"Oh, Sonya terlalu anggap serius, sih. Tante padahal bermaksud baik, lho, Tante ndak mau besok Sonya ndak PD kalau ketemu sama mantannya Anggito." Aku enggak bisa melupakan kata-kata Bu Hartawan itu sewaktu aku menolak kebaikan hatinya menyuruhku memilih tas mana pun yang aku mau. Aku capek, capek sekali berkutat dengan intrepretasi sendiri terhadap maksud 'sebenarnya' setiap perkataan Bu Hartawan. Termasuk, bagaimana jika Bu Hartawan mengartikan keliru penolakanku sebagai bentuk nggak menghormati pemberian beliau. Aku hanya nggak mau menerima terlalu banyak yang jika satu dua hal buruk terjadi akan menjadi utang banyak. Jujur, kata-katanya itu membuat moodku buruk sejak sebelum tidur hingga bangun keesokan harinya untuk langsung bersiap-siap ke acara pesta pernikahan kerabat Pak Anggi

