“Kalian habis ngapain?” Itu adalah pertanyaan Bu Hartawan ketika melihat aku dan Pak Anggit baru pulang dengan keadaan baju depan aku banyak cipratan saus cilok mercon, sementara celana Pak Anggit lebih kotor lagi nggak sengan ketumpahan semangkok cilok karena kami keasyikan—ehem ciuman. Teguran beliau barusan juga sekaligus menghentikan tawa dan canda kami, mana tadi pas banget aku sedang mukul-mukul bahu Pak Anggit. Salah-salah, Bu Hartawan bisa menganggap itu sebagai bibit-bibit kekerasan dalam rumah tangga. “Tadi makan di mobil, nggak sengaja tumpah.” Tentu saja Pak Anggit berbohong, bisa syok Bu Hartawan jika mendengar alasan sebenarnya. “Astagfirullah, kayak anak kecil aja kalian ini,” Bu Hartawan geleng-geleng kepala. “Udah, sana bersih-bersih.” “Iya. Yuk,” jawab Pak Anggit s

