FransAle VIII | Rekan Kebersamaan

1897 Words
"Gue langsung pulang, tubuh ku ini rasanya lelah sekali." Refa berjalan melewati rekannya yang baru saja datang, pria itu langsung menghadang Refa yang tampak lesu. "Tumben langsung pulang? Semalem gak tidur Lo?" Gani, pria berusia dua puluh delapan tahun itu bertanya yang di jawab gelengan oleh Refa. "Semalem ada kecelakaan, pasien drop juga. Gak bisa tidur gue." Gani mengangguk mengerti, "Yaudah deh, pulang Lo sana! Hari ini Lo libur kan?" Refa mengangguk, Gani langsung menyunggingkan senyum mencurigakan. "Kenapa Lo?" "Keluar yuk! Sama Ale juga." Refa menghembuskan napas lelah, "Kapan-kapan aja deh! Males gue." "Gue traktir." Mendengar satu kata yang Refa sukai, membuat matanya seketika bersemangat. "Serius?" Gani mengangguk sombong, "Serius lah! Mana pernah gue cuma main-main. Apalagi sama ciwi-ciwi ku." Mendengar perkataan Gani, sontak Refa melirik tajam. "Tolong koreksi ya! Sa-ha-bat! Enak aja Lo bilang gue sama Ale ciwi-ciwi Lo!" "Ya elah! Sensitif amat sih Lo!" "Biarin! Gue mau pulang!" "Bye!" "Awhh!" Refa berkata dengan menginjak kesal sepatu Gani. Pria itu mengerang kesakitan. "Woy! Main injek-injek aja sih Lo! Di kira gak sakit, apa?!" "BODO!" "JANGAN LUPA TRAKTIRANNYA NANTI MALEM!" Gani mendengus, "Giliran gratisan aja tuh bocah cepet!" Membalikkan badan, Gani bersiap bekerja pagi ini. Melanjutkan aktivitasnya, sebagai asisten apoteker di instalasi farmasi rawat inap. *** Berjalan dengan mata mengantuk, Refa beberapa kali menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia memerlukan air untuk menjaga mukanya agar tetap segar. Memilih belok kiri, Refa berjalan menuju kamar mandi. Saat memasuki lorong menuju kamar mandi, tak sengaja Refa bertabrakan dengan sesosok pria bertubuh tinggi hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bangkit dengan segera, Refa menghampiri pria tersebut. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak." Refa merasa tak enak hati, pria itu tiba-tiba saja keluar dari bilik sebelah kanan, khusus kamar mandi pria, sedangkan kamar mandi wanita di bilik sebelah kiri, munculnya pria tersebut membuatnya terkejut. "Lain kali perhatikan langkah mu." Setelah mengucapkannya, pria tersebut pergi. Refa berbalik memandang hingga punggung pria itu tak terlihat. "Sombong sekali! Harusnya dia juga bersalah! Salah siapa yang tiba-tiba berdiri di depan ku dan membuat ku terkejut hingga aku menabraknya!" Kesal Refa. "Padahal aku juga terjatuh, tapi pria itu sama sekali tidak meminta maaf! Tidak adil! Tipe-tipe pria kaya!" Menghentakkan kakinya kesal, bibirnya tak henti mendumel sikap pria yang anti sosial itu, tipe pria sombong. Refa akan memasuki bilik kiri terhenti ketika seorang pria bersetelan kemeja hitam menghampiri pria yang sempat ia tabrak. "Saya mencari Anda dimana-mana. Syukurlah saya bisa menemukan Anda. Rapat akan segera di mulai." Tanpa menjawab pria yang Refa tabrak itu bergegas menuju ruang rapat yang di maksudkan. Sekilas Refa tampak mengenal pria tersebut, ia mencoba mengingat. "Bukan kah itu Pak Wayan? Wakil direktur?" *** "Bawain pesenan aku kan?" Menyerahkan sebungkus berisi dua kotak sterofoam, Ale menerima dengan girang. "Lo belum makan? Tumben mau nasi penyet." "Gue numpang kamar mandi." Refa menerobos kamar Ale menuju kamar mandi. Ale mencebik kesal. "Refa kenapa coba?" Mengendikkan bahu acuh, Ale riang gembira membawa bungkusan itu masuk. Menyiapkan makanan itu di atas meja sembari menunggu Refa selesai bersih-bersih di kamar mandi. "Refa gak mandi?" Tanya Ale melihat Refa keluar dari kamar mandi, dengan pakaian yang sama. Hanya wajah, kaki dan tangan saja yang basah. "Nanti aja. Gue laper." "Abis makan, langsung balik ke kamar. Mandi!" "Iya! Bawel." "Di bilangin juga, malah ngatain." Mengacuhkan Ale, Refa menyantap makanannya dalam diam. Tak seperti biasanya, Refa lebih pendiam tanpa ocehan. "Re, Lo kenapa deh? Gak biasanya." Refa mengangkat pandangan, "Gue lagi mikir." Jawabnya singkat kemudian melanjutkan menyantap nasi penyet. Nasi putih dengan lauk ikan lele, lalapan irisan timun dan kubis, beberapa helai daun kemangi, dan sambal tomat dengan aroma yang menggugah selera. Adalah makanan kesukaan Ale sejak ia masih tinggal di Madiun. Berbeda dengan biasanya, setiap Ale memesan nasi penyet pada Refa. Gadis itu memilih untuk membeli bubur ayam. Kali ini, Refa pun ikut makan nasi penyet untuk ke dua kalinya. Jangan ingatkan yang pertama, karena pengalaman pertama Refa ketika menikmati nasi penyet sungguh tidak mengenakkan. "Mikir apaan sih? Sampek mau makan nasi penyet." Refa menatap Ale dengan tatapan serius, "Menurut Lo, Pak Wayan kenapa hormat banget sama orang asing?" "Maksudnya?" "Gue tadi nabrak orang di depan toilet, tuh orang sombong banget. Gue minta maaf aja gak di tanggepin sama tuh orang. Mana setelan bajunya juga rapi, formal gitu." Ale mengangguk-angguk, "Terus? Yang aneh dimana? Yang kamu tabrak, Pak Wayan?" Refa menggeleng, "Bukan! Bukan! Bukan gitu!" Kemudian melanjutkan ceritanya yang sempat terjeda, "Maksud gue, kenapa Pak Wayan hormat banget sama dia. Sopan banget gitu lah. Soalnya tadi Pak Wayan bilang kalo acara rapat nungguin tuh orang!" "Cowok?" "Iya cowok." Ale mengetukkan jari telunjuknya di bawah dagu, "Mungkin donatur?" "Sampek di cariin? Di jemput di kamar mandi?" "Iya juga. Terus, cowok yang kamu tabrak siapa?" "Nah! Itu pertanyaan gue! Tapi gue masih belum kepikiran! Gue juga gak pernah ngeliat tuh orang di rumah sakit." Refa mendekat pada Ale, "Menurut Lo, cowok itu siapa?" Ale memundurkan wajahnya, "Apaan sih Re! Deket banget mukanya!" "Namanya juga bisik-bisik." Dengan acuh Ale menjawab, "Gak tau, masa bodo! Aku mau lanjut makan!" Refa mencebik kesal, "Udah capek-capek cerita. Malah Lo gak tau!" Ale mengendikkan bahu, "Buruan mandi gih! Bau!" "Enak aja bau! Lo juga belum mandi, Maemunah!" Ale nyengir tanpa rasa bersalah, "Aku kan gak kemana-mana. Jadi gak mandi." "Berani Lo ngatain gue setelah Lo ngomong kayak gitu?" Kesal Refa. "Udah ah! Gue mau balik ke kamar! Lo ngeselin!" Refa membawa nasi penyetnya keluar kamar dengan wajah tertekuk kesal. "Eh, Re! Ngambek?!" "Refa!" "Dasar bocah!" Ale menggeleng kepala melihat kelakuan Refa, gadis itu masih saja bersikap kekanakan dengan sifat yang suka ngambek. Mengacuhkan Refa yang kesal dengannya, Ale melanjutkan kegiatan makannya. Sisa setengah, sayang sekali bila tak habis. Begitu selesai makan, Ale mencuci tangannya. Mengelapnya dengan kain, kemudian dia duduk di sofa dengan membuka laptop. Karena hari ini ia mendapat giliran shift malam, Ale ingin menikmati me time-nya dengan menonton Drakor. Serial drakor berjudul 'Vicenzo' masih belum usai ia tonton, setiap episodenya mampu membuat Ale penasaran. Namun, ia tahan marathon drakor di hari-hari sibuknya. Ale selalu lupa waktu juga di hadapkan dengan Drakor. Bersiap menonton drama yang berjudul 'Vicenzo', kegiatannya terhenti ketika ponselnya berdering. Pertanda ada yang meneleponnya. Di lihatnya layar ponsel yang tertera nama seseorang yang sangat ia kenal. Raut wajahnya seketika berubah, gelisah dan takut. Ale masih memandang ponsel tersebut dengan diam, tak menyerah. Si penelepon terus saja menghubunginya, mau tak mau Ale harus mengangkat panggilan tersebut. "Halo?" *** "Halo?" "Assalamualaikum Mbak Diva!" "Wa'alaikummussalam, Dyah." "Mbak Diva lagi kerja ya? Dari tadi Dyah telepon kok gak diangkat-angkat?" Ale duduk menyamankan diri, "Enggak kok, Mbak lagi di kost-an." "Mbak libur?" "Mbak jaga malem," "Yaaahhhh... Mbak Diva belum bisa pulang dong." Ale tersenyum miris, "Nanti ya, Dyah." "Nantinya kapan sih, Mbak?" Pertanyaan menuntut dari Dyan membuat Ale diam tak berkutik. Adiknya merindukan dirinya, begitu pula Ale yang rindu dengan semuanya. "Mbak," panggil Dyah sesaat. "Dyah sebentar lagi mau lahiran. Mbak Diva gak mau jengukin Dyah?" "Mama, Papa, Dyah, dan Mas Iko kangen sama Mbak Diva. Apalagi calon anak Dyah, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Tantenya." "Mbak Diva kapan pulang?" Dyah berkata dengan menahan isak tangis dari seberang telepon, terdengar pula suara Iko yang menenangkan istrinya. Samar-samar Ale mendengar suara Iko yang meminta Dyah agar tidak cemas kepadanya.. Rasa rindu tak terbendung ingin bertemu, hanya saja hatinya masih takut. Takut kehadirannya membawa petaka bagi keluarganya. Hening sesaat mendominasi telepon. Ale masih diam di tempatnya, tanpa memutuskan panggilan. Hingga satu kalimat menyapanya. "Halo, Mbak. Ini Iko." "Ah, iya. Halo Iko, bagaimana kabar semuanya?" "Alhamdulillah, baik Mbak." "Alhamdulillah." "Iko harap, di Surabaya, Mbak Diva hidup dan menemukan kebahagiaan ya. Jangan cemaskan diri Mbak sendiri, yang penting lakukan hal yang menurut Mbak Diva menyenangkan." Seutas senyum melengkung di bibir Ale, "Terima kasih Iko. Maaf selalu merepotkan." "Justru tidak merepotkan, Mbak. Iko senang bisa membantu, Mbak Diva." "Oh iya, Dyah kemana?" "Ah, Dyah... Iko suruh istirahat Mbak, akhir-akhir ini, emosi dan perubahan hormon Dyah sedikit membuat Iko kewalahan." "Oh, ya?" "Dyah selalu meminta Iko untuk menghubungi Mbak Diva, katanya kangen. Tapi Iko bisa bujuk Dyah, ngasih pengertian ke Dyah," jelas Iko masih tersambung dengan panggilan. "--Barusan, Iko minta maaf ya Mbak. Mbak Diva pasti sibuk banget, tapi kayaknya Diva beneran kangen sama Mbaknya, makanya Dyah nekat telepon Mbak Diva sepagi ini." Lanjut Iko. Tak sanggup menahan laju air matanya, Ale menangis. Membiarkan bulir bening jatuh membasahi pipinya, bibirnya bergetar. "Gapapa Iko, Mbak juga kangen sama Dyah. Nanti Mbak hubungi lagi ya?" "Ah, baik Mbak. Selalu kami tunggu." "Sampaikan salam untuk Mama dan Papa. Jagain mereka ya, Iko." "Pasti Mbak! Pasti Iko akan jagain Mama, Papa dan Dyah. Mbak tenang aja, nanti Iko sampein juga salam Mbak Dyah sama yang lain." "Makasih, Iko." "Sama-sama Mbak." "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikummussalam." Panggilan terputus, Ale menatap lurus ke depan. Pikirannya berkelana, apakah Ale harus pulang ke rumah? Atau memilih untuk tetap di sini? Apa yang Mbak Yati dan Mas Yudi bicarakan kemarin benar adanya, Dyah akan segera melahirkan. Masih tega kah, Ale memilih untuk tetap di Surabaya? Menghindar dari keluarga yang menyayangi dan selalu merindukannya? "Kamu kuat Ale, kamu bisa." *** "Aku gak bisa lama, jaga malem soalnya." "Santai Le, ntar gue anterin deh." Ale memutar bola matanya malas, "Sok-sokan kamu, Gan!" Gani, pria berusia matang namun masih lajang itu tertawa renyah. "Demi kalian nih! Gue traktir! Jarang-jarang loh, gue sebaik ini." "Halah! Pasti ada maunya kan, Lo?" Tak seperti sebelumnya, dimana Gani selalu irit ketika mereka menghabiskan waktu bersama untuk sekedar menghirup udara segar. Kali ini pria itu mentraktir kedua sahabat perempuannya, meski tak mahal. Hanya makan batagor lesehan di sekitar taman setempat. "Jangan berburuk sangka gitu dong. Niat gue baik sama ciwi-ciwi gue." "Iyuh! Ciwi-ciwi Lo!" Ale tertawa mendengar Refa dan Gani yang bertengkar. Kedua sahabatnya itu begitu serasi, meski kadang terlihat pertengkaran. Tak lama keduanya akan kembali akur. "Kalian serasi, kenapa gak jadi pasangan aja sih?" Celutuk Ale. "WHAT?!" "GAK!" Penolakan dari keduanya membuat Ale tertawa, "Tuh kan? Jawab aja sampek samaan. Cieee." "Apaan sih Le? Enggak! Enggak! Jangan ngada-ngada!" Tolak Refa membuat Gani tersenyum miring. "Kalo Lo cemburu sama Refa, bilang aja sih Le. Gue bakal kasih perhatian lebih juga kok ke Lo." Gani semakin bersemangat untuk menggoda Refa. "Lo juga apaan sih?" Refa mulai kesal. "Kenapa? Lo juga cemburu sama Ale?" "Ngapain gue cemburu tanpa alasan yang jelas?!" "Suka gue mungkin?" "Gak! Selera gue lebih berkelas dari pada Lo!" "Yakin? Jangan-jangan Lo suka sama gue diem-diem. Gak mau di ungkapin. Sini, bilang sama gue. Biar gue tau, langkah apa yang akan kita tempuh ke depannya." Jawab Gani semakin menjadi. "Ngomong apaan sih, Lo!" "Masa depan kita." "Masa depan, masa depan! Makan tuh masa depan!" "Kok Lo kesel? Ale biasa aja." Gani tak henti menggoda gadis berusia dua puluh delapan itu dengan bersemangat. Ale tak henti-hentinya tertawa, tingkah keduanya sangat lucu. Refa yang selalu kesal ketika Gani modusi, dan pria itu tak kapok sama sekali. Meski beberapa kali, Refa membuat masalah dengan kata-kata yang sedikit menyakitkan. Entah keduanya memang saling menyukai tapi bersembunyi di balik status sahabat atau hanya salah satu dari mereka yang menyukai tanpa balasan. "Ale! Kok Lo masih ketawa aja sih? Gue kesel!" "Mau gimana lagi? Kalian berdua serasi." "ALE!!!" Teriak Refa dengan Gani yang nyengir. "Udah! Gak usah berantem. Anterin gue ke rumah sakit." Gani melihat jam tangan di pergelangannya, "Loh? Udah mau jam sembilan aja. Yaudah yuk!" "Jangan lupa anterin Refa dengan selamat juga ya, Gan!" "Yoi!" "ALE!" Si empu pemilik nama hanya tertawa menanggapi kekesalan Refa padanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD