Hari-hari tanpa Anggito Hartawan aku lewati dengan … ah, sudahlah, menyebalkan pokoknya. Kadang aku galau, kadang kesal, tapi lebih seringnya … kangen. Di situlah letak menyebalkannya. Pak Anggit betul-betul menepati ucapannya nggak ganggu aku sama sekali. Di rumah sakit, Mama mendapatkan pelayanan betul-betul kelas VIP. Mama yang belum tahu gimana hubunganku sama Pak Anggit menitipkan ucapan terima kasih sembari kode-kode tanya kenapa Pak Anggit nggak menjenguknya. Mama nggak bertanya gambling, barangkali nggak enak, takut dikira suruh Pak Anggit nengok. Sementara Putra, hah … adikku itu sempat memarahiku gara-gara kamar VIP ini, katanya aku nggak boleh segampang ini menerima pemberian orang. Apalagi orang itu laki-laki dan punya ketertarikan terhadapku, tapi gimana? Mau aku tolak demi

