Kayaknya iya, deh, aku suka sama Pak Anggit. Suka bukan dalam artian silau sama hartanya atau ngiler pengen jadi istri orang kaya. Aku nggak tahu mesti bilangnya gimana, yang jelas saat aku coba membayangkan dan membandingkan kira-kira bagaimana rasanya bareng-bareng terus sama dia dan bagaimana kalau bener-bener putus hubungan sama dia, kok rasa-rasanya lebih menyenangkan kalau bisa selalu bareng-bareng Pak Anggit. Tapi, aku sadar perasaan itu nggak benar sebab aku bukan lah Pak Anggit yang mampu mendapatkan apapun yang dia mau. Namun baiklah, ada benarnya juga ucapan dia untuk untuk menahan diri sebentar. Nggak mungkin dia meralat ucapannya sendiri demi menjaga kewibawaannya. Akan lebih mudah bagi kami buat mengakhiri semuanya dengan pura-pura berkencan, lalu dua minggu atau sebu

