudah fokus memperhatikan arus, mulai mengemudi. Dan sepertinya tertekan..
"Dasar enam-dua!" umpat Teni.
"Jadi lo orang mana ha?" tantang Yusuf saat sudah berhasil gabung dengan arus di jalan raya.
"Orang penting yang dilarang bawa mobil sendiri."
"Gue lagi kerja. Gak kerja ya gak makan. Betul, Neng?"
Seha yang menyimak akhirnya dilibatkan dengan sapaan Neng, dari tegang langsung berubah bingung.
"Disekolahin tuh supaya sopan seperti teman lo ini, Nyonya. Bukan nyerocos ember."
"Oke. Pria kesepian. Lo intel yang pengalaman jaga anak majikan. Maksud bawel gue biar lo gak ikutan muja-muja berhala mereka nih. Gue gak ada sangkut pautnya sama aset kalian."
"Bah. Elu penting apanya. Orang kaya emang pada belagu kok sama saingan, sama orang kecil."
"Jiah nyambung. Tau gak sih, lo otot doang gede. Dikasih musibah cemen."
"Enak emaknya Neng. Yang nyonya asli. Gue pengen nangis tiap denger kata-katanya. Sakit ya Allah. Heuh. Anak muda."
"Budayakan sinetron kemplang tuh. Yang penting dividen ijo. Bangsa paling sante sama kebodohannya ditipu yang pinter-pinter."
"Ya ngomongnya ke seniman sama produser bersangkutan jangan ke gue. Tulalit."
"Oke, Ganteng. Maaf kalo emang gak berkenan di hati lo ya. Maafin."
"Gak bakal, Nyonya. Sama emak-bapak lo aja kualad terus."
"Kita kualat sama pencipta. Gitu khan jelas."
"Iya dah. Engkong lu yang nyuruh kami naro sajen."
"Itu masih, sampe gue putih-abu gini. Masih aja."
"Tanya bapak lu. Gue pusing dituduh musyrik terus."
"f**k. Gue kontek Roro Kidul kalian ntar."
"Donat nih. Sampe lupa gini, ya gue-nya."
Bang sopir meraih sesuatu di kursi sebelah. Setelah terpegang kardus DD's tersebut, dia asongkan ke belakang.
"Lo udah?" tanya Teni sambil menyobek segel boks.
"Gue misah. Makan nasi, Nyonya Besar."
"Gue sebenernya pengen makan lo. Bukan makan onlen food jam perpus."
"Elu lecet luar-dalem nyawa gue ilang. Sakit perut aja gue diomel. Ya salah anaknya yang emang bengal makan pantangan."
"Thanks. Dialog kita terlatih khan? Laporan harus transparan. Soalnya emang sajen yang gue makan. Jadi.. Ya kalian yang salah naro makanan buat kunti-nya."
Setelah food pack dibuka, Teni mengambil satu lalu diasongkannya pada Seha. "Sajen es-em a nih. Yang kemaren tuh buat bocil putih-biru. Gue nyeruput darah ayam lho. Fuck.. Gue langsung diare jadi vampir, Sar."
"Hhh-hh! Makasih."
Perang argumen berhenti dengan sendirinya di mana kepasrahan si pegawai masih berlangsung. Drama kehidupan yang dilakoninya tampak berat. Dengan kelapangannya hingga detik ini, Yusuf duduk menikmati pekerjaan, sudah fokus menyetir tanpa beban.
Seha yang sudah pegang makanan, bergerak duduk melipat satu kaki, gaya santai di pos ronda.
"Eh kita di jalan Batavia khan ya ini? Ngapain ke rumah gue? Gak ada apa-apa. Putri wartegnya khan lagi di sini sama lo."
"Um. Jadi mau khan lo nginep, nemenin gue? Lo bawa kucing kesayangannya aja deh. Baju salin, pake yang punya gue."
"Eh gila lo sering ngintip warteg gue sampe tau kucing-kucing itu? Meong yang gue gendong tuh gak satu ekor, tapi premannya para ninja. Jadi sering gue buang pas berantemnya. Pas naik-naik ke meja kek gitu."
"Lucu juga. Hahah kaget dong orang yang makan? Gue pikir piaraan."
"Bukan.. Kalo laku sih udah gue kandangin semua."
Teni yang sibuk kenyam donat membuka dus yang ada, di anggakan penutupnya, tampaknya senang dengan dengan bau makanan tersebut, diliriknya paha Seha.
"Kok elo tau sih, lagi dimata-matain sama gue Sar?" tanya Teni.
"Nih mobil keliatan di seberang warteg. Baru deh gue tau kalo ternyata ini tuh Nissan-nya lo. Gue pikir punya bapak ini."
"Gue langsung ngumpet anjrit. Serius, mata gue sering salah liat, salah orang. Lebih-lebih pas di es-em pe, megangin tangan temen. Gue pikir si Yuyun tuh lo. Pas gue pegang, muka dia berubah. Ketanda dia non lesbi."
"Ha? Gue pikir lo bercanda ngebahas soal ranjau. Berubah kek gimana?"
"Maksudnya.. Tuh halu gue. Ranjau udah tepat. Dari jaman es-de, mata gue emang udah bermasalah. Muka si Yuyun di mata gue tuh muka elo. Nah sajen tahun es-em pe tuh sengaja ada deket pintu kamar, buat ngundang jin, buat nangkep roh elo Sar."
"Njir. Trus? Lo indigo?"
"Gak taulah. Gue harusnya yang nanya itu. Sosok lo bikin geger orang se-pete. Warteg Batavia, warteg Batavia. Jin musuh ada di sana. Gitu berita yang gue denger. Sedih anjir, dulu tuh Yuyun pernah kena teror. Suka ngelamun, suka kerasukan. Untungnya dia bisa sembuh sendiri."
Seha mengenyam donat sambil menatap Teni, masih memeluk tas.
"Gue nangis banget. Gue masih protes disuruh pisah duduk sama Yuyun. Dipikir korporasi, lo ini musuh baru mereka. Gue ngamuk besar, soalnya lo semangat gue. Gue gak mau nurutin. Yuyun tiba-tiba pindah sekolah."
Rahang Seha diam mendapati mata Teni agak berair.
"Sampe sekarang gue terus diawasin. Dipikir bakal terus nyari Yuyun. Tapi ternyata dugaan mereka bener. Jadi.. hikk.. Kemarin lusa tuh, jujur gue dibawa batin buat ke atap. Ternyata cewek yang gue spion ada di situ. Lewat tiga taun nih akhirnya kita bisa tatap muka lagi, Sayang."
Teni menyeka mata bergantian. "Hiks.."
"Mgh," telan Seha sambil merem terbayang bibir lawan bicara.
"Elo Yuyun es-em a gue. Ya, Sar. Hkk.. Sebodo orang bilang gue lesbi. Bodo amat. Hikk.. Tahun-tahun belakangan tuh, swer.. berat banget. Uhuh. Hikk."
"Sllrpp," tatap Seha, usai menjilat bibir dia kembali mendelik. "Mh."
Seha menelan saat tangannya sudah terangkat ke depan, belum menggapai wajah Teni yang ingin disentuhnya karena jarak duduk mereka.
Teni sudahi tangisannya.
Selesai menyeka-nyeka wajah, makanan yang ada Teni pindahkan ke pangkuan untuk bergeser dan merubah posisi duduknya menghadap Seha, turut melipat satu kaki gaya peronda.
Teni menempatkan tangan Seha ke pipi, membiarkan si teman menggerak-gerakkan ibu jari, menyeka-nyeka sisa sembab bawah mata.
Saat Teni pegangi tangan Seha, pemiliknya mendaratkan mulut ke remah donat yang ada di bibir. Teni turut menggerakkan bibirnya, menyambut gerakan lidah Seha.
Caaph.. Cyuuph..! Caap..!
Kedua siswi tak peduli deheman sopir. "Hem. Erhm. Kuu lihat pelangi.. dii pagi harii. Kuu rindukan kekasih. Untuk kembali."
Seha tampaknya mengerti, kenapa Teni memberikannya donat misro, bukan donat toping yang bila digigit bibir belepotan.
Tampaknya Teni memang ingin dicium si teman. Dagu Teni lebih banyak bergerak saat sudah memegang kuping Seha.
Teni yang aktif, membuat Seha turut pegang kepala, melumat bibir teman satu sekolahnya seolah dikejar bel masuk.
Cyuuph..! Caap..! Cyuuph! Ciap-cup!
Klik! Layar pada Player dashboard disentuh.
Pelangi engkau pelangiii..
Sampaikan salam ku iniii..
Kepada kekasih hatiii..
Pada siapa ku berjanjii..
Seorang wanita muda bangkit dari duduknya saat menonton streaming ponsel begitu kedatangan siswi SMA yang menenteng plastik DD's.
Pelangi engkau pelangi
Luluskan pintaku ini
"Ya Dek? Makan?" tanya ibu warteg, mengaduk-aduk mejik kom prepare pesanan. "Di sini, apa dibungkus?"
"Ssst..! Adiknya saya bawa ya Kak?"
"Ha?" wanita ini bingung, berpikir sesaat. "Gue khan anak bungsu ye? Salah orang si Enon."
"Noh Kak, adeknya di seberang," beritahu Teni, menunjuk siswi Swadaya satunya.
"Eh buset. Seha maksud lo?"
Betapa pagi ini
indah berseri
Andaikan hidup ini
terus begini
Seha menjuling mata dan menjulur lidah di jendela mobil.
"Hahah, iye Nyak. Aye Teni. Tukang anter donat," peluk Teni saat sudah di dalam. "Ogah manggil pake kata enyak. Pengennya manggil kakak. Khan sodaraan sama Sarah."
"Iye. Aye masih sepentin loh, Jeng. Kualad tuh anak pasang muka. Kalian mau pade ke mane sih emang, wangi gini ketiak lo tiap dateng ma perginye?"
"Kite berdua mau ke Roland Citra Nyak, rumah aye. Nih buat Enyak. Aye ame Sarah udah."
Begitu kantong belanja diterima dan ditengok..
"Anjir didi! Wau.. ow!"
"Iye Nyak. Seger nih belum pada kempot rotinye."
"Eh Jeng."
"Iye Nyak?"
"Lu laporan aje ye, kalo dipukul ame Seha. Tukang gelud die. Langsung telpon keamanan ye? Komplek lu khan, yang pade gedong ntu banyak satpamnye. Ye?"
"Iye. Oke, Komandan. Siap."
Pelangi engkau pelangi
Sampaikan salamku ini
Kepada kekasih hati
Pada siapa kuberjanji
Seventeen dan Teni cipika-cipiki, satunya berterimakasih, satunya lagi pamit. Keduanya perempuan muda beda usia bagai adik dan kakak.
Teni berlari kecil saat menyeberang. Sesampainya di parkir Navara, dia langsung membuka pintu dan segera masuk untuk duduk melambai pada Seventeen.
Pemilik warteg yang sedari memperhatikan Teni balas melambai. Navara pun perlahan melaju membawa penumpangnya.
Seha memberikan minuman kaleng yang tengah dipegangnya pada Teni. Sprite dari minimarket tersebut langsung Teni sedot selangnya.
"Sodara lo kali Sar. Ye? Euu!"
Teni mengembalikan minumannya lagi pada Seha.
"Ya Allah itu nyokap gue Ineeet. Umur enyak gak keliat segitu."
"Kakak elo juga ah. Kalo gue cowok, udah gue ajak selingkuh deh emak lo nih."
"Ya kek kate bang Ucup sih. Cakepan emak gue ketimbang anaknya ini."
Pelangi, engkau pelangi
Luluskan pintaku ini
Seha sudah santai bersandar, menyedot-nyedot selang lurus kaleng minuman.
"Itu kata Ucup. Elo lupa, kalo pria ini kesepian Sar..?" goda Teni lagi.
Yusuf sibuk menyetir, hanya sekilas melihat Teni lewat spion.
Seha yang ditanya, tak melirik lawan bicara, diam menikmati sedotan soda yang diemut. Karenanya, Teni yang duduk mendekat langsung merebut dan menyimpan kaleng kosong itu di kursi, tidak marah di-prank.
"Hhh-hh!" Pundak Seha bergetar saat selang plastik yang digigitnya Teni cabut, lalu segera menyambut bibir yang datang.
Cyapp! Cupp-chaap..!
Tadi, saat Teni masuk mobil dan menyedot isi kaleng, soda tersebut sudah habis. Kini dia mencumbu Seha dengan moody kiss santai sekaligus intim menghabisi si jahil.
Bermenit-menit kemudian, Yusuf mengintip para bocah lewat kaca. Kedua siswi sudah duduk tertidur, saling sandar kepala berpegangan tangan.
Sore yang masih terang ini perjalanan mereka ke Roland Citra memang cukup lama. Jika sedang macet, mungkin pemandangan yang ada jadi menyebalkan bagi sopir, baik pemandangan di jalan atau pun di dalam mobil. Perjananan hari ini, tampak lancar adanya.