Darrel merutuki kebodohannya. Ia merasa goyah hanya karena rasa denyut aneh yang hadir dalam hatinya. Rasa denyut berupa sakit yang menyesakkan. Ada yang tahu apa itu? Ia merasa dirinya bukan seperti dirinya yang biasa. Yang tidak akan mudah goyah, miliknya akan terus jadi miliknya. Pemaksa dan tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Harusnya begitu.. “Sial.” Darrel melempar gelas berisi cairan bening ke dinding. Pakaiannya semrawut, berantakan layaknya berandalan. Hilang sudah image perfeksionisnya. “Terpaksa.” “Terpaksa.” “Terpaksa.” Kata tersebut terus berkeliaran di kepalanya dan selalu terngiang di telinganya. Darrel berjalan tanpa alas kaki. Menuju dinding yang ia jadikan korban amarahnya. Ia bahkan tidak perduli pecahan gelas yang menusuk telapak kakinya. Gila. Pasti s

