Harapanku supaya Mama bisa tidur nyenyak sepanjang malam ini gagal karena suara erangan kesakitan pasien sebelah. Lembaran kain tirai yang menjadi pemisah antar bangkar sama sekali nggak berguna untuk membatasi apa-apa, baik suara, aroma, semua bercampur jadi satu di ruangan ini. Saat pertama kali melihatku, Mama sempat kaget, Mama bertanya kapan aku datang dan lantaran pertanyaannya itu kujawab sekedarnya, Mama malah menasehati aku panjang lebar. “Seharusnya kamu nggak usah buru-buru pulang, Nya, kan Mama nggak apa-apa.” Mama menatapku penuh sesal. “Lihat, kamu bahkan nggak sempat ganti baju. Nanti apa kata mertua kamu?” “Ma ...,” aku mengerang antara kesal, lelah, dan muak. “Nggak usah pikirin orang lain. Tanpa Putra mengabari Mama masuk rumah sakit pun aku memang berencana pulang.”

