Keesokan harinya,
Fara baru menyalakan ponselnya setelah semalam dimatikan akibat pesan spam kemarahan Jevan. Dia tahu akan mendapat teror jika menyalakannya. Itu benar-benar terbukti karena terdapat 400+ pesan masuk beruntun.
Dia sudah gila,, pikirnya.
Tapi ada satu pesan yang menurutnya penting yaitu dari Stefan yang memberitahunya kalau Fionn sedang dirawat di rumah sakit karena infeksi parah di tenggorokannya. Dia mengajaknya untuk berkunjung. Namun saat Fara berniat membalas pesan itu, layar ponselnya langsung mendapat panggilan.
JEVAN.
Dia menjawabnya, "Ada apa lagi?"
Di balik sambungan telepon, Jevan terdengar marah, "Aku meneleponmu sejak tadi malam! Kenapa ponselmu kamu matikan! Aku sekarang sedang ke rumahmu, jadi sebaiknya jangan kemana-mana!"
Tiiiiiittt.... Sambungan telepon itu langsung dia putus.
Dia marah hanya karena kemarin aku tidak mau dia antar, ada apa dengannya!, Fara membuang ponselnya ke atas ranjang.
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, "Fara sayang, kamu tidak kemanapun'kan?"
Fara segera membuka pintu, "Iya, Ibu?"
Terlihatlah seorang wanita separuh baya bertubuh gemuk nan pendek berdiri di ambang pintu. Kulit wajahnya banyak yang keriput, terutama bagian pelipis, rambutnya sebagian beruban tergelung rapi. Wanita ini tampak sangat sederhana hanya dalam balutan daster batik.
Dia berpesan, "Tolong pack sepatunya ya, Ibu belanja sayur dulu!"
"Serahkan padaku, Ibu, jangan khawatir!" Sahut putrinya dengan riang.
Sebelum pergi, ibunya teringat sesuatu, "Oh iya, kalau pacar kamu sudah datang, sampaikan terima kasih ya untuk alat-alat dapurnya, ya ampun, dia semakin baik loh, Fara!"
"Apa maksud ibu?"
"Dia tidak memberitahu ya, tadi pagi-pagi sekali ada kurir yang mengantarkan paket alat memasak, kalau penasaran, coba lihat di dapur, merek mahal pasti.. heran deh, dia kok sering memberi ya beberapa hari terakhir ini? padahal kalian sudah pacaran lama, tapi dulu dia seringnya ngerjain ibu, sekarang kok sikapnya sopan, seneng deh," ucap ibunya bernada candaan dengan diliputi wajah bahagia sambil menunjukkan kalung emasnya, "Ini juga dibelikan! Ini beneran Jevan'kan?"
"Sudahlah, Ibu, jangan menerima barang-barang darinya," pintaku cemas.
Tapi Ibunya menghiraukannya seraya pergi dari hadapannya. Matanya seakan telah dibutakan oleh Kilauan emas yang ia pakai.
Di dapur, ternyata berbagai panci dan wajan merek mahal sudah menumpuk di meja makan. Mereka seperti emas di tumpukan batu. Rata-rata perabotan di dapur memang terlihat kusam. Bahkan lemari esnya juga sudah usang.
Fara hanya terdiam melihat semua itu selama beberapa menit. Sebelum akhirnya kembali ke ruang tamu untuk mengemas sepatu hak tinggi ke dalam sebuah kotak. Selain sebagai Freelancer dalam hal desain grafis, dia membantu ibunya dalam mengemas sepatu untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kenapa Jevan sangat berbeda.. aku tidak mengenalnya, pikirnya terus menerus hingga tumpukan sepatunya nyaris jatuh menimbunnya. Memang banyak sekali tumpukan kardus sepatu di ruang tamu sempit rumahnya. Bahkan kursi mejanya terpaksa di pindah ke ruang tengah agar dapat lebih banyak tempat.
***
Jevan langsung memeluk Fara begitu mereka bertemu. Saking rindunya dia mencium keningnya. Tapi ketika dia berniat mencium bibir gadis itu, pipinya langsung ditampar olehnya.
"Apa-apaan kamu ini, kalau ibuku tiba-tiba pulang bagaimana!" Kesal Fara memastikan keadaan di luar pintu rumahnya.
"Ibu kamu pasti malah senang aku kemari," Jevan menutup pintu dan memaksakan pelukan pada pacarnya.
Bukannya dia sedang marah.. kenapa dia begini tiba-tiba.. heran Fara mendorongnya jauh-jauh. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang membuatnya tidak aman berada di dekat pacarnya sendiri.
"Kamu pasti ngira aku marah," goda Jevan tersenyum, "iya marah memang, tapi ya sudahlah, kalau ketemu kamu lagi, tidak marah kok, hanya saja, minta maaflah padaku sekarang karena sudah bersikap begitu kemarin."
"Bersikap begitu?" Ulang Fara. Dia sudah berusaha berpikir positif tentang Jevan, tapi sepertinya memang ada yang salah dengan laki-laki ini.
"Ya apa ya, itu menyakitkan tahu, aku ingin mengantarmu, kamu malah pulang sendiri.. kamu marah hanya karena aku tidak mau membantu orang kecelakaan, jaman sekarang, kalau ada kecelakaan itu di videoin saja, tidak perlu ditolong," kata Jevan seolah tidak memiliki rasa simpati sedikitpun.
Fara tidak mau mengingat kejadian mengerikan tadi malam, "Cukup.."
"Ayo ke rumah temanku, latihan nge-band, sekalian ada pool party disana, kan seru, tidak seperti temanmu yang kuno.."
Pool party, ulang Fara dalam hati. Dia yakin sekali pacarnya sangat benci berpesta karena menurutnya itu kegiatan berisik.
"Aku tidak mau," tolak Fara kembali mengemas sepatu, "kamu tidak lihat, aku harus membantu ibuku. Lagipula dari dulu kamu paham'kan, kalau Minggu aku tidak bisa keluar, kita biasanya jalan-jalan setelah pulang kampus, jangan begini dong, lagipula kamu'kan kerja, bagaimana dengan pekerjaan Freelance-mu?"
Dia kelihatan bingung, "Loh aku kerja ya, oh ... pantas aku selalu dihubungi orang-orang aneh, tapi sudahlah aku memblokir mereka. Buat apa kerja, tabunganku banyak."
"Kamu semakin aneh."
"Bercanda kok, kamu ini tidak bisa diajak bercanda sih, aku tahu, aku tahu, tapi aku lagi tidak ingin bekerja.." kata Jevan dengan senyuman yang tidak bisa ditebak. Dia benar-benar ingin mempermainkan Fara.
"Sudahlah, kamu lebih baik istirahat, mungkin kamu kelelahan atau semacamnya, atau mungkin kamu punya masalah hingga kamu berubah seperti ini.. trauma karena kejadian itu atau katakan padaku," kata Fara menghela napas panjang. Dia masih berharap Jevan memang Jevan. Siapa tahu pacarnya ini hanya tertekan karena ada masalah sehingga membuatnya terlihat sedikit 'aneh'.
Jevan hanya menggelengkan kepala sembari berbisik, "Aku tidak trauma ditusuk, sakit rasanya, tapi aku masih hidup'kan? lagipula pesta itu menyenangkan," dia membuka pintu rumah lagi, "bersiaplah, kuharap kamu memakai dress cantik, kalau tidak aku pasti malu."
"Jevan," tega sekali. Fara merasa dadanya benar-benar sakit dengan sindiran halus pacarnya sendiri. Itu membuktikan kalau selera berpakaiannya memang sangat buruk di matanya
"Jangan sedih begitu, aku tetap menyukaimu, Fara, kamu cantik dan hanya milikku sekarang."
"Kamu berubah ..."
"Apanya? Hanya karena aku ingin memamerkan pacarku yang cantik, kamu merasa aku berbeda? Demi iblis, apa salahnya merasa bangga memilikimu?"
"Ada apa denganmu? kamu benar-benar berubah menjadi orang lain. Aku sama sekali tidak mengenalimu. Kamu keterlaluan. Ini bukanlah dirimu, ini bukan kamu. ini bukan kamu. ini bukan kamu, Jevan, siapa kamu ini sebenarnya? aku sama sekali tidak mengenalmu! Ini mengerikan. sangat menggangguku."
"Jangan banyak bicara, aku kemari bukan untuk mengajakmu berdebat. Bisakah kau berhenti mengulang kata begitu?"
"Aku tidak bisa diam kalau kamu seperti orang asing begini? aku sungguh tidak mengenalmu dengan tabiatmu yang aneh ini."
"Sudah cepat ganti sebelum aku sendiri yang melucuti pakaianmu. Kamu benar-benar menyusahkan. cepat!"
***