FransAle VII | Tentang Fransisco

1788 Words
Baru saja Frans tiba di rumah setelah seharian penuh di rumah sakit, Mama Claria sudah menunggu di ruang keluarga. Duduk dengan santai sambil membaca sebuah majalah di tangannya. Televisi yang menyala membawa acara berita perekenomian serta saham perusahaan di seluruh dunia. Mamanya itu sangat tertarik dengan berita televisi yang menampilkan acara yang menurut Frans sangat membosankan. Langkahnya terhenti begitu Mama Claria memanggil putra semata wayangnya. “Frans.” Pria berusia akhir dua puluhan itu berdiri diam di belakang sofa, tempat Mama Claria duduk. Kembali, suara elegan Mama Claria memintanya untuk menemani wanita paruh baya itu menonton acara televisi kesukaannya. “Semalam kamu kemana?” “Kenapa? Mama nyariin Frans?” bukannya menjawab, Frans justru melontarkan pertanyaan. “Mama masuk ke kamar kamu dan kamu tidak ada. Kamu dimana semalam?” “Frans di klub sama anak-anak.” Frans menjawab dengan nada malas. Sontak, Mama Claria menatap putranya tak suka. “Sejak kapan kamu suka main ke klub semalaman? Pagi juga kamu tidak pulang ke rumah! Mama tanya pihak rumah sakit ternyata kamu tidak ada di sana.” “Kamu nginep di mana?!” desak Mama Claria. “Bukan urusan Mama, aku nginep dimana. Yang penting aku udah mau nerusin jadi Presdir di rumah sakit, bekerja dan mengabdikan diri di rumah sakit keluarga sesuai keinginan Mama. Dan sekarang, soal sepele kayak gini aja Mama ikut campur?” “FRANS!” bentak Mama Claria. “Keterlaluan kamu!” Mama Claria mulai terbawa emosi dengan sikap Frans, “Sejak kapan kamu berubah membangkang sama Mama seperti ini? Dimana sopan santun kamu sama Mama sebagai seorang anak!” Mama tersenyum kecewa, “Mama jauh-jauh kuliah kan kamu di luar negeri. Dengan spesialis yang Mama impikan! Dan ini? Ini?! Ini, ilmu yang kamu dapatkan selama kuliah di sana?” “Kamu sudah berani melawan Mama! Jika Papa masih hidup, Papa tentu akan merasakan hal yang sama dengan apa yang Mama rasakan sekarang!” “Cukup, Ma!” Frans yang tadinya diam, menerima semua kemarahan Mamanya. Kini bersuara, ”Berhenti! Menekan Frans dengan membawa nama Papa.” Mama Claria menatap bingung, “Menekan?” “Mama menekan kamu? Sejak kapan Mama menekan kamu, Frans!” “Apapun yang Mama lakukan selama ini adalah demi kamu! Semua ini untuk masa depan kamu! Agar apa?” Mama Claria bertanya dengan menyentak Frans. Mama Claria menatap Frans tajam, “Agar kamu tidak di injak-injak oleh orang lain! Agar kamu memiliki kekuasaan! Berpendidikan tinggi dan di kagumi banyak orang!” “Dimana letak Mama menekan kamu, Frans! Dimana!” Mama Claria terengah-engah setelah mengeluarkan semua kalimat yang mengganjal dalam hatinya. Mama Claria sungguh tak tahan melihat sikap Frans yang semakin dingin dan acuh padanya. “Mama rela melakukan apa saja demi kamu, putra kesayangan Mama dan Papa. Dan kini, Papa meninggalkan Mama sendirian. Berjuang merawat kamu di tengah tumpukan hutang yang kian menumpuk. Pernah kah sekali saja kamu melihat Mama dengan semua pengorbanan Mama untuk kamu?” “Pernah kah Frans?” Mama Claria menggeleng, “Tidak! Mama yakin kamu tidak melihat Mama sebagai seorang ibu yang memperjuangkan kehidupan anaknya. Tapi, kamu melihat Mama sebagai seorang ibu yang berambisi akan kekuasaan dan kekayaan.” Hening beberapa saat, Frans terdiam. Ia tak berani berkutik melihat Mamanya menunjukkan sisi rapuh seorang ibu. Mendengar bagaimana Mama Claria menumpahkan segala beban yang wanita paruh baya itu sembunyikan dengan begitu rapi. “Sepertinya Mama kecapekan. Mama akan istirahat dulu.” “Mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu di atas meja. Makan lah, Mama harap makanan kesukaan kamu masih sama,” lanjut Mama Claria. Setelahnya Mama Claria berlalu dari hadapan Frans. Membiarkan putranya berkutat dengan pikirannya sendiri karena emosi tak terkontrol dari sang Mama. Frans diam mematung, kakinya terpaku pada lantai yang kini tinggal dirinya sendirian. Berjalan menuju dapur, Frans melihat beberapa makanan kesukaannya tertata rapi di atas meja makan. Ada tempe orak arik, tongseng kangkung saus tiram dan sambal goreng yang menjadi makanan kesukaannya ketika Frans masih remaja. Frans duduk di salah satu kursi meja makan, di sentuhnya piring tersebut yang masih hangat. Frans tak dapat menahan matanya untuk tak berkaca. Perasaan bersalah menggelayuti hatinya. Selama ini, Frans sibuk memikirkan hal apa yang Frans sukai. “Mama masak buat Frans?” Hingga melupakan perjuangan sang Mama yang berusaha menyekolahkan Frans di luar negeri. Membiarkan sang Mama mengurus rumah sakit yang nyaris bangkrut setelah kepergian Papa. Frans yang saat itu tak ingin bersekolah di luar negeri terpaksa harus mengikuti perintah Mamanya. Dengan sisa tabungan yang Mamanya miliki, Frans mendapat kehidupan layak di asrama. Namun, Frans tidak tau. Kehidupan keras semacam apa yang Mamanya alami setelah kepergian Frans. Frans membalikkan piring yang telah Mamanya sediakan, menyendokkan nasi serta lauk yang Mamanya buat. Menahan sesak di dadanya, Frans memakan makanan kesukaan yang telah Mama masak untuknya dengan lahap. Berbeda dengan mulutnya yang lahap memakan makanan, sepasang manik tajamnya meredup. Hingga bulir bening jatuh menemani makan malamnya. “Maafin Frans, Ma.” *** "Ngapain sih Lo! Nyuruh gue kesini! Gue masih lembur gara-gara tugas dari Bapak Presdir! Pengertian kek jadi orang!" Andre datang dengan emosi yang memaki Frans. Sejak pagi ia datang hingga malam, Andre masih bertugas di rumah sakit. Pekerjaan dadakan dari Frans untuknya mengevaluasi bahan obat-obatan dan alat-alat kesehatan membuat Andre terpaksa lembur. Namun, tiba-tiba saja Frans meneleponnya dan meminta Andre datang ke klub Starla. Sekedar informasi saja, Andre masih mengenakan kemeja kemarin yang tak sempat ia ganti. Frans duduk di meja bar sembari meminum wine-nya santai. Andre memutar bola matanya kesal. Sikap cuek dan semena-mena Frans semakin menjadi. Menarik kursi bar kasar, Andre ikut duduk di samping Frans. "Brandy satu!" Ujar Andre pada seorang Bartender. "Siap!" Menunggu minuman di siapkan oleh sang Bartender, Andre duduk menyamping, menatap Frans. Baru ia sadari wajah Frans tampak muram dari biasanya. "Kenapa Lo?" Frans melirik sahabatnya dari samping, kemudian berkata. "Apa gue yang terlalu berlebihan sama Mama?" "Hah? Mama? Tante Claria maksudnya?" Andre tentu saja bingung, "Ngomong apa sih Lo!" "Udah berapa lama Lo kerja di rumah sakit?" Frans mengalihkan pertanyaan. "Santa Claria?" "Hm." Andre tampak berpikir, terjeda oleh Bartender yang memberikan sebotol Brandy dengan gelas kecil di atas nampan. "Udah lama sih. Sejak gue ambil kuliah profesi." Jawab Andre setelah menerima pesanannya. "Jadi Lo udah sangat tau seluk beluk rumah sakit." Pernyataan aneh Frans semakin membuat Andre tak mengerti. "Bentar. Lo ngajak gue kesini ngapain? Cuma interview?" "Gue traktir minum." Mendengar jawaban Frans membuat raut Andre yang tadinya lesu kini sumringah. "Oke! Bang! Tambah Brandy satu botol!" Si Bartender mengacungkan jempol setuju, kemudian menyiapkan tambahan pesanan untuk Andre. Tak lama si Bartender memberikan dua botol Brandy pada Andre, dengan semangat pria itu menuangkan minumannya, menenggak pelan, menikmati sensasi minuman yang terbuat dari wine dengan dua jenis alkohol, yakni Cognac dan Armagnac. Cognac dikenal dengan rasa dan aromanya yang khas, sementara Armagnac dikenal karena rasanya yang lebih kaya. Salah satu minuman beralkohol favorit yang sering Andre pesan. Melihat Andre yang semangat memesan Brandy kembali membuat Frans menatap malas. Ia kembali meminum minumannya, menikmati musik beat yang mengalun memekakkan telinga. Frans sama sekali tidak terganggu, justru pria akhir dua puluhan itu menikmatinya. "Kenapa Lo? Ada masalah?" "Biasa. Sama nyokap gue." "Tante Claria?" Frans mengangguk. "Masalah apa lagi sih? Gak kelar-kelar masalah Lo sama Tante Claria." Tambah Andre setelah meminum segelas Brandy. "Gak akan pernah selesai." "Lo kalo ngomong yang bener! Tante Claria itu orang tua Lo! Seburuk-buruknya Tante Claria sama Lo, itu pasti ada tujuannya." Frans diam tanpa menanggapi, selama ini hanya Andre yang mengetahui masalah antara ia dan Mamanya. Dari banyaknya teman yang Frans miliki, hanya Andre yang masih menjalin hubungan baik dengannya. Dan hanya Andre pula, Frans mempercayai pria itu sebagai sahabatnya. "Sekarang masalah apa lagi?" Tanya Andre. "Masalahnya masih sama. Dan nyokap gue selalu bikin hati gue lemah!" Frans meletakkan gelas yang ia pegang dengan kasar, melampiaskan kekesalannya yang tak tersalurkan. Andre diam tanpa berkomentar. Sahabatnya kembali kacau, Frans tertekan dengan apa yang di jalaninya sekarang. Bukan karena dia ingin, tapi karena Mama Claria yang memaksa Frans untuk menjalani apa yang Mama Claria inginkan. Frans seperti boneka bagi Mamanya, namun Mamanya menginginkan hal terbaik untuk putranya. "Frans,-" Frans bangkit dari duduknya, kemudian mengeluarkan sejumlah uang ratusan ribu di atas meja bar. "Gue pulang." "Loh? Kok pulang?" "Frans!" Teriak Andre. "Sial! Dia yang nyuruh gue dia juga yang ninggalin gue!" Andre membiarkan Frans pergi, ia kembali menikmati minumannya. Masa bodoh dengan Frans, biarkan pria itu melakukan hal yang membuatnya senang. Melampiaskan kekesalannya semenjak Papanya meninggal. Jika di butuhkan, Frans pasti akan menghubunginya. Bercerita dengan sepotong-potong, kemudian pergi. Dasar Frans sialan. *** Mama Claria menuruni tangga perlahan, sama seperti pagi sebelumnya. Mama Claria kembali menjalani perannya sebagai seorang ibu, dengan baju santai rumahan. Sandal teplek yang nyaman dengan wajah tanpa riasan. Semenjak putra kesayangannya kembali, atau lebih tepatnya ia jemput paksa. Mama Claria kembali menjalankan perannya sebagai seorang ibu, dimana Mama Claria terbebas dari pakaian formal dengan riasan tebal sebagai Presdir Rumah Sakit Santa Claria. Beberapa tahun, semenjak Mama Claria sekolahkan di luar negeri. Kehidupannya berubah, Mama Claria yang dulunya hidup sebagai seorang istri dan ibu. Harus pontang panting mempertahankan rumah sakit semenjak meninggalnya sang suami. Di tengah kondisi yang memburuk, dan rumah sakit nyaris bangkrut. Mama Claria sekuat tenaga membangun kembali rumah sakit yang demi putranya. Putra tercinta yang sangat-sangat Mama Claria rindukan setiap waktu. Mama Claria terpaku di pintu masuk dapur, di dekatinya meja makan perlahan. Seloyang kecil brownis bertabur lelehan lava cokelat tersaji di atas meja makan, tanpa pesan yang tertinggal. Melihat meja makan yang bersih, Mama Claria yakin, semua ini adalah perbuatan Frans. Senyum sumringah terpatri di bibirnya yang sedikit mengerut karena usia. Tanpa berlama-lama, Mama Claria mengambil sendok dan memakannya. Menikmati brownis kesukaannya dulu, dan Frans masih mengingatnya. Entah bagaimana putranya mendapat roti brownis sepagi ini. "Maafkan Mama yang terlalu menuntut mu, Frans. Maafkan Mama." Ujar Mama Claria menatap brownis lama. *** Kantung mata yang menghitam, rambut acak-acakan tak tersisir rapi dan wajah lesunya mengawali pagi yang berbanding terbalik dengan sinar cerah mentari. Ia tak dapat tidur semalaman, demi seloyang kecil brownis kesukaan Mamanya. Dengan keahlian membuat kue yang Frans pelajari di salah satu kursus ketika ia masih di Belanda, akhirnya berguna. Frans tau, Mamanya begitu menyukai roti brownis dengan lelehan cokelat di atasnya. Karena sang Mama, Frans belajar mengambil kursus kue dan memasak agar ia menjadi seorang Patissier (ahli pembuat kue) meski akhirnya gagal. Frans bangkit dari kasur empuknya, subuh tadi setelah ia selesai membuat kue untuk Mamanya. Frans pergi ke apartemen, merebahkan diri di sana. Jam masuknya sebentar lagi, dan Frans tak ingin terlambat datang ke rumah sakit. Frans berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri, kemudian bersiap. Tak ada sarapan, tak ada makanan, karena memang Frans berada di apartemennya. Hanya ada roti tawar dan selai. Mengambilnya selembar dan langsung memakannya, Frans segera keluar apartemen menuju rumah sakit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD