Ekspektasiku terhadap Pak Anggit bukan rendah lagi, melainkan tiarap ketika dia memang masuk lift hanya untuk mengatakan satu kalimat menyakitkan itu padaku. Pintu lift terbuka di lantai tujuh, dia bersiap keluar, tapi langkahnya tertahan saat aku berbicara, "kalau saya matre dan murahan, kenapa itu bikin Bapak marah?" Perlahan dan dramatis, kepala Pak Anggit menoleh ke belakang. Menatap aku tajam, tanpa mengatakan apa-apa. "Sudah tahu saya cewek murahan, harusnya mudah kan buat Bapak lupain saya? Apalagi, Bapak cuma naksir, belum cinta seperti yang Bapak bilang waktu itu. Bapak nggak berhak merasa sakit hati di saat kita belum ada komitmen apa-apa, apalagi sampai merasa pantas merendahkan saya." Pintu lift di belakang Pak Anggit menutup dengan sendirinya, sementara Pak Anggit memuta

