Perasaanku nggak enak, aku Cuma bisa mengalihkan keresahanku dengan menyedot-nyedot es kopiku yang ternyata sudah habis tanpa aku sadari hingga menimbulkan bunyi sruputan yang bikin Pak Dirga ketawa. “Mau minuman lagi?” “Enggak usah, Pak.” Aku mencegah sewaktu Pak Dirga mengambil ponselnya seperti hendak memesankan aku kopi baru. Aku meletakkan cup kopiku yag sudah seringan udara itu di atas meja, dan bertanya, “Bapak mau ngomong apa sama saya?” berhubung aku masih di sekitar kantor, Pak Dirga langsung menyuruhku kembali masuk ke gedung dan menarinya di kantor dia. Aku semula merasa itu bukan ide bagus, tapi kupikir jam segini pasti nggak banyak orang yang masih di kantor. “Lebih tepatnya, saya mau minta tolong sama kamu.” “Minta tolong apa?” Aku nggak bisa berbasa-basi. Terakhir kali

