bc

Brother In Law

book_age18+
43.1K
FOLLOW
493.3K
READ
dark
possessive
family
arranged marriage
dominant
drama
mystery
cheating
friendship
intersex
like
intro-logo
Blurb

Terjebak diantara dosa dan kenikmatan. Diantara kakak kandung dan kakak ipar. Dirinya merelakan disentuh kakak iparnya, Darrel Calderon demi menjaga hati sang kakak. Dirinya pun harus rela mengikuti kegilaan sang kakak ipar. Apa yang kau pikirkan dengan kenikmatan beresiko? Salah satu dari kegilaan yang terkadang muncul dan mampu membuatku berdebar, terlena, dan juga terbuai. Perasaan itu tak bisa dijabarkan. Bayangkan saja, saat kau berada diantara rasa takut dan gairah yang memburu. Itulah yang seorang RosAnne Callia rasakan.

Hingga benih cinta timbul bersamaan dengan kembalinya masa lalu. Cukup mampu menghancurkan yang Anne jaga dan mampu membuatnya kehilangan semuanya. Orang berpikir hal itu karma untuknya, pantas untuk ia tanggung. Dan Anne terima, mungkin sampai akhir, kebahagiaan tak kan menyapa dirinya. Sebab itu, Anne memilih memendam rasa ini untuk dirinya sendiri.

Cover by STARY

chap-preview
Free preview
Satu

Suasana gedung resepsi pernikahan tampak meriah. Beribu undangan berdatangan. Mereka tidak ingin melewatkan pernikahan anak pebisnis dengan seorang pebisnis terkenal.

Di tengah kemeriahan pesta, sesuatu telah terjadi. Hal kecil tapi tidak sampai menarik perhatian orang-orang.

Anne menatap jas resepsi orang yang baru beberapa jam tadi menjadi kakak iparnya. Kue coklat yang tadinya ia pegang mengotori jas tersebut karena insiden tak terduga. Andai ia tak ceroboh, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

"Maafkan aku," ujar Anne. Ia dengan tergesa meletakkan piring kecil berisi kue coklatnya dan menarik beberapa tisu yang tersedia di meja paling dekat dengan posisinya saat ini.

Jemari lentiknya begitu lihai membersihkan jas kakak iparnya tersebut sedangkan sang empunya memasang wajah datar, membiarkan Anne membersihkan jasnya.

"Sungguh maafkan aku, Kakak. Jasmu kotor, semua gara-gara kecerobohanku. Sekali lagi maafkan aku." Anne sangat merasa bersalah, ia terus saja menunduk dan meminta maaf. Rasa bersalahnya semakin bertambah, karena bekas kue coklat itu tidak bisa hilang. Malah semakin melebar ke mana-kemana kotornya.

"Angkat kepalamu, Anne."

Anne merasa takut sendiri. Walaupun di depannya ini kakak iparnya, tapi ketidak akraban mereka membuatnya terasa kaku.

"Kubilang angkat kepalamu, kau tidak sopan berbicara tanpa menatap lawan bicaramu." Ucapan penuh penekanan itu, mengharuskan Anne secara perlahan mengangkat kepalanya. Dan ya, mata coklat madu milik Anne bertatap dengan mata hitam setajam mata elang milik si kakak ipar.

"Kau takut padaku?"

Secepat kilat Anne menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Hm." Mata hitam itu tidak pernah meninggalkan mata coklat madu milik Anne. Tatapan yang entah mengandung makna apa. Namun, cukup membuat seorang Anne merasa gugup.

"Kalian di sini." Seseorang memecah keterdiaman Anne dan kakak iparnya. "Lucy sedari tadi mencarimu Darrel. Waktunya sesi foto. Ayo, naik keatas panggung," ajak mama Anne yang pastinya mertua Darrel juga.

"Hm," gumam Darrel.

"Ayo, Anne."

Mereka bertiga berjalan menuju panggung, setelah sebelumnya seorang petugas Wedding Organizer menghampiri Darrel dan memberi pria itu jas ganti. Hal tersebut menerbitkan senyum di wajah Anne, ia merasa lega. Tidak membuat kakak iparnya malu di hari pernikahannya sendiri.

***

Acara resepsi pun berakhir. Keluarga besar Anne pulang ke rumah berikut pengantin barunya. Dikarenakan rumah si mempelai wanita lebih dekat dari gedung resepsi dan atas permintaan mertua dengan alasan waktu menunjukkan tengah malam hampir dini hari. Mau tidak mau Darrel sang suami, harus tinggal sementara di rumah istrinya. Hanya semalam saja.

Darrel tidak memiliki keluarga lagi. Kedua orang tuanya lebih dulu meninggalkannya. Kerabat pun tak punya. Meski begitu, ia bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Kini ia telah menjadi pebisnis yang sukses meneruskan bisnis orang tuanya yang sempat bangkrut.

Sesampai di rumah, mereka semua berkumpul diruang tamu. Sejenak melepas lelah dan sedikit bercengkerama.

"Jadi Lucy, Darrel. Bagaimana kalau Anne tinggal bersama kalian?" Si kepala keluarga, tuan Karsa, ayah Lucy dan Anne memulai obrolan. "Mengingat aku dan istriku, kita berdua harus menetap di London untuk urusan bisnis di sana. Dan itu butuh waktu yang lama. Kita hanya tidak ingin, Anne merasa kesepian tinggal sendiri di sini."

"Tidak Pa, aku bisa tinggal sendiri di sini. Lagipula banyak pelayan juga. Aku tak akan kesepian," tolak Anne. Ia hanya merasa tidak enak untuk ikut tinggal bersama kakaknya. Takut mengganggu pengantin baru.

"Kenapa kau menolak, Anne? Ini demi kebaikanmu," nasehat Elvina, Mama Anne dan Lucy.

"Iya, Anne. Lagipula kakak tidak keberatan kok. Benar 'kan, Sayang?" Lucy meminta pendapat suaminya.

"Ya."

"Tuh 'kan, tinggal sama kita saja Anne. Kau perempuan harus ada yang menjagamu. Aku juga butuh teman kalau-kalau kakak iparmu lembur atau ke luar kota. Jarak kampusmu dari rumah kami juga dekat kok. Gimana? Mau ya? Kalau tidak, aku tidak akan pernah menganggapmu saudaraku lagi," bujuk Lucy panjang lebar sekalian merajuk, agar adiknya bisa tinggal bersamanya.

"Kakak!"

"Jadi?" Lucy menaik-turunkan alisnya,

Anne menggigit bibir bawahnya, ia seperti sedang berfikir. "Baiklah," pasrahnya kemudian.

"Yey, aku menyayangimu, Anne." Kedua kakak adik itu saling berpelukan. Kedua orang tuanya menatap kedua anaknya seraya tersenyum. Bahagia melihat keharmonisan mereka berdua.

Dan Darrel menyeringai. Entah apa arti seringaiannya itu. Hanya Darrel dan Tuhan yang tahu.

***

Lucy menatap cermin di depannya. Ia melepas satu persatu hiasan rambut di kepalanya. Sedangkan sang suami asyik berkutat dengan ponsel pintarnya.

"Aku harus pergi." Lucy menghentikan gerakan menghapus make up nya.

"Kau bercanda."

"Tidak."

Lucy menatap kecewa suaminya. "Kenapa? Ini malam pertama kita. Dan kau, meninggalkanku," ujar Lucy. Tak habis pikir dengan suaminya itu.

"Ada bisnis mendadak yang harus aku selesaikan, tidak bisa ditunda," ucap Darrel. Ia langsung pergi dengan setelan baju pengantinnya tanpa menghiraukan panggilan sang istri yang menyuruhnya berhenti.

Lucy hanya bisa menatap kepergian Darrel dari atas tangga. Bisa saja ia mencegah kepergian suaminya. Tapi ia tidak mau mengundang keributan. Ia hanya harus bisa mengerti kondisi suaminya. Darrel seorang pekerja keras. Tidak lucu bukan, belum sehari jadi suami istri sudah bertengkar.

"Setelah menikah pun tetap sama, prioritas utama bagimu adalah pekerjaanmu."

Hati Lucy pedih, sesak mendera dadanya. Liquid bening pun begitu mulus mengalir dari matanya. Malam ini, malam yang paling ditunggu sepasang pengantin. Tapi sayang, ia harus melewatinya seorang diri.

Lucy memandang nanar kamarnya yang dihias indah. Kelopak bunga mawar bertebaran, berbentuk love di atas ranjangnya. Ranjang yang berkelambu bunga melati serta lilin aroma terapi di penjuru ruangan. Semua itu, terlihat tidak ada gunanya sama sekali.

"Menyedihkan."

***

Anne usai membersihkan tubuhnya, ia kini sudah segar dan bersiap untuk tidur bersama gaun tidur kesayangannya. Terbuat dari kain satin, panjang setengah paha, yang jatuh pas di tubuhnya dengan tali spageti yang menggantung pada bahu indahnya. Yakin, siapapun pria yang melihat kondisi Anne saat ini, pasti akan tergoda.

Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Anne tertidur pulas di atas ranjangnya di balik selimut tebalnya.

Ia tidak menyadari seseorang tengah masuk pelan-pelan kedalam kamarnya. Mengunci pintu kamarnya dan meninggalkan kuncinya di sana. Seulas senyum terbit, melihat sosok Anne yang tertidur pulas.

Orang itu menghampiri Anne. Duduk di pinggiran ranjang gadis itu. Dia menjulurkan tangannya membelai wajah Anne. Dimulai dari dahi, mata, hidung, pipi dan terakhir bibir. Telunjuk orang itu terus bermain-main di bibir Anne. Sesekali memasukan jempolnya dalam mulut Anne. Dan anehnya, orang itu menggeram.

"Anne," desahnya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir Anne. Lalu mengecup berulang kali sebelum mengulumnya perlahan. Yak, lagi-lagi orang itu menggeram.

"Anne." Orang itu memanggil dengan suara beratnya. Suara seorang pria ketika sedang menahan gairahnya.

Pria itu berdiri, melepas jas, membuangnya ke lantai. Tak lupa pula dasi yang melilit lehernya, ia lepas. Kemudian menunduk, menyibak selimut Anne. Ketika selimut itu terbuka, menampilkan sosok Anne yang terlentang dengan gaun yang tersingkap hampir mencapai pangkal pahanya. Memperlihatkan paha putih mulus tak bernoda sedikit pun dengan kaki jenjangnya. Membuat mata pria itu menggelap karena gairah.

"Kau sengaja menggodaku, Anne."

Perlahan pria itu, naik keatas ranjang. Mengukung tubuh Anne, mengunci kedua kaki Anne dengan kakinya, untuk berjaga-jaga apabila Anne terbangun. Lalu menciumi wajah Anne dan berakhir di bibir. Melumat rakus tiada henti bibir Anne.

"Kau milikku, hanya milikku," gumam Darrel dalam ciumannya.

***

Jangan menerima ruang dan memberi ruang untuk orang lain masuk ke dalam rumah tanggamu.

Jika tidak mampu membahagiakan satu wanita, jangan berpikir menambah satu wanita lagi. Sikapmu hanya menyengsarakan.

Bukan tentang menjaga dan dijaga, tapi bagaimana caranya kamu mempertahankan janjimu pada Tuhan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Elle 21+

read
112.3K
bc

HOT NIGHT

read
551.7K
bc

The crazy handsome

read
450.3K
bc

I'm Sabrina Not Sienna

read
185.3K
bc

✅Sex with My Brothers 21+ (Indonesia)

read
841.3K
bc

HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE

read
498.3K
bc

Partner in Bed 21+ (Indonesia)

read
1.9M
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play