SELAMAT MEMBACA
.
.
.
Babak 3.
Berantas lawan.
Ardika sampai di lobi gedung tiga dan terdapat kartu-kartu yang menggantung di dalam lobi. Kartu-kartu itu berisi nama dan nomor sebuah ruangan di gedung tiga. Ardika melompat dan mengambil kartu. Gatcha! Ardika langsung melihat peta di dekat tangga darurat dan Ia perlu menaiki satu lantai untuk sampai pada ruangannya.
Dika segera membuka pintu darurat dan menaiki tangga. Lift tidak tersedia sebelum jam enam pagi. Ia sampai pada lantai dua dan masuk menuju lorong 1021- 1030. Nomor ruangannya ada pada 1028. Ia sampai pada depan pintu dan menekan kartu yang Ia genggam ke handle pintu.
Suara tanda kartu cocok berbunyi dan pintu terbuka. Ia masuk dan di dalamnya terdapat ruangan kosong berukuran 6 x 5 meter. Sebuah layar hologram muncul ditengah ruangan dan menunjukan beberapa petunjuk.
'Silakan manfaatkan segala alat yang ada pada ransel untuk melewati babak ini."
Ardika memindahkan ranselnya kedada dan mengecek apa yang ada di dalamya. Tersedia pistol, pisau, tali, hanger dan sebuah tongkat. Didalamnya juga terdapat rompi pinggang yang menampung alat-alat tadi.
Dika langsung mengenakan semua alat tadi pada tubuhnya dan waktu pada layar hologram mulai menghitung mundur dari angka 5. Tiba-tiba ada banyak boneka papan berdiri didepan Ardika dan siap menembak Dika.
TETTTTT
Ardika langsung mengarahkan pistolnya dan menembak boneka sebelum menembak Ardika lebih dahulu, beberapa detik berlalu dan beberapa boneka mulai bergerak, membuat Ia perlu bergerak dan berhati-hati serta fokus. Lima menit berlalu dan semua boneka kembali ke tempatnya.
Satu robot kemudian muncul dari balik tembok memegang sebuah tongkat baseball. Robot itu segera menghampiri Dika dan menyerang. Dika langsung mengambil tongkat di pinggangnya dan menghadapi robot tersebut. Satu pukulan dari robot berhasil mengenai tangan kiri Dika. Dika terdorong ke samping sedikit. Ia mengarahkan tongkat ke pundak robot dan Ardika menendang kaki robot. Robot tersebut jatuh ke belakang kemudian kembali bangun.
Robot itu tidak menyerah dan kembali menyerang Dika, kini Dika tidak hanya menggunakan tongkat yang Ia pegang, namun kini Ia menggunakan kaki dan tangannya. Dika melihat segala kesempatan dan memanfaaatkannya untuk memojokan robot tersebut ke ujung ruangan.
Akhirnya robot tersebut kembali ke balik tembok.
Dika kembali mengatur napasnya dan memasukan kembali alat tadi ke rompi . Layar hologram kembali muncul di tengah ruangan. Kini layar itu mengeluarkan cahaya laser untuk memindai tubuh Ardika. Setelah selesai layar tersebut memunculkan petunjuk baru untuk Ardika.
"Pergilah ke lantai teratas gedung, tekan kedua tombol lift secara bersamaan sebanyak lima kali Maka lift akan terbuka."
Ardika bergegas keluar Ia menuju ujung lorong dan menekan kedua tombol lift secara bersamaan sebanyak lima kali. Lift terbuka dan Ia menekan angka delapan pada tombol lantai.
Lift membawa dirinya ke atas dan ketika lift terbuka Ia sampai pada lantai delapan. Ia segera berlari ke ujung lorong dan membuka pintu tangga darurat, segera menaiki tangga dan Ia tiba di atap gedung .
"Iyak peserta ke sepuluh."
"C-1 ada berapa peserta lagi yang lolos?" Pembina itu berbicara pada bodyguard yang lain.
"Tinggal dua orang lagi."
Dua orang lagi sampai dan pintu darurat di tutup dan di kunci.
Babak 4
Tercepat dan berbahaya.
"Oke. Kalian telah melewati babak tiga dan kini babak ke empat. Pakailah peralatan yang kalian miliki untuk menuruni gedung ini.”
Dika membuka ransel dan menemukan tali, Ia Juga menemukan beberapa hanger lagi. Memasangkannya pada rompi pinggang yang lebih kuat dan mengecangkannya.
"Baik semuanya silakan mendekat ke pinggir atap."
Dika dan peserta lain memasangkan tali yang sudah terikat di rompi ke tali yang tertanam di gedung.
"Pergi lah ke lantai lima gedung ini dan tunggu di dalam sana. Akan ada petunjuk lain ."
"Satu... Dua..... Yak!"
Kedua belas peserta turun kebawah gedung . Satu persatu lantai telah di turuni dan sampai lah pada lantai enam. Tidak semua jendela terbuka, hanya ada delapan jendela terbuka. Tubuh Ardika tidak sejajar dengan jendela yang terbuka, berbeda dua jendela dari posisinya Ia menemukan jendela terbuka. Dika dengan sekuat tenaga langsung berjalan dengan posisi vertikal.
"Ahh... "
SLIPPPP
Dika tergelincir dan kini Ia agak turun, Ia menatap keatas peserta lain sudah mendekatinya. Ia segera berjalan lebih cepat dan mengangkat tubuhnya. Akhirnya Ia masuk dan berguling ke dalam ruangan. Seketika jendela tersebut tertutup rapat dan lampu ruangan itu menyala .
Di tengah ruangan Ia menemukan kembali hologram yang menyala dan memberikan petunjuk baru.
"Ardika Noema. Peserta nomor lima."
Dika melepas tali yang Ia gunakan untuk turun dan merapikan pakaiannya. Ia berdiri sambil layar hologram memindai seluruh tubuhnya dan menampilkan beberapa data di layar yang menunjukan berkas yang Dika bawa saat datang kesini. Lima belas menit berlalu dan layar hologram berhenti memindai dan timbul notifikasi bahwa berkas Dika cocok dengan diri aslinya.
Layar hologram itu kembali mengeluarkan petunjuk .
"Pergi ke ruangan sebelah kanan ruangan ini dan masuk ke dalam."
Pintu tak terlihat di ruangan itu terbuka dan Dika menuju ruangan sebelah kanan. Ia mengetuk pintu beberapa kali tak lama kemudian pintu terbuka.
Di hadapannya terdapat lorong masuk sebuah apartemen studio. Dika masuk perlahan dan mengganti sepatunya dengan sendal dalam rumah sesuai petunjuk di lantai.
"Permisi..."
Ia mengetes apakah ada yang menjawabnya atau tidak. Ia semakin masuk ke dalam dan menemukan ruangan untuk tidur.
Seorang perempuan sedang tidur diatasnya dan dengan menggunakan selimut. Dan disampingnya ada sebuah boneka.
Dika terhenti sejenak dan melihat ke sekeliling untuk mencari petunjuk lain. Ia melihat ke kanan dan ada tulisan di tembok.
"Apa yang akan anda lakukan pada boneka."
Tidak terlihat seperti pertanyaan, mungkin pernyataan."
Tiba-tiba perempuan tersebut membuka selimutnya, perempuan itu duduk di tempat tidur. Nampak perempuan tersebut hanya mengenakan slip dress berwarna hitam dan melekat pada tubuhnya perempuan tersebut mengenakan masker menutupi setengah wajahnya .
"Kemarilah..."
Dika hanya berdiam di tempat dan membeku. Ia memutar otak apa yang perlu Ia lakukan.
Perempuan itu turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Dika. Ia semakin keras memutar otaknya dan melihat sekeliling ruangan tersebut. Dua langkah lagi perempuan itu mendekat dan siap menyentuh d**a Dika.
Dika memejamkan matanya sebentar dan Ia menemukan Ide. Tangan perempuan itu akan mendarat di d**a Dika namun Dika mencegah nya lebih awal dengan menggenggamnya.
Perempuan itu membuka sedikit lebar matanya dan terdiam. Dika melepaskan tangan perempuan tersebut dan pergi ke lemari di pinggir tempat tidur, membuka nya dan mencari luaran atau seseuatu yang dapat menutupi tubuh perempuan tersebut.
Ia menemukan sebuah cardigan panjang dan memakaikannya pada wanita tersebut.
"Dimana rumah mu? Akan aku antar pulang."
Perempuan itu diam dan tidak menjawab hanya memerhatikan Dika dan menatap Dika.
"Aku serius, aku akan mengantarmu pulang. Mungkin tidak menggunakan kendaraan pribadi , mungkin naik bus."
Perempuan itu menggeleng dan kembali menatap Dika.
"Ada apa?"
Dika semakin bingung, namun Ia berpikir kembali tujuan nya datang ke ruangan ini.
Boneka.
Ia kembali menatap tempat tidur dan menemukan boneka beruang berwarna coklat. Dika kemudian menggandeng perempuan tadi dan menuju tempat tidur untuk mengambil boneka beruang tadi. Ia mengambil boneka beruang tersebut terdapat sebuah kertas dan bertuliskan sesuatu.
'Pergi ke ruang sebelah kanan.'
Selesai membaca Ia kembali menatap perempuan itu.
"Tangan mu dingin..."
Dika melepas jasnya dan memakaikan pada perempuan itu.
"Tunggu beberapa menit dan aku akan kembali untuk mengantarmu pulang."
Perempuan itu mengangguk dan Dika keluar dari ruangan tersebut.
Dika menuju ruangan sebelah kanan dan nampak pintu terbuka lebar.
"Baik, Ardika Noema silakan masuk ."
Dika masuk dan terlihat tujuh orang lain sudah berada pada ruangan tersebut. Sepertinya Ia peserta terakhir.
"Oke, semua tantangan sudah kalian lewati dan kamar tadi adalah babak terakhir. Silakan menunggu satu minggu lagi untuk pengumuman. Terima kasih silakan kembali ke kediaman masing-masing."
Semua orang keluar dan lorong gedung sudah terang, Dika melirik jam tangannya dan waktu menunjukan pukul enam pagi. Ia mencari perempuan itu dan seseorang menepuknya dari belakang.
"Kau mencari perempuan tadi?" Tanya laki-laki bertubuh tegap.
"Iya..."
"Dia bisa pulang sendiri, tenang saja." Setelah berkata demikian pria tersebut meninggalkan Dika.
"Baiklah." Ucap Dika masih agak linglung.
***
Altrisa masuk ke kamar papa dan mama, didalam terlihat kedua orangtuanya sedang duduk di tempat tidur menunggu Trisa datang.
"Lama sekali kamu datang padahal papa hanya meminta lima menit."
"Iya-iya tugas ku banyak. Ada apa?"
"Kemarilah.... "
Trisa menghampiri kedua orangtuanya dan duduk diantara mereka berdua.
"Jadi... Papa mu, sudah memilihkan lima orang yang cocok sesuai posisi ." Ucap mama pada Trisa.
"Hmmm, siapa saja?"
Papa menekan tombol remote dan layar televisi lcd di depan mereka menyala.
"Ahhh... tidak."
"Ada apa?"
"Dia terlalu dekatt. Aku tidak dapat bergerak bebas nantinya."
"Keputusan sudah tidak dapat diganggu gugat sayang."
"Ahhh, paaaaaa!"
.
.
.
.
Hallo semuanyaa!!!
MAKASI SUDA MEMBACA
Kalau ada kritik dan saran aku menerimanya dengan sangattt terbuka.
Jangan lupa add library dan commentnya ya guyss! Gomawoo ♡♡♡